Jujur

1725 Kata
Kejadian tersebut tentu saja membuat gempar, apalagi ketika Anjani tiba-tiba pergi. Mana sudah terlanjur viral. Mischa sangat malu sekaligus marah atas kejadian tersebut. Meskipun saat itu Arman buru-buru naik ke atas panggung dan menjelaskan kalau dirinyalah yang meminta Anjani agar segera kembali ke kantor. Namun tetap saja tak ada yang percaya. Baik Mischa maupun netizen berspekulasi kalau Anjani memang tak menyukai Mischa dan sengaja kabur. Mischa sebenarnya sudah siap jika ditolak di atas panggung dan tak masalah, tapi ia merasa tak dihargai dengan menghilangnya gadis itu begitu saja. Seluruh karyawan Aftive tentu saja bergosip. Apalagi Selvy dan Sarah yang berada di lokasi kejadian dan melihat dengan jelas kalau Arman yang membantunya kabur. “Apa jangan-jangan Pak Arman sebenarnya juga naksir Anjani, ya?” Selvy pun jadi berspekulasi. “Nggak mungkin lah, kan dia mau nikah.” Celetuk Ujang. “Kayaknya Pak Arman … emang nggak suka aja kalau jam kerja karyawannya dipakai untuk urusan pribadi.” Mereka semua mengangguk. “Iya, sih.” Sementara Anjani malah cuek-cuek saja tampak tak terpengaruh oleh berita yang sedang viral. Ia sama sekali belum mengecek social media maupun berita. Mona langsung menghapus chat yang sudah terlanjur dikirimkan ke Anjani, begitu Anjani sudah pulang hari itu. Arman juga tiba-tiba saja memberinya tugas segunung, belum ditambah dirinya harus menghadiri interview di beberapa perusahaan. Mischa yang juga akan banyak project shooting untuk ke depannya, tak ada waktu untuk mengkonfrontasi Anjani. Setidaknya untuk saat ini. Kini sudah lewat beberapa hari setelah acara tersebut. Mischa dan Anjani masih belum juga saling kontak. Kemudian Burhan, berusaha melakukan berbagai cara untuk mendekati Mona. Ia chat ke nomor kantor yang waktu itu diberikannya. Mona kadang merespon dan kadang juga tidak. “Man, lo ‘kan kenal sama Mona dari kecil? Bantuin gue dong, biar dekat sama dia.” Burhan pun memohon kepada Arman. “Dih, lo ‘kan tahu sendiri gue udah malas inget-inget momen di panti.” Arman ogah-ogahan. “Lagian gue juga nggak begitu akrab sama Mona. Udahlah, lo cari yang lain saja. Lo tahu sendiri kalau Oma juga nggak bakalan setuju.” “Tapi masalahnya … cuma dia yang bikin jantung gue berdebar.” “Tai lah! Kayak sinetron aja.” “Lo ‘kan juga tahu sendiri, kalau gue itu nggak gampang suka sama cewek.” Burhan yang tak menyerah, akhirnya mendekati Anjani dan mulai bersikap baik kepadanya. Tentu saja Anjani mengetahui niat atasannya itu. “Pak Burhan, apa saya bisa izin pulang cepat hari ini?” Pinta Anjani suatu hari karena Arman saat itu sedang tak berada di kantor. Burhan yang biasanya membalas hanya dengan raut masam dan jawaban singkat, kini menjadi sangat ramah dan penuh perhatian. “Oh, kamu mau ke mana Anjani?” Anjani yang hendak pergi interview, tentu tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. “Mau ada urusan pribadi, Pak.” “Oh, ya sudah. Kamu hati-hati ya.” Tumben? Biasanya atasannya itu tak peduli karyawannya mau hati-hati atau tidak. “Makasih, Pak.” Keesokan harinya, atasannya itu menanyakan lagi dengan penuh perhatian. “Anjani, gimana urusan kamu? Sudah selesai?” “Sudah, Pak.” “Oiya, Anjani … Hmmm…” Pria itu tampak malu-malu kucing. Anjani terus menunggui pria itu selesai berbicara. “Kamu temannya Mona, kan?” Akhirnya setelah atasannya berhari-hari bersikap baik, berani juga menyampaikan maksudnya. “Betul, Pak.” Sahutnya ramah. “Bisa bantu saya nggak, Mona sukanya apa, ya?” “Kalau Mona orangnya nggak neko-neko, Pak,” sahut Anjani seadanya. “Yang penting orangnya baik, sopan dan menerima kondisi Mona apa adanya.” Burhan pun mengulangi ucapan Anjani. “Baik, sopan dan menerima apa adanya.” Burhan kemudian mengangguk-anggukan kepala. “Oke. Tapi ‘kan saya pengen kasih sesuatu nih buat dia, kamu bisa dong bantu saya pilihin barang apa yang kira-kira dia suka?” “Emang pilihannya apa saja, Pak?” Tanya Anjani. Burhan pun langsung mengambil ponsel dan menunjukkan sesuatu kepada Anjani. Anjani langsung memerhatikan dengan seksama, produk-produk yang ditunjukkannya itu. Arman yang melihat itu dari lorong hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Bonekanya lucu, Pak.” Tunjuk Anjani antusias. “Mona pasti suka.” “Astaga, Anjani! Itu ‘kan Cuma boneka merchandise, nggak dijual. Barang yang dijual itu tas-tas, dompet sama bajunya.” Omel Burhan. “Masa saya kasih perempuan usia 25 tahun boneka. Adek sepupu saya aja udah nggak mau dikasih boneka.” “Oh.” Anjani tersenyum salah tingkah. “Maaf, Pak, saya nggak pernah ke butik itu soalnya.” “Ah, masa?” Tanya Burhan tak percaya. “Gaji kamu ‘kan gede, belilah tas nya setidaknya satu. Harganya juga nggak sampai lima juta.” Anjani hanya tersenyum kemudian kembali memerhatikan foto-foto barang tersebut. Ia jadi teringat tas-tas Mona yang harganya kisaran 20 juta ke atas, bahkan ada yang sampai 80 juta. Anjani sendiri sampai sekarang juga tak tahu bagaimana Mona bisa membeli tas-tas tersebut, padahal gajinya tidak jauh beda dengan dirinya. Setiap ditanya, pasti jawabnya dari tabungan, hasil keuntungan investasi atau bonus kantor, bahkan sering juga Mona mengalihkan pembicaraan. Ah, entahlah! Tapi … apa mau Mona memakai tas yang harganya di bawah 5 juta? Ia ‘kan juga tak mungkin minta ke atasannya itu untuk membelikan Mona tas seharga 20 juta saja. Dompet pun juga sama. “Tadi katanya ada baju ‘kan, Pak? Boleh saya lihat bajunya dulu?” Tanya Anjani akhirnya. “Oh, oke-oke.” Burhan pun langsung klik tombol menu dan klik pilihan baju. Di situ Anjani bisa melihat banyak model baju yang pasti akan disukai Mona. “Yang ini, Pak.” Anjani menunjuk setelan blouse dan celana pleats dan ada juga untuk ukuran badan Mona. “Nah, iya sih.” Burhan tampak sepakat sambil menunjuk-nunjuk produk tersebut. “Kayaknya style ini emang Mona banget ya kalau saya lihat pas acara launching kemarin?” “Betul, Pak.” “Ngomong-ngomong makasih ya, Anjani. Kamu boleh kembali bekerja.” “Sama-sama, Pak. Saya permisi dulu.” “Silakan.” Burhan kemudian menghampiri meja Maya yang terletak persis depan ruangannya. “Maya.” Panggilnya masih sambil melihat ponsel. Maya pun langsung mengangkat kepalanya dari layar komputer. “Iya, Pak Burhan?” Burhan langsung menyodorkan ponselnya. “Lo tolong beliin setelan baju yang ini, ya! Gue mau paling lambat besok sore sudah ada.” Maya pun melihat dan memerhatikan sejenak foto tersebut. Kebetulan Arman menghampiri mereka karena memang hendak menemui Burhan, dan pria itu juga ikut melihat ponsel Burhan. “Oh baik, Pak.” Burhan pun kemudian memasuki ruangan dan diikuti oleh Arman. “Lo yakin mau beliin tuh cewek baju?” Tanya Arman begitu mereka sudah berada di dalam ruangan. Burhan pun duduk di kursinya kemudian menyahuti. “Yaelah, Man. Cuma baju 2 jutaan doang sebagai hadiah perkenalan.” Arman kemudian menghela napas dan duduk begitu saja di seberang sepupunya tersebut. “Selama ini tuh elo lho, yang bikin khawatir Oma soal jodoh. Udah dikenalin sana sini nggak ada yang nyantol. Banyak cewek yang ngejar-ngejar lo, elonya juga ogah-ogahan. Apa kata Oma nanti kalo lo tertarik sama cewek dari kalangan biasa?” Burhan yang sedang sibuk dengan laptopnya itu hanya berujar santai. “Kan udah ada lo sama Clara yang dari kalangan tidak biasa. Terus nanti juga masih ada Lisa dan sepupu-sepupu yang lain. Satu cucu Oma yang menikah dengan kalangan biasa, nggak akan bikin Febriant Group bangkrut.” “Maaf nih, ya, lo ingat dong cerita bokap sama nyokap lo?” Arman memajukan tubuhnya. “Iya, gue ingat.” Sahutnya santai. “Mungkin selera pasangan gue emang nurun dari nyokap gue.” “Terus lo ‘kan tahu akhir ceritanya.” “Mereka cerai karena bokap gue selingkuh, Man, bukan karena status sosial.” “Bokap lo selingkuh, karena harga dirinya terluka punya pasangan anak konglomerat. Dulu waktu gue baru keluar dari panti, kan elo yang ajarin itu semua. Lo ajarin gue banyak hal, dengan siapa gue pantas bergaul, dan kenapa kita perlu jaga jarak dengan orang biasa.” “Udah lah, Man, lo ngerusak kebahagiaan gue aja!” Ujar Burhan malas. “Itu ‘kan omongan gue waktu masih 17 tahun. Kalau yang gue baca sih, ketika umur kita 30 tahun, otak kita baru berkembang sempurna dan pemikiran sudah lebih matang. Makanya gue yakin amat sama nih cewek.” Arman kemudian mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Ngomong-ngomong gimana persiapan nikah lo sama Clara?” Tanya Burhan. “Dia balik ke Amerika lebih awal sebelum lebaran, supaya rencana nikah kita di Agustus lancar.” Sahutnya masih berusaha mengingat sesuatu. Burhan pun hanya mengangguk. “Ada satu hal yang harus lo tahu soal Mona.” Ujar Arman tiba-tiba. “Apaan, tuh? Katanya lo malas ingat-ingat momen di panti.” Burhan terkekeh. “Ya karena ini penting dan lo harus tahu.” “Apaan, tuh?” Arman terdiam sejenak. “Mona bukan yatim piatu, Han.” Anehnya Burhan hanya santai dan masih menatap layar komputernya. “Jadi waktu dia umur 5 tahun, dia diturunin sama kedua orang tuanya depan panti, dan habis itu orang tuanya nggak pernah muncul lagi. Gue nggak tau sih, orang tuanya siapa, kerja apa dan kenapa ninggalin Mona di panti. Cuma yang gue tahu, orang tuanya KDRT. Baru itu yang gue inget soal Mona.” Burhan menghela napas sejenak kemudian berujar santai. “Yah, bagus dong kalau masih ada orang tuanya.” Arman tak percaya dengan reaksi sepupunya itu. “Gila lo … dia bisa mintain uang lo yang ada.” “Yaelah, paling berapa sih, Man? Nggak bakal minta sampai setengah aset Febriant Group juga, ‘kan?” Celetuk Burhan asal. Arman hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Ngomong-ngomong … lo nggak mau jujur soal perasaan lo sendiri?” Ledek Burhan. “Mau sampai kapan terus menyangkal? Nanti nyesel lo akhirnya nikah sama orang yang lo nggak cinta.” “Apaan sih? Gue nggak ngerti maksud lo!” Sergah Arman. “Lo ‘kan yang paling tahu, kalau gue ngincer Clara dari zaman kuliah.” “Iya, lo ngincer, but she is not the one.” Burhan menyengir lebar. “Sok tahu!” Burhan semakin tergelak. “Oke. Pesan dari gue nih ya, jangan bohongin hati lo sendiri. Kita semua juga bisa lihat gimana posesifnya lo saat dia ditembak sama Mischa Alexander, sampai lo suruh dia cepat-cepat pulang. Gue tahu banget lah, mata lo saat menatap Anjani tuh nggak bisa bohong. Udahlah, Man, kalau gue aja bisa jujur sama hati gue, lo pasti juga bisa. Nanti kita sama-sama hadapin Oma.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN