Clarinda terus membuang wajahnya dari Savalas saat suaminya itu datang menghampirinya yang sedang berbaring di atas bangkar rumah sakit. Rasa sakit hatinya semakin terpicu saat pria bresngsek yang sudah membangun hubungan rumah tangga bersamanya itu kembali datang untuk menemaninya di rumah sakit saat malam hari dan bukannya meminta maaf padanya. Untuk sekarang pengakuan kesalahan dari suaminya itu lebih di butuhkan oleh Clarinda. Padahal jujur jauh di lubuk hati Clarinda ucapan blak - blakan siang tadi itu sebenarnya hanya pelampiasan kemarahannya tetapi, setelah memikirkannya matang - matang dirinya sudah memutuskan untuk mengambil keputusan yang mungkin akan mengubah hidupnya selanjutnya. Clarinda tidak sanggup harus berbagi satu suami dengan adiknya sendiri bahkan melihat wajahnya se

