Mischa Nembak Anjani dan Arman Mencoba Menghalangi?

1486 Kata
Sejumlah tamu mulai dari Influencer, Artis hingga tamu undangan pun sudah hadir dan memasuki ballroom. Mischa Alexander sang Brand Ambassador, sedang menunggu di ruang VIP. Anjani hendak menghampiri ruangan pria itu untuk menyampaikan keinginannya. Namun, tiba-tiba saja ada seorang pria yang mengikutinya kemudian memanggil. “Anjani!” Gadis itu menoleh kemudian tergagap. “Oh i … iya, Pak Arman.” Pria itu berjalan cepat mendekatinya. “Kamu mau ke mana?” Nadanya kesal karena tahu gadis itu hendak menuju ke mana. “Itu Influencer dan Artis sudah pada datang, lho! Nggak kamu liput dulu?” “Loh, kan sudah dari tadi, Pak. Bahkan sudah kami wawancarai juga. Ini juga masih ada Selvy, Sarah dan Roy di sana. Saya mau ke toilet sebentar.” Ia beralasan sambil menunjuk ke arah dirinya hendak berjalan tadi. “Toilet itu di lorong satunya, bukan lorong yang ini.” Ketusnya, “ayo saya antar!” “Hah?” “Iya, saya antar! Kamu nggak tahu jalan ke toilet, kan?” “Oh … nggak usah … nggak usah, Pak.” Sahut Anjani cepat . “Saya juga mau ada urusan dulu sebentar, nanti akan segera kembali.” “Urusan apa? Sekarang jam kerja.” Ketus Arman sambil menunjuk-nunjuk arlojinya. “Saya sengaja ada di sini untuk mengawasi kalian.” “Baik, Pak.” Anjani pun akhirnya terpaksa menuruti pria tersebut dan mengikutinya. Sementara Mischa yang berada di dalam ruangan, sedang di brief oleh Mona untuk acara nanti. “Jadi nanti … begitu nama lo dipanggil, lo langsung keluar, melambai ke arah audience dan jangan lupa ke kamera. Terus nanti MC akan menanyai lo beberapa pertanyaan basic dan kenapa lo setuju untuk collab dengan kita.” “Gue sih akan share personal experience saat cobain produk sample kemarin.” “Berarti nggak salah dong kita pilih lo sebagai Brand Ambassador? Lo punya integritas soalnya.” Mona terkekeh. “Weitss, jelas.” Mereka berdua tertawa bersama. “Oiya, Mon,” ujar Mischa. “Nanti pas acara sudah selesai dan sebelum acara foto bersama, gue boleh minta waktu 5-10 menit, nggak? Untuk selipin agenda gue sebentar? Tolong lo brief MC-nya, ya.” “Agenda apaan?” Tanya Mona heran. Pria itu menyengir lebar. “Gue mau ajak Anjani naik ke atas panggung, terus nembak dia di sana.” “Hah?” Mona pun tersentak. “Serius lo? Harus banget di atas panggung?” Padahal Anjani baru saja mengatakan hendak menjauhi Mischa. “Iya.” Sahut pria itu santai sambil merapikan kerah bajunya. “Soalnya biar netizen pada tahu siapa cewek yang gue suka. Capek banget dijodoh-jodohin terus sama artis lain atau pada berasumsi gue pacaran sama artis siapa. Padahal kan, nggak.” “Scha, Anjani tuh tipe orang yang pemalu, tertutup dan nggak suka publisitas. Dia bakal kurang nyaman ditembak di depan umum.” Mona mencari-cari alasan. “Orang pemalu mana yang presentasi dan public speaking-nya bagus?” Mischa acuh tak acuh. “Kalau dia nggak nyaman, pasti nggak akan mau jalan sama gue dari kemarin-kemarin.” “Ya beda dong, Scha. Intinya, menurut gue jangan deh. Kalau misalnya nanti dia nolak lo gimana? Di depan banyak orang? Udah lah, kalo mau nembak Anjani, mending saat kalian lagi berduaan aja. Lagian tujuan lo ada di sini tuh untuk promosi Daintie. Nanti bisa-bisa gue yang dipecat kalau kasih izin lo.” Mona memberi alasan yang lebih kuat dan berharap kali ini ampuh. “Pertama, kalau ditolak kayaknya nggak deh. Orang dia selalu mau setiap gue ajak jalan, dan kita selalu ketawa-ketawa setiap jalan bareng. Menertawakan masa kecil kita yang susah, jadi nggak bakal ditolak. Kedua, gue langsung minta izin owner aja, deh, biar lo aman.” Mona akhirnya tak dapat berkata-kata lagi. Tak ada pilihan lain selain memberi tahu Anjani saat ini juga. ********** Acara pun akhirnya dimulai. Sayangnya Mona belum sempat menghampiri Anjani untuk memberi tahunya. Sahabatnya itu terlihat sangat sibuk, ditambah disuruh-suruh terus oleh pria bernama Arman. Arman juga terus berdiri di dekat Anjani dan tim untuk mengawasi pekerjaan mereka. Pesan chat nya juga belum dibaca. Ia hanya mampu berdoa, semoga owner Daintie tak memberikan izin agenda pribadi Mischa. Acara pun sebenarnya berjalan sempurna mulai dari pembukaan, menyapa para tamu yang hadir hingga pengumuman Mischa Alexander sebagai Brand Ambassador. Beberapa kamera pun tak mau kalah untuk memotret sosok aktor tampan tersebut. Begitu juga grup Aftive yang ikut menyorot kemunculan pria tersebut. Mischa Alexander pun kemudian mengobrol dengan MC mengenai produk Daintie secara singkat. “Saya waktu ditawari kolaborasi dengan Daintie langsung setuju,” sahut Mischa saat ditanyai alasannya. “Karena produk yang akan diluncurkan ini fokus sama hidrasi dan skin barrier. Pas juga launching-nya di bulan puasa, di mana kulit kita membutuhkan hidrasi ekstra. Saya sendiri sempat trial sample-nya, karena saya nggak mau sembarang collab produk, kalau saya sendiri nggak suka. Apalagi jenis kulit saya ini cenderung kering dan kadang suka iritasi kemerahan. Jadi pas buat saya.” Seluruh rangkaian acara berjalan lancar hingga akhir. Hingga akhirnya sang MC pun memberikan pengumuman yang mencengangkan. Mona semakin gelisah karena melihat senyuman Mischa yang begitu lebar dan matanya yang tak mau lepas dari Anjani. “Oke sebelum mulai acara foto bersama, Kak Mischa mau menyampaikan sesuatu nih … sebentar saja.” Ujar sang MC. “Silakan, Kak Mischa.” Mischa pun maju kemudian mengambil mic. Ia tersenyum lebar dan mengedarkan pandang ke seluruh ruangan sebelum mulai berbicara. “Emang ini ada di rundown acara? Agenda pribadi Mischa?” Tanya Arman kepada Anjani dan juga Selvy. Anjani menggeleng. “Setahu saya sih nggak ada, Pak. Harusnya langsung acara foto bersama.” “Ya sudah, Roy, Sarah, kalian matiin dulu aja live-nya.” Perintah Arman cepat. “Ini pasti nggak ada hubungannya dengan promosi Daintie. Nanti saat acara foto bersama, baru dilanjutkan kembali.” “Baik, Pak.” Mischa kemudian berbicara melalui pengeras suara. “Maaf menyita waktu kalian, tapi saya sebentar saja, kok.” Para tamu tampak tak keberatan. Mereka malahan langsung merekam momen tersebut meski belum tahu akan ada kejadian apa. Mona hanya menatap dengan cemas sambil teru. Rasanya sudah telat kalau ia memberitahukan Anjani sekarang. “Banyak gosip yang beredar mengenai diri saya, bahkan baru tadi pagi katanya saya dekat dengan seorang artis.” Lanjut Mischa. “Itu sama sekali tidak benar ya teman-teman wartawan.” Beberapa wartawan yang diundang ke acara tersebut tentu tak mau menyia-nyiakan momen tersebut. “Saya saat ini jomblo, tapi ada perempuan yang saya suka dan orangnya ada di ruangan ini.” Sontak semuanya pun heboh. Anjani pun menggangga, apakah Mischa menyukai rekan artis atau influencer yang diundang ke acara ini? Atau jangan-jangan yang dimaksud adalah dirinya? Mona ketar-ketir dan perasaan Arman langsung tak karuan. “Siang ini … saya bermaksud ingin mengutarakan perasaan saya kepada perempuan itu.” Mischa jeda sejenak dan semuanya tampak tak sabar siapa perempuan yang dimaksud. Arman buru-buru menarik Anjani untuk keluar. “Anjani, ayo ikut saya!” Anjani pun bingung. “Loh kenapa, Pak?” Mona melihat kejadian tersebut. Arman terus menyeretnya dan membawanya keluar. “Ada apa sih, Pak?” Tanya Anjani bingung begitu mereka sudah berada di luar. Arman menghela napas panjang. “Anjani Halleyna dari Aftive Digital Agency.” Anjani bisa mendengar dari luar bahwa namanya disebut oleh Mischa Alexander. “Hah?” Serunya kaget sambil melihat ke arah pintu ballroom yang tertutup. “Sekarang juga kamu kembali ke kantor!” Perintah Arman sambil menunjuk-nunjuk arah lobby. “Loh, tapi kenapa, Pak? Kan acara belum selesai.” “Anjani Halleyna … bisa naik ke atas panggung?” Ujar sang MC dengan suara menggelegar. Anjani yang mendengar namanya disebut lagi, langsung kebingungan. Ia bergantian menatap Arman dan pintu ballroom. “Udah nggak usah banyak tanya!” Tegas Arman. “Cepet kamu pergi dari sini naik taksi.” Arman malah mendorong-dorongnya. “Itu bukannya nama saya ya yang dipanggil?” Anjani bertanya polos sambil menunjuk pintu ballroom. “Apa nggak sebaiknya saya masuk dulu, Pak?” “Nggak perlu!” Ketus pria itu. “Ya nggak sopan dong, Pak.” “Saya atasan kamu, dan ini jam kerja. Jadi nggak usah banyak protes!” Nada Arman meninggi. Anjani pun tak ada pilihan lain selain menuruti Arman. Akhirnya ia pun berjalan pulang dan keluar dari lobby. Arman memastikan sampai gadis itu benar-benar pergi dan menaiki taksi. Setelah sosoknya menghilang, ia langsung bernapas lega. Ia masih bisa mendengar baik Mischa maupun MC yang terus memanggil-manggil nama Anjani. Mona menyusulnya keluar sambil tertawa geli dan menggeleng-gelengkan kepala. Arman menoleh dan raut wajahnya berubah kesal. “Lo ngapain ketawa?” Sewot Arman. “Tadi itu apa? Kenapa lo bantu Anjani kabur? Dia di mana sekarang?” “Heh, lo nggak usah Ge-eR, ya! Dia ada banyak kerjaan di kantor dan harus cepetan balik.” Mona hanya mengangguk-angguk. “Ya … ya … ya terserah. Lagian bukan gue yang harus Ge-eR. Tapi … setidaknya lo bisa jelasin sama orang-orang di dalam lah, Anjani pergi kemana.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN