Cemburu

1639 Kata
*Nada dering handphone berbunyi* Nia membiarkan handphonenya berbunyi. Tubuhnya tetap merebah di kursi kerjanya. Matanya tertutup. Wajahnya mencerminkan pikirannya yang sedang kalut. Handphonenya berdering untuk kedua kali. Nia menghela napasnya. Membuka mata dan meraih handphone yang ada di mejanya. Dilihatnya nama "Andre" tertera di layar handphone. " Ya Ndre?" "Halo Nia. Makan siang bareng yuk. Aku jemput ya?" "Hmm.. Sudah jam makan siang ternyata. Oke.. Aku tunggu di depan ya Ndre." Nia melihat jam yang ada ditangannya. "Siapp... Tunggu aku ya.." "Siapp" Sambungan telepon terputus. Nia memasukkan handphone yang ada di tangannya ke dalam tasnya kemudian berjalan keluar ruangannya. Nia membuka pintu ruangannya. Begitu dia membuka pintu ruangannya, di depannya telah berdiri Leon dengan kedua tangan yang dimasukkannya ke dalam saku celananya. "AAaaaa..." Nia berteriak karena kaget. Tubuhnya mundur kebelakang. "Pak Leon ngapain berdiri disitu?" tanya Nia sambil menarik napas tersengal-sengal dan memegangi dadanya karena ritme jantungnya berdetak lebih cepat akibat terkejut tadi sementara tangannya yang lain memegangi pintu ruangannya. "Kamu mau kemana?" tanya Leon tanpa bersalah telah mengagetkan Nia. "Mau makan siang, Pak" "Sama siapa?" "Sama teman saya, Pak." "Oke. Ayo." Leon berjalan ke arah lift yang berada tidak jauh dari ruangan Nia untuk turun kebawah. Ayo?? Maksudnya apa dengan kata "ayo"??? batin Nia Dilihatnya Leon sedang menunggu pintu lift terbuka. Nia sengaja memperlambat jalannya agar Leon berlalu lebih dulu. Begitu pintu lift terbuka, Leon segera masuk kedalam. Nia terus memperlambat jalannya sambil melihat ke arah lift. Dia berharaap Leon telah turun lebih dahulu. Tak lama Nia pun sampai di depan pintu lift. Nia tak prcaya dengan apa yang dilihatnya. Leon masih menunggunya di dalam lift sambil terus menekan tombol pintu terbuka pada lift. "Ayo masuk." kata Leon "Dia kenapa lagi sih sekarang??" batin Nia Nia masuk dengan langkah gontai. Dia berpikir keras memikirkan apa yang akan dilakukan Leon sekarang. "Hmm.. Bapak mau makan siang jugakah?" tanya Nia mencoba mencari jawaban atas rasa penasarannya "Ya." "Oh.. Dengan direksi ya pak?" Leon menatap Nia, "Dengan kamu." "De.. dengan saya? tapi saya ada janji dengan teman saya Pak. Dia akan menjemput saya kesini." "Saya tahu." "Tapi kenapa bapak.." Kalimat Nia terputus. ting.. Pintu lift terbuka. Leon keluar, "Ayo.. dimana kita menunggunya?" Nia melongo melihat Leon. "Dia mau ikut makan siang juga dengan Andre?" batin Nia "Di depan kantor pak. Sebentar lagi dia pasti datang." jawab Nia sambil menunjuk ke arah luar kantor. Leon berjalan keluar diikuti oleh Nia dibelakangnya. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut panjang Nia sehingga wajahnya terlihat jelas oleh cahaya matahari membuat Leon tak berhenti menatap wajah Nia. "Nah itu dia datang, Pak." Andre berhenti tepat di depan Nia. Andre turun dari mobil bermaksud membukakan pintu untuk Nia di sebelah tempat duduknya. Namun ketika Andre membukakan pintu, Leon masuk dengan tenang dan tanpa merasa bersalah. Nia menghela napas melihat kelakuan Leon. "Kau siapa??" Andre terkejut "Dia CEO diperusahaan ini, Ndre. Namanya Pak Leon. Tadi Pak Leon mau ikut kita makan siang bareng. Maaf ya aku baru kasih tahu kamu sekarang." Kata Nia di samping pintu yang sedang dibukakan oleh Andre. "Tapi kenapa dia gak pakai mobilnya sen.." Kalimat Andre terpotong ketika dia melihat Nia sedang memohon kearahnya. "Oke baiklah." Andre menutup pintu tempat Leon duduk. Nia duduk di belakang Andre. Situasi di dalam mobil begitu kikuk. Sesekali Andre melihat ke arah Nia dan Leon bergantian. "Ini tuyul ngapain ikut sih? Ganggu aja." batin Andre "Kamu CEO PT. Rajawali Group ya?Maaf aku ikut gabung dan berkenalan dengan keadaan begini." Leon tiba-tiba memecah keheningan di mobil itu tanpa memalingkan wajahnya. "It's okey. Cuma kaget aja tadi kenapa bisa seorang CEO Perusahaan ikut bergabung makan siang bersama pegawainya dan teman pegawainya." jawab Andre sambil terus fokus kedepan . Leon melihat tajam ke arah Andre. Merasa sedang dilihat, Andre pun melihat ke arah Leon. Mereka saling bertatap tajam. Nia yang melihat hal itu mulai panik. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, Nia harus bertindak sesuatu. "Hmm... Ndre, Leon ini dulu satu sekolah juga loh sama kita. Dia sekelas dengan aku. Dia anak baru sewaktu kelas tiga." "Oh.. Anak pindahan. Pantes aku gak pernah kenal. Kalian dulu akrab?" Andre kembali fokus menyetir "Kami sangat akrab." ujar Leon "Sangat akrab??" Andre melihat ke arah Leon kemudian melihat ke arah Nia melalui kaca depan mobil. "Hmm.. Kami berdekatan tempat duduk dulu." jawab Nia Nia melihat kelakuan Andre dan Leon jadi geleng-geleng kepala, "Ada apa dengan mereka berdua? Kenapa mereka seperti ini padahal mereka baru kenal. Huft.." batin Nia. Mereka tiba di Rumah Makan Seafood milik ibunya Andre. Andre pun memarkirkan mobilnya dan bersiap turun. "Sepertinya kau sangat suka makan di restoran ini." kata Leon sambil membuka sabuk pengamannya. "Ini restoran milik ibuku. Nia suka makan makanan disini. Betul kan Nia?" Andre melihat ke arah Nia "Iya. Makanan disini enak-enak. Leon juga kemarin ngajak makan disini, kan leon?" jawab Nia melihaat ke arah Leon "Gak sengaja saja kemarin. Kebetulan ini resto terdekat dan aku sudah lapar." jawab Leon kemudian turun dari mobil. Nia turun dari mobil. Leon mengejarnya dan berjalan di sebelah Nia. "Next kita cari resto lain. Disini makanannya gak enak" Kata Leon "Bukannya kemarin kata kamu makanan disini enak?" "Nggak. Itu karena aku lapar. Makanannya sama sekali gak enak." Andre berjalan duluan karena dia yang memesan tempat disana. Restoran itu meskipun baru tapi sudah sangat ramai. Jika mau mkan disana harus reservasi dulu. Mereka duduk bertiga. Memesan menu pilihan mereka masing-masing. Waiter kemudian berlalu setelah mencatat pesanan mereka. "Seingatku waktu PT rajawali Group dan PT Artawijaya Group meeting kamu gak ada deh." Andre memulai percakapan "Aku masih di London saat itu. Papa sakit dan mengharuskanku pulang untuk mengambil alih perusahaan." "Pantesan. Kita bakal sering bertemu nantinya. Karena proyek kerjasama kita merupakan proyek jangka panjang." Tiba-tiba handphone yang ada didalam saku jas Leon berdering. Leon mengambil dan melihat layar handphonenya. "Mama" tertera pada layar handphonenya. "Leon, kamu ke Rumah Sakit sekarang ya. Papa sudah siuman." Mama Leon berbicara begitu Leon mengangkat teleponnya "Ada apa? Sekarang aku sedang sibuk. Pulang kerja nanti aku ke sana." jawab Leon "Gak bisa Leon. Kamu harus datang sekarang. Mama tunggu ya." Mama Leon menutup telponnya. Leon menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku jasnya. "Maaf, sepertinya aku harus ke Rumah Sakit sekarang. Sayang sekali kesempatan makan bersama seperti ini harus dilewatkan." "Ada apa, Leon?" Tanya Nia "Papa sudah siuman. Aku harus ke Rumah Sakit sekarang." "Syukurlah. Apa aku boleh ikut melihat pak Presdir?" Tanya Nia Leon terdiam sesaat melihat ke arah Nia. "Course. Tapi kita harus pergi sekarang. Bagaimana dengan malan siangmu? Kau pasti lapar." "Aku belum begitu lapar. Aku bisa meminta asistenku untuk membelikan makanan nanti dikantor. Ayo!!" Nia mengambil tasnya kemudian berdiri. "Maaf ya, Ndre. Lain kali pasti kita makan siang bareng lagi." Kata Nia pada Andre sambil tersenyum. "It's okay. Masih banyak kesempatan." Andre membalas senyum Nia. "Oke ayo. Kita naik taxi saja." Ajak Leon sambil berjalan keluar restoran diikuti oleh Nia disampingnya. Andre hanya menatap mereka berdua berjalan hingga hilang dari pandangannya. Waiter datang membawa menu yang telah dipesan tadi. Andre menatap menu itu satu persatu. "CEO aneh. Apa maksudnya??" * Nia dan Leon turun dari taxi. Mereka sampai di depan Rumah Sakit Persada, tempat ayah Leon di rawat. Di depan ruangan ayah Leon sudah berdiri beberapa bodyguard. "Selamat siang mas Leon." Sapa salah satu bodyguard dan membukakan pintu ruangan ayah Leon. Nia dan Leon masuk. Di dalam ruangan sudah ada ibu Cecilia, ibunya Leon yang sedang duduk di samping ayah Leon dan seorang perawat khusus yang bertugas menemani dan mengawasi ayah Leon 24 jam. "Hai sayang. Kamu sudah datang." bu Cecilia memeluk anaknya yang hanya diam berdiri tanpa membalas pelukan ibunya. Ibu Cecilia melihat ke arah Nia yang sedang berdiri di samping Leon sambil memegang sebuah bouquet bunga yang dibelinya di jalan saat akan ke rumah sakit tadi. Sebenarnya Leon sudah melarangnya untuk membawa apapun namun Nia brsikeras karena dia tidak enak kalau datang tanpa membaawa apa-apa. "Siapa gadis cantik ini, sayang?" Nia yang merasa sedang menjadi fokus pertanyaan langsung memperkenalkan dirinya. "Selamat siang ibu. Saya Nia, manager Operasional di perusahaan Artawijaya Group." Nia menyerahkan bouquet bunga itu pada ibunya Leon. "Hallo Nia. saya Cecilia, istri pak Aji. Ibunya Leon." Cecilia mengambil bouquet bunga yang ditangan Nia. "Makasih ya bunganya. Cantik sekali." "Leon." dengan pelan Pak Aji berusaha memanggil anaknya. Cecilia segera mendekati suaminya. Tangan Pak Aji melambai mengisyaratkan agar Leon yang hanya berdiri dari jauh agar segera mendekatinya. "Sayang. Kemari." Kata Cecilia pada Leon. Leon berjalan mendekati ayahnya kemudian duduk di kursi disamping tempat tidur ayahnya. "Leon, kamu harus segera menikah. Papa mau melihat kamu menikah sebelum papa pergi." "Papa mau memastikan kamu menikah dengan wanita yang benar-benar sepadan dengan kita." Lanjut ayahnya. "Perjodohan lagi. Sepadan? Seperti mama dan papa maksudnya?" Leon tertawa Nia yang berdiri tak jauh dari Leon merasa tidak enak karena percakapan yang terlalu privasi ini. "Mohon maaf ibu, bapak. Sepertinya saya harus pamit sekarang. Semoga pak Aji segera pulih." Pamit Nia "Oh terima kasih ya Nia." Kata Bu Cecilia berdiri "Tunggu. Aku juga akan keluar sekarang. Pa, Ma, aku sedang tidak mau membicarakan itu sekarang." Leon berdiri kemudian menarik tangan Nia keluar dari ruangan ayahnya. Nia begitu terkejut dengan tarikan Leon. Hampir saja dia terjatuh namun tangan Leon dengan sigap menahan agar Nia jangan terjatuh. Leon terus menggandeng tangan Nia hingga keluar dari Rumah sakit. Mukanya memerah karena menahan amarah. Leon menelpon supirnya agar menjemput mereka di Rumah Sakit. "Leon, kamu baik-baik saja?" Nia berusaha mencairkan suasana. Pelan-pelan Nia berusaha melepaskan genggaman tangan Leon yang terasa semakin kuat. Leon melihat kearah Nia. Dia terus menggenggam tangan Nia sampai supir Leon datang menjemput. 15 menit kemudian supir Leon datang. Leon menyuruh supirnya keluar dan memberikan beberapa lembar uang kepada supirnya untuk ongkosnya pulang. Leon akan mengemudikan sendiri mobilnya. "Ayo masuk." Perintahnya pada Nia. Nia menurut dan masuk ke dalam mobil. Leon segera melajukan mobilnya. Nia melihat Leon benar2 sedang kacau. Leon membawa mobil melawan arah dengan arah kantor mereka. "Kita mau kemana Leon?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN