Balas budi

2345 Kata
"Huft.. Kenapa badanku gak enak begini ya? Berat banget rasanya." kata Nia sambil meregangkan badannya. Tiba-tiba pintu ruangan Nia ada yang mengetuk Tok.. Tok.. Tok.. "Masuk." Dilla, asisten Nia masuk ke dalam ruangan kerja Nia. "Ada apa dil?" "Ini bu laporan kemarin sudah selesai." Dilla menyerahkan sebuah laporan diatas meja Nia. Nia kemudian mengambilnya dan membacanya lembar demi lembar. "Oke bagus. Filenya nanti tolong kirimkan ke email saya ya dil." "Siap bu." "Jadwal saya siang ini apa Dilla?" Nia terus memijat-mijat pundaknya Dilla mengambil catatan kecil yang selalu dibawanya dalam saku blazernya dan membacanya, "Siang ini ibu gak ada jadwal bu. Jam 3 sore nanti ibu ada monitoring ke pabrik di unit 3 bu." "Baguslah. Saya ingin istirahat dulu ya Dil. Jika ada yang mencari saya bilang saja saya sedang keluar." "Baik bu. saya permisi ya bu." "Oke" Dilla keluar dari ruangan Nia. Nia menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudian melakukan peregangan. Merasa belum puas, Nia pun berdiri berjalan ke depan meja kerjanya dan melakukan senam ringan. "Ini badan kenapa sih. Dulu jadi kasir sekaligus kuli panggul di toserba dekat rumah gak manja kayak gini deh." gumam Nia sambil terus melakukan senam. Di angkatnya kedua tangannya keatas kemudian menarik badannya semaksimal mungkin ke kanan dan ke kiri. Nia yang fokus dengan gerakan senamnya tidak menyadari bahwa seseorang telah masuk ke ruangannya dan sedang memperhatikannya. "Sedang apa kamu?" tanya seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari Nia. Nia kaget kemudian dengan cepat membalikkan badannya kebelakang untuk melihat siapa yang sedang menegurnya barusan, namun nahas karena gerakannya terlalu cepat membuat dia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Beruntungnya seseorang dengan cepat menangkap tubuh Nia dan kini Nia berada tepat di pelukannya. Nia membuka matanya yang tadi spontan tertutup ketika akan terjatuh. Nia melihat kearah seseorang yang telah menolongnya. Matanya terpaku melihat wajah tampan yang berada hanya beberapa cm dari wajahnya. Apakah aku sedang bermimpi? Sepertinya aku sedang pingsan. Kenapa aku berada dipelukan malaikat yang begitu tampan ini? Apakah aku akan dibawa ke surga? Nia terus menatap pria yang ada didepannya sambil terus tersenyum. "Kamu tidak apa-apa?" "LEON!!!" Nia terkejut dan berteriak begitu menyadari siapa yang ada dihadapannya. "Maaf pak.. maksud saya Pak Leon." Nia gugup dan berusaha beranjak dari posisiya kemudian berdiri merapikan pakaian dan rambutnya. "Kamu tidak apa-apa?" Leon berdiri dan mengulangi lagi pertanyaannya. "Saya tidak apa-apa pak. Maaf pak atas kejadian tadi." "Kenapa kamu minta maaf? kamu tidak sengaja jatuh kan?" "Tentu tidak pak. Cuma tadi itu.. itu waktu saya jatuh kan bapak.." Nia terbata Leon memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, "Saya yang salah. Tadi saya masuk tanpa mengetuk pintu dulu." "Terima kasih pak sudah menolong saya tadi." "Kamu ngapain tadi?" "Saya sedang olahraga ringan saja pak. Badan saya tadi agak kurang enak." "Kamu sakit?" "Oh, Gak kok pak. Cuma pegal sedikit saja tadi. Sekarang sudah enakan pak." Leon terdiam sejenak "Ikut saya." Kata Leon sambil beranjak keluar ruangan kerja Nia "Ma.. Mau kemana pak?" Nia bertanya kepada Leon namun terlambat, Leon sudah keluar dari ruangan Nia. Dengan cepat Nia berlari mengejar Leon. Dia takut kehilangan jejaknya dan kena masalah. Leon sudah berada di dalam lift. Dia menekan tombol lift agar pintu lift tidak tertutup sampai Nia datang. Nia sampai di depan lift. Dia berhenti didepan lift untuk mengatur napasnya yang terengah-engah karena berlari mengejar Leon. Melihat Leon yang sedang menunggunya di dalam lift, Nia pun masuk ke dalam lift. Leon yang melihat tingkah lucu Nia diam-diam tersenyum geli. "Kita mau kemana pak?" Nia bertanya sambil masih terengah-engah "Ke suatu tempat untuk merilexkan tubuh dan pikiran." Nia mengernyitkan keningnya, "Dimana pak?" "Di tempat khusus untuk kita berdua." "Tempat khusus untuk berdua????" Nia bergumam sendiri "Ma... Maksudnya pak?" Ting.. Pintu lift terbuka Leon tidak menjawab pertanyaan Nia dan berjalan keluar dari lift menuju parkiran mobilnya. Nia yang bingung berjalan cepat mengikuti Leon yang telah berjalan lebih dulu darinya. Mulutnya komat kamit berdebat dengan dirinya sendiri karena perkataan Leon di lift tadi. "Ini anak memang rada nyebelin dari dulu. Hobi banget buat orang penasaran." Nia berbicara sendiri Nia berdiri di depan mobil Leon. Dia melihat Leon masuk kedalam mobilnya. Melihat Nia hanya terdiam di depan mobilnya, Leon pun keluar lagi dari dalam mobilnya. "Ayo masuk." "Kita mau kemana pak?" "Kan tadi sudah saya bilang mau kemana. Sekarang masuk." perintah Leon Meskipun Nia masih bingung tapi akhirnya dia menurut untuk masuk ke dalam mobil Leon. Leon yang melihat Nia masuk ke dalam mobilnya juga ikut masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Nia begitu kikuk. Diam-diam Nia melihat ke arah Leon yang hanya diam dari tadi. "Kenapa melihatku begitu? Kamu takut? Kan aku udah pernah bilang aku bukan seorang bajing*n." Leon yang sejak tadi sadar di lihat oleh Nia tiba-tiba berbicara "Eh... Hmm... Bukan begitu pak. Saya cuma masih bingung kita akan kemana." ujar Nia kikuk "Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Kita tidak sedang di kantor. Aku tidak suka kamu panggil dengan panggilan bapak. Berasa tua." Leon terus memandang ke depan. Nia tersenyum geli mendengar perkataan Leon barusan. Ekspresi Leon begitu datar namun kalau bicara kenapa terdengar lucu ya? Leon menghentikan mobilnya di sebuah gedung yang terlihat mewah dan elegant. Di depan gedung tertulis "Luxury Familly Spa and Reflexy". "Kenapa kita kemari pak?" ujar Nia sambil terus melihat ke arah gedung mewah yang di depannya. "Panggil Leon aja." Leon menatap Nia "Eh iya.. Kita kenapa kemari Leon?" "Luxury family spa and reflexy. Sudah jelas kan mau apa disini. Ayo masuk." "Tapi 1 jam lagi aku harus ke pabrik di unit 3 Leon. Aku harus tiba di pabrik jam 3 sore untuk memantau barang yang masuk bersama.." belum selesai Nia bicara, Leon langsung menarik tangan Nia mask ke dalam. Leon langsung memesan paket lengkap spa dan refleksi dengan menggunakan memberikan member card platinum jadi Nia tidak perlu menunggu antrian di tempat spa dan refleksi termahal dan terpopuler di kota itu. "Selamat siang mbak Nia. Perkenalkan Saya Deby yang akan menjadi terapis mbak siang ini. Mari ikut saya mbak kita ke ruangan terapi." Seorang terapis wanita berpakaian rapi mempersilahkan Nia untuk masuk ke ruangan terapi. Nia yang terkejut dengan kedatangan terapis itu kemudian melihat ke arah Leon. "Masuklah. Rileks saja. Kunjungan pabrik bisa dilakukan besok." kata Leon Nia hanya mengangguk mendengar perintah atasannya itu. 3 jam Nia berada di dalam. Nia merapikan pakaian dan rambutnya. Begitu keluar dari ruangan spa, Nia tidak melihat keberadaan Leon di ruang tunggu. "Mungkin dia sudah kembali ke kantor. Gak mungkin juga kali dia nungguin aku berjam-jam disini." Batin Nia "Ini bu minuman jahe hangatnya." terapis Nia tadi sambil meletakkan secangkir minuman jahe hangat di meja ruang tunggu. "Ibu Nia, bagaimana terapinya tadi ibu? Apakah menyenangkan? Atau ada yang perlu kami perbaiki dari layanan kami bu?" Tanya manager pelayanan di spa itu "Menyenangkan." Jawab Nia sambil tersenyum. "Terima kasih ibu atas kesediaannya datang ke pusat spa kami ini. Semoga ibu selalu sehat dan bahagia ya bu. Oh iya.. Ibu ditunggu bapak diruangan VIP bu. Deby, bawakan minuman ibu Nia ke ruangan tunggu VIP ya. Mari bu saya antar ke ruangannya" Seorang pegawai disana mengantarkan Nia ke ruangan VIP yang hanya diisi satu tamu saja. Tok.. Tok.. Tok.. "Permisi pak. Bu Nia sudah selesai. Silahkan bu Nia." Nia melihat Leon sedang duduk disebuah meja menghadap ke laptopnya dengan secangkir kopi di mejanya. "Bapak eh kamu dari tadi nungguin aku disini ya?" Nia duduk di kursi berhadapan dengan Leon "Iya. Bagaimana pegalnya sudah enakan?" "Sudah. Seger banget. Kamu berjam-jam nungguin aku disini dari tadi? Kamu gak ikut treatment" "Gak. Aku sambil baca-baca laporan yang masuk. Jadi gak terasa. Minum dulu jahenya selagi hangat." Leon mendekatkan minuman jahe ke arah Nia. "Ini anak dingin kayak kutub utara tapi hatinya baik ya. Salut juga dia mau nungguin berjam-jam disini." batin Nia sambil menghabiskan minuman jahenya. "Hmm.. Habis ini mau kemana?" Nia meletakkan cangkir yang sudah kosong di tangannya "Kamu mau kemana?" Jawab Leon santai sambil mengetik di Laptopnya "Aku gak ada kemana-mana. Ke pabrik juga kayaknya sudah kesorean." "Lapar gak? Dekat sini ada resto seafood enak. Kamu gak ad alergi seafood kan?" "Gak ada. Kamu keluar dari kantor cuma mau ke sini?" "Iya." Nia sampai menganga dengan jawaban Leon. Ngapain Leon repot-repot keluar kantor cuma untuk mengantarnya ke sini?? "Ayo makan." Leon membawa laptopnya keluar ruang tunggu VIP Nia bergegas mengikuti Leon dari belakang. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan kembali saling diam. Tak berapa lama mereka tiba di sebuah restoran seafood mewah. Nia melihat restoran mewah itu seperti sangat familiar. "Ini bukannya restoran mamanya Andre ya?" pikir Nia "Ayo masuk." Leon melangkahkan kakinya menuju ke dalam restoran itu Di dalam restoran, Nia dan Leon duduk berhadapan. Seorang waiter datang dengan membawa buku menu dan memberikannya pada Nia dan Leon. Nia dan Leon pun memesan menu pilihan mereka masing-masing. "Bagaimana rasanya bekerja di Artawijaya Group Nia?" Leon memulai pembicaraan setelah waiter pergi. "Menyenangkan." Nia tersenyum "Kamu tidak merasa tertekan?" "Hmm.. Hampir setiap hari. Tapi itu wajar menurutku selevel perusahaan besar dan bergengsi seperti Artawijaya Group. Kenapa Leon?" Nia memandang Leon dengan wajah bingung "Aku membaca biografi kamu. Kinerja kamu sangat baik dan karir kamu naik dengan cepat. Selain karena kamu pintar, aku yakin kamu pasti mengalami tekanan yang besar di kantor." "Aku terbiasa dengan tekanan dan kerja keras, Leon. Kenapa?" "Kamu juga harus menjaga kesehatanmu." "Astaga Leon... Aku pikir tadi kamu mau memecatku." "Hahaha... Tidak mungkin aku memecatmu." Leon tertawa "Nyaman sekali melihat tawanya yang begitu lepas seperti itu." batin Nia "Kamu juga begitu baik hari ini. Jadi aku bingung dengan pertanyaanmu." jawab Nia pada Leon "Aku mau membayar hutangku yang dulu. Kamu sudah merawatku saat aku sakit." kata Leon kemudian terdiam Seorang waiter datang dengan membawa makanan yang sudah mereka pesan dan menatanya di atas meja. "Silahkan menikmati." kata waiter setelah meletakkan makanan diatas meja "Terima kasih." jawab Nia Waiter itupun pergi meninggalkan Nia dan Leon "Itu sudah sangat lama Leon, dan itu bukan hutang yang harus kamu bayar. Aku melakukannya dengan tulus." ujar Nia sambil terus menatap kearah Leon. "Aku tahu kamu tulus melakukannya. Ayo kita makan. Makanan disini rasanya enak-enak" Leon mulai mengambil satu-persatu menu yang dipesannya dan memakannya Nia terdiam sejenak. Sikap Leon hari ini benar-benar membuat Nia bingung. Nia pun ikut mulai menyantap makanan yang sudah dipesannya tadi. "Niaa.." Tiba-tiba ada seseorang yang menyapa Nia Leon dan Nia mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa yang sedang menyapa Nia barusan. "Hai Andre. Kamu lagi makan siang?" jawab Nia "Iya. Tadi aku menghubungi ke handphone kamu." "Oh.. Handphoneku tertinggal di kantor Ndre. Tadi terburu-buru keluar kantor." Andre melihat kearah Leon yang sedang makan dengan tenang di depan Nia. Dia sebenarnya ingin bertanya siapa pria yang sedang makan bersama Nia saat itu tapi dia memilih untuk memendam pertanyaannya. "Oke Nia. Selamat menikmati makanannya ya. Kalau sudah sampai dikantor, hubungi aku ya." kata Andre lalu berlalu pergi Leon melihat ke arah Andre sampai Andre berlalu keluar dari restoran itu. "Siapa dia? tanya Leon "Oh.. Dia Andre, CEO Perusahaan Rajawali Group. Kita ada kerjasama dengan perusahaan itu leon." "Dari caranya menyapa sepertinya kalian sudah sangat akrab. Lebih dari sekedar rekan bisnis." Leon mengalihkan pandangannya dari wajah Nia yang terus menatapnya "Dia juga dari SMA Tunas Bangsa Leon. Kelasnya bersebelahan dengan kelas kita. Dulu aku pernah diboncengnya naik motor kesekolah karena suatu kejadian yang tak terduga. Sejak itu kami mulai akrab. Dia sering menemaniku menunggu Dina menjemputku setiap pagi." "Sepertinya dia menyukaimu." kata Leon kemudian memandang Nia dengan tajam "Gak mungkin Leon. Kami hanya berteman saja. Dia CEO mana mungkin suka ama aku." jawab Nia kemudian tertawa "Kenapa memangnya kalau CEO? Presiden pun bisa jatuh cinta sama kamu. Tapi kamu benar. Lebih baik kalian hanya berteman. Jangan lebih." "Kenapa memangnya?" "Dia jelek. Gak enak dilihat." Leon dengan cepat menyantap makanannya "Kok jelek? ganteng kok." jawab Nia bingung "Menurutku dia jelek. Cepat habiskan makananmu. Kita harus ke kantor." Leon terus menyantap makanannya dengan cepat tanpa melihat ke arah Nia. Wajahnya memerah. "Dia benar-benar manusia aneh. Tidak bisa ditebak." Nia melongo melihat tingkah Leon. Selesai makan Leon dan Nia berlalu menuju kantor mereka. Setelah sampai, Nia turun dari mobil dan menunggu Leon di depan mobilnya. "Ayo masuk." kata Leon sambil berjalan "Terima kasih buat hari ini ya pak." kata Nia "Sudah ku bilang jangan panggil aku dengan sebutan Pak." "Tapi kan ini sudah di area kantor pak." Nia tersenyum. Leon menghelakan napasnya, "Hahh... Sudahlah. Ayo masuk." Nia tersenyum kemudian bejalan masuk ke kantor bersama Leon Sesampainya diruangan kerjanya, Nia mengecek handphonenya. Ada 7 panggilan tak terjawab. 1 Panggilan dari Dilla asistennya, 2 panggilan dari Andre dan 4 panggilan dari ibunya. Nia kemudian menelpon kembali ibunya. Ditekannya tombol dial paada nomor kontak ibunya. "Hallo bu.. Tadi ibu nelpon Nia?" kata Nia begitu terdengar suara telponnya diangkat "iya. Kamu kemana sih nduk gak angkat telpon ibu?" "Tadi keluar sebentar bu. Handphone Nia ketinggalan di ruangan. Kenapa bu?" "Mbakmu tadi nelpon pacarnya mau datang kerumah mau ngomong serius. Katanya orangtua pacar mbakmu mau melamar mbakmu. Tadi mbakmu nangis-nangis katanya malu kalau sampai orangtua pacarnya datang." "Kenapa malu bu?" "Mbakmu malu dengan rumah kita. Kamu gak bisa apa belikan rumah yang lebih bagus? Jadi nanti rumah ini bisa untuk adekmu, rumah yang baru bisa untuk mbakmu." Nia terdiam lama. Matanya panas dan basah. Ada butir bening mengalir di pipinya. "Halo Nia.. halo.. kok gak ada suara ya?" Suara ibunya dari seberang telepon "Ibu kemarin bukannya minta belikan ruko untuk jualan bu?" Suara Nia parau "Iya. Sekarang mbakmu yang lebih penting. Ruko buat ibu nanti saja setelah belikan rumah buat mbakmu. Gimana? Bisa kan nduk?" "Nia gak bisa janji ya bu. Nia usahakan sebisa Nia." "Harus bisa dong nduk. Kamu kan udah sukses, kamu harus berbakti sama ibu, mbakmu dan adikmu. Ibu sudah melalui banyak penderitaan sampai kamu sukses seperti ini" ujar Ibunya. Nia menarik napas dalam-dalam. Berusaha menahan isak yang sejak tadi ditahannya. "Sudah dulu y bu. Nia ada kerjaan sekarang." kata Nia "Ya udah.. Kamu kerja aja dulu. Nanti kita omongin lgi di rumah ya." Ibunya menutup telepon. "Pernahkah ibu memikirkanku sekali saja?" Nia menghapus bulir-bulir air matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN