Chapter 16: Ada yang datang!
Makanan favorit Hana di kantin adalah seblak mie, karena kalo mie biasa Hana juga bisa, tapi kalo seblak mie males ngulek bumbunya. Sayangnya seblak mie juga makanan favorit anak kantin, jadi Hana harus mengantri juga karena seblak mie itu.
Padahal Hana itu ga suka ngantri.
"Sendiri aja?" Hana menoleh kesamping kirinya, tau-tau sudah ada kakak kelasnya yang duduk disampingnya. Leonardo Fery namanya. Dia juga kakak kelas yang ketika ulangan duduk dengan Hana.
Hana enggak tau angin apa yang membuat Leonardo kesini. "Iya Kak," jawab Hana ramah.
"Btw selamat ya, kamu rangking 3," kata Leonardo tiba-tiba menyalami Hana.
Hana memandangnya bingung. "Kok tahu? Wah stalker nih pasti.”
Leonardo cuman tertawa kecil. Enggak stalker juga sih, cuman emang dia nanyain ke temen sekelasnya Hana yang dia tugasin sebagai mata-mata. "Iya, tadi aku ketemu Pak Yopi, aku nanyain rangking kamu," bohong eung, awas di laknat.
Hana menganggukkan kepalanya. Alasannya masuk akal lah. "Tapi buat apa ditanyain?"
Glek. Mampus kamu Leon.
"Yaa pengen tau aja, penasaran sama cewek yang duduk disebelah aku pas ulangan. Hehe," kata Leonardo sembari menggaruk-garuk lehernya. Hana cuman mengangguk aja. Ga peduli dia sama Leonardo Fery yang selebgram tamvam bersaja mengaku enggak sombong dan rajin menabung di kantin.
Padahal Leonardo itu lagi cari topik yang asique buat ngobrol sama Hana loh. Ah iya, Hana suka webtoon kan?
"Hana, tau webtoon I'm gangnam beauty ga? Rame banget itu."
Hana menolehkan kepalanya. "Tau, itu si Suanya ngeselin banget ya? Rasanya dia minta di sleding Kak Seto. Iya ga sih?"
"Iya, cantik-cantik busuk," balas Leonardo. "omong-omong, kamu suka webtoon apa aja?"
"Banyak sih Ka—"
"Aa aja plis. Aneh dipanggil Kak. Kaya kakak pramuka. Padahal pramuka aja aku bolos mulu."
Hana tertawa mendengarnya. "Sama sih. Aku juga ga suka pramuka. Pengen bolos tapi takut di tandai."
"Bolos aja. Enggak akan kenapa-kenapa kok. Itu mah cuman ancaman."
"Iya kah?"
Obrolan antara Hana dengan Leonardo terus berlanjut. Tanpa mereka berdua sadari. Sedari tadi Joel berdiri menatap keduanya dengan tatatapan kesal. Sebel aja melihat Hana berduaan dengan cowok lain, sama Ical aja udah sebal. Apalagi sam cowok sok kegantengan itu
Inginnya sih marah, tapi enggak tahu marah karena apa. Dia enggak punya hak buat marah sama Hana, kan bukan siapa-siapanya.
Bukan siapa-siapa ya? "Argh. Whats wrong with me?" Joel bingung sama dirinya sendiri.
Hana dan Joel akhirnya sampai di rumah setelah berjalan dari ujung gang, mereka pulang naik angkot kali ini. Ical dan Imma enggak berkunjung kali ini karena yah mungkin ada urusan masing-masing. Hana langsung menidurkan dirinya di sofa sementara Joel langsung pergi ke kamarnya.
"Arghhh not responding!"
Hana yang baru saja memejamkan matanya langsung membuka kembali matanya karena mendengar ucapan Joel. Rumahnya ini sepi, jadi wajar kalau ucapan Joel terdengar.
Hana sadar sih ada yang berbeda dari Joel. Auranya terlihat lebih suaram, kaya kucing yang baru kecebur got, wajahnya kusut banget, terus sedari tadi dia enggak menatap Hana kalau diajak bicara.
Joel kenapa sih. Hana jadi bingung. Gadis itu menyentuh wajahnya. Takut-takut dia wajah mulusnya ada nanah sehingga wajahnya menjadi menyeramkan. Enggak! Enggak ada nanah ataupun jerawat. Wajah Hana mulus.
"Mungkin wajah gue kucel kali ya, jadi keliatan serem kaya kesiswaan," ucap Hana pada dirinya sendiri. Dia lalu membuka layar kunci di hpnya, setelahnya dia membuka kamera. Melihat wajahnya sendiri. "gue enggak kaya Miper kok. Kenapa Joel kaya enggak mau ngobrol sama gue ya?"
Hana berdiri, tadinya ingin bertanya kenapa Joel terlihat uring-uringan seperti itu. Namun...
TING NONG!
Bel rumahnya di bunyi kan. Terpaksa Hana membukakan pintu terlebih dahulu.
"EMBEEEEEEEE!"
Yang pertama berteriak begitu adalah adiknya yang baru kelas 1 smp, Hanif Anggara Fetrana. Dasar kids jaman jigeum, dateng-dateng bukannya nyapa kakaknya tapi malah ngeledek.
Ya pasti lah Hana ngeledek balik Hanif. "Apa lo bagong? Yah dia alien dari mana sih? Jangan dibawa kesini coba."
"SIA WANI KA AING DOWER? HAH SIA WANI KA AING?!"
"WANI LAH, AING LANCEUK SIA! EH TONG NGATAIN AING DOWER, SIA GE SARUA DOWER!"
Hana sama Hanif itu emang selalu berantem, padahal udah lama ga ketemu. Kayanya untuk adik kakak yang tanggal lahirnya cuman beda satu hari ini, ga berantem iru ga asik.
Ibu dari keduanya sudah pusing mendengar Hanif dan Hana adu bacod, akhirnya dia berteriak. "YANG GA DIEM IBU KASIH t*i MUNDING!"
Giliran ancaman t*i munding aja dua-duanya pada diEM.
Tiba-tiba Joel datang karena mendengar suara berisik dari luar. Agak kaget juga ketika Ibu, Ayah, dan Adiknya Hana datang kesini dengan formasi lengkap. "Wah kalian datang."
"Iya, kami akan mengindap untuk beberapa waktu disini," kata Ayahnya Hana.
"Kak Joel!" Hanif langsung menghampiri Joel dan memeluknya. "Kak Joel kenapa pindah sih? Hanif jadi sendirian lagi kan? Ga ada yang nemenin Hanif maen game."
Sepertinya Joel emang lebih akrab dengan Hanif ketimbang Hana. Sialan emang si Hanif ini.
Sementara Hanif berbincang dengan Joel, Hana mengajak kedua orangtuanya masuk. "Ibu, Ayah masuk dulu atuh. Kalian pasti capek kan?"
Hanif melirik kakaknya judes. "Oke ga diajak masuk, oke!"
"Perlu gue tegasin ga? Binatang dilarang masuk."
"SIALANN!"
Akhirnya rumah Hana kembali ramai oleh teriakan serta candaan. Saat itu juga baru lah mood aneh Joel hilang.
Padahal Hana juga sekarang sedang mengobrol dengan lelaki, kenapa sekarang dia enggak merasa kesal ya?
Ah entahlah, Joel enggak mengerti perasaan aneh ini. Membaur dengan keluarga Hana sepertinya lebih baik ketimbang berpikir kritis sendirian.