Perjodohan yang salah

1186 Kata
Sudah 5 hari pasca siuman dari komanya, Pak Artawijaya akhirnya diperbolehkan pulang kerumahnya. "Ma, anak gadisnya pak Adam kalau gak salah seumuran kan dengan Leon?" Pak Artawijaya turun dari tempat tidurnya kemudian duduk di sofa disebelah istrinya. "Pak Adam yang mana, pa?" jawab bu Cecilia sambil terus memainkan handphonenya menunggu asisten rumah tangganya selesai membereskan barang-barang mereka di Rumah Sakit. "Pak Adam pengusaha konveksi itu ma. Papa lupa lagi apa nama perusahaannya. Kita pernah bertemu beberapa kali di acara Asosisasi Pengusaha Indonesia dulu. Masa mama gak ingat sih?" Bu Cecilia menghentikan aktifitas handphonenya sejenak, wajahnya tampak berfikir, "Ohh, yang istrinya super centil itu ya pa? Adam dan Inneke. PT. Benang Mas kan pa?" "Nah benar. Itu dia. Mereka kan punya anak tunggal perempuan ma. Kabarnya putri mereka sekarang sedang menyelesaikan pendidikan masternya di Belanda." "Trus kenapa papa bertanya tentang mereka?" "Bagaimana kalau Leon kita jodohkan dengan putri semata wayang mereka? Perusahaan mereka benar-benar meroket sekarang ma." "Bentar-bentar mama mau lihat dulu anak mereka secantik apa. Mama gak mau punya mantu satu mukanya gak layak di pameri ke teman-teman dan keluarga besar kita." Bu Cecilia membuka sosial media di handphonenya dan membuka profil Inneke dian puspa, kemudian menscroll sampai ke postingan terbawah. "Wajahnya gak begitu cantik tapi penampilannya seksi. Kelihatan centil seperti mamanya. Mama gak yakin Leon bakal mau dengan wanita seperti ini pa." "Bagaimanapun caranya kita harus bisa membuat mereka menikah. Kelangsungan dan perkembangan perusahaan kita harus menjadi prioritas." Bu Cecilia menatap tajam wajah suaminya kemudian menghelakan napas berat. Pak Artawijaya mengambil handphonenya dari atas meja kemudian menelpon asistennya. "Yadi, kamu cari tahu tentang putrinya pak Adam PT Benang Mas ya. Segera!" Pak Artawijaya menutup teleponnya. * Minggu pagi pukul 04.30 wib. Nia sudah bangun dan mulai kegiatan bersih-bersihnya dirumah yang dari dulu selalu menjadi rutinitasnya. Setiap pagi Nia akan memasak, mencuci piring, membereskan rumah dan halaman. Namun sejak bekerja diperusahaan, urusan cuci gosok pakaian semua anggota keluarga, Nia mempekerjakan orang lain karena waktunya tidak cukup untuk melakukan itu. Pukul 06.00 wib semua pekerjaannya sudah selesai. Nia bersiap-siap mau lari pagi disekitaran rumahnya. Diambilnya handphone dan earphone kemudian menyetel lagu kesukaannya agar lebih semangat berolahraga. Nia berlari sampai keluar gang dan melintasi jalan besar. 1,5 jam berlalu, peluh deras membanjiri tubuh Nia. Napasnya tersengal-sengal. Nia terduduk di pinggir jalan. Di selonjorkan kakinya sambil mengatur napasnya. Tiba-tiba ada chat masuk dari aplikasi hijau di handphonenya, dari Andre. "Selamat pagi, Nia. Kamu sudah bangun belum?" "Selamat pagi juga, Ndre. Sudah bangun dong. Ini aku lagi lari pagi." ketik Nia "Loh beneran? Aku juga lagi treadmill dirumah. Kamu lari pagi dimana?" "Di depan Sunny Hills. Deket dengan rumah kamu." "Oke. Aku kesana ya." Dengan cepat Andre bersiap menuju ke tempat yang dikatakan oleh Nia tadi. Setelah memakai sepatu olahraganya, Andre bergegas berlari keluar. Didepan Sunny Hills, Andre melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok Nia. Akhirnya dia melihat Nia sedang duduk santai di pinggir jalan sambil menggerak-gerakkan kakinya. Dengan cepat Andre menghampirinya. "Hai..! " sapa Andre terengah-engah karena begitu semangat berlari kemudian duduk di samping Nia. "Hai Ndre. Cepet banget kamu kesini sampai ngos-ngosan begitu." Nia terkejut melihat Andre yang sudah duduk di sampingnya. "Iya. Semangat banget aku lari tadi. Kamu setiap pagi begini ya?" "Gak juga. Kapan mau aja. Kadang malas juga." "Setiap minggu bagus juga loh kita lari pagi begini." Andre bersemangat "Terkadang aku lebih suka menghemat energiku dengan bersantai sambil membaca novel-novel kesukaanku. Tapi beneran. Sesekali olahraga benar-benar membuat segar dan semangat." Nia tersenyum. "Kamu sudah sarapan belum? Sarapan bareng yuk? Disitu ada penjual nasi uduk enak banget." Andre menunjuk ke arah seberang jalan. "Boleh. Yuk." Nia setuju Andre berdiri kemudian membantu Nia untuk berdiri. Mereka berjalan bersama ke sebuah tempat makan di seberang jalan. Pukul 10.00 wib, Andre dan Nia selesai sarapan dan bersiap untuk pulang. Begitu serunya mereka berbincang-bincang sampai tidak terasa waktu berlalu. Ketika Nia dan Andre akan menyebrang, tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak mereka. Untung saja Andre dengan sigap menarik Nia ke belakang sehingga mereka tidak tersenggol dengan mobil itu. "Sh*t!!! Bisa bawa mobil gak sih nih orang!!!" umpat Andre Mobil itu pun berhenti dan seorang wanita muda berpakaian dress ketat tanpa lengan dan bagian d**a rendah keluar dari mobil itu. Jalannya agak sempoyongan. Dengan ekspresi marah dibantingnya pintu mobilnya itu. "Kalian buta ya?? nyebrang jalan seenaknya!! Entar ketabrak nuntut-nuntut lagi." teriak perempuan itu. "Apa?? Kamu yang bawa mobil ngebut gak jelas. Ini jalan perumahan bukan jalan tol, ngerti?!! " balas Andre geram Nia memperhatikan wajah perempuan itu. Dia seperti sangat mengenal wajah perempuan itu tapi Nia ragu karena melihat penampilannya. "Dina??" Nia mencoba memastikan. "Darimana kamu tahu namaku?" tanya perempuan itu masih dengan nada kesal. "Beneran kamu Dina?? Aku Nia, Din." Nia bersemangat "Nia?? Niaaaaa.. oh my gosh." Dina berteriak kemudian memeluk Nia. Nia yang begitu bahagia dengan semangat membalas pelukan dari Dina. "Aku kangen kamu, Niaa." kata Dina "Kamu dari mana, Din?" Nia sebenarnya masih tidak percaya bahwa yang ada didepannya kini adalah Dina, sahabatnya dulu ketika di bangku SMA. Pakaian Dina yang begitu seksi dan bau alkohol yang tercium benar-benar tidak menggambarkan Dina polos yang dulu Nia kenal. "Aku baru pulang party Niaa. Hahaha." jawab Dina sedikit meracau dan agak sempoyongan. "Ini pacar kamu sekarang ya? Cakep juga." Dina menunjuk ke arah Andre. "Bukan, dia Andre. Kamu masih ingat gak? Yang dulu sering ketemu di depan gang rumahku." "Oh.. iya iya aku ingat. Wuih... Panjang bener perjuanganmu ya Ndre. Belum dapat juga ya Ndre? Hahahaha... Nia emang sulit ditaklukkan laki-laki. Semangaatt ya Ndre." Dina tertawa melihat kearah Andre. Andre yang sedang di tertawakan melihat ke arah Dina dengan muka yang datar. "Ya ampun Dina. Kayaknya kamu mabuk deh. Gimana kamu bawa mobil dengan keadaan begini, Din?" Nia mulai cemas dengan tingkah Dina yang gak jelas. "Ayo, kita antar saja dia." Kata Andre "Oh iya betul. Ayo Din. Kita antar kamu pulang ya." Dina yang mulai mengantuk hanya diam saja sambil menyenderkan tubuhnya di pinggir mobil. Dengan pelan Nia menuntun Dina masuk ke dalam mobil dan Andre yang mengendarai mobil. Untung Nia masih hapal jalan rumah Dina. Sesampainya di rumah Dina. Seorang perempuan paruh baya yang sudah lama bekerja di rumah Dina berlari ke arah Nia kemudian membantunya membawa Dina yang sudah tertidur masuk ke dalam rumah. "Ibu dan bapak kemana bik?" tanya Nia yang sudah kenal dengan asisten rumah tangga Dina itu. "Ibu dan bapak ada acara di luar kota non. Udah seminggu pergi belum pulang." Nia sudah paham dengan kehidupan Dina. Sejak dulu dia memang selalu sendirian. "Dina sudah lama pulang ya bik? Bukannya dia kuliah di Belanda?" tanya Nia sambil membetulkan selimut Dina. "Non Dina udah 1 bulan ini pulang non. Kuliahnya cuti katanya." "Oh... Nanti kalau Dina bangun langsung kasih air teh hangat ya bik. Dina sepertinya habis minum alkohol. Biar kepalanya gak terlalu pusing nanti." "Baik non." "Saya pulang dulu ya bik. Salam nanti buat Dina kalau dia sudah bangun." Nia berjalan keluar rumah menemui Andre yang sedang menunggu di teras rumah Dina. "Ayo Ndre kita pulang." ajak Nia "Oke. Sebentar ya aku pesankan taxi dulu." "Oke." Nia kemudian terdiam. Dia tidak menyangka Dina bisa berubah drastis seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN