Rasa Itu

2054 Kata
Masih dengan tangan yang saling menggenggam, Maharani menatap Erna sendu. Sejujurnya dia tak mau mengatakan ini kepada Erna. Mamanya itu banyak berharap dengan pada hubungannya dengan Lingga. Lantas bagaimana jika Erna tahu penolakan orang tua Lingga? "Maharani belum siap untuk menikah lagi, Ma." Erna tercengang mendengar ucapan Maharani. Apa memang sedalam itu trauma yang di rasakan menantunya? Sudah lima tahun berlalu, dia pikir setelah kehadiran Lingga, Maharani akan segera bangkit dari rasa sedih, tapi nyatanya sama saja. Air mata Erna menetes. Dia merutuki diri. Kalau saja dulu dia tidak menikahkan Bintara dengan Maharani, mungkin Maharani tak akan menjadi terpuruk seperti ini. Namun, bukankah dia sendiri kehilangan putra semata wayangnya? Maharani menghela napas. Dia memang belum sesiap itu untuk memulai hubungan baru. Apalagi setelah mendengar penolakan dari ibu Lingga, dia semakin yakin untuk tetap sendiri seperti ini. Entah sampai kapan itu. "Nak, tapi bukankah kamu sudah merencakan pernikahan dengan Lingga?" tanya Erna yang membuat Maharani memejamkan mata. Pernikahan? Luka batin Maharani serasa dikorek kembali. Dia sudah pernah merasakan pernikahan yang bahagia, bahkan sebelum akad diucapkan. Laki-laki baik hati yang mengalah menjauh dari sang ibu untuk Maharani, membuat gadis itu memutuskan menerima pinangan Erna. Kenangan itu membuat Maharani kembali ke masa lalu. Maharani tersenyum simpul saat melihat Bintara datang mendekat ke arahnya. Pengusaha muda itu jarang sekali di rumah. Meneruskan usaha kuliner milik mendiang ayahnya, Bintara sukses membuat bisnis itu berkembang. Di tangan Bintara, restoran yang semula mempunyai cabang hanya dalam kota itu kini bisa merambah ke beberapa daerah. Meskipun tak sebesar restoran pusat, tetapi tentu saja itu pencapaian yang luar biasa. "Pagi, Mas. Maaf, ya, harus merepotkanmu pagi-pagi begini. Sebenarnya aku bisa berangkat sendiri." Maharani tersenyum tipis, sedikit sungkan dengan Bintara yang kini sudah duduk di hadapannya. Pagi tadi, Erna sudah mewanti-wanti agar Maharani berangkat ke rumah sakit dengan Bintara. Erna sengaja menyuruh Maharani untuk membahas perjodohan antara keduanya. Bintara yang jarang di rumah membuat Erna begitu susah bicara dengan anaknya sendiri. "Akan lebih repot jika kamu menolak. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana Mama?" jelas Bintara dengan senyum manis terukir di bibirnya. "Mama memang berlebihan." "Dia memang selalu berlebihan jika itu tentangmu." Maharani hanya terkekeh mendengar penuturan Bintara. Seperti sudah direncanakan, setelah memasak Erna memilih pergi saat melihat Maharani hendak sarapan. Padahal biasanya wanita itu selalu menemani Maharani sampai gadis itu berangkat kerja. "Mas ... apakah kamu tahu soal rencana Mama?" Ragu, Maharani mencoba membahas rencana Erna. "Rencana apa?" tanya Bintara pura-pura bingung. Sebenarnya dia sangat tahu apa maksud Maharani, lelaki itu hanya ingin menggoda. Maharani mengerutkan dahi. "Rencana pernikahan." "Pernikahan siapa?" Bintara kembali menggoda. Melihat ekspresi Maharani yang salah tingkah, Bintara tersenyum simpul. "Pernikahan kita. Apa Mama belum bicarakan ini denganmu?" "Oh ... itu, maafkan aku Maharani, aku tak bisa," jawab Bintara sembari tertunduk. Maharani tercengang mendengar jawaban Bintara. Dia menatap lelaki yang tertunduk itu dengan diam. Sedikit kecewa dan ... malu. Beberapa menit berlalu, Bintara dan Maharani hanya saling diam. Tak ada pembahasan lagi kecuali bunyi piring dan sendok yang bergesekan. Pikiran Maharani melayang. Dia beranggapan dirinya tak layak untuk Bintara. Siapalah dia, hanya gadis yatim piatu yang hidupnya bergantung dari belas kasihan orang lain. Bintara terlalu sempurna untuk dia yang bahkan tak terlihat. "Sudah makannya? Ayo berangkat!" ajak Bintara seraya bangkit dari tempatnya. Maharani mengangguk. Setelah membersihkan sisa makanan yang di mulutnya, dia segera menyusul Bintara yang lebih dahulu keluar rumah. Sebenarnya, Maharani ingin sekali berpamitan kepada Erna, bagaimanapun kepergiannya kali ini cukup lama dan dalam batas waktu yang tak bisa dipastikan. Namun, takut Bintara akan lama menunggu, wanita berhijab putih itu memutuskan segera berangkat. Butuh waktu dua jam lamanya untuk Maharani sampai di rumah sakit tempatnya bekerja. Selama itu pula, Maharani dan Bintara saling diam. Bintara diam-diam menahan senyum saat melihat ekspresi Maharani yang berubah murung. Gadis itu terus saja menatap ke arah luar jendela. Apakah dia sudah kelewatan menggoda Maharani? Bintara dirundung tanya. Maharani sendiri sedang sekuat tenaga menahan diri agar tak meneteskan air mata. Wanita yang terkenal pendiam itu memang sangatlah cengeng. Jangankan untuk masalah sebesar ini, menonton drama korea saja dia kerap menangis. Maharani memang sedramatis itu. Maharani dan Bintara sampai di halaman rumah sakit. Gadis yang memakai kardigan biru itu turun terlebih dahulu, sedangkan Bintara mengambilkan koper Maharani di bagasi. "Terima kasih, Mas. Maaf merepotkan," ucap Maharani. Dia mengulurkan tangan, meraih koper yang ada di tangan Bintara. "Jaga dirimu, jangan lupa makan," balas Bintara yang diangguki Maharani. Gadis itu hendak berbalik dan masuk, tapi panggilan Bintara menghentikan langkahnya. "Jaga mata dan juga hatimu, Ran. Aku tak mau tersaingi oleh lelaki mana pun. Sampai ketemu di pernikahan kita, Calon istri." Usai berkata seperti itu, Bintara berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Diam-diam sebuah senyuman terkembang di bibirnya. Sebenarnya, dia ingin sekali melihat ekspresi Maharani, tapi nyatanya dia sendiri terlalu sungkan untuk bertatapan dengan gadis itu. Ini untuk pertama kalinya dia merayu wanita setelah hampir tiga tahun lamanya dia belum bisa move on dari sang mantan kekasih. Sementara Maharani sendiri membeku di tempat. Hatinya menghangat. Tiba-tiba saja seperti ada banyak bunga bermekaran di sekitarnya, angin berembus menyejukkan hati yang semula merasa lara. Meskipun dia yakin belum sepenuhnya jatuh cinta, tapi ada yang berdesir dalam hati. Maharani menyukai panggilan barunya, calon istri. Maharani masih mematung di tempat sementara Bintara sudah menjauh dengan mobilnya. Dari dalam mobil yang mulai merambat berjalan keluar, sesekali Bintara melayangkan pandang pada spion yang masih memantulkan sosok Maharani. Entah mulai kapan perasaan cinta itu muncul, Bintara mengakui bahwa dia memang sudah jatuh cinta kepada Maharani jauh sebelum perjodohan ini terjadi. Gadis yang dulunya dianggap adik kecil kini melesat masuk dan menguasai isi hati. Bintara jatuh hati pada sifat Maharani yang apa adanya. Gadis itu tak hanya pendiam, tapi kepekaannya terhadap sekitar membuatnya makin menggemaskan. Saking pekanya, ada anak kucing tersesat saja, justru Maharanilah yang menangis. Bintara masih ingat saat Maharani kecil yang selalu mengekorinya, merengek sambil menunjuk anak kucing yang mengikuti mereka. "Mas Bin, kita antar anak kucing ini ketemu ibunya dulu, ya?" Bintara ingat betul, bagaimana Maharani kecil dulu begitu lengket dengannya. Bukan karena memang akrab, tapi lebih karena Maharani tak pandai bergaul. Hampir tiap hari ada saja yang membuat gadis kecil itu menangis. Entah diganggu teman-temannya. Terjatuh saat desak-desakan di kantin atau bahkan saat dia lupa membawa buku PR-nya. Kalau sudah seperti itu, terpaksa Bintaralah yang turun tangan. Bocah kecil itu sudah seperti ayah Maharani saja jika di sekolahan. "Enggak, ah. Memangnya kamu tahu siapa ibunya? Cari saja sendiri! Aku lapar!" Saat itu, Maharani langsung menunduk karena penolakan Bintara. Gadis yang masih memakai seragam sekolah dasar itu terisak-isak. Bintara yang masih berjalan beberapa langkah akhirnya berhenti dan berbalik. Dia berdecak kesal. maharani itu selalu saja merepotkannya. Sejak awal kehadiran Maharani, Bintara memang selalu kesal. Selain karena Maharani merebut perhatian mamanya, gadis itu juga selalu mengikuti ke mana pun dia pergi. Hal itu membuat Bintara diolok-olok teman-temannya. "Kamu cengeng banget, sih! Ayo pulang, aku laper!" teriak Bintara. Bocah lelaki itu tak berpindah sedikit pun dari tempatnya. "Tapi kasihan anak kucing itu, Mas Bin. Dia gak punya mama sama papa. Persis seperti Rani." Suara Maharani terbata. Tangannya sibuk menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Mendengar ucapan Maharani, Bintara lantas terdiam. Dia seakan diingatkan bahwa gadis kecil di hadapannya sudah tidak punya siapa-siapa. Hanya dia dan Erna satu-satunya harapan Maharani. Hanya dia dan mamanya juga yang bisa menemani dan menjaga gadis itu. Bocah lelaki itu akhirnya merasa iba. Dia mendekat, menunduk mengambil anak kucing yang sedari tadi bergulat di kaki Maharani. Bintara membawa anak kucing itu ke pinggir jalan lalu meletakkannya di bawah pohon besar. Maharani hanya melihat apa yang dilakukan Bintara itu dengan tangis yang sudah mereda. "Sudah, dia aman di sini. Nanti ibunya pasti datang sendiri ke mari. Kita gak tahu ibunya yang mana. Kalau kita gak pulang-pulang, mama pasti marah." Maharani memikirkan ucapan Bintara sejenak, kemudian mengangguk mengerti. Dia melihat sekali lagi anak kucing yang memutari akar pohon itu. Sejujurnya, dia masih tak tega, tapi ucapan Bintara ada benarnya juga. "Ayo, pulang! Dasar cengeng," ejek Bintara sembari berbalik dan berjalan menjauh. Maharani kecil hanya bisa memanyunkan bibir sembari menyusul langkah Bintara. Mengingat kejadian itu, tak ayal sebuah senyuman kembali terbit di bibir Bintara. Maharani dengan segala tingkah dan kepolosannya, benar-benar mampu mencuri perhatian Bintara. Bintara menyesal, kenapa dulu memilih membuang-buang waktu dan menyakiti hati sendiri dengan menjalin hubungan bersama wanita lain. Kalau tahu jodohnya adalah Maharani, tentu dari dulu saja dia menikahi gadis itu. *** [Kalau ada apa-apa atau kamu butuh sesuatu, cepat kabari aku. Jangan hanya mama yang terus-terusan kamu kabari, ada aku yang sekarang juga butuh kabarmu.] Maharani tersenyum membaca pesan yang Bintara kirimkan untuknya. Padahal baru sepuluh menit mereka berpisah. Bintara pun pasti belum sampai ke tempat kerja. Bisa-bisanya sekarang dia sudah mengirimkan pesan, membuat Maharani tersipu sendiri. Sama seperti Bintara, Maharani pun tak kunjung melepas senyuman. Sembari menunggu rekan-rekannya, dia menikmati secangkir moccacino ditemani pesan manis dari Bintara. [Iya, Mas. Nanti Mas Bin akan menjadi orang pertama yang tahu apa kebutuhanku] Selama ini, Maharani memang jarang sekali dekat dengan lelaki. Pernah sekali dia merasakan jatuh hati tapi berujung disakiti. Cinta pertamanya saat masa kuliah dulu, pergi meninggalkan luka dan rasa trauma, membuat Maharani enggan membuka hati lagi. Selama ini, Maharani hanya menganggap Bintara sebagai sosok saudara. Tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya bahwa dia dan Bintara akan berubah status. Apalagi jika mengingat segala kelebihan yang Bintara punya, sungguh Maharani merasa tak layak bersanding dengannya. Akan tetapi, lamaran Erna yang mendadak berhasil menciptakan perasaan berbeda di hati Maharani dengan begitu cepat. Jika semalam Maharani menerima lamaran Erna karena menghormati wanita itu, kini dia justru sangat berterima kasih. Maharani memang selalu bersyukur dipertemukan dengan Erna dan keluarganya. Namun, kali ini sepertinya rasa syukur saja tak cukup untuk mengungkapkan betapa dia bahagia dengan takdirnya. *** [Baguslah kalau begitu. Aku baru saja sampai restoran. Lanjutkan pekerjaanmu dulu. Jangan lupa makan dan sering-sering kabari aku. Nanti kalau senggang, aku akan menghubungimu.] Lagi-lagi Maharani dibuat senyum-senyum sendiri oleh pesan yang Bintara kirimkan. Selama ini, dia jarang sekali menghubungi Bintara kalau bukan karena urusan mendesak. Meskipun lelaki itu tergolong orang yang asyik diajak ngobrol, tetapi tetap saja, obrolan mereka kali ini pasti akan menimbulkan kecanggungan tersendiri bagi Maharani. "Ngapain senyum-senyum sendiri begitu? Gak lagi kesambet, kan?" Sebuah tepukan di pundak membuat Maharani gelagapan sendiri. Tanpa sadar gadis itu langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku. Dia seolah-olah takut ada yang ikut membaca pesan Bintara. Fatin, teman dekat sekaligus teman seprofesi Maharani itu menyipitkan mata. Bingung dengan sikap Maharani yang seolah-olah sedang tertangkap basah itu. "Kamu kenapa, sih?" tanya Fatin lagi. Gadis itu duduk di kursi kosong sebelah Maharani. "Enggak. Aku baik-baik saja," jawab Maharani. "Emang siapa yang nanyain kabar? Tingkahmu itu mencurigakan. Senyum-senyum sendiri, kayak orang lagi kasmaran." Entah Fatin yang kelewat peka atau memang Maharani yang tidak bisa menyembunyikan rasa. Ledekan Fatin itu, sukses membuat Maharani melongo di tempat. "Emang kelihatan, ya?" Pertanyaan polos Maharani itu tentu saja menciptakan gelak tawa Fatin. Gadis berambut sebahu itu tak henti-hentinya menertawakan sahabatnya. "Kamu serius lagi jatuh cinta? Sama siapa? Orang di klinik ini bukan? Jangan-jangan Dokter Danu?" Maharani mencebik. Bukan tanpa alasan Fatin menyebut nama Dokter Danu. Dokter muda itu memang dikenal menaruh hati kepada Maharani. Hanya saja, Maharani memang tak pernah menanggapi. Dokter Danu adalah sosok yang baik hati. Selain wajahnya yang cukup rupawan, sikap ramahnya pun membuat banyak orang menyukainya. Namun, kelebihan-kelebihan itu tak cukup menciptakan ketertarikan di hati Maharani. Maharani justru terpikat kepada pesona Bintara. Walau baru hari ini lelaki itu menunjukkan perasaannya, entah kenapa Maharani sudah merasa terikat. Sampai di titik sekarang, gadis itu tak habis pikir, bagaimana bisa dia jatuh cinta secepat ini kepada Bintara? "Jangan bikin gosip ngawur. Kamu tahu sendiri aku hanya menghormati dia sebagai dokter," kilah Maharani. Fatin hanya menanggapi dengan cibiran. Sesaat kemudian, gadis itu mencondongkan tubuhnya. Menggeser sedikit kursinya agar bisa lebih dekat dengan Maharani. "Jadi, jelasin. Kamu jatuh cinta sama siapa?" todong Fatin langsung. Maharani menautkan kedua alisnya. Jika Fatin bergerak maju, Maharani justru memundurkan tubuhnya. Fatin memang tipe orang yang sedikit kepo, tapi untuk urusan menjaga sebuah rahasia, gadis itu bisa diandalkan. Sebab itulah kenapa Maharani merasa bisa cocok berteman dengan Fatin. "Gak ada! Siapa yang lagi jatuh cinta?" Maharani bangkit dari kursinya, membawa gelas kotor bekas minumannya ke wastafel. Melihat Maharani pergi, Fatin ikut memutar tubuhnya. "Kamu tadi tanya, kelihatan, ya? Itu apa kalau kamu bukan beneran lagi jatuh cinta?" "Siapa yang lagi jatuh cinta?" Sahutan dari arah pintu membuat Fatin dan Maharani menoleh bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN