Lamaran Dadakan

1007 Kata
Maharani beranjak dari ranjang dan segera menuju kamar mandi. Rumah sakit memang menyediakan beberapa kamar untuk para suster atau dokter yang tak sempat pulang ke rumah. Sejak kejadian lima tahun lalu, Maharani lebih banyak menghabiskan waktu di tempat ini. Kalau bukan karena Erna yang selalu menunggunya, mungkin dia akan memilih tinggal di sini. Pulang. Bagi Maharani itu seperti menabur garam pada lukanya yang belum pernah mengering. Bayangan tentang Bintara seolah terus menghantui. Pernikahannya memang hanya berumur tiga hari, tapi sebelum itu, dia dan Bintara pernah tumbuh dan tinggal bersama di rumah itu. Wajar jika semua tentang mendiang suaminya masih tertinggal di setiap sudut rumahnya. Bintara dan Maharani memang tumbuh bersama. Namun, sejak Bintara masuk SMA, Erna menyuruh anak lelakinya itu tinggal di asrama. Lelaki dan perempuan tanpa ikatan sah tinggal dalam satu atap masih menjadi hal tabu di negara ini. Meskipun ada Erna di sana, tapi tetap saja mereka tidak bisa mencegah pikiran buruk orang di luar sana. Maharani sendiri merasa tak enak kepada Bintara karena kehadirannya pemuda itu harus keluar dari rumah. Maharani sering kali menawarkan diri agar dia saja yang tinggal di asrama, tetapi Erna menolak tegas, pun dengan Bintara. Erna tidak tega jika Maharani harus hidup sendirian di luar sana. Di bawah guyuran shower, Maharani beberapa kali mengembuskan napas. Bintara dan kenangannya serta Lingga beserta penolakan orang tuanya. Dua masalah yang menganggu konsentrasi gadis itu sejak kemarin. Awalnya, Maharani berpikir, membuka hati kembali untuk Lingga akan membuat hidupnya jauh lebih baik. Mantan kekasihnya saat kuliah dulu itu bersikeras untuk memulai semuanya dari awal meskipun tahu status Maharani yang sebenarnya. Lingga yang begitu menerima dan tak keberatan dengan status Maharani, membuat gadis itu mempunyai harapan yang besar. Dia ingin bahagia layaknya wanita lain. Namun, siapa yang sangka jika statusnya sendiri yang justru menjadi musuh terbesarnya. *** Maharani pulang ke rumah dan mendapat sambutan hangat dari Erna. Diciumnya berkali-kali pucuk kepala anak tersayangnya itu. Setelah puas melepas rindu dan berbasa-basi sejenak, Maharani pun beranjak menuju kamarnya. Maharani terdiam sejenak di depan pintu kamarnya, dia menghela napas. Butuh waktu hingga lima tahun lamanya untuk dia terbiasa dengan segala kenangan di kamar ini. Maharani membuka knop pintu, diamati sejenak ruangan yang tak pernah berubah sedikit pun. Erna seringkali menyuruhnya untuk mendekor ulang kamar tersebut, tapi Maharani menolak. Hanya kamar itulah satu-satunya tempat yang membuatnya merasa dekat dengan Bintara, meskipun kenyataannya tak pernah mereka menghabiskan satu malam pun di ruangan itu. Maharani merebahkan diri, sembari memejamkan mata dia mengingat kembali tiap kejadian di rumah ini. Kala itu, sebelum pergi bertugas, Erna sengaja menyuruh Maharani menginap di rumahnya. Erna ingin menghabiskan malam bersama sebelum Maharani pergi dalam kurun waktu yang lama. Sejak kuliah, Maharani memang tinggal di asrama, Erna awalnya melarang, tetapi karena jarak antara rumah dan kampus yang cukup jauh, mau tak mau Erna pun menyetujui. Setahun setelah Maharani mendapatkan pekerjaan sebagai perawat, akhirnya Erna mengutarakan niatnya melamar Maharani untuk Bintara. Menjadikan gadis tersayangnya itu resmi masuk dalam keluarganya. "Menikahlah dengan Bintara, Nak. Mama yakin, cuma kamu yang bisa mengurus dia dengan baik. Lagipula mama sudah sayang banget sama kamu. Mama gak mau kamu jadi menantu orang lain