"Maharani, kami turut berduka cita, ya? Kamu wanita hebat, kamu pasti kuat."
"Ran, sabar, ya? Ini semua sudah takdir, kamu yang kuat."
"Maharani, kuat, Sayang. Kami selalu ada untukmu."
Malam itu, entah sudah berapa banyak pesan masuk yang Maharani abaikan. Wanita itu hanya duduk terdiam di depan jendela kamarnya sembari menatap langit. Tak ada air mata, tak ada pula isak tangis. Raut wajahnya datar. Entah apa yang sedang dia rasakan.
Baru tiga hari, harusnya Maharani masih mendapatkan ucapan selamat, bukan malah bela sungkawa seperti sekarang ini. Maharani tersenyum miris, kenapa takdirnya selucu ini? Selalu ditinggalkan sendiri. Tak layakkah dia bahagia? Tak pantaskah dia disayangi?
Sebagai perawat, Maharani menjaga dan memperhatikan banyak orang. Dia juga memberi suntikan semangat pada banyak keluarga agar mereka segera pulih. Namun, pekerjaannya seolah-olah tidak berarti ketika sadar bahwa dia tidak ada di sisi suaminya yang meregang nyawa. Dia juga tidak bisa membuat hatinya kembali baik-baik saja.
Maharani belum sempat memasak sarapan untuk lelakinya. Dia juga belum pernah menyiapkan kopi untuk penghangat pagi suaminya. Bahkan, dia belum merengkuh indahnya malam pertama. Semua terenggut paksa darinya.
Mimpi-mimpi indah yang pernah dia rangkai bersama Bintara–suaminya–hanya menjadi sebuah angan yang tak pernah jadi nyata.
Maharani terlonjak dari tidurnya saat ponselnya berdering. Mimpi yang sama selama lima tahun ini, kilas balik masa lalunya selalu menjadi bunga tidur yang setia menemani.
Maharani bergeming. Mendadak bayangan Lingga melintas. Saat dia sendiri belum bisa melepas masa lalunya, lantas adilkah jika dia membawa serta Lingga ke pusaran hidup yang bahkan dia sendiri tak yakin bisa maju?
Ponsel Maharani kembali berdering. Gadis itu langsung kembali tersadar. Diraihnya ponsel yang tergeletak di nakas.
Mama.
Layar ponsel yang masih berkedip itu menampilkan sebuah nama.
"Halo, Assalamualaikum, Ma," sapa Maharani menjawab sambungan telepon.
“Waalaikumsalam, Nak. Ran kamu hari ini pulang ke rumah, 'kan?” Terdengar sahutan dari seberang sana.
"Insya Allah, Ma. Rani pulang sore, ya? Hari ini Rani sift pagi."
“Ya, sudah. Nanti mama masakin makanan kesukaan kamu.” Jawaban dari seberang sana kembali terdengar.
"Terserah Mama saja, tapi kalau Mama capek, gak perlu repot-repot. Biar Rani beliin makanan dari luar saja. Mama mau makan apa?”
“Jangan-jangan! Mama sudah suruh Mbak Sum untuk belanja ke pasar. Mama juga sehat kok, Mama tunggu kamu, ya? Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Maharani mengakhiri sambungan teleponnya. Maharani meletakkan kembali ponselnya ke nakas.
Maharani mendongak menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul enam pagi. Selesai salat subuh tadi, dia memilih untuk melanjutkan tidur.
Kemarin, Maharani sengaja memilih untuk menginap di Rumah sakit. Pergantian sift dari malam ke pagi membuat dia tak punya banyak waktu untuk pulang terlebih dahulu. Waktu tiga jam yang tersisa setidaknya bisa dia gunakan untuk istirahat sejenak.
Akan tetapi, itu tak lantas membuat Maharani terbebas dari perhatian Erna. Baru dua hari tak pulang, sudah hampir lima kali sang mama menghubunginya hanya untuk memastikan dia sudah makan atau belum.
Mengingat Erna, Maharani tersenyum simpul. Dia tidak bisa membayangkan apa jadinya dirinya sekarang kalau dulu tak bertemu dengan Erna.
Erna adalah sahabat mendiang mama Maharani. Pertemanan yang dimulai sejak masa SMA itu, membuat Erna dan Santi–mama Maharani–menjadi begitu dekat dan saling percaya.
"Bagaimana kalau besok kita jodohkan anak-anak kita?" celetuk Erna di suatu sore.
Santi tersenyum simpul. Diperhatikannya bayi yang yang kini dalam gendongan Erna itu. Putri yang baru dia lahirkan empat hari lalu itu tak hanya memberi kebahagiaan untuk dia dan suaminya, tapi juga Erna, sahabatnya.
Setelah melahirkan putra pertamanya empat tahun lalu, terjadi masalah pada rahim Erna. Erna mengalami hemorraghic postpartum atau pendarahan hebat. Segala upaya telah dokter lakukan, termasuk pengobatan, tampon, pengikatan rahim, dan pengikatan pembuluh darah untuk mencegah perdarahan. Namun, sayangnya upaya itu tak berhasil dan jalan satu-satunya ada pengangkatan rahim.
Erna begitu bahagia ketika tahu Santi melahirkan anak perempuan. Meskipun dia tak bisa melahirkan seorang putri dari rahimnya sendiri, setidaknya dia bisa menganggap anak Santi seperti anaknya juga.
"Kamu ini, sekarang udah gak jamannya jodoh-jodohan. Biarkan mereka menentukan masa depannya masing-masing, kita hanya bertugas mengarahkan saja," ucap Santi.
"Tapi aku udah sayang banget sama anakmu ini. Serasa meluk anak sendiri." Erna menciumi bayi yang masih dalam gendongannya itu.
Santi hanya memperhatikan dengan seulas senyum. Dia bisa melihat bahwa Erna tulus menyayangi putrinya itu.
"Dia putrimu juga. Kamu berhak menyayangi dan menjaganya juga."
Mendengar ucapan Santi, Erna tersenyum lebar. Ditatapnya sahabatnya yang kini juga melihat ke arahnya.
"Berjanjilah padaku, jika suatu terjadi apa-apa padaku, kamu akan menjaga Maharani untukku," lanjut Santi dengan membelai lembut bahu sahabatnya.
Erna mendengkus. Sejak memasuki ruang bersalin beberapa hari lalu, Santi selalu mengucapkan hal yang sama.
"Kamu ini ngomong apa! Kita akan jaga dia bersama-sama. Sudah, jangan begitu. Lihat wajahmu! Sudah kusam makin gelap saja saat kamu ngomong kayak gitu. Sepertinya aku harus segera menyeretmu ke salon, wajahmu benar-benar tak enak dilihat." Guyonan Erna itu berhasil menciptakan tawa di antara dua sahabat itu.
Empat tahun berlalu, kejadian mengenaskan itu terjadi. Santi dan sang suami yang sedang melakukan perjalanan untuk bisnis mengalami kecelakaan tunggal. Mereka meninggal di tempat.
Beruntung saat itu Maharani dititipkan kepada Erna. Perjalanan yang jauh, serta urusan bisnis yang mendadak membuat Santi terpaksa tak mengajak Maharani ikut serta. Bocah empat tahun itu selamat dari maut.
Kedua orang tua Maharani adalah anak tunggal. Kakek nenek bocah tersebut pun sudah lama meninggal. Maharani tak hanya menjadi yatim piatu, tapi juga kini hidup sebatang kara.
Erna yang sudah begitu menyayangi Maharani tentu saja langsung membawa gadis itu ke rumahnya. Erna menepati janji, dia benar-benar merawat dan membesarkan Maharani dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Maharani tumbuh tanpa kekurangan apa pun. Tak cuma materi, kasih sayang yang berlimpah pun dia dapatkan dari Erna. Cita-cita dia menjadi seorang perawat pun terwujud berkat kebaikan Erna.
Erna tak hanya menjadi ibu kedua bagi Maharani. Wanita paruh baya itu pun sudah seperti sahabat baiknya. Hingga akhirnya, Erna mengubah hubungan tanpa materai itu menjadi hubungan sah di mata negara dan agama.
Maharani menjadi istri sah dari Bintara, putra Erna. Kini tak ada lagi sekat atau pun alasan yang membuat gadis itu pergi dari keluarganya. Erna dipuncak bahagia.
Cita-cita terbesarnya akan segera terwujud.