Two boys

1478 Kata
"Astagaaaa...!!" Teriak Nia lalu menutup mulutnya. Dina yang berada di sebelah Nia pun terkaget melihat Nia. "Kenapa Nia? Kok kaget gitu? " tanya Dina bingung. "Ituu... Ituu... Itu Din.. Tadi pagi sama aku. Dia.. aduh.." Nia tergagap. Nia berusaha menutupi wajahnya dari segerombolan siswa didepannya. Berharap tidak ada satupun dari mereka yang mengenalnya. "Kamu ngomomg apaan sih Nia. Aku gak ngerti. Ngomong yang jelas dong Nia " sergap Dina yang makin penasaran dengan tingkah aneh Nia. Nia mengambil buku tulis yang ada dihadapannya. "Laki-laki yang paling tinggi digank itu tadi pagi hampir tabrakan sama aku dijalan. Tadi pagi aku kebingungan nyari ojek buat kesekolah, terus aku numpang sama dia. Kebetulan dia juga siswa disini. Tapi tadi pagi sampai depan sekolah, aku main lari aja ninggalin dia, gak bilang terima kasih pula. Namanya aja aku gak tahu" Nia setengah berbisik sambil memalingkan wajahnya ke arah dinding dan menutupi wajahnya dengan buku. Tiba-tiba Dina menyikut tangan Nia berkali-kali. "Apaan sih Din.. Aku gak bisa liat kesana. Aku malu din kalau aja dia ingat sama aku. Kita bisik-bisikan aja dulu ya." bisik Nia "Nia.. Nia.. ituu.. anu.. " Dina tergagap sambil terus menyikut Nia "Din... Apaan sih... Itu apaan?" tanya Nia "Hey.. Lu yang tadi pagi jalan kayak orang linglung itu kan?" tiba-tiba terdengar suara Laki-laki tepat didepan Nia. "Eh, suara itu kayak suara yang tadi pagi!!" gumam Nia dalam hati. Perlahan-lahan di turunkannya buku yang menutupi wajahnya dari tadi. Pelan-pelan dibalikkannya wajahnya. DEG...!! Nia terkejut bukan main, sampai-sampai dia tak sengaja berteriak. "HAHH..!!!" teriaknya lalu menutup mulutnya cepat. Pemuda itu dan Dina sama-sama kaget karena teriakan Nia yang tiba-tiba. "Andre.. Ayo cabut.. Daniel dikantin katanya" teriak teman genknya pemuda itu. Daniel adalah nama teman sekelas Nia dan Dina, yang juga merupakan teman satu genk pemuda itu. "Oke.. " jawab andre singkat sambil melihat Nia sebentar kemudian berjalan kearah temannya. "Oh, namanya Andre ya? Payah banget aku ini. Dia udah baik malah aku acuhkan begini" gumam Nia dalam hati. Nia hanya menatap andre berlalu keluar dari kelas. "Kamu kenapa sih Nia dari tadi aneh. Padahal bagus loh tadi dia udah nyamperin kamu duluan." kata Dina sambil menatap wajah sahabatnya itu. "Aku malu loh din karena tadi pagi aku main pergi aja. Aaaaaa.... aku memang payah" Nia menundukkan kepalanya ke meja. "Ahh.. sudahlah.. nanti juga lupa. gak bakal sering ketemu juga. Memangnya siapa aku bagi dia. Gak penting." kata Nia dalam hati. "Yok makan din. Udah mau bel masuk ini. Aku sudah lapar nih" kata Nia pada Dina. "Ayok.. aku juga sudah lapar nih" jawab Dina. Nia dan Dina segera menyantap makanan yang sudah mereka bawa. Selesai makan, tak berapa lama bel tanda masuk pun berbunyi. "Wah pas sekali belnya berbunyi setelah kita selesai makan" kata Dina. "Iya nih" jawab Nia singkat. Siswa lainnya mulai berdatangan masuk ke dalam kelas. Leon menjaadi siswa terakhir yang masuk kedalam kelas. Dengan postur tubuh bak model, wajah yang manis dan aura yang cool sukses membuat mata yang melihatya berjalan seakan terhipnotis. "Wuih.. nih anak kayak artis korea ya.. cool amat. Gak senyum aja bikin jantung berdebar-debar, apalagi kalau senyum. bisa mati kejang-kejang cewek dibuatnya." Dina tanpa berhenti melihat Leon berjalan. Matanya mengikuti gerak-gerik Leon sejak Leon masuk ke kelas sampai Leon duduk di tempat duduknya, tepat di depan Nia. "Ihh.. apaan sih ngliatin orang sampe segitunya. Kamu naksir ya?" ledek Nia. "Ya amploppp Niaa... Pliss deh... Cewek mana sih yang gak kecantol sama cowok seganteng dia. Gini ya Nia, kalaupun dia nyatain cinta ke aku sekarang pasti aku terima saat ini juga." jawab Dina penuh semangat. "Tapi kan kamu belum kenal karakter dia gimana. Kalau orangnya kasar gimana? atau cuek gitu. Lihat dinginnya dia gimana sejak masuk tadi pagi" bisik Nia pelan. Dia takut kalau Leon mendengar pembicaan mereka. "Tahu gak tadi waktu kamu beli makanan dikantin, aku basa basi ramah ke dia sekalian kenalan eh di cuekin sama dia. Gondok banget tahu. Gak ramah banget orangnya" bisik Nia. "Beneran?? wuaahh.. cooll banget. sukaa.. sukaa" Mata Dina berbinar melihat kearah Leon. "Hadeuhh... Sehat Din? Sadar din sadaaarrr." Nia menggoncang-goncangkan badan sahabatnya itu. Nia tak habis pikir dengan kelakuan Dina yang makin aneh. Guru pelajaran bahasa inggris pun masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran dikelas. 3 mata pelajaran sudah berlalu. Bel tanda waktu pulang pun berbunyi. Setelah mengucapkan salam, semua siswa bergegas keluar kelas. "Nia, kamu mau ikut les privat gak dirumahku? Mamaku memanggil guru privat kerumah untuk persiapan ujian akhir kelulusan kelas 3. Gak usah bayar. Mau yaa pliss??" tanya Dina sambil terus berjalan bersama Nia menuju gerbang sekolah. Nia terdiam sejenak. Nia tahu sahabatnya ini benar-benar peduli dengannya, tapi ada perasaan seperti 'tidak tahu diri' dalam benak Nia bila dia terus menerus dibantu oleh sahabatnya ini. "Aku mau banget Nia tapi aku belum bisa ikut. Aku masih harus membantu ibuku dirumah. Aku juga gak bisa kemana-mana setelah pulang sekolah. Gak ada yang bisa mengantarku Din. Maaf ya din." tolak Nia halus. "Tenang Nia, nanti aku yang antar jemput kamu. Gak apa-apa. Oke yaa.. pliss.." mohon Dina sambil memegang tangan Nia. "Aduh bukan itu maksudku Din. Ehmm... Aku harus membantu ibuku dirumah. Kan kamu tahu sendiri gimana aku kalau dirumah Din. Ehmm... Tapi makasih ya Din. Kamu selalu peduli sama aku." jawab Nia sambil tersenyum. "Huuftt.. ya udah deh kalo gitu. Nanti kalau kamu udah bisa, kabarin aku ya. Kita belajar bareng." "Siap ibu periku." Nia mengacungkan 2 ibu jari kearah Dina. "Kamu pulang naik apa Nia? dijemput ya?" "Aku naik angkot Din. Sebenarnya ibuku udah nitipin aku sama Pak Jamil kalau aku akan numpang bapak itu pulang dan pergi sekolah selama ibuku dikampung. Tapi tadi pagi kata ibu jamil, bapak kecelakaan semalam jadi gak bisa mengajar seminggu ini. Itu juga alasan sampai aku tadi pagi bisa dibonceng sama Andre itu." "Ya udah kamu pulang sama aku aja ya. Sekalian kita kerumahku dulu ambil sepatu kamu, terus nanti aku antar kamu pulang. Oke?" Sumpah, ini anak kayak malaikat penolong banget di hidup aku. Paling mengerti keadaan dan perasaan aku. Entah bagaimana aku bisa membalas semua kebaikannya selama ini, gumam Nia dalam hati. "Kamu pulang pergi sama aku aja selama ibu kamu dikampung ya. Gak usah segan. Aku tahu kamu dari tadi nolak aku karena gak enakan kan. Ngapain sih pake gak enakan sama sahabat sendiri. Kalo kali ini kamu nolak, aku bakalan tersinggung ya. Gak mau lagi aku berteman sama kamu" kata Dina sambil cemberut. Nia tersenyum meihat sahabatnya itu, "Oke ibu periku" "Gitu dong. Yok cuss.. Pak Tono sudah nunggu." Dina menunjuk sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir di depan gerbang sekolah. Pak Tono adalah supir pribadi khusus buat Dina. Kemanapun Dina pergi, Pak Tono selalu siap sedia mengantarkannya. Dina adalah anak tunggal. Ayahnya pengusaha yang mengelola perusahaan konveksi yang sudah menggurita di berbagai kota. Ibunya seorang sosialita yang punya perkumpulan bergengsi. Dina begitu bergelimang harta namun selalu merasa kesepian, dan aku adalah satu-satunya sahabat yang dia punya. Begitupun denganku. bagiku, Dina adalah satu-satunya orang terdekat dalam hidupku. Mungkin karena itu kami seperti saudara yang saling melengkapi dan melindungi. Pertama kali masuk sekolah ini, Nia dan Dina sudah satu kelompok ospek. Dina selalu jadi bulan-bulanan senior karena selalu salah dalam menjawab kuis dari senior. Kuis yang ditanyakan masih seputar pengetahuan pelajaran sekolah. Nia yang kasihan melihat Dina mencoba membantu Dina diam-diam tanpa ketahuan senior. Sejak itu Dina dan Nia menjadi dekat. Mereka juga selalu mendapatkan kelas yang sama setiap tahun. Nia memilih masuk sekolah ini karena hanya sekolah ini yang terdekat dengan rumahnya dan nilai akhir sekolah Nia tinggi sehingga Nia bisa lolos beasiswa disekolah ini. sedangkan Dina masuk sekolah ini karena orangtua yang memasukkan Dina walaupun sebenarnya nilai Dina tidak mencukupi nilai standar sekolah ini. Sudah tentu karena gengsi. Rata-rata anak teman, tetangga dan kolega orangtua Dina bersekolah disini. Dina dan Nia memasuki mobil. Sedang asyik-asyiknya mengobrol didalam mobil sambil tertawa, tiba-tiba pak Tono mengerem mendadak sehingga Dina dan Nia yang duduk dibelakang hampir saja tersungkur kedepan. "Astaga...!! Ini orang gimana sih bawa mobil. Maaf ya non. Non gak apa-apa?" teriak pak Tono panik. "Kamu gak apa-apa Nia?" tanya Dina pada Nia. "Aku gak apa-apa din. Kamu gimana? Ada yang sakit?" tanya Nia balik. "Aku gak apa-apa kok. Ada apa sih pak kok ngerem mendadak gitu?" tanya Dina pada Pak Tono sambil merapikan rambutnya yang berantakan. "Ini non, mobil sport merah di depan itu tiba-tiba menyalip ngebut. Bapak kaget dan berusaha menghindar karena dia menyalip dekat benget dengan kita. Maaf ya non." Jelas Pak Tono sambil mengatupkan kedua tangannya meminta maaf. "Gak apa-apa pak. Itu orang lagi kebelet kali mesti bawa mobil kayak gitu. Ya udah pak, kita jalan lagi." kata Dina pada pak Tono. Mobil itu dari arah sekolah yang sama dengan kami. Pasti murid di sekolah ini juga, gumam Nia dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN