“Iya, aku belakangan ‘kan sering kerja bareng sama Mona, jadi banyak banget ngobrol sama dia.” Ujar Mischa kepada Anjani.
Mereka kini masih kenyang sehingga jeda sejenak dengan mengobrol. Arman sesekali masih mencuri pandang. Obrolan dari meja Arman juga masih terdengar oleh Anjani.
“Dia banyak cerita soal persahabatan kalian,” lanjut Mischa terkekeh.
“Iya, mungkin kamu sudah tahu kalau aku dan Mona besar di panti asuhan.” Ucap Anjani lirih.
Mischa hanya mengangguk.
“Aku dari bayi udah di sana, kalau Mona baru sejak umur 5 tahun.” Lanjutnya lagi sambil sekilas melirik Arman yang sedang bermesraan dengan pacarnya. “Awal Mona datang ke panti sih, kita nggak yang langsung akrab gitu. Kita baru akrab tuh pas usia 10 tahun.”
Sebaiknya dirinya hanya mengingat keseruan persahabatannya dengan Mona saja agar tak memikirkan hal lainnya yang bikin sedih.
“Kita tuh di panti saling menguatkan, karena sama-sama nggak punya orang tua.” Anjani lanjut bercerita. “Aku sama Mona tuh berangkat sekolah selalu bareng, di sekolah sekelas bahkan satu bangku, pulang sekolah juga ngerjain PR bareng abis itu baru main. Sampai kuliah kegiatan kita ya begitu. Baru pas kerja aja nih kita pisah, tapi masih suka janjian sih ke panti.”
“Maaf, tapi orang tua kamu …” Mischa hendak menanyakan orang tua Anjani tapi bingung memilih kalimatnya.
“Orang tua meninggal karena kecelakaan.” Anjani menjawab cepat sambil tersenyum.
“Oh, sorry.” Sesal Mischa.
“It’s okay.”
“Orang banyak yang mikir … karena aku bule, berarti orang tua aku kaya,” kini giliran Mischa yang bercerita. “Padahal nggak sama sekali.”
Anjani tampak serius mendengarkan.
“Bapak aku tuh cuma cleaning service di negara asalnya,” lanjut Mischa, “dan ibu aku TKW. Mereka nikah dan pindah tinggal di Indonesia. Begitu tinggal di Indonesia, Bapak aku malah dapat pekerjaan bagus jadi guru Bahasa Inggris.”
“Wow.”
“Mereka yang rekrut tuh nggak cek background Bapak aku apa. Pokoknya lihat bule ya disuruh aja ngajar Bahasa Inggris.” Mischa terkekeh. “Ibu juga akhirnya ikut bantu-bantu Bapak ngajar, karena Bahasa Inggrisnya juga bagus.”
Anjani pun mengangguk.
“Job mereka dulu lumayan banyak, mulai dari ngajar di lembaga les sampai les-in privat anak-anak orang kaya. Penghasilan dulu lumayan, meskipun nggak kaya banget tapi tercukupi lah.”
Mischa jeda sejenak dan terlihat raut wajahnya mulai sedih.
“Sampai Bapak aku meninggal pas usia aku baru 8 tahun dan adek-adek aku pada masih kecil. Untung Ibu aktif ngajar sana sini juga, kan. Jadi masih tercukupi walaupun jadi keteteran bagi waktu untuk bekerja dan mengurus kita. Akhirnya aku setiap pulang sekolah, ngurus semua keperluan adik-adik aku, lah, biar meringankan beban Ibu.”
Mischa jeda lagi.
“Musibah menimpa kita lagi saat umur aku 13 tahun, Ibuku yang meninggal dan adik-adik kembar aku masih 7 tahun. Kepergian Ibu tuh benar-benar titik terendah aku. Kita sempat bingung harus gimana untuk melanjutkan hidup. Tabungan lama kelamaan juga menipis. Saudara juga hampir mau kirim kita ke panti asuhan.”
Mischa jeda lagi.
“Ternyata punya muka blasteran mendatangkan banyak privilege, aku akhirnya mulai dapat tawaran iklan karena kebetulan juga lagi butuh artis remaja. Padahal aku nggak datang casting atau apa. Kepikiran pengen jadi artis juga nggak. Terus alhamdulillah tawaran kerjaan jadi semakin banyak, kayak sinetron, film dan yah … disinilah aku sekarang. Bisa sekolahin adik kembar aku bahkan bisa kasih-kasih saudara juga.”
“AD Entertainment yang pertama hubungin kamu?” Tanya Anjani.
Mischa menggeleng. “Pang Film, kompetitornya. Itu lho yang punya Pangestu Group. Nah, dari sana baru pindah ke AD Entertainment. Dan sekarang aku sudah nggak mau lagi dikontrak secara eksklusif untuk PH tertentu, biar bisa pindah-pindah tempat kerja.”
“Iya juga ya kalau blasteran mendatangkan banyak privilege.” Anjani tampak berpikir. “Kenapa Mona waktu itu nggak terpikir jadi artis juga ya? Kayaknya setahu gue belum ada yang nawarin juga.”
Mischa hanya tertawa. “Nggak semua blasteran harus jadi artis, An. Aku aja nggak mau adik-adik aku jadi artis. Aku cuma arahin mereka sekolah yang pintar. Alhamdulillah adikku yang satu sekarang Pengacara dan satu lagi kerja di Oil and Gas. Biar kakaknya aja lah yang jadi artis. Jadi artis tuh nggak seenak yang dibayangkan orang-orang awam.”
“Sebelum kamu jadi artis, kamu punya mimpi nggak, sih? Pengen jadi apa gitu?” Tanya Anjani penasaran.
Mischa tampak berpikir kemudian menggeleng, “nggak, sih. Dulu aku mikirnya … ya harus kerja biar nggak usah ke panti asuhan. Saat itu semuanya disediakan oleh Pang Film, mulai dari tempat tinggal, biaya sekolah sampai fasilitas lainnya. Jadi aku … nikmatin aja karirku sampai sekarang ini.”
Anjani mengangguk. Ia merasa kehidupan Mischa relate dengannya, meski tak sama 100%.
“Kalau kerjaan kamu sekarang, apa sudah sesuai dengan mimpi kamu dulu?” Mischa gantian bertanya.
Anjani langsung mengangguk. “Iya, impianku sejak kuliah. Tapi ini sih lagi coba apply-apply di tempat lain.”
“Oh, kenapa?”
Anjani tentu saja tak menceritakan alasan yang sebenarnya. “Aku ‘kan sudah 3 tahun juga kerja di agency, pengen melebarkan sayap saja, pengen ke perushaaan.”
“Oh, emang udah apply kemana saja?”
Anjani menyebutkan nama-nama perusahaan yang sudah ia lamar.
“Semoga sukses, ya.” Ucap Mischa begitu Anjani selesai menyebutkan nama-nama perusahaan tersebut.
“Amin.”
“Ngomong-ngomong ambil makanan lagi, yuk.” Ajak Mischa.
“Oke.”
Mereka pun kembali mengambil makanan, mengobrol sampai tertawa hingga puas. Tak menyangka mereka bisa akrab secepat ini. Akhirnya tiba waktunya juga mereka pulang. Arman dan rombongannya sudah pulang beberapa menit sebelum mereka.
“Makasih ya buat makan malamnya.” Ucap Anjani saat mereka sudah keluar dari restoran tersebut hendak pulang.
Mischa pun tersenyum. “Aku yang makasih, udah ditemenin buka dan seru aja obrolan kita tadi. Oiya, aku antar kamu ke kosan, ya.”
Anjani pun mengangguk. “Makasih.”
Anjani tiba-tiba saja melihat Arman dan pacarnya hendak menaiki lift. Hanya mereka berdua tak ada teman-temannya yang lain. Lift tersebut merupakan lift khusus menuju kamar. Apa mereka hendak check-in?