dan pergi dari kehidupan kami." Erna menghentikan ucapannya sejenak, menatap Maharani yang sedikit terkejut dengan ucapannya. "Mama sudah sejak lama ingin mengutarakan ini, hanya saja waktunya belum tepat. Mama mau kamu menyelesaikan pendidikanmu terlebih dahulu," lanjut Erna lagi. Maharani sebenarnya sudah menduga ini akan terjadi. Beberapa kali Erna mengutarakan niatnya, hanya saja saat itu diselingi gurauan. Maharani menunduk sejenak, tak ada alasan untuk menolak. Selama ini, Erna begitu baik, bahkan dia disayangi layaknya putri kandung. Erna merawat dan menjamin hidupnya dengan layak, bahkan cita-citanya menjadi perawat pun terkabul karena kebaikan wanita itu. Senyum terukir dari bibir Maharani, seiring dengan sebuah anggukan. Erna pun menyambut jawaban Maharani dengan bahagia. Dipeluk serta diciumnya berkali-kali calon menantunya itu. Melihat ekspresi Erna, Maharani pun ikut bahagia. Tak apa jika kini dia harus menikah tanpa cinta, semua bisa datang seiring berjalannya waktu. Lagipula dia juga mengenal Bintara, lelaki itu tak kalah baik dengan ibunya. Dia juga bukan lelaki yang neko-neko meskipun dari segi wajah dan pekerjaan, dia sangat layak untuk diidolakan. Maharani menghela napas berat. Lima tahun telah berlalu, tapi kenapa dia tak bisa melupakan masa itu sedikit pun? Bahkan dia ingat setiap kata percakapannya dengan Bintara. Sedemikian melekatnya Bintara dalam kehidupannya, sehingga setiap kemana pun melangkah, bayang-bayang mendiang suaminya itu tak pernah sirna. "Nak, kamu sudah tidur?" Sebuah ketukan pintu dan panggilan dari luar membuyarkan lamunan Maharani. Inilah yang menjadi alasan kenapa gadis itu enggan sekali pulang. Niat awal untuk melepas rindu dan beristirahat menjadi sirna akibat bayang-bayang masa lalu yang tak pernah lenyap ketika dia melangkahkan kaki di rumah ini. "Belum, Ma. masuk saja," sahut Maharani dari dalam, dia bangkit dari tidurnya dan menunggu sang mama memasuki ruangan. Erna masuk ke dalam kamar dengan sebuah senyuman. Perempuan berumur itu duduk di samping putrinya. "Kenapa tidak tidur? Apa kenangan itu mengganggumu lagi?" tanya Erna seraya membelai rambut Maharani. Mengganggu? Benarkah demikian? Tapi entah kenapa Maharani tak setuju dengan pernyataan itu. "Dia tidak mengganggu, Ma. Mungkin memang hanya kenangan itulah yang menjadi pengingat antara aku dengan Mas Bintara." "Baiklah. Bagaimana hubunganmu dengan Lingga, Nak? Mama sudah lama tak melihatnya." Pertanyaan mendadak Erna membuat Maharani kembali pilu. "Mas Lingga baik, Ma. tadi juga ketemu di rumah sakit." "Syukurlah. Kapan rencana kalian untuk menikah? Sudah cukup mama melihatmu menderita, Nak. Sudah saatnya kamu bahagia sekarang." Lagi-lagi pertanyaan Erna mengejutkan Maharani. Bagaimana dia harus menjelaskan jika statusnya yang merupakan janda dari putranya menjadi alasan sebuah penolakan? Maharani yakin, Erna akan begitu bersedih jika dia tahu kenyataan tentang keluarga Lingga. Namun, Maharani tak mungkin terus-terusan menyembunyikan ini. Sepahit apa pun itu, kenyataan tetaplah harus diutarakan. Akan tetapi sanggupkah Maharani melihat Erna bersedih kembali? Tak hanya dirinya, Erna pun begitu terpukul atas kehilangan putra semata wayangnya. Setelah sekian lama, keadaan wanita itu kini mulai membaik, dia juga menaruh harapan besar kepada hubungannya bersama Lingga. Lantas, tegakah Maharani sekali lagi mematahkan hati wanita terkasihnya itu? Tuhan, Maharani benar-benar dirundung dilema. Entah kenapa, dia merasa sangat berteman baik dengan yang namanya .... derita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN