“Maaf ya tadi lupa ingetin, kalau jalan sama aku, orang-orang pasti akan lihatin kamu kayak tadi.” Sesal Mischa. “Ada juga yang nanti bakalan diam-diam foto terus masuk akun gosip.”
Yah, benar saja. Mulai dari turun lift hingga jalan sepanjang lobby tadi, mereka jadi pusat perhatian. Anjani lupa memperhitungkan itu saat memutuskan mengencani Mischa. Berarti kedepannya ia bisa jadi terkenal? Kini mereka baru memasuki mobil pria itu.
Anjani hanya menggeleng sambil tersenyum. “It’s okay. Tapi tadi kayaknya sih nggak ada yang fotoin kita juga.”
“Oiya, ngomong-ngomong aku udah reservasi di Langham Hotel.” Beritahu Mischa sambil menyalakan mobilnya.
Mendengar hotel tentu saja membuat Anjani yang polos itu tersentak. “Gimana?”
Mischa langsung buru-buru menjelaskan kesalah pahaman tersebut. “Oh, bukan … bukan begitu. Aku reservasi di restonya untuk kita buka. Resto buffet.”
“Oh.” Anjani langsung bernapas lega. “Oke.”
Mobil kini sudah dijalankan dan mereka hendak keluar gedung.
“Aku sengaja pesan tempat di sana, supaya nggak banyak orang yang ngerecokin kita. Jadi kita bisa makan dengan tenang.” Lanjut Mischa sambil tertawa kecil.
“Ah, i see.” Anjani menganggukkan kepalanya.
“Kalau di mal, apalagi jam buka puasa gini ‘kan rame. Suka ada aja orang yang minta foto.”
“Tadi pas kamu naik ke atas, ada yang minta foto nggak?”
Mischa menggeleng. “Nggak, sih. Tadi masih sepi juga pas aku datang.”
“Berarti ini yah yang kamu alami sejak remaja?” Tanya Anjani sambil tertawa kecil.
Pria itu memasuki dunia entertaintment sejak remaja.
“Yah.” Pria itu sambil mengangkat bahunya. “Awalnya sih … apalagi masih kecil ya, dan Ibu baru banget meninggal, memang agak kaget sih. Cuma lama kelamaan sudah biasa.”
Anjani hanya mengangguk. Ia agak kikuk mau bicara apa lagi. Untung saja Mischa paling jago mencairkan suasana.
“Kamu walaupun nggak puasa, kuat makan buffet kan?” Ledek Mischa.
Anjani yang tadi makannya tak begitu banyak hanya mengangguk. “Iya. Eh, ngomong-ngomong kamu puasa?”
“Ya puasa, dong. Emang kalau cowok ada liburnya?” Kelakar pria itu.
Anjani yang terbiasa melihat sekelilingnya jarang sholat dan juga puasa, spontan saja menanyakan itu. Mona saja suka bolong-bolong sholatnya setelah keluar dari panti, apalagi tinggal di kota besar seperti ini.
“Sorry.” Anjani merasa tak enak. “Kan kali aja kamu kecapean shooting, terus lagi nggak fit.”
“Nggak, lah! Tetap puasa, kok. Ya memang banyak godaan sih kalau lagi di lokasi shooting. Kadang banyak juga artis dan crew yang nggak puasa. Ya meskipun aku tuh b******k dan nggak suci, tapi kalau yang wajib-wajib gini nggak berani ninggalin lah. Alhamdulillah dengan rajin ibadah, karir aku juga bisa bertahan sampai sekarang.”
Anjani seketika merasa kagum dengan prinsip pria itu. Seharusnya ia lebih mengaguminya daripada Arman yang tidak sholat dan juga puasa. Berbeda sekali dengan waktu di panti dulu.
“Orang tuh banyak yang nyangka kalau aku bukan muslim.” Mischa lanjut bercerita sambil tertawa kecil. “Karena aku blasteran dan nama aku juga Mischa Alexander kan. Jadi yang bule itu Bapak aku, beliau mualaf karena ikut Ibu. Jadilah anak-anaknya muslim semua tapi dengan nama western.”
“Oh.” Mereka kemudian tertawa bersama. Berhubung jarak dari kantor Aftive ke Langham sangat dekat, tak terasa tahu-tahu mereka sudah tiba.
*********
“Reservasi atas nama Mischa Alexander ya, untuk 2 orang.” Ucap Mischa kepada sang pelayan begitu tiba. “Sama … saya tadi minta yang dekat jendela.”
“Baik, Pak,” sahut sang pelayan itu ramah. “Mari ikut saya.”
Mischa dan Anjani pun berjalan beriringan mengikuti sang pelayan yang hendak mengantar ke meja mereka. Di tempat ini, sangat tenang sekali karena tak ada yang memerhatikan mereka. Semua hanya sibuk dengan urusan masing-masing.
Akhirnya pelayan menunjukkan kepada mereka kursi yang dipesan.
“Di sini, Pak?”
Mischa tampak mengangguk puas. “Nah di sini pas.”
Mischa kemudian menanyakan sesuatu kepada pelayan tersebut dan mengobrol cukup lama. Anjani melihat sekeliling dan tiba-tiba saja sesuatu membuatnya tersentak. Ada Arman juga di resto tersebut. Ia bersama dengan pacarnya dan juga ada tiga orang pria. Arman juga melihat dirinya dengan ekspresi kaget.
Sialnya tempat mereka berlima duduk, tak jauh dari dirinya. Pria itu masih terus menatap dirinya dari kursinya, sedangkan pacarnya bersama dengan temannya yang lain asyik mengobrol. Mana posisi pria itu duduk menghadap dirinya. Anjani juga bingung harus melakukan apa. Maka ia pun hanya membuang muka dan tersenyum kepada pelayan yang hendak pamit.
“Yuk, duduk.” Ajak Mischa.
Mereka pun duduk berhadapan.
“Kamu emang sering ke sini?” Tanya Anjani berbasa-basi. Ia melirik sekilas ke kiri dan Arman masih juga memerhatikannya.
“Ini baru yang kedua. Kalau kamu?”
Anjani menggeleng. “Belum pernah, ini pertama kalinya.”
“Aku suka sama ambience dan makanan di sini. Kamu harus coba deh nanti makanannya, enak.”
“Oke.”
Mereka masih menunggu waktu berbuka.
“Eh mending kita ambil makanan dulu, yuk.” Ajak Mischa. “Nanti pas adzan biar bisa langsung makan.”
Anjani pun mengangguk. Mereka kemudian berjalan bersama dari satu stall ke stall lainnya. Saat mengambil-ambil makanan. Lagi-lagi Anjani harus berpapasan dengan Arman dan pacarnya yang juga kebetulan hendak mengambil makanan yang sama. Mereka berjalan bergandengan.
“Sayang, aku mau itu.” Tunjuk Clara Julia ke arah bubur sumsum yang kebetulan juga sedang diambil oleh Anjani. Nadanya merajuk manja.
“Iya.” Arman hanya menurutinya dan tampak menunggu Anjani selesai mengambil.
Anjani jadi buru-buru mengambil dan langsung mengajak Mischa melihat tempat lain. Untung saja Mischa mengambil di tempat yang agak jauh tadi, sehingga tak melihat mereka. Kalau mereka saling melihat, bisa-bisa jadi lama karena harus mengobrol dulu. Sepertinya Mischa juga mengenal Clara, karena dia adalah artis di bawah naungan perusahaan bapaknya, AD Entertainment. Setelah mereka mengambil beberapa jenis makanan, akhirnya kembali duduk di tempatnya semula.
Tak lama adzan pun berkumandang, mereka pun langsung menyeruput teh dan menyantap makanan yang manis-manis terlebih dahulu, sambil sesekali diselingi obrolan ringan. Mischa kemudian izin sholat sejenak.
“Aku tinggal sholat sebentar, ya,” izin Mischa, “kamu santai aja, kalau mau nambah nggak usah malu-malu.”
“Siap.”
Begitu Mischa pergi, Anjani secara perlahan melirik ke arah meja pria itu. Pria itu tampak asyik sekali mengobrol dengan teman-temannya sambil memegang mesra tangan pacarnya. Obrolan mereka terdengar sampai meja Anjani.
“Jadi lo berdua kapan nikah?” Celetuk salah seorang temannya sambil menunjuk-nunjuk ke Arah Arman dan juga kekasihnya.
Anjani yang mendengar jadi sesak sendiri. Ia sambil pura-pura sibuk menghabiskan makanannya.
“Ini Clara udah ngebet banget pengen dikawinin, tuh!” Ledek teman yang lainnya lagi dan mereka sontak tertawa bersama.
“Maunya sih, setelah gue lulus langsung ngerencanain pernikahan.” Sahut Clara. “Ya ‘kan, sayang?” Ia menoleh ke Arman.
Arman pun mengangguk sambil tersenyum. “Iya.”
Anjani bisa melihat bahwa Arman terlihat sangat menyayangi pacarnya.
“Ya, tunangan dulu lah yang pasti.” Ujar Clara. “Baru habis itu nikah.”
“Wahh, ini pasti bisa jadi pernikahan terbesar abad ini!” Kelakar temannya yang ditimpali oleh temannya yang lain.
“Royal Wedding.”
Mereka hanya tertawa bersama.
“Siap-siap lah kita bertiga jadi Groomsmen.”
Anjani yang mendengar itu semakin sesak. Itu artinya … memang benar-benar sudah tak ada harapan lagi untuknya. Teman-temannya kemudian membicarakan masa-masa saat mereka bersama di Amerika. Ah, ternyata mereka semua dulunya teman satu kampus di Amerika … Oh, sebentar? Anjani mendengar lagi bahkan mereka juga satu SMA di American School of Indonesia. Apakah termasuk Clara juga?
Teman-temannya kemudian menyeletuk soal bagaimana masa-masa SMA mereka. Mereka menceritakan fasilitas sekolah mereka yang elit dan jika Anjani bergabung dengan mereka, pasti hanya akan plonga plongo. Apalagi mendengar jalan hidup mereka selanjutnya yang lebih mudah.
Sekilas ia juga mendengar, bagaimana Arman dulu yang terkenal playboy dan banyak cewek cantik yang mengejar-ngejarnya. Terdengar juga suara Clara yang merasa cemburu dan Arman yang menghiburnya. Apakah Clara tahu kalau sebenarnya Arman memiliki selingkuhan?
“Nggak, sayang.” Ujar Arman mesra. “Itu ‘kan cuma masa lalu, sebelum ketemu kamu.”
Oke, jelas Clara tak tahu. Dari obrolan mereka berikutnya, Anjani jadi tahu kalau mereka semua baru bertemu Clara saat di Amerika. Clara merupakan adik tingkat mereka. Arman kemudian memergoki dirinya yang sedang melihat ke arah meja mereka dan Anjani buru-buru membuang muka.
Tak lama Mischa yang selesai shalat Magrib pun datang. “Halo, nggak lama, ‘kan?”
Anjani tersenyum sambil menggeleng. “Nggak kok, aman.”