Anjani semakin dekat dengan Mischa. Jika pria itu sedang tak ada jadwal shooting atau pekerjaan di sore hari, ia selalu menyempatkan untuk menjemput kemudian berbuka puasa bersama lagi. Mischa juga pernah ikut Anjani ke panti dan juga membawakan banyak makanan, mainan dan alat tulis untuk anak-anak. Sontak anak-anak senang sekali kedatangan seorang Mischa Alexander.
Mischa memanfaatkan ketenarannya untuk memposting panti asuhan tersebut ke Instagramnya. Berkatnya, sumbangan dana mengalir deras ke panti. Anjani dan Bu Dewi jadi sangat berterima kasih kepada pria itu.
Satu kantor pun hampir setiap hari heboh membicarakan kedekatan dirinya dengan Mischa Alexander. Beberapa dari mereka bahkan ada yang secara terang-terangan menanyakan langsung kepada Anjani, apakah mereka berdua berpacaran. Anjani biasanya hanya menjawab dengan senyuman.
Tentu saja geng ghibah kantor semakin kepanasan. Mereka tak rela jika Anjani bisa merebut hati Mischa Alexander, kecuali Irene yang kini bersikap baik kepada Anjani dan terus mendukung gadis itu agar jadian denga artis besar.
Arman ternyata malah semakin cemburu melihat kedekatan mereka. Hubungannya dengan pacarnya sendiri, Clara malah semakin hambar. Selingkuhan sudah tidak ia urusi lagi. Belakangan ia sudah tak pernah lagi main perempuan.
Clara juga hampir setiap hari mampir ke Aftive meski hanya sebentar. Anehnya Anjani malah semakin merasa cemburu. Ia pikir dengan dekat dengan Mischa, akan membantunya melupakan Arman secara perlahan. Ternyata tidak juga. Ia pun juga hingga kini masih belum memiliki perasaan terhadap Mischa, padahal Mischa sangat baik dan mereka juga sangat nyambung jika mengobrol.
Anjani hari ini harus lembur karena besok merupakan hari launching Daintie X Mischa Alexander, yang tentunya banyak sekali persiapan yang harus dilakukan oleh seluruh tim. Anjani juga harus berada di lokasi launching acara offline besok, untuk meliput kegiatan secara live. Itu artinya mereka juga harus berbuka puasa di kantor malam ini.
Arman yang hendak pulang menoleh terlebih dulu ke arah area kerja para karyawan. Hampir semua anak buahnya masih tampak sibuk. Ia pun jadi merasa tak enak jika pulang duluan meski atasan mereka. Sebenarnya bukan para karyawan yang membuatnya tak enak, tapi … Anjani. Gadis itu tampak bekerja begitu keras demi perusahaan keluarganya. Maka ia pun mengambil ponsel untuk menelepon Ibunya.
“Iya, Man? Kamu di mana?” Sahut Ibunya dari seberang sana.
“Ma, kayaknya aku nggak bisa ikut makan malam, nih. Besok Aftive mau ada acara besar, jadi harus lembur.” Ujar Arman masih sambil melihat Anjani.
“Kamu gimana sih, Man?” Ibunya langsung kesal. “Yang sibuk itu bukan cuma kamu. Ini keluarga Clara dan kita semua sudah meluangkan waktu lho untuk acara makan malam. Lagian karyawan kamu ‘kan banyak, suruh lah mereka! Toh uang lembur mereka juga kita bayarkan.”
“Tapi Arman ‘kan juga perlu cek, Ma,” Arman beralasan, “biar besok saat acara nggak ada kesalahan.”
“Terus apa gunanya ada team leader di masing-masing divisi? Tante kamu dan Burhan aja juga nggak pernah ikut lembur. Sudah cepetan pulang! Jangan sampai keluarga Clara datang sebelum kamu pulang.”
Arman akhirnya tak ada pilihan lain selain menuruti Ibunya. “Iya, Ma, iya. Ini Arman mau pulang.”
Ia kemudian memutus sambungannya. Fokusnya masih kepada gadis itu. Entah mengapa tubuhnya tiba-tiba saja refleks berjalan ke arah Anjani.
“Anjani, gimana persiapan untuk besok? Apa ada masalah?” Tanyanya begitu sudah di samping mejanya. Ah, mengapa dirinya tiba-tiba begitu perhatian.
Anjani yang sedang sibuk meihat-lihat berkas pun langsung mendangakkan kepalanya ke atas. “Oh, sejauh ini nggak ada, Pak, semuanya aman. Kami hanya perlu cek beberapa hal.”
“Ini lagi ngerjain apa sekarang? Kira-kira masih lama nggak, ya?”
“Jadi sebenarnya kami tinggal cross-check saja, Pak. Sama dari tim Socmed juga besok bertanggung jawab untuk live di platform social media, dibantu oleh Roy. Sama sedang mempersiapkan konten yang harus tayang besok.”
Arman pun mengangguk. “Ya sudah. Fajar ‘kan saya suruh untuk menunggui kalian. Nanti kalau ada apa-apa, sampaikan ke Fajar saja ya.”
“Baik, Pak.”
Arman pun kemudian berlalu. Anjani malah terpaku menatap punggung pria itu.
*********
“Clara, aduh tambah cantik aja nih calon mantu.” Sapa Ibu Arman ramah begitu Clara dan kedua orang tuanya baru memasuki kediaman mereka.
“Ah, Tante juga cantik.” Sahut Clara ramah setelah mereka saling berpelukan dan cium pipi.
“Kok manggilnya Tante, sih! Mama, dong.” Protes Ibu Arman kemudian diikuti dengan tawa.
“Iya, deh, Mama.”
Mereka pun tertawa renyah. Mereka kini hendak makan malam bersama di kediaman Oma mereka, Ibu Lidya atau biasa mereka memanggilnya Oma Lidya. Di sana sudah ada kedua orang tua Arman, Arman sendiri tentu saja, Lisa, Oma Lidya, Clara dan juga kedua orang tuanya. Mereka semua kemudian saling bersalaman.
“Oma, apa kabar?” Sapa Clara menghampiri Oma Lidya.
“Baik, Clara sayang.” Sahut Omanya ramah. “Gimana kuliahnya?”
“Sebentar lagi lulus kok, Oma.”
“Oh ya bagus-bagus.”
“Mbak Lessie, apa kabar?” Sapa Ibu Arman kepada Ibu Clara. “Mas Dwi, apa kabar?”
Wajah blasteran Clara mengikuti wajah ibunya, sedangkan ayah Clara 100% memiliki wajah lokal.
“Baik, Mbak Mauren … Mas Affandi.”
“Hi, Lisa. Kamu tambah cantik aja. Kelas berapa sekarang?” Sapa Clara kepada adik Arman.
“Kelas 7, Kak.”
“Gimana sekolahnya?” Tanya Clara.
“Aku kalau di sekolah sering dipanggil Lisa Blackpink.” Ujar gadis itu polos.
Sontak semuanya langsung tertawa.
“Lisa suka sama Blackpink?” Tanya Clara, “kemarin nonton konsernya, nggak?”
Gadis itu menggeleng. “Nggak dikasih duit sama Kak Arman, pelit!”
Mereka tertawa lagi.
“Kenapa nggak minta duit sama Papa atau Mama?” Tanya Clara lagi sambil tertawa.
“Sama aja pelit juga!”
“Sekolah dulu yang pintar.” Celetuk Arman. “Kakak seumur kamu aja nggak nonton konser. Nanti umur 15 tahun baru boleh.”
Mereka tertawa lagi.
“Ya sudah, yuk, silakan duduk.” Ajak Ibu Arman.
Mereka pun kemudian mengobrol bersama di ruang tamu sambil bercanda tawa. Mereka membicarakan mulai dari kehidupan sehari-hari, pekerjaan hingga bisnis. Begitu mendengar suara adzan, mereka pun langsung berbuka.
“Pada puasa?” Tanya Ibu Clara.
“Aku puasa, Ma.” Sahut Arman.
“Hah, tumben kamu!” Celetuk Clara.
“Aku dulu dari kecil sampai 15 tahun puasa terus. Eh begitu SMA jadi bandel. Sekarang mau taubat lagi, ah. Ibadah bikin tenang.”
Mereka semua hanya tersenyum. Setelah buka puasa bersama, Arman pun izin sholat Magrib terlebih dulu. lagi-lagi Clara pun heran. Arman sendiri juga heran mengapa dirinya mendadak rajin ibadah lagi. Setelah selesai, mereka kemudian makan malam bersama.
“Jadi, Oma sengaja kumpulkan kita semua di sini, untuk menentukan tanggal pernikahan Arman dan juga Clara.” Ucap Oma Lidya usai makan malam. “Saya rasa nggak perlu lama-lama, lah.”
Mereka pun tampak tersenyum lebar kecuali Arman. Pria itu tiba-tiba saja tersedak. Sontak semua pasang mata menoleh ke arah pria itu dengan wajah khawatir.
“Sayang, kamu gapapa?” Clara yang duduk di sebelahnya langsung mengusap-usap punggung pacarnya tersebut kemudian memberikan segelas air putih. Arman langsung meneguknya.
“Makanya kalau makan tuh pelan-pelang dong, Man.” Tegur Ibunya.
“Lebaran kan bulan April.” Lanjut Oma Lidya yang tampak tak peduli dengan Arman yang tersedak. “Clara kan katanya sidang awal Mei, Agustus lah kalian nikah nggak usah lama-lama.”
“Hah?” Arman langsung terbelalak. “Agustus, Oma?”
Clara yang menyahuti sambil tersenyum lebar. “Iya, Sayang. Jadi Oma itu kemarin sudah telepon Papa dan Mama aku, dan mereka sepakat kalau pernikahan di bulan Agustus. Menurut kamu gimana? Aku sih senang-senang saja kalau di tahun ini.”
“Iya, saya rasa pernikahan anak-anak harus segera dilaksanakan,” ujar Ayah Clara, Dwi Adiguna. “Demi kelangsungan proyek kita bersama.”
“Betul,” timpal Ibu Clara, “paling lambat akhir tahun, proyek ini sudah harus dimulai dan diberitakan. Sebelum kompetitor bergerak.”
“Iya, Arman.” Ujar Ayah Arman. “Ini semua ‘kan demi bisnis kita, lagian kalian berdua ‘kan juga sudah lama bersama.”
Arman masih mencerna ini semua. Apakah ia sudah yakin kalau Clara wanita yang ingin dinikahinya?
“Ingat nggak, dulu gimana kamu ngejar-ngejar aku?” Ledek Clara mengenang. “Waktu masih kuliah, kamu tiap malam chat sama nelpon terus.”
Mereka semua tertawa dan Arman hanya memaksakan senyum.
“Kak Clara, mau diceritain semuanya dong, gimana dulu Kak Arman PDKT?” Tanya Lisa penasaran kepada Clara.
“Hmmm … nanti Kakak ceritain semuanya ya.” Sahutnya malas-malasan.