“Maksudmu apa?” suara Bintara meninggi. Lelaki itu bahkan menatap tajam ke arah Maharani. Maharani ingin buka mulut, tapi suaranya tertahan saat Bintara kembali bersuara. “Kamu ingin aku menikah dengan orang lain begitu? Kamu rela?” tanya Bintara dengan penih penekanan. Maharani menghela napas sejenak. Dia tak boleh ikut terpancing dengan amarah Bintara. Harus ada yang mengalah, dan sudah dipastikan itu dia. Maharani bangkit dari tempatnya, dia berdiri sejajar dengan Bintara. “Mas, maksudku bukan begitu. Dalam ijab qabul, selain wali dan saksi, kehadiranmu yang paling penting di sini. Kamu lakukan ijab qabul tanpaku, aku bisa melihatmu dari video call. Pernikahan kita tetap sah di mata agama dan negara. Kamu paham maksudku kan?” Maharani menatap manik mata Bintara penuh harap. Bintar

