“Masih marah?” Ucapan pertama dari Bintara saat Maharani mengangkat panggilan.
Maharani tak langsung menjawab. Terdengar suara helaan napas dari seberang sana.
“Aku minta maaf. Tak seharusnya aku bicara sekasar itu. Aku sendiri tak tahu kenapa bisa seperti ini. aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu denganmu karena mungkin, aku tak sepenuhnya bisa menjagamu sampai menua nanti.”
“Kamu ngomong apa sih, Mas? Gak usah ngomong yang aneh-aneh!” protes Maharani cepat.
Kini, suara kekehan Bintara terdengar. “Jadi, apa aku harus terus-terusan berdoa untuk tak berumur panjang agar kamu mau berbicara saat kita sedang marahan nanti?” Godaan Bintara menciptakan decakan sebal di bibir Maharani.
“Bercandamu gak lucu, Mas! Jangan bawa-bawa umur!” Sekali lagi Maharani melayangkan protes.
“Maaf, Sayang. Mau seperti apa rumah tangga kita nanti, aku ingin kita lebih saling terbuka, tentang apa pun itu. Entah karena aku yang sering lupa meletakkan sebelah kaos kaki dan akhirnya membuatmu ikut repot untuk mencari atau saat aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihatmu sibuk menerima paket karena keasyikan chek out shopee.”
Tak bisa Maharani pungkiri, ucapan Bintara sekarang berhasil menciptakan sebuah tawa di bibirnya. Rasa kesalnya menguap seketika.
“Ah, senangnya mendengar suara tawamu. Kamu sudah tidak marah lagi, kan?” tanya Bintara.
“Iya, Mas. Aku juga minta maaf, harusnya gak langsung emosi seperti kemarin.”
“Alhamdulillah. Lega banget aku rasanya. Semoga, seterusnya kita akan seperti ini. gak mungkin dalam rumah tangga tidak ada pertengkaran, tapi kalau pun ada, semoga semuanya cepat terselesaikan seperti sekarang. Kita selesaikan semuanya dengan saling terbuka dan duduk bersama. Dan kalau pun dengan duduk bersama kita masih belum menemukan solusi, speertinya semua akan terpecahkan dengan tidur bersama.” Sebuah tawa renyah menggema dari arah seberang.
Maharani pun mau tak mau ikut menahan senyuman. Pemikiran jauh Bintara itu tak ayal membuatnya tersipu malu. Belum apa-apa Bintara sudah berani bicara senakal ini, bagaimana besok?
“Kamu ngomong apa, sih, Mas.”
“Biar suasananya mencair, Sayang. Aku ini lagi kangen banget sama kamu. yakin, gak boleh jemput ini?”
Mendengar suara manja Bintara, sejujurnya Maharani juga merasa kasihan. Namun, semua demi kebaikan mereka bersama. Erna akan sangat marah jika sekali lagi mereka melanggar perintahnya.
“Mas, jangan begini. Besok kita sudah ketemu lagi, loh. Gak cuma ketemu malahan, kita sudah sah jadi suami istri. Jadi, bertahanlah sehari saja, ya?”
“Iya, Sayang. Iya. Meskipun sebenarnya aku masih pingin banget ngerayu kamu biar mau dijemput, tapi ya sudahlah. Aku nurut saja sekarang, kamu tunggu pembalasanku nanti.”
Maharani mengerutkan alisnya. “Pembalasan apa?” tanyanya.
“hmm ... biar aku jelasin besok. Sekalian prakteknya.”
“Apaan, sih, Mas?” tanya Maharani masih dengan keadaan bingung.
“Sabar, Sayang. Bertahanlah sehari lagi,” jawab Bintara dengan terkekeh.
“Itu omonganku, Mas!”
“Sayang! Sayang! Sayang! Berhenti memanggilku, Mas. Aku ini suamimu loh, bukan mas-mas bakso langgananmu. Biasakan panggil sayang, beb, atau honeya juga gak papa.”
Maharani memukul dahinya sendiri pelan. Bintara dengan segala protesannya kembali muncul.
“Kan aku sudah biasa manggil begitu, Mas. Gak enak kalau diganti-ganti.”
“Ya, makanya dibiasain, Sayang.”
“Ran, gawat! Gawat banget ini, Ran!” Anggun tiba-tiba nyelonong masuk begitu saja.
Maharani yang semula masih sibuk berbicara dengan Bintara langsung terbengong saat melihat Anggun.
“Ada apa, sih? Apanya yang gawat?” tanya Maharani bingung. Sebelum Anggun sempat menjawab, gadis itu mengangkat sebelah tangannya, tanda Anggun untuk berhenti sejenak.
“Mas, nanti aku telepon lagi, ya? Sepertinya ada yang penting,” ucap Maharani kpada Bintara.
“Iya. Kabari kau secepatnya kalau ada apa-apa."
Panggilan dari Bintara pun ditutup. Maharani langsung berlari ke luar ruangan, membuat Anggun menatapnya bingung. Bukankah dia yang datang untuk bicara? Kenapa malah ditinggal?
"Ran, mau ke mana?" teriak Anggun di depan pintu pantry.
Maharani menghentikan laju larinya. Dia menoleh, menatap Anggun yang juga sedang menatapnya. Jadilah dua orang itu saling tatap dalam kebingungan.
"Lah, katamu tadi yang gawat apaan? Bukannya ada pasien di UGD?"
"Bukan! Sini dulu! Kita ngobrol di sini saja," ucap Anggun dengan menunjuk ruang pantry.
Maharani mengangguk. Dia balik badan dan berjalan masuk kembali ke ruangan. Maharani menarik satu kursi, duduk di seberang Anggun yang kini sudah memasang wajah serius.
"Ada berita duka." Anggun memulai percakapan.
Maharani menaikkan sebelah alisnya. Sedikit penasaran, tapi tak berniat memotong ucapan Anggun.
"Mobil yang dipakai teman-teman untuk liburan kemarin mengalami kecelakaan saat perjalan pulang."
"Innalillahi." Maharani spontan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Kabar ini tak hanya gawat, tapi juga begitu mengejutkan.
"Terus, gimana keadaan mereka?" Maharani kembali bertanya.
"Alhamdulillah gak parah, mungkin besok pagi mereka akan dipindahkan ke mari. Cuma masalahnya bukan itu saja."
"Ada masalah apa lagi?"
"Kalau kondisi mereka seperti itu, otomatis mereka tidak bisa bekerja untuk beberapa hari. Dan baru saja aku dapat berita, ada satu keluarga yang menderita demam berdarah dan akan secepatnya di bawah ke sini. Mereka tak mungkin dibawa ke kota, kondisinya sudah sedikit darurat karena mereka terlambat periksa. Kamu tahu kan kita hanya bertiga sekarang? Kita akan sedikit kewalahan nanti."
Maharani mencerna ucapan Anggun. Klinik tempatnya bekerja ini memang bukanlah klinik yang besar. Letaknya pun jauh dari kota. Hanya ada dua dokter dan lima dokter dan satu customer service.
Sejak dua hari yang lalu, yang menjaga klinik ini hanya Maharani, Anggun dan Dokter Budi. Beruntung klinik sedikit sepi, jadi tak menganggu kinerja mereka meski hanya bertiga.
Maharani sengaja memilih klinik ini untuk tempatnya mengabdi saat pertama kali lulus kuliah. Selain sembari menunggu SK-nya turun, Maharani juga ingin benar-benar mengabdi untuk masyarakat. Dan tempat ini, cocok untuk impiannya itu.
"Jangan putus asa. Kita pasti bisa melewati ini." Maharani menggenggam tangan Anggun, mencoba menguatkan.
Maharani paham, Anggun pasti merasa bersalah kepada putrinya karena lagi-lagi dia tak bisa pulang.
"Bukan hanya itu masalahnya, Ran. Pernikahanmu?"
Ucapan Anggun sontak membuat Maharani tersadar akan sesuatu. Tanpa sadar, genggaman tangannya kepada Anggun merenggang. Tatapannya kosong. Kenyataan yang benar-benar membuatnya tertampar.
Maharani masih terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Dua-duanya penting dalam hidupnya. Dia memilih menjadi seorang perawat agar bisa menjadi orang yang sedikit berguna bagi masyarakat. Namun, pernikahannya dengan Bintara pun tak kalah penting. Mana yang sekarang harus dia dahulukan?
"Atau begini saja, Ran. Tak apa, aku akan mengatasinya bersama Dokter Budi untuk besok, tapi maaf, lusa bisakah kamu kembali? Maaf jika ini merepotkan dan menganggu pernikahanmu, tapi kami benar-benar tak akan bisa hanya berdua."
Lagi-lagi ucapan Anggun benar adanya bagi Maharani. Dia tak boleh egois.
"Mbak, pasien dari Desa Galunggung sudah datang."
Suara dari arah pintu membuat Anggun dan Maharani menjeda obrolannya. Tak menunggu lama lagi, kedua perawat itu langsung berdiri dan menuju ke ruangan UGD.
Seperti kata Anggun, pasien penderita demam berdarah ini satu keluarga. Dua orang dewasa dan dua orang dewasa.
"Ayo bantu saya pasang infus!" Suara Dokter Budi mengintrupsi.
Anggun dan Maharani dengan cekatan melaksanakan tugas mereka. Satu persatu pasien diinpus dan diambil sampel darahnya untuk dicek di laboraturium.
Usai memindahkan pasien ke kamar perawatan, sebuah tangis anak kecil mengalihkan perhatian Maharani. Seorang bocah berusia sekitar enam tahun menangis sendirianndi ruang tunggu UGD.
"Dek, kok nangis? Bapak ibunya ke mana?" tanya Maharani.
Maharani sedikit bingung sejak tadi tak ada seorang pasien pun ke sini kecuali satu keluarga yang sakit demam berdarah. Lantas, bocah ini anak siapa?
"Bu dokter, ibu sama bapakku gak mati, kan?"
Maharani mengerutkan alis, sedikit bingung dengan pertanyaan tiba-tiba bocah tersebut.
"Bapak ibu kamu yang mana?" Maharani kembali bertanya.
"Itu tadi yang Bu Dokter suntik. Mas sama Mbakku juga tadi disuntik. Mereka tidak mati kan, Bu Dokter?" Bocah kecil itu bertanya sembari sesenggukan.
Maharani terenyuh menatap ketulusan dari bocah berbaju pink itu. Dari semua keluarganya, ternyata hanya dia yang sehat. Terlihat dia juga begitu takut terjadi apa-apa dengan keluarganya.
"Sayang, Ibu, Bapak, Mas sama Mbak kamu bakal sembuh kok. Mereka pasti baik-baik saja. Kamu jangan nangis, kalau kamu nangis mereka pasti ikutan sedih," ucap Maharani sembari membelai lembut rambut bocah tersebut.
"Beneran mereka pasti sembuh Bu Dokter?" Bocah itu kembali memastikan.
Maharani mengangguk mantap. Jawaban Maharani itu sontak membuat tangis bocah kecil itu mereda. Dia langsung bangkit dari kursinya, berjalan meninggalkan Maharani dan menuju ke kamar perawatan orang tuanya.
Maharani masih terdiam di tempat. Dia menatap kepergiaan bocah yang kini sudah tak terlihat lagi itu.
Dua jam bergulat dengan pekerjaannya, kini rasa lelah mendera tubuhnya. Ada hal yang lebih serius yang harus dia pikirkan. Bintara dan mamanya pasti sedang menunggu kabar darinya.
Maharani tak tega jika harus meninggalkan Dokter Budi dan Anggun, belum lagi gadis kecil tadi mengingatkan dia padanya dulu, saat bagaimana dia harus menunggu jenazah orang tuanya dibawa pulang.
Pelan, Maharani mengambil ponsel dalam sakunya. Dia menekan tombol dan mencari nama Bintara. Panggilan terhubung.
"Halo, Assalammualaikum. Gimana? Mau dijemput kapan?"
Pertanyaan Bintara membuat Maharani sedikit gugup untuk menjawab. Namun, bagaimana pun dia harus secepatnya mengambil keputusan.
"Mas, maaf. Aku belum bisa pulang sekarang, dan mungkin besok pun aku tidak akan bisa menghadiri acara pernikahan kita."