Arman Cemburu?

1047 Kata
Seperti yang diminta Arman pagi tadi, meeting para team leader pun dimulai. Lagi-lagi Anjani salah memilih tempat duduk. Ia kini malah duduk di seberang pria itu. “Oke, tadi Burhan kabarin saya. Hingga saat ini, calon klien yang dari pemerintah masih belum deal. Tapi kalian tetap harus bersiap, ya.” Ujar Arman sebelum memulai meeting. “Baik, Pak.” “Oke, supaya bisa pulang tenggo karena pada mau buka puasa, kita cepat saja, ya. Mulai dari Ajeng selaku dari Head Customer Support dan Sales, gimana? Apa ada klien yang komplain? Atau sudah menambah klien baru?” Ajeng pun langsung menjawab dengan lancar semua pertanyaan Arman dan memaparkan apa saja yang ia dan tim nya kerjakan hari ini. “Oke, good. Saya lanjut ke …” Arman tampak melihat anak buahnya satu persatu termasuk Anjani. “Jenny dulu deh selaku Content Lead, gimana hari ini?” “Tadi saya berkoordinasi dengan Anjani, dan dari tim Social Media meminta kami agar memprioritaskan Daintie terlebih dahulu, karena dua minggu lagi akan launching produk mereka yang berkolaborasi dengan Mischa Alexander.” Arman pun mengangguk kemudian menanyakan para karyawan lain sampai akhirnya tibalah giliran Anjani. “Ya Anjani gimana tim Social Media hari ini?” Arman mencoba senormal mungkin sama seperti ketika menanyakan yang lainnya. Anjani pun juga mampu bersikap profesional. “seperti yang sudah disebutkan teman-teman barusan, tim Social Media berkoordinasi dengan divisi lainnya untuk project Daintie ini.” Anjani terus memaparkan secara detail sambil menunjukkan layar laptopnya tentang apa saja yang sudah dikerjakannya. Arman seketika tampak terkesima. Caranya Anjani melakukan presentasi mini tersebut tampak niat sekali, sedangkan yang lain tak ada yang memberikan tampilan visual seperti Anjani. “Selain ini, kebetulan ada calon klien baru juga yang menghubungi saya,” lanjut Anjani, “perusahaan Oil and Gas, mereka minta diurusi Social Media perusahaan mereka termasuk Linkedin juga.” “Nah, kalau ada yang kayak gini-gini kamu juga harus tawarkan produk Aftive lainnya seperti pelayanan website, pembuatan video dan lain-lain.” Ujar Arman. “Atau kamu bisa lempar ke Ajeng saja, biar tim sales yang menawarkan.” Anjani mengangguk. “Baik, Pak.” “Nah untuk yang lain, besok-besok kalau meeting, tolong kasih saya tampilan visual seperti Anjani ya,” Arman memuji Anjani. “Kan masing-masing udah dikasih laptop. Kalian pergunakan, lah. Biar saya lebih enak juga lihatnya.” Mereka semua mengangguk. “Baik, Pak.” “Tapi kalau kira-kira nggak perlu-perlu amat atau pas kalian tidak sempat ya gapapa juga.” “Baik, Pak.” Arman kemudian lanjut bertanya kepada yang lain. Meeting terus berlanjut dan tahu-tahu waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Arman pun kemudian mengakhiri meeting tersebut dan para peserta meeting satu persatu keluar ruangan. Anjani sambil hendak mengirimkan pesan kepada Mischa yang katanya mau menjemput. Takutnya pria itu sudah tiba dan sedang menunggu di lobby. Baru saja mau mengirimkan pesan tiba-tiba saja Irene menghampirinya. “Anjani, ada yang cariin tuh di depan. Mau disuruh masuk aja, nggak?” Tanyanya sambil senyum-senyum menggoda. Berhubung mereka masih persis di depan ruangan Arman dan pintu juga belum tertutup, maka pria itu bisa mendengarnya dengan jelas. Anjani pun mengernyitkan dahi. “Hah, siapa?” Tanyanya sambil celingak celinguk ke arah meja resepsionis tapi tak bisa terlihat dari tempatnya berdiri. “Orangnya disuruh masuk nggak mau, katanya cuma mau jemput kamu aja. Dia malu kalau harus masuk.” Irene menyengir semakin lebar. Anjani baru ingat. “Astaga Mischa?” Matanya terbelalak. “Dia udah ada di depan?” “Cieeee, kalian janjian ya?” Ledek Irene. “Lo diem-diem dekat ya? Mau nge-date ya?” Dada Arman tiba-tiba saja sesak. “Mampus gue!” Anjani tampak panik. “Kok cepat amat datangnya? Mana gue belum sempat dandan lagi. Eh, gimana-gimana penampilan gue?” Anjani sibuk merapikan rambutnya. Irene langsung tertawa. “Oke, kok. Mungkin boleh lah touch up bedak sama lipstick dikit. Ya sudah nanti gue bilang Mischa kalau sebentar lagi lo keluar.” “Oke … oke, thank you, ya.” Anjani langsung berlari terbirit-b***t menuju mejanya. Irene malah mengejar Anjani karena ada yang terlupa. Arman langsung buru-buru keluar untuk mengintip ke arah meja resepsionis. “Eh, Anjani … Anjani bentar.” Panggil Irene. “Kenapa?” Anjani langsung membalikkan badan. Irene langsung melepas kalung miliknya dan memberikannya kepada Anjani. “Lo pake ini, biar nggak sepi-sepi amat. Yah, bukan emas asli sih, tapi lumayan lah cantik juga.” “Hah, serius ini gapapa gue pinjem dulu?” Anjani tampak tak enak. “Halah santai aja kali.” Arman pun langsung berjalan ke depan untuk memastikan apa benar ada sosok pria yang hendak menjemput Anjani. Ternyata benar ada sosok Mischa Alexander sedang menunggu di sofa sambil membaca-baca majalah. Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki cepat dari arah belakangnya, yang ternyata adalah Anjani. Gadis itu sudah membawa tas nya hendak pulang. Mereka berdua malah saling tersentak kemudian salah tingkah. “Saya pulang dulu ya, Pak,” pamit Anjani cepat dan langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban atasannya itu. Terlihat gadis itu menghampiri Mischa Alexander yang sedang menunggu. “Hi, Mischa.” Sapanya ramah. “Hai.” Pria itu langsung meletakkan majalahnya kemudian berdiri. “Sorry nunggu lama, ya? Baru banget selesai meeting tadi.” “Oh, aku juga baru dateng, kok, nggak lama.” Sahutnya sambil tersenyum. “Ya sudah kita jalan sekarang, yuk. Biar sebelum buka, kita sudah sampai di tempat.” “Oke.” Arman bisa melihat keduanya keluar kantor kemudian menunggu depan lift sambil bercanda tawa. Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki lagi di belakangnya, dan kini tampaknya lebih dari satu orang. Arman pun langsung menoleh. Ternyata para karyawan yang pada kepo dengan Anjani dan juga ingin ikut mengintip. “Kalian ngapain di sini?” Tanya Arman sewot. Para karyawan yang tak menyangka akan ada Arman, langsung tersentak. “Eh … Pak Arman.” Ujar Selvy tergagap. “Kita cuma … cuma …” “Cuma apa?” Tanya Arman tak sabaran. “Kalau saya sih mau kembali ke meja resepsionis, Pak.” Ujar Irene santai kemudian berjalan melenggang menuju mejanya.” “Oh, sama, Pak, kita juga mau ke meja resepsionis. Sekalian siap-siap mau pulang.” Sahut Selvy asal. Sontak para karyawan langsung mengekor dan mengintip Anjani dari meja resepsionis. Arman pun hanya menggelengkan kepala kemudian kembali ke ruangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN