Tiba juga akhirnya hari ini launching lini produk terbaru DaintieXMischa Alexander, baik online maupun offline. Acara offline akan dilangsungkan di The Langham Ballroom. Mona selaku Creative Manager Daintie yang bertanggung jawab penuh atas acara tersebut, maka ia pun datang pagi-pagi sekali untuk mengecek persiapannya.
Acara akan dilaksanakan pukul 11.00 WIB dengan mengundang para Beauty Influencer ternama, beberapa artis besar selain Mischa Alexander dan juga beberapa followers i********: Daintie yang menang giveaway.
Anjani juga akan datang bersama dengan Selvy, Sarah dan juga Roy untuk mengurusi acara live di platform social media Daintie nanti. Salah satu anak usaha Febriant Group, yaitu Febriant Marketing Agency yang akan jadi EO acara tersebut membantu Mona.
“An, lo udah di mana?” Mona menelepon Anjani untuk menanyakan keberadaannya.
“Baru jalan dari kantor, Mon.” Suara Anjani putus-putus.
“Oh, oke, deh. See you.” Mona pun langsung memutus sambungannya.
Suasana di ballroom masih sangat sepi. Hanya ada Mona, dua anak buahnya dan juga lima orang dari Febriant Marketing Agency. Tiba-tiba saja Mona melihat dua sosok pria memasuki ballroom tersebut sambil bercakap-cakap. Wanita itu langsung terperangah begitu melihat sosoknya. Sosok yang terus menerus diceritakan oleh Anjani, namun baru kali ini ia melihat langsung setelah 15 tahun.
Mona terus memandangi pria tampan dengan bewok tipis itu dengan mata nanar, menggelengkan kepala pelan sambil melipat kedua tangannya depan d**a. Dilihatnya kedua pria itu kemudian memasuki sebuah ruangan, maka Mona tanpa ragu langsung menyusul mereka. Ia berjalan dengan cepat, kemudian memasuki ruangan tersebut dan memandang tajam ke arah pria yang bernama Arman Febriansyah. Untung di ruangan tersebut belum ada orang lain lagi.
Arman langsung tersentak begitu melihat sosok Mona. Sedangkan Burhan, yang sejak tadi bersamanya, malah terpana begitu melihat kecantikan Mona. Baik Arman maupun Mona masih saling terdiam dan menatap. Burhan yang menyapa Mona terlebih dulu.
“Halo, Mbak. Dari Daintie, ya?” Sapa Burhan ramah padahal biasanya pria itu terkenal enggan berbasa-basi. “Ada yang bisa kami bantu, Mbak? Kami dari Febriant Grup.”
Mona tak menggubris. Ia dan Arman masih saling bersitegang.
“Maaf, Mbak, apa karyawan kami melakukan kesalahan?” Tanya Burhan lagi. “Sebut saja siapa namanya? Nanti akan kami tindak.”
Mona akhirnya bertanya ketus kepada Arman. “Masih ingat saya, Bapak Arman Febriansyah?”
Arman tak langsung menjawab, sedangkan Burhan menatap Mona dan Arman secara bergantian.
“Lah, lo berdua udah saling kenal?” Tanya Burhan kepada Arman sambil menunjuk keduanya. “Jangan bilang ini salah satu selingkuhan lo juga yang lo tinggalin.”
“Salah satu selingkuhan?” Mona tertawa geli. “Emangnya ada berapa selingkuhan dia?”
“Bukan.” Arman menjawab pertanyaan Burhan sambil terus menatap Mona. “Ini salah satu anak di panti itu juga, Monita Arnelita alias Mona.”
Mona kemudian tertawa terpingkal-pingkal kemudian menatap Burhan. “Ini pasti Pak Burhan, kakak sepupu dari Pak Arman yang terhormat, makanya nggak perlu menutup-nutupi soal panti.”
“Oh iya-iya, saya Burhan,” pria itu langsung menjulurkan tangan kepada Mona. “Man, kok lo nggak bilang sih kalau ada anak panti secakep ini.”
“Han, boleh tolong tinggalin kita sebentar?” Pinta Arman sebelum Mona membalas uluran tangannya.
“Oh, oke.” Burhan pun langsung menurunkan tangannya kembali kemudian berjalan keluar.
Mona masih terus menatap tajam Arman.
“Lain kali bilang dulu kalau mau bohong sama Ko Yohan!” Ketus Mona setelah Burhan keluar sambil tertawa sinis. “Minta foto gue karena mau janjian meeting?”
Mona kemudian terpingkal-pingkal dan Arman hanya menatapnya datar.
“Gue waktu itu bingung pas ditanya sama Ko Yohan,” lanjut Mona sambil menyisakan tawa. “Untung gue cepat tanggap.”
“Lo tau ‘kan ini ruangan pimpinan?” Ketus Arman. “Khusus untuk petinggi Daintie dan Febriant Grup? Ketuk pintu dulu kalau mau masuk. Untung kakak sepupu gue mood-nya lagi baik. Biasanya dia paling nggak suka ada gelandangan masuk sembarangan.”
Mona langsung menggangga. “Wow, gelandangan?”
Arman enggan menjawab.
“Gue sekarang mampu beli tas seharga 30 juta, lho!” Mona memamerkan tas nya. “Ini asli dan beli dari hasil keringat sendiri. Bukan dari orang tua atau warisan. Enak aja ngatain gue gelandangan. Terus lo lihat tuh mobil gue, harganya setengah miliar. Hasil keringat sendiri. Gue bangga sama diri gue sendiri.”
“Udah, cepetan. Lo mau ngapain ke sini?” Ketus Arman.
Mona langsung menirukan suara Arman 15 tahun lalu dengan nada meledek. “Hei, nggak usah sedih, semuanya nggak ada yang berubah kok. Mas akan datang setiap hari. Masih inget kalimat itu?”
Arman tak bergeming.
“Anjani selalu nungguin lo selama 15 tahun.” Lanjut Mona. “Gue udah bilang kalau Arman nggak akan kembali, tapi dia selalu yakin kalau lo berdua akan dipertemukan lagi. Eh, begitu ketemu … lo sakitin dia. Lo tuh sakitin orang yang salah, orang yang terlalu baik.”
“Lo ke sini cuma mau ngomong itu doang?” Cemooh Arman.
“Kita dulu emang nggak gitu dekat, tapi gue lihat sendiri gimana dekatnya lo sama Anjani. Gimana sayangnya dan khawatirnya kalau Anjani kenapa-napa. Gue harap lo nggak akan nyesel suatu saat nanti. Oiya, jangan minta bantuan gue juga kalau tiba-tiba lo mau kembali dekat ke Anjani.”
Mona pun langsung jalan menuju pintu keluar begitu saja. Harusnya Arman bilang secara tegas kalau ia tak akan pernah kembali ke Anjani. Namun tenggorokannya tercekat dan ia hanya mampu menatap punggung wanita itu hingga hilang dari pandangan.
“Hi, Mona, udah ngomong sama Armannya?” Burhan langsung menghampirinya begitu Mona baru keluar. Wanita itu langsung tersentak.
Burhan tersenyum semakin lebar. “Oiya, waktu Daintie meeting ke kantor Aftive kamu nggak datang, ya? Saya boleh minta nomor kamu, nggak? Biar lebih mudah aja kalau ada apa-apa. Kamu ‘kan penanggung jawab di Dainte?”
*********
Anjani langsung tergelak begitu mendengar cerita Mona. Bukan … bukan soal mengkonfrontasi Arman, tapi soal Burhan yang meminta nomor telepon Mona. Soal Arman, ia memilih untuk tak menceritakannya. Mereka berdua kini sedang mengobrol di lobby persis depan ballroom sebelum para tamu undangan datang.
“Mukanya dia kalau senyum kayak apa ya?” Tanya Anjani penasaran. “Selama tiga tahun gue kerja di Aftive, kayaknya nggak pernah lihat dia senyum deh.”
“Rese lo!”
“Eh, tapi akhirnya lo kasih nomor telepon?”
“Ya, akhirnya kita tukeran kartu nama saja karena nggak enak.” Sahut Mona malas-malasan. “Itupun nomor kantor kan yang gue cantumin, bukan nomor pribadi.”
“Tapi setahu gue, dia itu nggak pernah pacaran.” Ujar Anjani. “Kalau dia digodain cewek cakep, nggak pernah tertarik. Terus anak-anak pada gosip katanya dia gay. Berarti kalau dia terpesona sama lo, semua gosip itu terbantahkan.” Anjani langsung cekikikan.
“Rese lo!” Ketus Mona. “Udah, mending lo cerita aja, gimana hubungan lo sama Mischa?”
Wajah Anjani kini berubah malas kemudian mengangkat bahu. “Dia sih ajak gue jalan abis acara ini, tapi gue nggak mau.”
“Loh kenapa? Lo lembur?”
Anjani menggeleng. “Kayaknya gue nggak mau terus-terusan jadiin Mischa pelarian deh. Gue ngerasa jahat aja nyakitin dia. Gue jadi buang-buang waktu dia, padahal banyak cewek cantik antri di luar sana.”
Mona hanya menghela napas.
“An, dia tuh yang udah bikin panti kita kebanjiran donatur lho dari teman-teman artisnya.” Mona merasa tak enak. “Terus gue ‘kan masih lama kerja bareng dia. Gue jadi nggak enak nantinya.”
“Nah justru itu! Gue mau mengakhiri proses PDKT ini sebelum terlalu jauh.” Tukas Anjani. “Gue bakal langsung bilang kalau kita cuma temenan aja. Gue tuh nggak ada perasaan dan nggak bisa dipaksa juga.”
“Terus lo mau coba sama cowok lain yang deketin lo?”
Anjani menggeleng. “Nggak, Mon, Mischa yang kisah hidupnya mendekati gue aja, gue nggak ada rasa, apalagi sama yang lain.”
“Ya kan belum dicoba, An.”
Anjani menggeleng. “Gue lebih suka perasaan cinta tuh muncul secara alami, terus baru deh mulai PDKT sama cowok itu.”
Mona hanya mengangguk.
“Oiya ngomong-ngomong soal cowok …” Anjani menggantung kalimatnya sejenak. “Gue belum cerita ke elo soal pacar Mas Arman. Mereka juga mau nikah bulan Agustus ini.”
Mona menghela napas panjang. “Terus lo masih mau nungguin dia?”
Anjani tak menjawab dan hanya menatap kosong ke depan.
“Emang pacarnya siapa?” Tanya Mona.
“Teman kuliahnya di Amerika, anak konglomerat juga.” Sahut Anjani lemas.
“Oya? Siapa? Anak konglomerat siapa?”
“Namanya Clara Julia Adiguna … anaknya Dwi Adiguna.”
Anehnya Mona langsung memekik kencang setengah berteriak. “Hah!!! Sumpah lo?”
Anjani menatap heran sahabatnya tersebut. Beberapa pasang mata juga menatap mereka.
“Lah lo kenapa sampai kaget begitu, Mon?”
“Dwi Adiguna … pemilik AD Entertainment sama ADTV? Jadi pacarnya Arman itu anaknya Dwi Adiguna?”
Anjani mengangguk dan masih heran. “Iya. Kan sudah biasa konglomerat nikah sama konglomerat juga.”
“I … iya, sih.” Mona terbata.
Anjani diam sejenak sambil memasang wajah sedih. “Gue baru dengar kabar mereka mau nikah tuh tadi pagi, dari OB kantor.”
Mona hanya menghela napas tak tahu harus berkomentar apa.
“Kenapa ya hidup gue harus sesulit ini?” Keluh Anjani. “Kenapa gue waktu itu nggak ikut mati aja di dalam kandungan Ibu gue? Kenapa gue jadi satu-satunya yang hidup di kecelakaan itu?”
“Ngomong apaan sih lo?” Mona memarahinya. “Justru banyak cewek-cewek yang iri sama lo. Kata mereka lo terlalu sempurna. Lo itu udah cantik, langganan juara umum dari kecil, multitalenta, karir bagus dan baik hati kayak ibu peri.”
Anjani malah tertawa geli. “Kalau gue sempurna, nggak bakal ada orang yang ngerendahin gue.”
“Please deh, An!” Mona semakin kesal. “Stop merasa rendah diri. Lo itu harus tau kelebihan lo. Banyak cowok yang ngejar-ngejar lo sampai bikin cewek lain jealous dan ngomongin di belakang. Kalau kata temen gue yang cowok, lo itu cewek mahal, bagaikan manekin yang sulit digapai.”
Rasanya pujian Mona masih belum cukup untuk menghibur Anjani.
“Lihat aja tuh Selvy sama Sarah,” tunjuk Mona ke arah mereka yang sedang mempersiapkan acara sambil sesekali berbisik. “Pasti lagi ngomongin kita.”
“Ih, negative thinking aja. Udah yuk, siap-siap. Bentar lagi tamu datang.”
“Bentar-bentar … terus lo udah dipanggil-panggil interview belum?”
Anjani mengangguk. “Udah di beberapa tempat. Tapi kayaknya gue pilih yang di PIK saja deh.”