“Kenapa? Kamu ada masalah di sana? Kamu baik-baik saja, kan?”
Pertanyaan Bintara yang bertubi-tubi membuat Maharani hanya bisa memejamkan mata. Gadis itu sadar betul kalau calon suaminya itu kini tengah cemas dengan kondisinya.
“Aku gak papa, Mas. Semuanya baik, hanya saja tidak dengan teman-temanku dan klinik yang saat ini tidak bisa ditinggal.”
Sejujurnya, Maharani sedikit bingung harus mulai cerita dari mana. Tak hanya Bintara, sang mama pun pasti akan sangat kecewa dengan keputusan yang akan dia ambil sekarang.
“Tidak bisa ditinggal kenapa? Emang teman-teman kamu juga kenapa? Kamu gak lagi bercanda kan, Sayang? Kamu gak lagi ngerjain aku balik, kan?” pertanyaan bertubi-tubi kembali Bintara layangkan.
“Teman-temanku yang kemarin pergi berlibur kecelakaan, Ma. Dan sekarang mereka dala perjalanan kemari untuk dirawat. Kebetulan juga di sini ada satu keluarga terkene demam berdarah, kami hanya tiga orang di sini, kalau aku pergi, kasihan Anggun.”
Di ujung telepon sana, Bintara mengusap wajahnya kasar. Kenapa harus datang masalah di saat semuanya sudah di depan mata?
“Terus pernikahan kita gimana? Mama juga gimana? Kamu juga harus tahu perasaan kamu, Ran.” Suara bintara mengibah. Kebiasaan Maharani yang lebih peduli dengan orang lain ketimbang dirinya sendiri kembali muncul.
“Aku minta maaf, Mas. Gak mungkin aku pulang dalam keadaan seperti ini. Di sana aku berbahagia, tapi di sini teman dan pasien-pasienku berjuang sendirian.”
“Tapi ini sudah tidak mungkin ditunda, Ran. Gimana harus membatalkan undangan yang telah tersebar?”
Entah karena emosi atau memang karena tak sadar, suara Bintara meninggi. Maharani pun tak menyalahkan lelaki itu jika kini dia marah. Perlahan, air mata Maharani luruh. Dia tak tahu harus bersikap bagaimana.
“Aku akan ke sana, kita harus cari solusi. Aku gak mau pernikahan batal hanya gara-gara ini.”
Suara Bintara kembali terdengar.
Maharani masih belum kuasa untuk menjawab. Hanya suara isakan tangisnya yang terdengar.
“Kamu nangis?” Bintara kembali bertanya.
“Maaf, Mas. Aku benar-benar minta maaf.” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Maharani.
“Kamu minta maaf? Untuk apa? Ini bukan salahmu, kecuali kalau memang kamu memakai ini untuk alasan membatalkan pernikahan kita.”
Maharani menghela napas mendengar tuduhan Bintara. Dia ingin protes dan marah, hanya saja dia mengingat ucapan Anggun. Keadaan yang terdesak memang terkadang membuat orang gampang emosi.
“Mas ... kamu tahu aku ini yatim piatu sejak kecil. Bertemu mama Erna dan kamu itu adalah kebahagiaan yang tak pernah bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Dan setelah lama terkurung dalam kesedihan, hadirmu memberi warna pada hidupku yang semula abu-abu. Menikah denganmu itu impianku, Mas. Mana mungkin aku ingin membatalkan pernikahan ini? sama sepertimu, percayalah aku juga ingin segera pulang dan menunggu moment sah menjadi istrimu.”
Untuk beberapa saat, baik Bintara maupun Maharani tak ada yang bersuara. Tak ada yang mau di posisi seperti sekarang. Tak ada yang ingin berteman dengan keadaan yang seringkali tak bersahabat. Tidak ada yang salah di sini, baik Bintara, Maharani atau pun takdir itu sendiri.
“Maaf, Sayang. Maaf. Beberapa jam lalu kita masih membahas apa saja yang akan kita lakukan saat sedang marahan setelah menikah dan sekarang tiba-tiba pernikahan kita terancam batal hanya karena kamu tidak bisa pulang. Aku panik.”
Bintara kembali menjelaskan.
“Aku yang minta maaf, Mas. Aku yang membuat keadaan kita jadi sulit seperti ini. sungguh, Mas. ku juga gak pingin ini terjadi.”
“Aku ke sana sekarang, kita obrolin ini dulu bersama.”
“Tapi mama gimana, Mas?” potong Mahrani cepat.
“Kita ini sedang dalam keadaan darurat, bisa-bisanya kamu masih mikirin Mama gimana. Bila perlu aku akan mengajak mama ikut serta, dia perlu tahu apa yang terjadi di antara kita sekarang.”
Maharani menghela napas sejenak. Bintara benar, kali ini Erna memang harus tahu apa yang sedang mereka hadapi sekarang. Masalah ini terlalu rumit unutk bisa mereka selesaikan sendiri.
“Baiklah, Mas. Terserah kamu saja. kamu kalau mau ke sini langsung ke klinik saja, aku tidak bisa meninggalkan tempat ini lama-lama.”
Setelah kesepakatan tercipta dari sepasang kekasih itu, Maharani menutup teleponnya. Dia menyandarkan kepalanya kepada tembok di belakangnya. Kejutan yang tak terduga ini benar-benar membuat kinerja jantungnya bekerja dua kali lebih cepat.
Apakah ini yang dinamakan cobaan menjelang pernikahan? Sejak kemarin, memang selalu ada saja yang membuat Maharani dan Binatar bertengkar, dan puncaknya adalah sekarang. Bahkan bisa dibilang ini jauh lebih mengejutkan, taruhannya adalah acara pernikahan mereka yang hampir batal.
“Bu Dokter mau permen?”
Maharani meneggakkan kembali badannya saat mendengar suara bocah kecil yang beberapa saat lalu duduk bersamanya. Gadis kecil itu mengulurkan sebuah permen lolipop rasa coklat ke arah Maharani.
“Bu Dokter kenapa menangis? Ibu bapakku pasti sembuh kok, tadi aku cerita kepada mereka kalau bu dokter pasti buat mereka sembuh. Ibu bapakku senang sekali,” celoteh gadis kecil itu.
Maharani tersenyum, dia membersihkan sisa air mata yang ada di pipinya.
“Terima kasih,” ucap Maharani sembari meraih permen yang disodorkan oleh bocah tersebut.
“Siapa namamu?” tanya Maharani saat gadis itu sudah mengambil tempat duduk di sampingnya.
“Maura,” jawabnya singkat. Gadis itu tengah asik memakan permen lolipop yang ada di tangannya.
“Ran, rombongan teman-teman sudah datang.” Di saat yang bersamaan, Anggun muncul. Maharani langsung berdiri dari tempatnya, dia menoleh sejenak ke arah Maura dan tersenyum kecil.
“Aku mau merawat pasien dulu, ya? Kamu masuk ke kamar saja dulu. Jaga Ibu Bapak. Terima kasih untuk untuk permennya.”
Maura menganngguk lantas berdiri dan kembali ke kamar rawat orang tuanya. Sedangkan Maharani berbalik menyusul Anggun dengan memasukkan permen dari Maura ke dalam sakunya.
Maharani memeriksa satu persatu kondisi teman-temannya. Memang tidak ada yang serius, tapi butuh beberapa hari untuk mereka bisa beraktivitas lagi. Berdasarkan cerita teman-temannya itu, kecelakaannya pun tak terlalu parah. Mobil yang mereka tumpangi sedikit oleng, hingga akhirnya menabrak pembatas jalan. Untung saja sang sopir cukup cekatan sehingga mobil tak sampai melewati pembatas jalan.
Karena kejadian itulah, sang sopir yang tidak lain adalah Dokter Danu mendapatkan luka jahitan di bahu kanannya. Demi menahan agar mobil tak sampai lepas kendali dan memakan korban yang banyak, Danu membanting setir ke kanan. Membuat tubuhnya sendiri menjadi tumbal.
Kini, Maharani mendapat tugas memasang infus untuk dokter muda yang dikenal telah lama menaruh rasa padanya. Danu sudah mendapatkan pertolongan pertama di rumah sakit yang paling dekat dengan tempat kejadian.
“Maaf, ya? Kami jadi merepotkanmu. Harusnya kamu gantian libur, kan?” Dokter Danu memulai percakapan.
Maharani yang sedari tadi sibuk menyiapkan infus hanya menoleh sebentar lantas tersenyum. “Gak papa, Dok. Kan memang tugas saya juga. tapi kenapa harus ke mari? Kan Dokter bisa ke rumah sakit di kota saja, peralatannya lebih lengkap dan terjamin, kan?”
Danu terkekeh mendengar penuturan perawatnya itu.
“Kamu ini lucu. Kenapa harus ke rumah sakit besar kalau obatnya saja ada di sini.”
Maharani mengerutkan alis mendengar jawaban Danu. Dokter muda yang kini menatapnya tanpa berkedip itu, membuat Maharani kesulitan mengartikan ucapannya.
“Maksudnya gimana sih, Dok?” tanya Maharani.
“Enggak, maksudku luka kami kan gak terlalu serius, kalau kami di sini, kami masih bisa bantu-bantu kalian kalau kebetulan ada yang mendesak. Kamu kan Cuma bertiga, pasti kewalahan kan kalau banyak pasien?” jelas Dokter Danu.
Maharani mengangguk mengerti. Gadis itu masih dengan telaten melakukan pekerjaannya sedang Danu sendiri masih sibuk menatap Maharani yang sedang tidak sadar telah diamati.
“Kamu apa kabar, Ran? Tiga hari gak ketemu kok, kantong mata kamu hitam begitu. Banyak pasien, ya? Kamu kewalahan, ya? Harusnya kemarin kalau niat jalan kita tutup saja kliniknya, jadi kamu juga bisa ikut refresing.”
“Gak papa, Dok. Lagi pula kita gak tau kapan ada pasien dengan keadaan darurat. Kalau hanya karena kesenangan kita pribadi harus mengorbankan nyawa orang lain, aku mending tidak pergi ke mana-mana.”
Jawaban Maharani itu menciptakan senyuman di bibir Danu. Sejak dulu, hampir semua orang di klinik tersebut tahu betapa Danu begitu mengagumi Maharani. Gadis sederhana dan tak banyak tingkah itu berhasil mencuri hati dan mematahkannya secara bersamaan. Ya, meskipun tak pernah mengakui secara langsung, tapi Danu yakin bahwa Maharani tahu dia menyukainya. Namun, bukannya malah mendapatkan sambutan yang bagus, Danu malah lebih sering dihindari.
Apakah Danu menyerah? Tidak! Selama dia belum melihat Maharani bersanding dengan lelaki lain, atau terlihat berjalan berdua saja dengan lelaki lain, dia tidak akan menyerah. Baginya, Maharani serupa air di gurun yang tandus, menyejukkan.
Dan sampai selama ini, Danu tak pernah melihat Maharani dekta dengan siapa pun. jadi, jangkan salahkan dia jika dia merasa Maharani hanya menunggu pernyataan resmi darinya.
“Ran, kalau aku sudah membaik, ada waktu buat jalan, gak?” tanya Danu. Meskipun sedikit ragu, tapi pemuda itu bertekad untuk memastikan perasaan gadis incarannya.
Maharani yang sudah menyelesaikan tugasnya kembali mendongak lagi. Ditatapnya wajah Danu yang terlihat begitu berharap itu.
“Tapi, Dok ...” jawaban Maharani menggantung. Dia tak tahu harus memulai dari mana menceritakan hubungannya dengan Bintara.
Melihat Maharani yang ragu, Danu buru-buru menyela. “Jangan jawab sekarang, lagian aku juga belum sembuh,” lanjut Danu sembari terkekeh.
"Sayaang."
Maharani dan Danu menoleh bersamaan. Jika Maharani menanggapi dengan senyuman, maka Danu sebaliknya. Dokter muda itu melihat lelaki yang berdiri di depan tirai itu dengan dahi berkerut.