Teman Berbagi

1521 Kata
Leon menghentikan mobilnya di sebuah kafe bernuansa outdoor. Leon memilih tempat duduk tepat di dekat jendela yang mengarah ke jalan besar di depan kafe itu. "Kita makan dulu. Kamu sudah lapar kan?" Leon menarik kursi untuk Nia duduk. Lalu dia duduk di kursi di depan Nia. Seorang waiter datang membawa buku menu dan memberikannya pada Leon dan Nia. Setelah mencatat menu yang dipilih oleh Leon dan Nia, waiter itupun berlalu. "Maaf tadi aku menarikmu kuat. Apa tanganmu sakit?" Leon melihat pergelangan tangan Nia. "Gak apa-apa kok Leon." "Kamu pasti bingung dengan kejadian tadi kan? Itu pertama kali terjadi. Bukan tentang amarahku, tapi tentang cara kami berbicara. Kami belum pernah bicara bersama seperti itu. Papa, mama dan aku." Leon melihat ke arah luar. Pandangannya fokus pada sebuah restoran yang ada di seberang kafe tempat mereka duduk sekarang. Nia yang memperhatikan Leon ikut melihat ke arah restoran itu. "Di restoran itu papaku menamparku karena ketahuan selingkuh dengan pacar temanku yang umurnya bahkan lebih muda dariku." Nia hanya terdiam dan seksama mendengar cerita Leon. "Puluhan tahun aku hidup, hanya pada saat sakit mereka mengingat keberadaanku. Selama ini bagaimana aku menjalani hidupku dan apakah aku sudah mati mereka sama sekali tidak peduli. Mereka tidak pernah ada. Sekarang mereka merasa berhak mengatur hidupku." Leon mengepal tangannya. Nia terkejut dengan cerita Leon yang baru didengarnya. Tak disangkanya dibalik kehidupan Leon yang begitu bergelimang harta dan kehormatan ternyata tersimpan cerita sedih seperti itu. Nia sangat paham dengan perasaan Leon saat ini tapi dia bingung harus berbuat apa. Waiter datang membawa pesanan mereka dan menata makanan itu satu persatu di atas meja. "Ayo makan. Emosi menghabiskan semua tenagaku hari ini." Leon mulai menyantap makanannya. Nia menatap Leon lama kemudian mulai menyantap makanannya. * Sudah dua kali pagi ini Nia hampir menabrak pengendara motor di jalan. Nia menepikan mobilnya. Dia menarik napasnya kemudian mengusap wajahnya. Pikirannya kacau pagi ini. Semalam ibu dan kakaknya menuntut agar Nia segera membeli rumah yang mereka minta. Ibunya terus mengatakan tentang penderitaannya sampai Nia diposisi sekarang. Padahal Nia berjuang keras sendirian untuk mencapai karirnya sekarang tanpa sedikitpun membebani keluarganya. "Apa sebenarnya artiku dimata mereka?" Gumam Nia sambil menghapus titik-titik bening yang mengalir deras dari matanya. Nia memang punya sedikit tabungan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit untuk membeli ruko yang diminta ibunya sebelum permintaan rumah baru digaungkan oleh kakaknya. Uang tabungan itu pasti cukup sebagai DP pembelian rumah baru di lingkungan yang lebih bagus, tapi bagaimana dengan cicilannya? Sedangkan Nia masih harus menjadi pemberi nafkah utama untuk ibu, kakak dan adiknya yang sekarang bergaya lebih hedon dari pada dulu. Gajinya sebagai manager memang lumayan besar namun tidak akan cukup untuk memenuhi hasrat kehedonan mereka. Nia juga punya kebutuhan dan rencana untuk masa depannya yang selalu hanya menjadi wacana. Setelah berusaha menenangkan pikirannya, Nia kemudian memacu mobilnya lagi menuju kantornya. "Dilla, ke ruangan saya sekarang ya." Perintah Nia pada asistennya begitu sampai di ruangannya. Tok... Tok... Tok... "Masuk." "Ya bu." "Apa jadwal saya hari ini, Dil?" "Ibu ada rapat direksi jam 10 dan kunjungan pabrik cabang 3 setelah jam makan siang bu." Dilla membaca catatan kegiatan Nia. "Laporan yang saya minta kemarin sudah Dil?" "Sudah bu. Bahan rapat nanti juga sudah saya siapkan bu." Dilla menyerahkan laporan yang telah di buatnya. "Oke. Makasih ya." "Baik bu. Sama-sama. Saya permisi ya bu." Dilla keluar dari ruangan Nia. Nia melihat jam tangannya. 1 jam 30 menit lagi rapat dimulai. Nia membuka laporan yang dibuat oleh Dilla dan membacanya. Di periksanya setiap detail laporan itu. Setelah memeriksa laporan yang dibuat Dilla, Nia bergegas memasuki ruangan rapat. Nia mempersiapkan ruangan rapat bersama Dilla. Tak lama rombongan direksi pun masuk ke ruangan rapat, termasuk Sang CEO, Leon. Nia mulai menampilkan presentasinya di depan jajaran direksi. Walaupun sedikit terbata-bata, akhirnya Nia berhasil menyelesaikan presentasinya. Selesai presentasi, Nia duduk di kursi rapatnya. Wajahnya kusut dan matanya tidak fokus. Sesekali Nia menarik napas dalam. Nia tidak sadar bahwa dia sejak tadi sedang di perhatikan oleh Leon. "Oke. Presentasi selesai. Rapat saya tutup. Pak Gilang, tolong nanti laporan akhirnya ditaruh di meja saya ya." Kata Leon menutup rapat siang itu. "Baik Pak." Jawab Pak Gilang. "Nia, nanti ke ruangan saya ya." Leon melihat ke arah Nia. "Baik Pak." Nia mengangguk dan segera membereskan bahan rapatnya. Leon keluar dari ruangan disusul oleh direksi lainnya. Tok... Tok... Tok... (Nia mengetuk pintu ruangan Leon) Leon membuka pintu kemudian keluar dari ruangannya. "Ayo makan siang." Ajak Leon. "Eh sebentar," Leon mengambil sesuatu dari saku jasnya kemudian memegang tangan Nia dan menyemprotkannya ke tangan Nia, "Coba cium. Ini segar sekali aromanya." Nia mencium punggung tangannya yang tadi disemprot oleh Leon. Benar, aromanya begitu menyegarkan dan manis. "Hmm.. Segar sekali." Nia tersenyum saat mencium tangannya. "Syukurlah berarti kamu suka. Ini untuk kamu." Leon menyerahkan parfum yang sudah dimasukkannya kedalam kotak kemasannya. Nia melongo sesaat kemudian mengambil parfum itu dari tangan Leon. "Ayok kita jalan." Kata Leon sambil mulai berjalan ke arah lift. Nia mengikutinya. Diparkiran kantor, Leon membukakan pintu mobil untuk Nia kemudian dia masuk ke dalam mobil. Nia melirik ke arah Leon yang sedang menyetir mobil. "Ada apa?" Tanya Leon yang sadar sejak tadi di lirik oleh Nia. "Kenapa kamu memberiku parfum? Apa aku bau?" Tanya Nia sambil menatap Leon serius. Leon yang mendengar jawaban Nia spontan tertawa. Dia tak menyangka Nia akan bertanya seperti itu. Leon menghentikan tawa spontannya dan mengatur suaranya agar bisa meyakinkan Nia bahwa dia benar-benar tidak bertujuan seperti yang dipertanyakan Nia tadi, "Maaf.. Maaf ya Nia. Aku memberi parfum itu karena aromanya segar. Aku mau kamu jadi bersemangat saat memakai parfum itu. Beneran. Bukan karena kamu gak wangi." "Oh begitu ya." Nia menganguk-anggukkan kepalanya. "Makasih ya Leon parfumnya." Nia tersenyum. "You're welcome." Leon membalas senyum Nia. Mereka sampai di sebuah restoran. Nia baru pertama kali ke sana. Leon memarkirkan mobilnya. Nia dan Leonpun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran itu. Seorang waiter datang membawa buku menu dan memberikannya pada Leon dan Nia. Setelah mencatat menu yang dipilih oleh Leon dan Nia, waiter itupun berlalu. "Enak ya disini. Suasananya lebih tenang." Kata Nia sambil melihat-lihat sekelilingnya. "Iya. Temanku yang rekomendasikan tempat ini." Leon ikut melihat-lihat sekeliling mereka. Nia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hari ini kamu terlihat kusut. Apa ada hal dikantor yang mengganggu kamu?" Leon menatap Nia. "Gak ada kok Leon. Mungkin karena aku semalam kurang tidur." "Kenapa kamu gak tidur semalam? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" "Gak ada kok Leon. Aku memang sering insomnia." Nia tersenyum. "Baguslah. Jika ada seseorang yang menekanmu di kantor, kau harus memberitahuku." Waiter datang membawa pesanan mereka dan menata makanan itu satu persatu di atas meja. "Selamat menikmati." Ucap waiter setelah selesai menata makanan diatas meja. "Terima kasih." Jawab Nia. Nia dan Leon mulai menyantap makanan yang ada dihadapan mereka. Nia fokus memakan makanan yang didepannya. Kepalanya terus menunduk ke arah piring makannya. Ekspresi wajahnya berkerut seperti sedang berfikir. Matanya sendu seperti menahan kesedihan. Leon terus memperhatikan Nia sambil menyantap makanannya pelan. Dia tahu bahwa Nia sedang 'tidak baik-baik saja' saat ini namun dia menunggu Nia yang bercerita sendiri. "Sepertinya kita satu kisah namun beda nasib." Nia mulai bercerita. Pertahanannya luluh. Dia memang sedang membutuhkan teman cerita saat ini. "Kenapa?" Tanya Leon lembut. Dia lega akhirnya Nia mau bercerita padanya. "Sejak dulu entah kenapa aku selalu menjadi satu-satunya orang yang harus mengalah dirumah." Nia mengaduk-aduk makanannya. Leon hanya diam membiarkan Nia puas menceritakan segala hal yang ada dihatinya. "Kenapa kepentingan dan keinginan mereka selalu menjadi tanggung jawabku tanpa memikirkan perasaanku?" "Aku benar-benar mencintai mereka tapi aku gak pernah tahu apa mereka juga mencintai aku. Aku sudah berusaha memberikan semua yang aku punya tanpa menyisakan apa-apa untuk diriku sendiri tapi tetap saja kurang dimata mereka." Nia mulai menangis. Leon segera mengambil tisu dan memberikannya pada Nia. "Maaf Leon. Aku terbawa perasaan." Nia menyapu air matanya. "Tak apa. Luapkan saja semua agar kamu lebih tenang. Aku akan mendengarkan semuanya." Leon memandang serius Nia. "Apa aku jahat dan egois karena aku berpikir seperti ini? Bagaimana bisa aku berpikir bahwa aku hanya dimanfaatkan oleh keluargaku sendiri?" Nia memulai ceritanya lagi. Nia kemudian terdiam, menyeka bulir bening di matanya. "Maaf aku malah membuat makan siang ini jadi kacau. Setelah menangis dan meracau tadi nafsu makanku jadi kembali." Nia tersenyum dan mulai menyentuh makanannya lagi. Leon terdiam memandang Nia yang sedang makan. "Memikirkan diri sendiri tidak selalu berarti egois Nia. Terkadang hal itu penting karena kita juga sama seperti mereka. Kita manusia yang manusiawi." "Jika kamu selalu memikirkan orang lain tanpa memikirkan dirimu sendiri, itu berarti kamu yang telah egois pada dirimu sendiri." "Buat batasan pada perasaanmu. Jika rasa sakit yang kamu rasakan lebih banyak dari pada penghargaanmu pada dirimu, maka kamu harus mengatur ulang sikapmu." "Aku tidak sedang mengajarimu berbuat jahat atau egois. Semua orang berhak bahagia dan semua orang berhak dihargai. Lakukan sewajarnya." "Kamu mencintai mereka, maka biarkan mereka juga mencintaimu. Jangan egois dengan mengambil semua peran." Nia memandang Leon lekat. Kini mereka saling memandang satu sama lain. "Maaf kalau ada kata-kataku yang menyingungungmu Nia." Kata Leon lembut. "Tidak Leon. Semua kalimat kamu tadi tidak ada yang salah. Kamu tahu, ada sedikit kelegaan dalam hatiku saat ini." "Syukurlah. Ayo makan yang banyak. Energimu pasti habis karena menangis tadi." Leon tersenyum dan mulai menyantap makanannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN