BAB 11
“Dokter, ini sudah selesai, aku tinggal dulu, ya?” maharani bangkit dari tempatnya.
Danu hanya bisa menatap kepergiaan Maharani dalam diam dan seribu tanya. Baru saja dia merasa jalan untuk mendekati gadis itu terbuka lebar, dan tiba-tiba saja ada yang datang dan langsung memanggilnya sayang. Pupus sudah harapan Danu.
“Sudah bisa ngobrol sebentar?” tanya Bintara saat Maharani sudah keluar dari ruang rawat inap Danu.
“Aku mau lihat ke dalam sebentar, ya, Mas. Kamu tunggu di taman samping aja, aku segera nyusul,” ucap Maharani yang langsung diangguki oleh Bintara.
Dua orang itu berpisah di koridor klinik, jika Bintara belok ke kiri menuju taman kecil samping klinik, Maharani memilih masuk ke ruangan di mana Anggun berada.
Di dalam sana, terlihat Anggun sedang menikmati secangkir kopi. Dia memukul bahu kanannya beberapa kali, mungkin rasa capek sedang menyerangnya sekarang.
“Gimana yang lain? Aku belum sempat lihat mereka,” ucap Maharani dengan menarik satu kursi di samping Anggun.
“Gak papa. Gak seberapa parah. Eh, tadi aku lihat ada Mas Bin-mu itu, kamu sudah mau pulang?” tanya Anggun yang sekarang menghentikan pukulan di bahunya dan mulai fokus dengan Maharani.
“Aku gak bisa pulang ninggalin kamu dengan keadaan kayak gini. Nanti kamu gantian jaga sama siapa? Kamu sendiri belum istirahat dari semalam kan?”
Anggun menghela napas. Sejak dulu Maharani memang dikenal seperti ini, terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain.
“Terus maksud kamu gimana? Pernikahanmu mau dibatalin gara-gara ini?”
Maharani menggeleng pelan. "Aku dilema. Aku tidak ingin pernikahanku batal, tapi tidak juga dengan meninggalkanmu. Kamu ada ide?" Maharani bertanya balik.
"Nikah saja di sini," jawab Anggun asal.
Maharani langsung melongo mendengar jawaban Anggun. Bisa-bisanya temannya itu memberikan jawaban yang maintsream.
"Mana bisa? Kamu jangan ngaco. Kalau aku pulang, aku takut gak bisa langsung kembali ke sini besok. Kamu tahu mamaku, kan? Aku juga gak bakal bisa nolak dia," jelas Maharani.
Anggun menggaruk tengkuknya. Bukan dia yang menikah, tapi kenapa dia harus ikut repot memikirkan ini?
"Pulang saja, Ran! Semua sudah terkendali di sini. Insya Allah aku dan Dokter Budi bisa menangani ini. Jangan khawatir, nanti kalau darurat aku bisa meminta bantuan Dokter Danu meskipun dia hanya bisa memberikan instruksi."
Maharani memikirkan sekali lagi ucapan Anggun. Benar kata temannya itu, bukankah Dokter Danu tadi juga bilang begitu.
"Tapi, selain kamu belum ada yang tahu dengan rencana pernikahanku besok. Aku juga belum bicara dengan Dokter Budi. Mengingat situasi sekarang, aku yakin beliau juga sedang sibuk. kalau pun ada waktu senggang, mungkin beliau pakai beristirahat. Aku tak berani menganggu."
Anggun mendengar dengan seksama ucapan Maharani. Semua yang dikatakan gadis itu benar adanya. Bagaimana meminta ijin di situasi yang seperti ini. Dibanding dengan Dokter Danu, berbicara langsung dengan Dokter Budi memang sedikit menakutkan. Bukan karena Dokter itu menakutkan, tapi lebih karena beliau sangat disegani. Ah, Anggun mendadak ikut pusing.
"Kalian di sini. Ayo bantu saya! Salah satu pasien demam berdarah ada yang kejang."
Maharani dan Anggun langsung berdiri saat mendengar suara Dokter Budi. Beginilah bekerja di rumah sakit, mungkin beberapa jam kondisi bisa terkendali, tapi dalam hitungan detik, semua juga bisa dibikin jungkir balik. Inilah yang membuat Maharani sedikit ragu untuk meninggalkan tempat ini.
Maharani dan Anggun menyusul langkah Dokter Budi. Untung saja klinik ini tak seberapa besar, jadi mereka bisa sampai ke kamar pasien dengan cepat.
Dokter Budi dan dua perawatnya itu dengan cekatan menangani pasien. Terdengar isak tangis di depan pintu masuk. Maharani sempat menengok, Maura menangis sesengukan melihat ibunya.
Beberapa suntikan diberikan lewat cairan infus. Tak lama, terlihat pasien sudah jauh lebih tenang. Untuk beberapa jam ke depan, pasien akan terus dipantau untuk memastikan bahwa masa daruratnya sudah pergi.
Melihat pasien sudah membaik, Dokter Budi keluar ruangan lebih dulu setelah memberikan perintah kepada Anggun untuk terus mengawasi pasien.
Maharani mendekat ke arah Maura berdiri. Gadis itu merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan bocah kecil itu.
"Maura jangan nangis. Ibu kamu sudah tidak apa-apa," ucap Maharani pelan.
"Benarkah? Ibuku tidak akan mati?" tanya Maura.
Maharani menggeleng. "Tidak. Ibumu pasti sembuh. Sekarang temanilah dia. Kalau ada apa-apa jangan lupa panggil kami."
Maura mengangguk. Bocah kecil itu langsung berjalan mendekati ranjang ibunya.
"Pergilah. Keadaan sudah membaik, kasihan calon suamimu sudah lama menunggu," ucap Anggun saat dia dan Maharani keluar dari ruangan.
Tanpa bersuara, Maharani mengangguk. Gadis itu melangkahkan kaki menuju taman samping tempat Bintara menunggunya.
"Mas, maaf, lama," ucap Maharani sembari duduk di samping calon suaminya itu.
Bintara menatap Maharani sendu. Dia sedikit kasihan melihat kondisi Maharani yang sepertinya kurang istirahat. Tak hanya lelah fisik, keadaan yang terjadi sekarang pasti juga membuat hati dan pikirannya lelah.
"Kamu sehat?" Bintara mengulurkan tangan, membelai lembut pucuk kepala Maharani yang tertutup jilbab.
Maharani mengangguk.
"Kamu kelihatan lelah. Kamu boleh memikirkan kesehatan orang lain, tapi kamu juga harus jaga kesehata," lanjut Bintara.
Maharani menatap manik mata lelaki yang besok akan menjadi suaminya itu. Mendengar perkataan Bintara, entah kenapa rasa lelah Maharani menguap seketika. Ada semacam suntikan semangat tersendiri yang membuat Maharani bisa sedikit lebih tenang.
"Mama gak ikut, Mas?"
Bintara menggeleng. "Mama sedang keluar. Beliau antusias sekali mempersiapkan pernikahan kita hingga tak mau ada orang yang ikut campur."
Mendengar ucapan Bintara, Maharani semakin merasa bersalah. Sudah ada banyak hal yang disiapkan Erna, lantas tegakah dia membatalkan semuanya?
"Jadi, gimana dengan besok? Kamu masih tidak mau pulang?" Sebuah pertanyaan dilontarkan Bintara.
Maharani langsung mendongak, menatap langsung ke arah mata Bintara yang pengharapan.
"Mas ...." Suara Maharani kembali terputus.
"Kenapa? Masih dengan pendirian kamu?" Bintara manaikkan sebelah alisnya, mengintimidasi jawaban dari Maharani.
Maharani menarik napas sejenak. "Aku tidak mungkin meninggalkan Anggun sendirian, Mas. Baru saja ada pasien yang dalam keadaan darurat. Anggun harus memantaunya beberapa jam ke depan. Kalau Anggun fokus dengan pasien itu, siapa yang menjaga pasien lain."
"Terus pernikahan kita gimana, Ran? Kita menikah besok! Besok!" Bintara sampai mengulang dua kali kata-katanya. Kesabarannya hampir saja habis.
Maharani tak menjawab. Dia hanya menunduk. Air matanya mulai menggenang.
"Ran, kita tak sedang bermain sinetron. Kamu gak perlu jadi tokoh utama yang terlalu baik. Pikirkan dirimu sendiri! Pikirkan masa depanmu! Ada aku dan mama juga yang perlu kamu pikirkan perasaanya."
Maharani masih tak menyahut. Bintara bangkit dari tempatnya. Meremas sendiri rambutnya dengan kasar. Dia tak ingin menyakiti Maharani, tapi dia juga tak ingin pernikahannya batal.
Melihat Maharani yang masih menunduk dalam diam, Bintara iba. Lelaki itu merendahkan tubuhnya. Bintara berlutut di depan Maharani, mengangkat wajah ayu yang kini telah basah dengan air mata itu menghadap padanya.
"Tak bisakah kamu mengambil keputusan lain yang terbaik buat kita bersama?" Suara Bintara melunak.
Bintara meraih kedua tangan Maharani yang sedari tadi ada di pangkuannya. Digenggamnya erat kedua tangan tersebut, berharap Maharani mengerti bahwa dia begitu berharap.
"Mas, aku ...."
Lagi-lagi ucapan Maharani terpotong.
"Segawat apa di dalam? Apa kamu tidak bisa meminta bantuan dari rumah sakit di kota? Atau kalau memang gak bisa, aku akan membayar beberapa orang suster dan menyuruh mereka menggantikanmu beberapa hari."
"Gak bisa begitu, Mas. Semua ada prosedurnya."
"Terus apa yang bisa aku lakukan agar kamu bisa pulang bersamaku sekarang! Apa perlu aku memaksamu keluar dari pekerjaan ini!"
Kesabaran Bintara sudah di ambang batasnya. Bertemu dengan Maharani justru membuatnya tak mendapatkan solusi. Entah dia yang terlalu memaksa atau memang Maharani yang sok berhati mulia. Gadis itu benar-benar tak mau merubah keputusan.
"Kalau kamu memintaku begitu, maaf aku tak bisa, Mas. Aku mencintai pekerjaanku ini," ucap Maharani pelan.
Bintara bangkit. Dia menatap Maharani dengan sinis.
"Jadi, kamu lebih memilih pernikahan kita batal? Kamu memilih melukai hati mama dan hatiku? Apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana malunya mama kalau sampai pernikahan ini batal?"
"Pernikahan tidak akan batal, Mas."
Bintara mengerutkan alisnya. Jawaban Maharani membuatnya sedikit bingung.
"Maksudmu?"
Maharani mengangkat wajahnya. Dengan sisa air mata yang mengalir di pipinya, dia menatap ke dalam mata Bintara.
"Teruskan pernikahan ... tanpaku."