Grup Ghibah Kantor Aftive

1490 Kata
“Selamat pagi semuanya.” Sapa Anjani kepada beberapa rekannya yang sedang mengobrol di meja resepsionis begitu baru memasuki kantor. Ia terus berjalan menuju meja kerjanya sambil menenteng tas plastik yang berisi bungkusan nasi uduk dengan bakwan goreng, dan satu tangannya lagi ia menenteng tas karton berwarna merah. Kantor masih sangat sepi. Teman-teman satu divisinya belum ada yang datang. Ia melihat ke arah meja pria itu yang juga belum tiba. Ia letakkan sejenak tas kerja dan juga tas plastiknya di atas meja kerjanya, sedangkan tas kartonnya ia pandangi sejenak. Tas karton itu sebenarnya berisikan hadiah untuk pria itu. Hadiah permintaan maaf yang sudah ia persiapkan sejak subuh tadi. Ia intip sekali lagi bagian dalamnya, memastikan tak ada yang rusak. Di dalam terdapat sebuah box transparan yang berisi cupcake. Cupcake yang ia buat sendiri dan sudah dihias cantik. Di dalamnya terdapat enam buah cupcake dan masing-masing bertuliskan satu huruf pada toppingnya. Jika dibaca keseluruhan bertuliskan ‘maaf ya’, dan tak lupa juga ia menuliskan nama dirinya. Yah, ia merasa perlu membuat ini sebagai permohonan maaf, meski belum tahu apa salahnya. Jika ia menceritakan hal ini kepada Mona, jelas sahabatnya itu akan melarangnya. Wajah sahabatnya saja tampak menyimpan sesuatu semalam begitu tahu rumah Arman. Mumpung kantor masih belum ada orang kecuali resepsionis bernama Irene, Sarah, Maya dan Ujang si OB, ia pun berjalan menuju meja pria itu dan meletakkan tas karton tadi di atas mejanya. Tanpa ia sadari, Irene, Maya, Sarah dan Ujang melihat aksi tersebut. Mereka yang sedang berkumpul di meja resepsionis langsung shock kemudian tertawa cekikikan. “Rekam, ah.” Sarah pun tersenyum licik sambil merekam menggunakan ponselnya. “Ngapain? Mau lo viralin?” Kelakar Maya. “Dih, emang ndese siape? Selebgram terkenal? Ya kagak lah … buat ditunjukin ke anak-anak nanti.” Sahut Sarah diikuti dengan tawa mencemooh. Mereka semua juga ikut tertawa. Terlihat Anjani telah meletakkan tas kartonnya di atas meja Arman dan gadis itu kembali menuju meja kerjanya. “Bener ‘kan kata Ujang kemarin, Mbak.” Bisik OB itu. “Dia ngejar-ngejar Pak Arman. Tuh buktinya pagi-pagi udah kasih kado.” “Kok berani banget sih dia ngejar Pak Arman terang-terangan?” Tanya Irene heran. “Nggak tahu! Mungkin karena dia ngerasa anak kesayangan dan akrab sama Bu Susanti kali, jadi berani gitu.” Ucap Ujang sok tahu. “Yah, makanya dong kalian harusnya cari muka juga sama Bu Susanti dari dulu. Apalagi lo, May, yang asistennya.” Maya dan kedua perempuan lainnya hanya memajukan bibir. Mereka kemudian melihat Anjani memakan sarapan yang ia bawa tadi. “Jang, lo ambilin dia piring lah.” Perintah Maya sambil melihat ke arah Anjani, “Biar minyaknya nggak ngotorin meja.” “Iya … iya.” Ujang pun malas-malasan berjalan hendak mengambilkan piring. “Padahal ada pantry, kenapa dia makannya di meja kerja, sih? Bikin emosi saja.” “Dia ‘kan gajinya gede, ya?” Bisik Irene. “Kok makannya masih nasi uduk tujuh ribuan gerobak yang jorok gitu sih? Minimal nasi uduk kantin, lah, atau yang rumahan. Gue aja ogah makan gituan, langsung mules.” “Emang aneh!” Gerutu Sarah. “Mana makannya jorok banget lagi, ga dialasin piring.” “Makanya modelan kayak gitu kok nekat sih mau dipacarin sama cowok sekelas Pak Arman?” Celetuk Maya mencemooh. Mereka bertiga kemudian tertawa cekikikan lagi. “Gue sama Sarah yang paling tahu, lah, kebiasaan keluarga mereka kayak apa, makannya gimana, dijaga banget lho kebersihannya.” Ujar Maya. “Bisa shock kalau keluarga Febriansyah tahu kebiasaan dia.” Irene langsung cekikikan. “Tapi serius deh … dia aja bisa kasih kado bagus buat orang, bisa kasih makanan mahal buat anak-anak panti, tapi kok pelit sama diri sendiri ya?” Tanya Sarah bingung. “Dia ‘kan suka minta makan gratisan sama Sonia dan Selvy.” Cemooh Maya. Mereka bisa melihat Ujang yang mengatarkan piring kepada Anjani. Tentu saja wajah Ujang pura-pura ramah, lalu dibalas ucapan terima kasih oleh Anjani. Begitu selesai mengantar, OB tersebut langsung berjalan cepat ke arah mereka sambil memutar bola mata. “Eh tau, nggak?” Ujang langsung berbisik heboh begitu sudah tiba lagi di meja resepsionis. “Masa ndese makan nasi uduk ga ada lauknya, Bo!” “Masa, sih?” Maya tertawa geli. “Paling cuma lauk free kayak bihun, telor orak arik sama tempe orek doang. Dia cuma beli bakwan goreng dua. Ujang tahu banget, itu harganya tuh cuma sepuluh ribu. Kan Ujang sering beli.” Sahut Ujang. “Ih, orang yang gajinya UMR aja nggak mau makan begitu.” Sarah mencibir kemudian memajukan bibirnya. Tak lama para karyawan sudah mulai berdatangan dan kantor mulai ramai. Mereka berempat otomatis membubarkan diri. Sarah pun tak lupa mengirimkan rekaman tadi ke grup chat ghibah kantor Aftive, yang tentunya berisikan circle mereka yang gemar membicarakan keburukan rekan kerja di belakang. Tentu saja Anjani tak termasuk kedalam grup tersebut. Sonia, Selvy, Dicky dan Damar tergabung dalam grup tersebut. Usai sarapan, Anjani kemudian menyalakan laptopnya dan mulai bekerja. Rekan satu timnya satu persatu mulai berdatangan. Gadis itu sambil sesekali menjawab sapaan mereka. “Wuihhh, rajin amat nih anak satu.” Ceplos Selvy begitu baru datang sambil melihat layar laptop Anjani. Anjani pun tersenyum kemudian menyahuti. “Iya dong, enakan kerja tuh pagi-pagi banget. Masih segar bisa full konsentrasi. Pas kenyang juga abis sarapan.” “Oh, oke.” Selvy pun memaksakan senyum sambil lirik-lirikan dengan Dicky, Damar dan juga Sonia. Akhirnya pria yang sejak tadi ditunggu-tunggu Anjani tiba juga. Jantung gadis itu langsung berdegup kencang, membayangkan reaksi pria itu nanti. Tak hanya Anjani yang penasaran, anggota grup ghibah Aftive pun juga menunggu-nunggu reaksi IT Project Manager tersebut. Terlihat pria itu tampak menyapa rekan satu timnya dan mengobrol sejenak dengan mereka sebelum akhirnya menempati meja kerjanya. Anjani mengintip dari balik laptopnya. Ia bisa melihat jelas bahwa pria itu tampak heran melihat tas karton merah berada di atas mejanya. “Ini punya siapa?” Tanya Arman kepada rekan satu tim nya. Semua anggota tim nya tampak bingung kemudian menggelengkan kepala. “Kami nggak tahu, Pak,” sahut Reza, “dari tadi sudah ada di situ. Saya pikir memang punya Bapak.” Arman pun mengernyitkan dahi. Ia mengambil dan membuka secara perlahan tas karton tersebut dan melihat isinya. Matanya terbelalak kemudian langsung melihat ke arah Anjani. Buru-buru gadis itu membuang muka. Arman hanya kembali meletakkan tas karton tersebut di ujung mejanya. Pria itu langsung membahas pekerjaan dengan tim nya. Anjani hanya berdoa, semoga nanti kue buatannya akan dimakan. Setelah beberapa jam mereka bekerja, Bu Susanti yang baru kembali dari tempat klien pun langsung berjalan cepat menghampiri area meja kerja para karyawan. “Oke, perhatian semuanya!” Sahut sang CEO Aftive lantang. Sontak semuanya langsung menghentikan aktivitas masing-masing. “Setengah jam lagi kita akan kedatangan tamu saya dari Daintie, brand kecantikan. Katanya mereka mau menggunakan jasa kita untuk promosi digital.” Anjani dalam hati melonjak kegirangan, karena selain Daintie merupakan brand kosmetik dan skincare lokal nomor satu yang ia juga pakai produknya, itu merupakan kantor Mona. “Saya minta Burhan dan juga perwakilan dari divisi terkait yang saya tunjuk, untuk ikut meeting bersama saya.” Lanjut Bu Susanti. “Bagian Sales, Ajeng. Bagian Content, Jenny. Bagian Desain Grafis, Joe. Videografer, Roy. Full Stack Web Developer, Arman, dan Social Media, Sonia. Setengah jam lagi nama-nama yang saya sebutkan tadi langsung ke ruang meeting, ya.” “Bu Susanti, maaf.” Sonia langsung mengangkat tangan kanannya. “Ya, Sonia.” “Maaf banget, Bu, tapi sebentar lagi saya harus keluar kantor. Ada janji dengan klien. Apa bisa digantikan oleh Selvy saja, Bu?” “Oh, ya sudah. Kalau gitu untuk Social Media, Anjani saja nanti yang ikut meeting.” Anjani langsung gelagapan. Berarti itu artinya ia akan meeting bareng Arman juga? Ia berusaha menyembunyikan rasa senangnya. Pria itu juga sama terkejutnya. Sedangkan Selvy langsung kecewa karena bukan dirinya yang ditunjuk, padahal dirinya yang lebih senior. Ia saling lirik-lirikan dengan Sonia. “Oh, ba … baik, Bu.” Sahut Anjani tergagap. “Good!” Ujar Bu Susanti. Tolong nama-nama yang saya sebutkan tadi, juga menyiapkan bahan presentasi promosi seperti biasa. Siapkan apa saja yang bisa kita tawarkan untuk mereka. Terutama Anjani ya, karena social media ini krusial sekali. Lebih bagus lagi kalau kalian semua mempelajari dulu tentang Daintie.” “Baik, Bu.” Jawab mereka serentak. Bu Susanti pun langsung berjalan kembali menuju ruangannya. Anjani iseng mengirim pesan kepada Mona, untuk menanyakan apakah sahabatnya itu juga akan datang ke kantor Aftive, mengingat sahabatnya itu merupakan Creative Manager. “An, harusnya gue datang, tapi ternyata gue harus meeting sama vendor untuk ngurusin acara offline. Tapi ada perwakilan orang Creative, kok.” Anjani hanya menghela napas kecewa membaca balasan chat tersebut. Ia mengirim pesan lagi untuk memberitau kalau Arman juga ikut meeting bersama mereka. “Wah, good luck ya, An.” Yah, hanya begitu respon Mona jika menyangkut Arman. Sahabatnya itu nampak enggan mendukung dirinya menarik perhatian Arman kembali, begitu juga dengan Bu Dewi. Ah, mengapa semua orang mudah sekali menyerah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN