"Apa kabar, Maharani?" Maharani mendongak saat namanya disebut. Lingga kini tengah menatapnya. Tatapan itu, persis seperti tatapan empat tahun yang lalu, teduh dan menenangkan. Berdua dengan Lingga seperti ini, entah kenapa ada beban baru di pundak Maharani. Setelah ini, mungkin ada banyak pertemuan lagi yang akan membuat dia dan Lingga ada di dalam waktu yang sama. Maharani belum bisa menepis bayang-bayang Bintara, dan kini dia harus kembali bertemu dengan Lingga. Cinta pertamanya. "Aku baik, Mas. Maaf, Maksudku Pak Lingga," ralat Maharani cepat. Lingga tersenyum. Meski sempat meralatnya, tapi setidaknya Maharani masih memanggilnya dengan sebutan yang sama seperti dulu. Mas Lingga. "Aku turut berduka atas kepergian suamimu. Aku benar-benar tak menyangka jika ternyata istri Pak Bint

