Maharani mengembuskan napas berat saat memasuki kamar asramanya. Ini terlalu sakit, sangat sakit. Dia belum pernah bertemu dengan Bintara setelah menikah. Dia bahkan belum menuruti permintaan suaminya untuk memanggil sayang, tapi semua kembali terenggut paksa darinya. Usai membuka kenop pintu, Maharani langsung masuk ke dalam. Alih-alih mengemasi bajunya, gadis itu justru menyandarkan punggungnya dibalik pintu. Tubuhnya merosot, tangis yang sedari tadi di tahan akhirnya tak terbendung lagi. Maharani histeris sendiri, air matanya jatuh dengan derasnya. Dia tak tahu, harus diapakan rasa sakit yang menjalar dalam tubuhnya ini. dia mendadak lumpuh, tak hanya pikirannya, sistem sarafnya seakan ikut mati. Kenapa? Kenapa lagi-lagi harus dia? Tak bisakan dia sehari saja bahagia? dia sudah mempu

