Perjodohan yang salah 2

1403 Kata
Leon masuk ke walk in closetnya. Memilih kemeja berwarna putih gading kemudian memakainya. Dibukanya lemari berisi kumpulan jas miliknya, diambilnya setelan jas berwarna silver. Leon memang jarang memakai dasi kalau tidak ada acara penting. Setelah memastikan setelan jasnya telah terpasang rapi, Leon mengambil jam tangan kulit berwarna cokelat tua dari laci koleksi jam tangannya. Leon menata rambutnya dengan memakai pomade. Mengambil sepatu kemudian memakainya. Mengecek kembali penampilannya di cermin besar yang ada diruangan walk in closetnya. Merasa telah puas dengan penampilannya, Leon pun turun ke bawah. Ketika sedang menuruni tangga Leon melihat bik Siti sedang menyiapkan sarapan untuknya. Ya, Sejak Leon pulang ke Indonesia dan diminta ayahnya untuk memimpin perusahaan, Leon membeli satu rumah untuk dirinya sendiri dan membawa serta bik Siti untuk kerja padanya. "Selamat pagi, den." Sapa bik Siti begitu melihat Leon turun dari lantai dua rumahnya. "Selamat pagi, bik." "Sarapannya sudah bibik siapin den. Hmm ada tamu juga buat den Leon di ruang tamu, den." Kata bik Siti sambil berjalan ke arah Leon. "Siapa bik?" Leon terhenti di anak tangga terakhir "Pak Yadi, den. Asisten tuan besar." "Oh oke bik." Leon berjalan menuju ke ruang tamu. Disana dilihatnya pak Yadi sedang menunggunya sambil menikmati secangkir kopi hangat. "Ada apa pak Yadi? Tumben pagi-pagi sudah kesini." Pak Yadi kaget mendengar suara Leon. Hampir saja cangkir kopi yang sedang di pegangnya terjatuh. Dengan cepat diletakkannya cangkir yang ada ditangannya kemudian berdiri menghadap Leon. "Selamat pagi mas Leon. Maaf mengganggu mas Leon pagi-pagi begini. Saya mau menyampaikan pesan dari pak Artawijaya, Mas Leon di suruh datang ke restoran Aroma Laut untuk makan siang bersama. Ada hal penting yang mau di sampaikan pada mas Leon." "Mau membicarakan apa? Apa Pak Artawijaya tidak punya handphone untuk bicara langsung padaku?" "Maaf mas Leon. Saya kurang tahu perihal apa yang mau dibicarakan. Saya hanya diperintahkan untuk menyampaikan pesan ini saja." "Ya sudahlah. Terima kasih Pak Yadi." "Sama-sama mas Leon. Saya mohon diri mas." Pak Yadi berlalu dari hadapan Leon. Leon melihat ke arah luar memikirkan apalagi yang akan diminta oleh ayahnya. Leon sangat tahu bagaimana orangtuanya. Mereka akan mengingat Leon hanya jika mereka membutuhkan keberadaan dan bantuan Leon demi kepentingan dan harga diri mereka. * Pukul 11.30 wib, Nia sedang ada kunjungan ke pabrik cabang perusahaan yang berlokasi tidak jauh dari kantor. Nia sedang begitu serius memantau dan memberi pengarahan. Begitu selesai memberikan pengarahan, Dilla langsung menghampiri Nia. "Maaf bu, handphone ibu dari tadi berdering. Tadi saya mau memberikannya pada ibu tapi ibu sedang serius memberikan pengarahan. Mungkin panggilan penting bu." Dilla memberikan tas Nia yang selalu dipegangnya saat Nia sibuk dengan kegiatannya di pabrik. "Oke. Maksih ya Dil." Nia mengambil tas dari tangan Dilla kemudian mencari handphonenya dari dalam tas. Setelah dapat dilihatnya ada 3 panggilan tak terjawab dari Andre. Lalu ditekannya tombol dial di handphonenya untuk menelpon balik Andre. "Halo Ndre. Tadi kamu nelpon ya? Ada apa?" tanya Nia begitu nada sambung berganti dengan bunyi telpon telah diangkat. "Halo Nia. Kamu sedang sibuk ya? Maaf ya aku mengganggu kamu." "Gak ganggu kok. Aku lagi kunjungan ke pabrik jadi gak dengar kamu nelpon tadi. Ada apa Ndre?" "Aku mau ajak makan siang bareng. Pabrik kamu dimana lokasinya? Biar aku aja yang kesana." "Deket kantor Ndre. Kita ketemu dikantor aja gimana. Aku udah selesai juga ini." "Oke. Setengah jam lagi aku sampai ke kantor kamu ya. Aku juga baru selesai meeting. See you, Nia." "Oke Ndre. See you." Nia menutup teleponnya. "Oke. Dilla nanti jangan lupa minta bahan untuk buat laporan kita dari pak Dimas ya. Sekarang kita kembali dulu ke kantor." "Baik bu." Nia dan Dilla masuk kedalam mobil. Dengan segera Nia memacu mobilnya kembali ke kantor. Jalanan yang lumayan padat karena mendekati jam makan siang membuat laju perjalanan agak sedikit macet. Nia melihat Andre sudah menunggunya ketika dia tiba dikantor. Segera diparkirkannya mobilnya. "Dill, saya makan siang diluar dulu." "Baik bu." Nia dan Dilla turun dari mobil, kemudian Nia berjalan mendekati mobil Andre. Andre yang melihat Nia datang ke arahnya segera turun kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Nia. "Kamu sudah lama menunggu aku ya? Maaf ya Ndre, tadi macet jadi aku agak lambat di jalan." kata Nia ketika mereka berdua telah masuk ke dalam mobil Andre. "Gak kok. Aku juga baru sampai. Kita makan di resto mama aja gimana? Kamu bosen gak? atau kita cari resto lain?" "Gak apa-apa kok Ndre. Aku suka makanan disana. Yuk kesana aja." "Oke." Andre tersenyum kemudian melajukan mobilnya. "Oh iya Nia. Aku mau memperlihatkan sesuatu padamu. Sudah lama aku mau kasih tahu ini tapi gak pernah sempet." "Apa itu Ndre?" "Nanti saja setelah kita makan siang ya. Kamu ada kegiatan gak setelah makan siang?" "Gak ada. Palingan cuma memeriksa laporan masuk aja. Apa sih Ndre buat penasaran aja." Nia melihat ke arah Andre. "Ntar aja ya. Lebih enak kalau nanti lihat langsung." Andre tersenyum. Dia senang melihat antusias Nia karena penasaran. Setelah sampai di restoran ibunya, Andre segera memarkirkan mobilnya. Nia dan Andre turun dari mobil kemudian masuk ke dalam restoran. Restoran ini selalu padat reservasi setiap hari. Nia dan Andre duduk di meja yang telah di pesan Andre sebelumnya. Nia dan Andre memesan menu yang mereka inginkan. Kemudian berbincang sambil menunggu makanan mereka disajikan. "Kamu mau nunjukin apa sih nanti Ndre?" "Hahaha... Kamu gak sabaran banget sih Nia. Nanti juga kamu pasti tahu. Habis makan siang kita kesana ya." Andre tertawa melihat Nia begitu serius. "Iya, aku memang punya tingkat penasaran yang tinggi dengan apa aja. Cluenya aja deh biar makan siangku tenang Ndre." "Pokoknya sesuatu yang pernah kamu bicarakan sama aku." Andre tersenyum puas melihat Nia menjadi semakin penasaran. "Hah?? Apaan yang pernah kita bicarakan bersama?" Nia mengernyitkan keningnya mengingat-ingat apa saja yang pernah dia bicarakan pada Andre namun gagal. Dia sama sekali tidak mengingat hal penting apa saja yang pernah dibicarakannya dengan Andre. "Entahlah. Aku menyerah. Apapun itu sebentar lagi akan terjawab." ujar Nia berhenti berfikir. Andre tertawa melihat tingkah lucu Nia. Tingkah Nia semakin hari semakin membuat gemas Andre. Makanan yang telah dipesan Nia dan Andre akhirnya datang. Setelah waiter selesai menyajikannya di meja, merekapun bersiap menyantapnya. "Wahh... Restoran ini memang the best Ndre. Gak salah setiap hari selalu padat pengunjung. Masakannya selalu memanjakan perut dan lidah." "Chef disini benar-benar diseleksi mama. Harus yang benar-benar paham dan berpengalaman dengan masakan laut." jawab Andre. Ketika sedang asyik menikmati makanannya, Nia mendengar suara yang begitu dikenalnya dari meja di sebelahnya. "Sepertinya mereka berdua sama-sama kompak datang terlambat ini jeung." "Anak jaman sekarang memang beda dengan jaman kita jeung. Mereka seperti punya dunianya sendiri. Hahaha." Nia memalingkan kepalanya melihat ke arah meja yang disebelahnya. Nia mengenal semua yang duduk disana. Orangtua Dina dan orangtua Leon. "Ma, Coba ditelpon Dinanya ma. sudah dimana dia." Kata Ayah Dina. "Oke pa." Ibu Dina mengambil handphone dari dalam tasnya. Ketika hendak mencari nama Dina di handphonenya, Dina muncul masuk ke dalam restoran. "Itu Dina sudah datang." Ayah Dina melambaikan tangannya ke arah Dina yang bingung mencari meja ayahnya. Nia melihat ke arah pintu masuk. Dia melihat Dina berjalan ke arah ayahnya. Dina memakai dress mini ketat berwana gold dengan lengan pendek model sabrina dipadu dengan sepatu brand ternama dengan heels tinggi. Andre yang melihat Nia serius ikut melihat ke arah Dina. "Eh itu Dina kan?" tanya Andre "Iya." jawab Nia singkat. Tak lama Leon datang dan masuk kedalam restoran. Langkahnya sempat terhenti karena dia melihat ada orang lain yang duduk bersama orangtuanya di meja itu. Dugaannya tadi pagi sepertinya tidak meleset. Perasaannya benar-benar tidak enak saat ini. "Leon." Gumam Nia ketika melihat Leon masuk kedalam dan berjalan ke arah meja tempat orangtuanya dan orangtua Dina duduk. "Loh dia kan CEO kantor kamu kan? Dia dan Dina deket ya?" tanya Andre lagi. Nia hanya terdiam melihat Dina dan Leon duduk di satu meja. "Hai sayang." Ibu Leon menyapa mencium pipi anaknya. "Ayo duduk sayang." Leon duduk disebelah ibunya, berhadapan dengan Dina. Dina menatap Leon lekat-lekat. Dia seperti mengenal laki-laki yang ada dihadapannya. Laki-laki tampan didepannya benar-benar sangat familiar diingatan Dina. "Kalian begitu kompak. Datangnya hampir berbarengan." Kata ibu Dina tersenyum sambil melihat ke arah Leon dan Dina bergantian. "Oh iya. Saya perkenalkan dulu ya. Ini Leon, anak semata wayang saya." Sambut ibu Leon dengan tersenyum. "What??!!" Teriak Dina kemudian menutup mulutnya.Teriakannya membuat semua orang disana terkejut. Dia benar-benar tak percaya bahwa laki-laki super tampan yang ada di hadapannya sekarang adalah Leon. Seseorang yang selalu ada dipikirannya. Nia dan Andre terus melihat ke arah meja Dina dan Leon. Mereka penasaran ada apa dengan mereka??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN