"What??!!" Teriak Dina kemudian menutup mulutnya.Teriakannya membuat semua orang disana terkejut. Dia benar-benar tak percaya bahwa laki-laki super tampan yang ada di hadapannya sekarang adalah Leon. Seseorang yang selalu ada dipikirannya.
"Ada apa, Din?" Ibu Dina panik melihat ke arah anaknya. Matanya sibuk menyisir seluruh ruangan restoran itu memastikan apa dan siapa yang membuat anaknya sampai berteriak begitu.
"Leon, kamu ingat aku? Aku Dina." Dina antusias melihat Leon tanpa menghiraukan tatapan bingung orang-orang disekitarnya.
Leon yang diberi pertanyaan melihat Dina sekilas, "Aku gak ingat. " Jawabnya singkat kemudian mengalihkan pandangannya dengan melihat jam yang ada ditangannya.
"Aku Dina. Kita dulu sekelas waktu SMA. Masa kamu gak ingat sih? Hmm... Aku teman duduk Nia. Ingat gak?" Dina berusaha membuat Leon mengingatnya.
Leon terkesiap mendengar nama Nia diucapkan oleh Dina barusan. Dia kembali berusaha mengingat siapa gadis yang ada didepannya ini. Butuh cukup waktu hingga akhirnya Leon dapat mengingat Dina.
"Oh... Kamu temannya Nia ya. Iya, aku baru ingat." Leon melihat kearah Dina.
"Kalian sudah saling kenal?" Ibu Leon melihat arah Leon dan Dina secara bergantian.
"Kami dulu satu kelas tante di SMA Tunas Bangsa. Dulu kami duduk berdekatan." Jelas Dina antusias diikuti dengan anggukan kedua orangtua Leon dan orangtua Dina.
"Syukurlah kalau kalian sudah saling mengenal sebelumnya. Ini akan mempermudah langkah selanjutnya. Ya kan jeung?" ujar ibu Leon sambil melirik ke arah ibunya Dina diikuti dengan tawa mereka.
"Rencana apa?" tanya Leon melihat gelagat mereka yang mencurigakan..
"Rencana baik sayang." jawab ibu Leon sambil tersenyum.
Dina tidak bisa berhenti tersenyum ke arah Leon yang semakin ganteng setelah sekian lama tidak berjumpa. Berbeda dengan Leon yang sudah sangat muak dengan kelakuan orangtuanya. Leon sangat tahu kemana alur pertemuan ini akan berjalan. Leon sudah sangat menduga cerita sejarah kedua orangtuanya pasti akan terulang kembali padanya. Hal yang membuat Leon terasa seperti hidup di dalam rumah hantu selama ini.
Dilain hal, Andre dan Nia yang sedang makan siang bersama saling terdiam karena fokus mendengarkan pembicaraan keluarga Leon dan Keluarga Dina.
"Sudah. Makan dulu. Serius banget ngupingnya." Kata Andre menyadarkan Nia yang memang sedari tadi begitu fokus menguping.
Nia kaget lalu tersenyum malu mendengar kalimat Andre barusan. Dia mulai menyuapi makanan ke dalam mulutnya dan berpura-pura tidak peduli lagi dengan percakapan keluarga Leon dan Dina, walaupun sebenarnya pikirannya begitu penasaran.
"Setelah ini kita pergi ke tempat yang ku maksud tadi ya." Andre mengingatkan.
"Oke." Jawab Nia sambil terus asyik menyantap makan siangnya.
"Oke. Ayo kita mulai makan siangnya ya. Pasti sudah pada lapar kan?" Seloroh ayah Leon kemudian memanggil waiter dan memerintahkan agar menu makanan yang telah dipesan segera di hidangkan.
"Aku gak bisa lama-lama. Ada hal yang harus aku kerjakan. Aku datang kesini karena kata pak Yadi ada yang mau papa sampaikan. Kalau bisa papa sampaikan saja sekarang. Aku buru-buru." Kalimat dingin yang baru saja diucapkan oleh Leon berhasil membuat suasana menjadi hening. Orangtua Leon dan orangtua Dina saling pandang antara bingung dan rasa tidak enak.
"Sayang, kita makan siang dulu ya. Pak Adam dan keluarga sudah berbaik hati menyambut undangan makan siang kita. Kegiatan mereka juga padat banget. Oke?" Ibu Leon berusaha mencairkan suasana. Ayah Leon berusaha menahan amarahnya pada Leon karena memalukan dirinya di depan keluarga Dina.
"Ayo mbak dipercepat ya." Perintah ibu leon pada beberapa waiter yang sedang sibuk menyajikan begitu banyak menu makanan di meja makan mereka. Ibu Leon mulai panik, takut Leon berbuat macam-macam lagi seperti tadi.
"Maaf ya pak Adam, bu Inneke. Anak saya memang orangnya terlalu jujur. Gak ngerti basa basi." Ujar ibu Leon sambil tersenyum manis berusaha menutupi rasa malunya.
"Gak apa-apa tante. Leon memang seperti ini sejak dulu. Gak ada yang berubah. Malah itu yang membuat Leon spesial dari yang lain." Jawab Dina dengan gaya centil dan tatapan nakal terus melihat kearah Leon.
"Syukurlah kamu mengerti sayang." Ibu Leon tersenyum mendengar ucapan Dina.
Ibu Dina melihat anaknya yang terus menatap Leon langsung bisa menebak bahwa putri semata wayangnya itu sedang jatuh cinta pada Leon. Dia tersenyum kemudian memberi kode pada suaminya agar melihat kelakuan nakal anaknya itu.
"Gak apa-apa jeung kalau nak Leon sedang ada urusan penting. Masih banyak waktu kok untuk makan siang bersama lagi. Ya kan nak Leon?" Ujar ibu Dina tersenyum kearah Leon.
"Terima kasih atas pengeriannya tante, om. Maaf saya pamit duluan." Leon kemudian berdiri dan beranjak dari meja makan itu.
"Leon... Sayang... " Panggil ibunya namun tak dihiraukan oleh Leon.
"Maafkan anak saya ya Pak Adam, Bu Inneke. Sejak dulu memang begitu sulit mengubah sifat cueknya itu." Kata ayah Leon
"Gak apa-apa pak Aji. Anak muda memang begitu. Dina juga sudah sangat paham dengan sifat Leon." Ayah Dina melirik Dina yang terus melihat ke arah Leon.
Langkah Leon terhenti ketia dia melihat ke arah Nia dan Andre yang sedang asyik menikmati makan siang berdua. Dilangkahkan kakinya mendekati meja Nia dan Andre.
"He emm!" Leon mendehem tepat di dekat meja Nia dan Andre dan sukses membuat mereka berdua terkejut.
"Leon!" Nia melihat ke arah Leon diikuti dengan Andre yang juga ikut melihat kearah Leon.
"Setelah makan siang kamu ke ruangan saya ya. Saya tunggu." Perintah Leon sambil sesekali melirik kearah Andre.
"Maaf, bolehkah Nia izin 1 jam saja. Ada yang penting yang harus kami lakukan." Pinta Andre pada Leon.
"Tidak bisa. Urusan kami dikantor lebih penting." Jawab Leon tidak mau kalah.
Dina yang melihat Leon berhenti dan berbincang di meja lain pun jadi penasaran. Dia permisi pada keluarganya kemudian beranjak mendekati Leon. Begitu dekat, Dina terkejut melihat Nia dan Andre didepannya.
"Niaa... Andre... Kalian disini juga? Kebetulan yang benar-benar menyenangkan." Teriak Dina kemudian memeluk Nia.
Nia yang juga senang melihat Dina ikut membalas pelukan Dina.
"Pepet terus Ndree... Jangan kasih kendor. Hahahaha..." Dina menyikut Andre sambil tertawa.
Andre hanya menatap Dina datar karena moodnya sudah dibuyarkan oleh Leon yang menyuruh Nia untuk segera kembali ke kantornya. Padahal Andre sudah lama menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan sesuatu pada Nia.
"Eh, kalian bertiga udah sering ketemu ya? Kayaknya udah akrab banget." Tanya Dina sambil melihat Leon, Nia dan Andre bergantian.
"Andre dan Leon sekarang sama-sama CEO perusahaan, dan kedua perusahaan mereka terjalin kerjasama. Aku sekarang bekerja di perusahaan Leon, Din." Nia menjelaskan.
"Wahh... Kalian keren."
"Kau udah lama pulang dari Belanda, Din?" Tanya Nia
"Udah sebulan aku cuti kuliah. Bosen kuliah mulu. Hahaha..."
"Aku duluan ya. Nia, jangan lupa pesanku tadi. Atau kalau kamu udah selesai makan siang, kita barengan saja ke kantor." Kata Leon tanpa basa basi.
"Hei... Dia datang sama aku. Nanti aku yang mengantar dia ke kantor." Jawab Andre ketus.
"Terserah." Leon beranjak meninggalkan mereka bertiga.
"Dia benar-benar masih Leon yang dulu ya Nia. Dingin kayak kutub utara." Dina memandang Leon yang berjalan keluar sampai Leon menghilang.
"Jeung... Leon itu benar-benar ganteng dan berwibawa ya. Wajar banget mamanya cantik dan papanya ganteng." seloroh ibu Dina.
"Ahh.. Jeung Inne bisa aja. Dina juga cantik, persis seperti ibunya." Balas ibu Leon sambil tertawa.
"Saya belum pernah melihat Dina melihat laki-laki seperi tadi loh jeung. Sampai gak berkedip. Senyum-senyum terus. Duh, sampai malu saya tadi."
"Duh seneng loh aku jeung dengarnya. Dina paham banget dengan sifat Leon. Semoga rencana baik kita lancar ya. Cuma memang Leon anaknya dingin banget. Dia belum pernah mendekati wanita."
"Gak apa-apa. Pelan-pelan aja jeung. Anak zaman sekarang memang begitu. Beda sama zaman kita dulu. Ya kan pa?" Seloroh ibunya Dina.
"Hahahha... Perlahan tapi pasti cinta itu akan tumbuh sendiri kalau sering bersama. Betul gak pak Aji?" Tanya pak Adam, ayah Dina.
"Betul pak. Ayo makanannya disantap pak Adam, bu Inne. Semoga hubungan ini bisa semakin dekat ya pak Adam, bu Inne."
"Amin pak Aji." Jawab ibu Dina.