Jatuh hati

1294 Kata
"Niaaa...!" teriak ayah Nia memecahkan keheningan di pagi hari itu. "Iya pak." Nia segera berlari ke sumber suara yang memanggilnya. "Mana uang untuk Bapak? Hari ini bapak pulang malam ya." kata ayah Nia. "Iya pak. Sebentar ya pak, Nia ambilkan dulu uangnya." Nia segera berlalu ke kamarnya. Nia membuka dompetnya. Mengambil berapa lembar uang. Kemudian bergegas keluar kamarnya dan menyerahkan uang itu pada ayahnya. "Ini pak uangnya." Ayahnya mengambil uang itu dan memasukkannya kedalam sakunya. Nia beranjak ke kamar lagi untuk mengambil tas dan bekal makan siangnya untuk disekolah yang sudah disiapkannya tadi pagi. "Jadi mulai hari ini kamu diantar jemput Dina ya dek?" tanya mbak Ajeng, kakak Nia yang sedang berdandan di depan kaca meja rias di kamar. "Iya mbak. Dina yang antar jemput sampai ibu pulang dari kampung. Pak Jamil harus istirahat dirumahnya selama seminggu untuk pemulihan karena kecelakaan kemarin mbak. Mbak Nia berangkat duluan ya. Nia mau nunggu Dina di depan gang. Gak enak kalau Dina yang menunggu." "Iya. Hati-hati ya." Nia keluar kamar dan menghampiri ayahnya yang sedang duduk sambil menonton televisi. "Pak, Nia berangkat sekolah dulu ya pak." kata Nia sambil menyalami bapaknya. "Iya" Jawab Ayahnya sambil mengulurkan tangannya. "Dek, Mbak berangkat duluan ya. Bekalmu udah mbak tarok di meja depan ya." kata Nia begitu bertemu Reza, adik Nia yang sedang memakai sepatu didepan teras. "Iya mbak." Jawab Reza singkat Mulai hari ini Nia memang harus berangkat lebih cepat dari hari biasanya. Itu karena dia tidak mau Dina yang menunggunya. Di antar jemput oleh Dina saja Nia sudah sangat berterima kasih. Dia tidak mau menjadi orang yang tidak tahu diri dengan membiarkan sahabatnya yang baik itu menunggu. Rumah Nia berada di dalam gang sempit. Sulit untuk kendaraan roda empat masuk kedalam gang itu. Jadi setiap hari Nia akan menunggu Dina menjemputnya di depan gang rumah Nia. Ayah Nia, pak Subroto merupakan orang yang cerdas dan perawakannya gagah. namun karena kebiasaannya suka mabuk-mabukan dan berwatak keras, pak Subroto menjadi kurang disenangi oleh teman dan atasannya dikantor. Dalam hal pengetahuan, disiplin dan prinsip hidup, Nia sangat mengidolakan Ayahnya itu. Ayah Nia sangat diplomatis dalam memberikan pendapat. Beliau juga tidak suka membicarakan orang lain apalagi mencampuri urusan orang lain, termasuk pada saudara-saudaranya dan orang lainpun termasuk saudara-saudaranya tidak boleh mengganggu apalagi mencampuri urusan rumah tangga dan anak-anaknya. Siapapun yang menyakiti istri dan anak-anaknya akan langsung berurusan dengannya, kecuali dirinya. Nia berdiri tepat didepan gang rumahnya. Nia tidak mempunyai handphone, jadi dia tidak bisa memberitahu Dina dimana posisinya menunggu. Nia hanya bisa clingak-clinguk melihat ke arah jalan menantikan mobil Dina datang. Tiba-tiba sebuah motor besar berhenti tepat didepan Nia. Nia terkejut dan bingung siapa yang berhenti didepannya. Pengendara motor itupun membuka helmnya. DEGG... ANDRE !!!!! Mata Nia terbelalak terkejut dengan apa yang dilihat didepannya. Andre membuka helm yang dipakainya, "Hei Miss Linglung, lu ketinggalan ojek lagi ya? Naik lah. Sekalian bareng aja. Rezeki lu nih ketemu gue lagi" "Lu kenapa sih asal ketemu gue lu kaget setengah mati kayak ketemu hantu aja! Emang gue seseram itu ya?" kata Andre lagi setelah memperhatikan ekspresi Nia ketika melihatnya. "Bu.. bu.. bukan itu ndre. Kamu tadi tiba-tiba berhenti didepanku jadi aku kaget ndre. Kamu kok bisa tahu aku disini ndre?" Nia gelagapan. Ooppss.. bicara apaan sih aku ini. dimana akal sehatku?? Emangnya dia sengaja nemuin aku disini? Gak mungkin juga kali dia nyariin aku, gumam Nia dalam hati sambil menunduk malu menyesali pertanyaan bodohnya yang sudah terlanjur dia katakan. "Wuih... PEDE amat lu... Gue kebetulan lewat sini, terus liat lu lagi berdiri sendirian disini. Gue kira lu kehilangan ojek lu lagi. Daripada ntar lu telat, mending barengan ama gue. Eh.. By the way nama lu siapa? gak adil banget lu tahu nama gue tapi gue gak tahu nama lu" "Namaku Nia, Ndre. Maaf ya Ndre bukannya aku gak mau barengan sama kamu, tapi aku udah janji sama temanku disini. Dia yang akan jemput aku disini." "Pacar lu yaa?? ngapain dijemput pacar di persimpangan jalan begini? Lu takut ketahuan bokap nyokap lu ya?" tanya Andre sambil tertawa nyeleneh. "Bukan ndre. Dia sahabatku perempuan. Aku menunggunya disini karena rumahku didalam gang sempit. Gak mungkin mobilnya bisa masuk" "Ohh.. rumah lu di gang ini ya.. Rumah Gue di Greenlight Residence. Dekat dari sini. Ya udah deh kalau lu gak mau barengan. Ntar jangan nyesal ya kalau teman lu gak jadi jemput. Lu udah kehilangan satu kesempatan berharga hari ini" Huahh.. manis banget senyumnya. Tapi ini cowok kepo dan PEDE nya selangit ya. Ngapain juga dia sepeduli itu sama aku, kata Nia dalam hati "Makasih ya Ndre" jawab Nia membalas senyum Andre. Andre pun menghidupkan motornya dan berlalu dari hadapan Nia. Tak berapa lama Dina pun datang. Nia membuka pintu belakang dan segera masuk ke dalam mobil. "Eh tadi itu bukannya si Andre yang kemarin bonceng kamu ke sekolah ya Nia? Ngapain dia?" tanya Dina begitu mobil mulai berjalan. "Dia tadi nawarin barengan ke sekolah. Dia kira aku nyari-nyari ojek lagi kayak kemarin. Rupanya rumahnya di Greenlight Residence Din. Deket dengan rumah aku. Pantesan sering ketemu." "Baik juga dia ya.. jangan-jangan dia suka lagi sama kamu Nia" goda Dina sambil memicingkan matanya kearah Nia "Ya gak lah Din. Ketemu juga baru 2 kali. Ya kali orang seganteng dia mau sama orang kayak aku" "Loh. kenapa gak. Kamu cantik, tinggi, putih, pintar lagi. Siapa laki-laki yang gak mau sama kamu Nia" Ujar Dina serius. "Udah ahh..itu kebetulan aja. Rumah kami juga kan lumayan dekat. jadi kemungkin bertemu itu bisa aja. Dia juga orangnya memang baik mungkin" jawab Nia "Hmmm.. Kita lihat aja nanti cerita selanjutnya." seloroh Dina meyakinkan. * Kelas sudah ramai. Nia dan Dina baru saja masuk kedalam kelas. Tiba-tiba seorang teman mereka, Jimmy masuk dan berteriak. "Woy... woy... ada berita baru nih gengs. Anak baru yang masuk kemarin ternyata bawa mobil sport mewah ke sekolah. Sultan abis ternyata dia bro" teriak Jimmy semangat. Seketika kelas begitu gaduh membicarakan Leon, si anak baru. "Nia, Perfect banget gak sih si Mr. Cool itu. Meleleh aku Nia." kata Dina mesem-mesem sendiri. "hmm.. Kumat lagi" Nia berlalu duduk. "Tapi dia dingin banget ya Nia. Negur gak mau, ditegur ga jawab. Gimana cara PDKT nya ya?" tanya Dina sambil menyusul Nia ke bangkunya. "Kamu serius ya? Pelajari aja dulu karakternya gimana" "Serius dong. Dia itu tipe aku banget Nia. Dia itu..." kalimat Dina langsung berhenti tiba-tiba karena Dina melihat Leon masuk kedalam kelas. Seketika kelas menjadi hening. Nia yang dari tadi sibuk mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya pun sempat berhenti, namun segera dia lanjutkan kembali membaca buku pelajaran pagi itu. Leon duduk dibangkunya. Dia sama sekali tidak menggubris suasana kelas yang berubah sejak dia masuk ke kelas. Dia hanya duduk dan diam. Sesekali dia memandang ke luar jendela kemudian memainkan handphonenya. "Leon, kenalin aku Jimmy. Minggu depan duduk bareng aku yuk. Di kelas ini setiap minggu harus rolling tempat duduk. Mau kan?" tanya Jimmy berusaha mendekati Leon. "Gak. Aku lebih nyaman duduk sendiri" jawab Leon dingin dan tanpa ekspresi. Wajah dan tangannya tetap terfokus pada handphone yang dipgangnya. Jimmy yang menyadari bahwa kehadirannya tidak diindahkan oleh Leon langsung beranjak pergi dengan muka masam. Semua yang menyaksikan sikap dingin Leon langsung terdiam dan saling pandang. Jimmy yang sudah merasa gondok dengan respon Leon tadi langsung mendumel dengan teman disebelahnya. Entah apa yang diocehkannya pada temannya itu. Nia dan Dina saling pandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Begitulah sikap Leon sejak masuk kelas sampai pulang sekolah. Tanpa bicara, hanya duduk, diam, sesekali memandang ke luar jendela dan berkutat dengan handphonenya. Dia selalu sendirian kemanapun. Dia, Si Mr. Cool. Namun tiba-tiba Leon berbalik badan dan mendekati Nia. "Lu mau gak duduk disini?" Leon menatap Nia. Nia terkejut dan terdiam. Dia memandang leon lama kemudian memandang Dina yang juga terkejut disampingnya. Seluruh kelas tercengang. Mereka mellihat kearah Leon dan Nia secara bergantian. Ada apa ini? gumam Nia dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN