Teman Sejati

1256 Kata
SMA Tunas Bangsa, sekolah bergengsi yang isinya anak-anak berkualitas. Bisa berkualitas secara materi, dan bisa berkualitas secara intelegensi. Jika tidak memiliki salah satu dari hal itu, maka hal mustahil untuk bersekolah disana. Sebuah sepeda motor bersuara besar tampak akan memasuki pintu gerbang SMA Tunas Bangsa ketika pintu gerbang sekolah itu hampir saja ditutup oleh penjaga sekolah karena bel masuk sekolah telah berbunyi. "Paakkk.. Tunggu pak.. Jangan tutup dulu pak" Nia berteriak sambil melambaikan tangannya berusaha menarik perhatian penjaga sekolah yang tengah menutup pintu gerbang. Dengan cepat Nia melompat turun saat motor yang dinaikinya belum sempurna berhenti dan segera masuk ke dalam begitu pintu gerbang dibuka lagi oleh penjaga sekolah., membuat pemuda yang sedang mengendarai motor itu hampir kelimpungan dan terjatuh. “Ini anak emang gak takut mati kayaknya. Main lompat aja!” gumam pemuda yang memberi tumpangan pada Nia sambil menyeimbangkan motornya kembali. "Tumben telat neng. Cepetan masuk kelas neng," kata penjaga sekolah yang sudah kenal dengan Nia karena Nia selalu menegurnya setiap datang dan pulang sekolah. Nia bergegas berlari ke kelas. Gurunya sudah hampir mendekati kelasnya. "Dasar, udah ditolongin malah ninggalin. Gak bilang terima kasih pula" gumam pemuda yang membonceng Nia tadi. Di gas nya motornya menuju tempat parkiran motor disekolah. Segera dia berlari juga menuju kelasnya. Nia masuk kedalam kelasnya. Begitu masuk, Nia mengkerutkan keningnya. Suasana kelas seperti berbeda dari hari kemarin. "Loh kok gini tempat duduknya? Aduh hari ini ada rolling tempat duduk. Aku lupa!" gumam Nia sambil komat kamit. Tangannya ditepukkan ke kepalanya. Matanya liar kesana kemari mencari seseorang. Dina, teman sebangkunya yang merupakan teman terdekatnya selama hampir 3 tahun ini. Mereka ibarat jodoh yang selalu dipertemukan di kelas yang sama setiap tahun. "Niaaa.. Sini!!" teriak Dina sambil melambaikan tangannya. Nia kaget karena teriakan Dina. Baru saja mau berjalan ke arah Dina, kaki Nia tersandung meja didepannya. Sepatu Nia robek, terbuka pada bagian depannya. Meja itu tepat mengenai jempol kaki Nia karena begitu tipisnya sepatu itu. "awww... aduhhh.." ringis Nia terduduk sambil menggigit bibirnya karena menahan rasa sakit di kakinya. Selagi Nia mengelus-elus kakinya yang sakit, tepat di depannya telah berdiri ibu Farida, guru matematika sekaligus wali kelasnya. "Nia, kamu kenapa?" tanya bu Farida "Tadi saya tersandung meja bu. Kaki saya sakit," jawab Nia sambil berdiri dan membungkuk di depan ibu Farida pertanda hormat. Nia melihat di belakang ibu Farida telah berdiri seorang murid laki-laki. Wajahnya belum pernah Nia lihat sebelumnya. Sepertinya murid baru, Nia membatin. Nia berjalan terseok-seok menutupi sepatunya yang robek menganga tepat dibagian depannya. Entah bagaimana Nia bisa melewati hari ini dengan sepatu seperti itu. "Kamu kenapa Nia? Ya ampun sepatumu robek. Kaki kamu masih sakit?" Dina melihat ke arah kaki Nia karena jalan Nia yang terseok-seok. "Biasalah sepatu tua. Ini sepatu warisan kakakku waktu aku kelas dua. Jempolku Din, nyium meja. Nyerinya ampun!" Nia setengah meringis manja pada sahabat satu-satunya itu. "Sepatumu demo itu Nia. Udah minta pensiun. Sudah lelah dia menghadapi dunia yang kejam ini," seloroh Dina tertawa sambil setengah berbisik. Nia hanya tersenyum masam. Sebenarnya betul juga kata temannya. Sudah waktunya dia mengganti sepatu tuanya yang sudah tipis itu. Kalau dihitung-hitung, usia sepatu itu hampir 4 tahun. Sepatu itu diturunkan pada Nia oleh kakaknya karena kakaknya sudah punya sepatu baru. Ibu Nia membelikan kakaknya dan adiknya sepatu baru karena kakaknya akan menempuh jenjang perkuliahan dan adiknya selalu sepatu baru hampir setiap tahun. Sementara Nia belum bisa menikmati indahnya sepatu baru. Dia lebih memilih memakai sepatu lama kakaknya karena tidak mau membebani ibunya untuk membelikannya sepatu baru. Nia memang akan tetap memakai sepatu sampai sepatu itu benar-benar tidak layak pakai lagi. "Kira-kira ibu punya uang gak ya untuk beli sepatu untuk aku?" gumam Nia dalam hati. Lamunan Nia langsung buyar begitu mendengar ketokan meja dari depan. "Tenang anak-anak.” Bu Farida menepuk kuat mejanya, yang mampu membuat suasana kelas menjadi hening seketika. “Hari ini kita ada kedatangan teman baru. Dia pindahan dari Kota Bandung. Oke, sekarang kamu perkenalkan diri ya nak." "Nama saya Leon. Saya baru pindah ke kota ini " jawab Leon singkat. "Oke Leon, kamu bisa duduk sekarang. Kamu bisa duduk di kursi yang masih kosong ya. Kelas kita mulai sekarang ya. Buka buku materinya," perintah bu Farida. Leon mengambil tempat duduk tepat didepan Nia. Kebetulan disana ada 2 bangku kosong. Leon duduk, mengeluarkan buku, kemudian duduk tenang mendengarkan ibu Farida menjelaskan. Wajah dan karismanya begitu dingin. Parasnya manis, postur tubuhnya sangat atletis, tinggi, putih dan terlihat cerdas. Tak salah jika sejak tadi banyak siswi dikelas yang melirik-lirik ke arahnya. "Ganteng ya Nia. Maunya Minggu depan jangan ada rolling lagi. Biar pemandangan seger terus kayak gini kan?" bisik Dina sambil tersenyum. Nia cuma tersenyum biasa. Pikirannya terfokus pada sepatunya yang robek. Entah bagaimana Nia akan ke sekolah besok. Jika Nia membeli sepatu baru, Nia takut akan kekurangan uang sebelum ibu mereka pulang dari kampung. "Aku gak bawa bekal hari ini. Aku beli dulu ya dikantin. Nanti kita makan sama-sama dikelas ya." Dina berdiri dan bersiap untuk keluar kelas. "Mau aku temanin gak din?" tanya Nia "Gak usah. Kamu di sini aja nunggu aku. Gimana mau kekantin dengan sepatu begitu, Nia," jawab Dina tersenyum sambil melirik sepatu Nia yang menampakkan kaos kaki Nia keluar. "Hmm, okelah." Nia tersenyum malu. Dina pun keluar kelas. Sekarang hanya ada beberapa murid saja di kelas. Mata Nia tertuju pada Leon yang hanya duduk. "Kamu gak makan Leon? oh iya, perkenalkan aku Nia" Nia berbasa basi bermaksud ingin beramah tamah dengan murid baru itu. Rasanya gak enak duduk dekatan tapi tidak bertegur sapa. Leon tidak bergeming. Dia hanya memandang keluar jendela yang berada tepat di sampingnya. Kemudian dia berdiri, dan berlalu begitu saja keluar kelas tanpa menjawab basa-basi Nia tadi. Nia pun melongo melihat Leon berlalu didepannya. Seperti ada buah semangka yang nyangkut ditenggorokannya. Nia benar-benar gondok saat itu. "Gila! Hari apa sih ini? Sial banget aku! Apa dosaku hari ini ya? Gondok amat hari ini, Ya Tuhan, gumam Nia dalam hati sambil memasang muka memelas. Lalu dipandangnya langit-langit kelas dengan pandangan kosong. "Woy.. ngapain gitu? Awas kesambet loh ntar melamun gitu!" tiba-tiba Dina nyeletuk tepat disamping Nia. "Udah, gak usah dipikirin amat soal sepatumu itu Nia. Aku ada sepatu cadangan di rumah. Udah lama aku beli tapi gak pernah aku pake. Untuk kamu aja itu. Jangan nolak. Kalau nolak kita putus ya!" ucap Dina serius. "Tapi, Din, aku gak enak ah." "Tuh kan. Udah dibilangin jangan nolak. Aku itu tahu banget semua tentang kamu. Tenang aja Nia. Udah, jangan nolak pokoknya. Mana bekalmu Nia?" Dina membuka makanan yang dibawanya dari kantin. "Dinaa.. aku cinta kamuu selamanya!" jawab Nia sambil memeluk Dina. "Eh eh.. jangan disini dong sayang. Ntar kalo kita udah nikah ya," seloroh Dina sambil bergidik geli kemudian di sambut dengan tawa lepasnya. "Apaan sih kamu, Dinnn!" Nia tertawa sambil menyikut pelan lengan sahabatnya itu. Nia bersyukur sekali mempunyai sahabat seperti Dina. Entah sudah berapa kali Dina menolongnya secara materi selama hampir tiga tahun kebersamaan mereka di sekolah itu. Tiba-tiba ada segerombolan anak laki-laki dari kelas lain masuk ke dalam kelas Nia. Sepertinya mereka Genk anak yang paling populer disekolah ini. "Wahh.. sekolah kita kayak manajemen artis ya. Banyak banget orang-orang cakepnya," kata Dina sampai tak berkedip. Nia dan Dina memang murid yang tidak populer disekolah itu. Mereka hanya asyik dengan dunia mereka berdua. Bahkan mereka hanya mengenal murid yang ada dikelas mereka saja. Nia memperhatikan murid-murid cowok yang masuk itu satu per satu. Memang mereka begitu tampan, batin Nia. "Eh.. itu kayaknya pernah liat deh. Tapi dimana ya?" tanya Nia dalam hati ketika melihat salah satu personil genk itu. "Astagaaaa!!" teriak Nia tanpa sadar lalu menutup mulutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN