Siapa sebenarnya keluarga?

1222 Kata
Nia mengetuk pintu ruangan Leon. Setelah mendengar perintah untuk masuk dari dalam ruangan, Nia segera membuka pintu kemudian masuk kedalam. Nia melihat Leon berdiri di dekat jendela ruangannya dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Pandangannya lurus keluar jendela seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. "Bapak memanggil saya?" Tanya Nia yang sedang bingung melihat Leon yang hanya diam ketika dia masuk. Leon mengalihkan pandangannya. Dilihatnya Nia lumayan lama sampai-sampai mampu membuat Nia menjadi salah tingkah. "Kamu kenal dekat dengan Dina kan?" Tatapan Leon serius melihat Nia kemudian dialihkan pandangannya ke luar jendela lagi. "Ya, kami sahabat dekat sejak SMA. Bukannya bapak tahu soal itu?" "Boleh aku minta untuk kali ini kamu jangan memanggil aku dengan panggilan 'bapak' dikantor? Aku benar-benar tidak nyaman. Kita juga tidak sedang berbicara tentang masalah kantor." Leon berjalan menuju ruangan khusus untuk menyambut tamu yang ada diruangannya. "Ayo duduk." Ujar Leon yang kemudian sibuk membuatkan teh hangat untuk dirinya dan Nia. Nia duduk di sofa yang ditunjuk oleh Leon. Dia mulai bingung dengan topik yang akan dibicarakan Leon kepadanya. Leon meletakkan secangkir teh hangat di depan Nia kemudian duduk di sofa dekat Nia. "Pertemuan orangtuaku dan orangtua Dina tadi bertujuan untuk memperkenalkan aku dan Dina." Leon meminum teh hangatnya kemudian meletakkannya dimeja. "Sebenarnya aku benar-benar tidak mengingat dia. Tapi tadi ketika dia menyebutkan namamu saat berkenalan baru aku tahu siapa dia." "Aku benar-benar muak begitu tahu mereka merencanakan perjodohan ini." "Perjodohan?" Nia terkejut dengan kalimat Leon yang barusan didengarnya. "Ya. Aku dan Dina dijodohkan oleh orangtua kami. Alasannya tidak jauh-jauh dari harga diri dan reputasi. Kamu tentu tahu kan siapa orangtua Dina?" "Mereka tahu rasa sakit dan memuakkannya kehidupan mereka yang lalu, tapi mereka tanpa berberat hati melakukannya lagi pada kehidupan anak mereka. Apa pantas mereka disebut manusia?" Leon mengepalkan tangannya. Wajahnya menggeram menahan sedih dan amarah yang bercampur menjadi satu. "Kamu mungkin bisa mencoba mengenal Dina lebih dalam Leon. Siapa tahu kalian cocok." "Dia bukan tipeku." Sanggah Leon. "Dina sudah menyukaimu sejak pertama kali kamu pindah ke SMA Tunas Bangsa." "Aku juga sudah menyukai seseorang sejak pertama kali pindah ke SMA itu, dan terus menyukainya sampai sekarang" Leon serius menatap Nia. "Benarkah? Siapa?" Nia terkesiap dan penasaran. Leon menatap Nia lama. Setelah itu diambilnya teh hangat di depannya dan meneguknya. Ingin sekali Leon mengatakan apa yang ada dipikirannya sekarang namun ditahannya. Dia merasa belum saatnya ia mengatakan itu. "Akan ku beritahu nanti jika sudah saatnya." Ujar Leon sambil terus meneguk tehnya beberapa kali. "Kamu dan Andre pacaran? Atau pernah pacaran?" Leon meletakkan tehnya kambali ke atas meja. "Gak keduanya. Kami hanya sering bertemu dulu ketika SMA." "Sepertinya dia begitu terobsesi padamu. Mendengar perkataan Dina di restoran kemarin juga sepertinya kalian pernah begitu dekat." "Oh itu. Dulu aku pernah hampir tertabrak oleh Andre karena saat itu aku gak tahu harus bagaimana berangkat kesekolah. Situasiku saat itu sedang sulit. Aku minta tolong ke Andre agar mengizinkanku menumpang padanya ke sekolah. Kebetulan juga sekolah kami ternyata sama. Sejak saat itu Andre setiap pagi menemani aku menunggui Dina menjemputku kesekolah. Kami akrab sejak saat itu." "Syukurlah." "Apa? Maksudnya?" Nia mengkerutkan keningnya, bingung dengan jawaban Leon yang baru didengarnya. "Tidak ada. Berarti rumah kalian dekat?" "Lumayan dekat." Leon terdiam sejenak, menatap Nia dalam kemudian mengambil tehnya lagi dari atas meja, "Ayo diminum tehnya." Nia menuruti kalimat Leon barusan. Diambilnya teh dari atas meja kemudian meminumnya beberapa kali. Diliriknya ke arah Leon yang melihat lurus ke depan. Matanya seperti fokus namun raut wajahnya tersirat beban serius yang menguras pikirannya. "Jika kamu membutuhkan teman untuk bercerita, aku selalu siap kapanpun kamu minta. Berbagi cerita benar-benar bisa mengurangi beban dihati. Kamu yang mengajari aku hal itu kan?" Nia tersenyum ke arah Leon. "Kapanpun? Benarkah boleh kapanpun?" Leon menegakkan badannya yang sebelumnya tersender di sofa dan menatap Nia serius. "Sure." Jawab Nia meyakinkan. *** Nia baru saja memakirkan mobilnya di pekarangan rumah tetangga yang disewanya karena mobilnya tidak bisa masuk ke dalam gang tempat tinggalnya sepulang dari kantor. Di lihatnya jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Pekerjaannya lumayan bertumpuk hari ini. Sebenarnya Nia berniat lembur untuk menyelesaikan semuanya hari ini, namun tubuh lelahnya berhasil membujuknya untuk segera pulang. Nia berjalan kaki menuju rumahnya. Dari kejauhan Nia melihat ibu dan kakaknya sedang duduk berdua di depan teras. Begitu melihat Nia sedang berjalan menuju rumah, ibu dan kakaknya langsung berdiri. "Lama sekali pulangnya nduk?" Ujar ibunya ketika Nia menginjakkan kakinya di teras rumah. "Ini sudah pulang cepat bu. Seharusnya Nia lembur hari ini. Kerjaan Nia numpuk banyak banget bu." Wajah Nia kuyu, matanya sayu. Begitu jelas terlihat kelelahan dan mengantuk. "Sini duduk dulu. Mbak sama ibu mau ngomong." Kakaknya melihat ke arah Nia dengan wajah yang ditekuk. "Besok pagi aja ya mbak. Nia capek banget, pengen langsung tidur." "Kamu pikir cuma kamu yang capek dirumah ini? Kita semua juga capek seharian. Sombong banget kamu Nia mentang-mentang kerjaan kamu paling baik dirumah ini." Kakaknya langsung bertolak pinggang mendengar jawaban Nia. Nia menatap kakaknya lama, menghela napas kasar dan menyesali keputusannya untuk pulang lebih cepat hari ini. "Sudah jangan ribut. Ayo, kamu duduk dulu ya disini. Ada yang mau ibu bicarakan." Dengan langkah gontai Nia berjalan menuju kursi yang ada di depan teras. Setelah duduk, Nia menyandarkan tubuh dan kepalanya di kursi. "Nduk, gimana dengan rencana yang ibu bilang kemarin?" Ujar ibu Nia begitu mereka bertiga telah duduk. "Rencana apa bu?" Tanya Nia "Ya ampun Nia, kamu lupa?" Kakak Nia emosi setengah berteriak "Rencana kamu membelikan rumah baru untuk mbakmu, nduk." Ibu Nia manimpali. Nia yang sedari tadi melihat ke arah ibunya langsung membalikkan kepalanya. Dipejamkan matanya kemudian menarik napas sedalam mungkin dan menghembuskannya sehalus mungkin agar rasa sakit dikepalanya sedikit berkurang. "Nia belum ada uang bu. Kalau hanya DP Nia ada tabungan yang Nia kumpulkan untuk rencana membeli ruko yang ibu minta dulu tapi bagaimana dengan cicilannya? Nia masih harus membayar cicilan mobil dan cicilan pinjaman Nia di kantor karena renovasi rumah kita ini dulu. Belum uang kebutuhan kita sehari-hari kan dari Nia juga bu." "Ya udah. DP aja dulu. Cicilan urusan nanti. Kan bisa di kumpulin sedikit demi sedikit selama satu bulan. Aku gak bisa nunggu lebih lama lagi loh bu. Malu sama mas Agung dan keluarganya." Rengek kak Ajeng, kakaknya Nia. "Ya udah. Aku bayar DP nya, mbak yang bayar cicilannya. Kan itu juga bakal jadi punya mbak. Aku gak sanggup lagi nambah cicilan mbak." "Kamu sombong banget sih Nia. Baru itu aja sudah perhitungan kamu. Kamu begini juga kan karena ibu. Gak tahu balas budi kamu!" Bentak ibu Nia "Oke. Biar mbak yang bayar cicilannya. Gak apa-apa bu. Ajeng juga bisa kok." Teriak Ajeng kemudian berjalan masuk ke dalam rumah sambil menghentak-hentakkan kakinya. "Kelewatan kamu Nia membiarkan kakakmu membayar cicilan rumah sendiri. Kamu kan tahu gaji kakakmu aja gak cukup untuk membiayai kebutuhan dia makanya dia meminta uang saku dari kamu setiap bulan. Tapi kamu angkuh begini. Jangan pernah kamu buat begini juga ke adikmu ya Nia. Wajar kamu membiayai kami dan rumah ini karena penderitaan yang ibu tanggung gak sebanding dengan apa yang kamu lakukan. Kamu bisa kerja begini karena pengorbanan ibu, ingat itu!!" Ibu Nia bicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah Nia kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Nia duduk sendirian di teras. Nia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bulir-bulir bening langsung mengalir deras. Lengkap sudah kelelahannya berpadu dengan kesedihan malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN