Nico. "Bukan kecelakaan yang berat kok. Cuma satu rusuknya yang patah," kata Abby. "Tempurung kepalanya memang terseret, jadi dia harus dijahit. Luka di dahinya mungkin akan membekas, tapi aku bisa mengoperasinya agar hilang. Dari hasil MRI dan CT scan semuanya baik, tidak ada gegar otak atau luka dalam. Lo boleh napas lega sekarang." "Tapi itu... rusuknya gimanㅡ" Plakk! Tangan Abby melayang dengan ringannya, menampar pipi kiriku. Seolah tamparan itu ingin menyadarkanku bahwa aku sudah terlalu berpikiran kacau. "Just listen to me okay? You're a doctor don't you?" Tanyanya kemudian. "Lo dokter Nic. Lo udah biasa bedah orang, dan lo tahu apa yang biasanya terjadi di dalam ruang operasi bukan? Kenapa lo jadi bego begini sih?" "Te—terus.. apa dia baik-baik aja? Apa dia.." "Kita belom bi

