Beberapa peserta yang namanya disebutkan oleh Bu Susanti tadi sedang bersiap di ruang meeting. Anjani masih sibuk menyiapkan bahan presentasi di meja kerjanya. Meskipun sifatnya template, tetap saja ia tipe orang yang perfeksionis, tak mau asal dan terburu-buru. Itulah yang membuat Bu Susanti menyukainya. Toh orang-orang Daintie juga belum pada datang.
“An, buruan kali.” Ujar Selvy panik. “Bu Susanti sama Pak Burhan aja sudah di ruang meeting, lho!”
“Pilih mana?” Sahut Anjani masih sibuk menyiapkan bahan presentasinya. “Buru-buru ke ruang meeting padahal klien belum datang, atau nggak maksimal saat presentasi nanti?”
Selvy, Damar dan Dicky pun hanya saling berpandangan dan menahan tawa. Setelah Anjani selesai, ia pun langsung berjalan menuju ruang meeting, kemudian memasuki ruangan tersebut yang bernuansa coklat dan begitu luas.
Dekat pintu masuk terdapat sofa untuk menerima tamu. Ia kemudian berbelok kiri dan terdapat meja meeting yang sangat panjang. Kapasitasnya 21 orang, 20 kursi saling berhadapan dan 1 kursi berada di tengah-tengah. Semuanya sudah hadir dan ada juga Asisten Bu Susanti dan Burhan, Maya dan Sarah. Mereka semua duduk di satu deretan yang membelakangi jendela, sehingga deretan depannya kosong. Bu Susanti duduk paling ujung dekat dengan LCD TV yang nantinya akan digunakan untuk presentasi.
“Ayo Anjani, cepetan duduk.” Ujar Bu Susanti begitu melihat dirinya. “Mereka sudah di lift.”
“Baik, Bu.” Anjani langsung menduduki salah satu bangku kosong paling ujung persis seberang Maya.
“Eh, jangan duduk di situ. Deretan itu buat Daintie.” Tegur Bu Susanti kemudian melihat-lihat bangku deretannya yang kosong. “Nah, kamu duduk sebelah Arman sana, yang kosong.”
Anjani pun langsung tersentak, begitu juga dengan pria itu.
“Antara Arman sama Ajeng.” Bu Susanti memperjelas.
“Oh, ba … baik, Bu.” Sahut Anjani terbata kemudian beranjak menuju kursi yang dimaksud.
Dada Anjani berdegup kencang saat berjalan menuju kursi tersebut. Ia antara senang dan takut. Takut kalau tiba-tiba pria itu minta bertukar posisi. Namun Arman juga tampaknya tak punya pilihan selain membiarkan gadis itu duduk di sebelahnya.
Arman baru tersadar, mengapa sebelum gadis itu datang tadi ia tak menyuruh Ajeng menggeser duduknya saja? Atau menyuruh karyawan pria agar duduk di sebelahnya? Gadis yang seharusnya sudah terhapus dari ingatannya 15 tahun lalu mengapa harus muncul lagi? Bahkan masa-masa susah di panti sudah tak mau ia ingat-ingat lagi.
Begitu Anjani sudah duduk di sebelah pria itu, ia hanya mampu menunduk, tak berani menoleh ke arah pria tersebut. Tercium sekali wangi parfumnya yang tentunya mahal itu. Seketika ia merasakan kembali kenyamanan yang telah 15 tahun hilang. Ingin sekali rasanya mengajaknya berbicara, namun tampaknya sekarang bukan waktu yang tepat.
Beberapa menit kemudian, para karyawan dari Daintie tiba, diantar oleh Irene Resepsionis. Mereka semua pun berdiri menyambut kedatangan kurang lebih sekitar 10 orang.
“Halo Emily … Yohan.” Bu Susanti yang tampaknya sudah akrab langsung menyalami kedua owner Daintie tersebut. Mereka merupakan suami istri keturunan Tionghoa yang usianya masih terbilang muda, awal 30-an.
Yah, Mona selalu bercerita kepada Anjani mengenai owner-nya yang masih muda. Mereka berdua pun juga sering wara wiri di media, bahkan masuk Forbes under 40. Ia berdoa semoga bisa sukses di usia muda seperti mereka. Ah, ia lupa, kan mereka juga dari keluarga konglomerat.
“Bu Susanti, apa kabar?” Balas kedua owner itu ramah.
Anjani bisa melihat wajah keduanya yang begitu glowing bak porcelein terutama Emily. Tentu saja rasanya tak mungkin hanya dengan perawatan produk Daintie, pasti ditambah juga dengan klinik kecantikan.
Bu Susanti kemudian memperkenalkan para karyawa Aftive, begitupun sebaliknya. Mereka semua kemudian saling berjabat tangan. Saat bersalaman, tak sengaja tangan Anjani dan juga Arman bertabrakan. Anjani seperti tersengat listrik, begitupun dengan Arman. Mereka kikuk sejenak kemudian buru-buru lanjut bersalaman lagi.
“Oiya, kita juga sekalian ajak calon Brand Ambassador Daintie yang baru, lho.” Ujar Emily melihat ke arah pintu masuk. “Biar sekalian kita bahas konsep promosi dengan BA-nya langsung ya.”
“Oya?” Bu Susanti tampak antusias.
“Ini Brand Ambassadornya belum resmi diumumkan ke publik,” timpal Yohan. “Nah, itu juga yang mau kita bahas untuk konsep promosi nanti.”
“Oh, boleh-boleh, ngomong-ngomong siapa sih BA-nya?” Tanya Bu Susanti penasaran.
Baru saja Yohan hendak menjawab, tiba-tiba sosok pria tampan blasteran pun memasuki ruang meeting tersebut dengan diikuti oleh seseorang yang tampaknya managernya. Sosok tersebut sangat familiar. Seorang aktor ternama yang membintangi sejumlah film, series, iklan, bahkan dulunya bermain beberapa judul sinetron. Aktor tersebut juga empat tahun berturut-turut memenangkan Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik. Usianya kini awal 30-an dan belum menikah.
Mulut para karyawan Aftive menggangga. Tak percaya seorang Mischa Alexander bersedia menjadi Brand Ambassador sebuah brand kosmetik lokal yang usianya bahkan belum ada 10 tahun.
Aktor tampan tersebut langsung tersenyum ramah kepada karyawan Aftive, kemudian diminta bersalaman oleh Yohan. Sontak Maya, Sarah, Jenny dan juga Ajeng langsung memekik histeris dan rebutan untuk bersalaman.
“Ya ampun ini Kak Mischa?” Pekik Maya tak percaya.
Pria bernama Mischa itu hanya tersenyum ramah. “Halo.”
“Maya jangan kayak gitu ah.” Tegur Bu Susanti.
Mereka semua hanya tertawa.
“Ayo-ayo silakan duduk.” Bu Susanti mempersilakan mereka semua untuk duduk usai Mischa menyalami semua karyawan Aftive.
Mereka semua langsung menempati posisi masing-masing. Kebetulan sekali Mischa Alexander duduk persis seberang Anjani. Seketika aktor tampan itu langsung menatap Anjani dan mengagumi kecantikannya. Ia tak sadar saat bersalaman tadi karena tertutup oleh teman-temannya yang lain. Arman yang pertama kali menyadari itu seketika merasa kesal. Maya, Sarah, Ajeng dan Jenny juga menyadari tatapan Mischa dan sontak mereka berempat saling mencibir.
Bu Susanti langsung membuka pertemuan itu. Kedua owner Daintie juga mengutarakan maksud kedatangannya.
“Jadi Daintie rencananya akan launching produk baru yang akan berkolaborasi dengan Mischa Alexander.” Ujar Emily. “Mengapa BA-nya laki-laki ‘kan ini brand kecantikan? Well, produk yang akan berkolaborasi dengan Mischa ini kebetulan adalah rangkaian skincare. Ini sekaligus mengedukasi, bahwa laki-laki juga butuh skincare, tidak hanya perempuan. Selain itu, kita semua tahu lah ya kalau fans Mischa ini ‘kan militan semua dan sesuai dengan target market kami.”
Mereka semua tertawa.
“Ah, i see.” Sahut Bu Susanti.
“Nah, kemarin rencana selain promosi offline, kita nih mau gencar promosi di berbagai platform online social media dan juga website.” Timpal Yohan.
Burhan selaku Digital Marketing Manager itu, kemudian langsung memberikan penjelasan secara general mengenai apa saja yang dapat Aftive lakukan. Pria yang usianya lebih tua dua tahun dari Arman itu meminta satu persatu anak buahnya agar dapat menjelaskan secara terperinci.
Mischa beberapa kali mencuri-curi pandang kepada Anjani. Pria itu sejak tadi sama sekali tak mendengarkan pembicaraan dalam meeting, dan gadis itu juga tak sadar.
“Mungkin pertama untuk Social Media, akan dijelaskan oleh Social Media Strategist, Anjani.” Ujar Burhan yang langsung menoleh ke arah Anjani. “Silakan Anjani.”
“Baik, Pak.” Anjani pun mengangguk dan langsung bangkit dari kursinya.
Ia hendak berjalan ke depan dan mau tak mau melewati belakang kursi Arman. Lagi-lagi tangannya tak sengaja mengenai punggungnya. Namun Anjani enggan ambil pusing dan lanjut berjalan mendekati LCD TV. Setelah menyambungkan bahan presentasinya dari ponsel ke layar LCD tersebut, ia langsung memulai presentasinya. Mischa yang tadinya malas-malasan mendengarkan para pimpinan berbicara, langsung semangat sekali begitu Anjani yang presentasi. Lagi-lagi Arman menyadari itu.
“Mengingat tujuan campaign yang tadi sudah disebutkan oleh Ci Emily dan Ko Yohan, berikut beberapa alternatif social media campaign yang kami tawarkan.” Anjani sambil menunjuk slide pada layar. Semuanya serius memerhatikan.
Anjani menjelaskan paket-paket Aftive kepada Daintie terlebih dahulu. Baru kemudian ia memberikan masukan terkait campaign Daintie.
“Saran kami, untuk teaser poster bisa dimulai dari dua minggu sebelum launching.” Lanjut Anjani. “Lalu kemudian disusul dengan teaser video. Seperti yang saya bilang tadi, kita bisa bantu untuk photo dan video shoot. Nanti bisa juga kami buatkan storyboardnya. Kita juga bisa sekaligus melakukan promosi pada website. Setelah promosi tayang, kami juga akan bantu informasikan insight-nya.”
Arman tak sadar jika sejak tadi dirinya hanya menatap gadis itu, mengagumi caranya berbicara yang terlihat smart. Gadis kecil yang dulu selalu ia jaga, kini sudah dewasa. Ia juga tak menyadari jika bibirnya menyunggingkan senyum. Anjani yang kebetulan melihat reaksi itu langsung berbunga-bunga. Arman yang menyadari telah terpergok langsung menggelengkan kepala kencang kemudian membuang muka.
“Sekian dari saya, barangkali ada pertanyaan?” Tutup Anjani.
“Kita oke deh ambil yang paket lengkap saja.” Ujar Emily. “Kayaknya lebih enak kalau sekalian dengan photo dan video shoot deh, ya? Saya juga sudah cek portofolio kalian dan percaya lah dengan kredibilitas Aftive. Lagian rumah BA kita juga dekat sini.”
“Wah, makasih … makasih banyak ya, Emily.” Ucap Bu Susanti.
“Paling storyboard saja yang dari kita.” Lanjut Emily.
“Baik.”
Selanjutnya giliran yang lain untuk mempresentasikan, dimulai dari Arman untuk pengembangan website, kemudian dilanjut oleh Jenny dan juga Roy.
Setelah selesai, para karyawan Daintie pun kemudian berpamitan sambil bersalaman satu persatu.
“Dari tadi saya mikir kok kayaknya pernah lihat kamu, ya? Dimana, ya?” Tanya Emily begitu bersalaman dengan Anjani.
“Oh, saya memang sering main-main ke kantor Daintie, Ci.” Sahut Anjani yang malu sendiri. “Saya ini temannya Mona, Creative Manager.”
“Oh, pantesan.” Emily tertawa. “Mona harusnya tuh ikut ke sini, tapi dia lagi ada kerjaan lain. Nah, pas banget kebetulan nanti kamu bakal sering tektokan dengan Mona.”
Anjani hanya mengangguk. “Iya, Ci.”
Setelah Anjani dan Emily selesai mengobrol, Mischa pun kemudian langsung menghampiri dan mengeluarkan modusnya untuk memulai percakapan dengan Anjani. Ia manfaatkan itu saat sedang bersalaman. Lagi-lagi Arman yang paling pertama sadar.
“Mbak Anjani, nanti kan kedepannya kita bakal sering kerja bareng, nih.” Ujarnya saat mereka berdua saling berjabat tangan. “Semoga semuanya lancar, ya.”
Anjani pun hanya mengangguk dan tersenyum sopan. “Iya, Kak Mischa. Semoga semuanya lancar.”
Maya, Sarah, Jennie dan Ajeng pun langsung mendelik.
“Mischa aja, nggak usah pakai Kak segala.” Kelakar aktor blasteran tersebut. “Oiya, saya boleh minta kartu nama kamu? Biar saya gampang hubungin kalau ada apa-apa.”
Keempat perempuan julid tadi kini membelalakan mata sambil saling berpandangan.
“Oh … saya ambil di meja dulu ya.”
“Oh,” Mischa langsung mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan kepada Anjani. “Atau tolong masukkan saja nomornya.”
“Baik.” Baru saja Anjani hendak menerimanya, Arman langsung menepis lengan gadis itu kemudian berdeham. Sontak Anjani tersentak.
“Maaf, Mas sebelumnya.” Ujar Arman lantang. “Hanya saja Mas itu nantinya akan lebih sering terkait dengan Roy, untuk photo dan video shoot.” Ia sambil menunjuk ke arah pria berkacamata tersebut. “Lalu soal storyboard ‘kan katanya pihak Daintie mau mengerjakan sendiri. Itu artinya, Mas sebenarnya lebih sering berhubungan dengan bagian Creative Daintie. Nah, Anjani ini nanti hanya bagian posting content di social media Daintie saja, jika photo dan video sudah final. Jadi tidak ada kaitannya.”
Mischa pun berusaha menahan rasa kesalnya.
“Tapi gapapa kalau mau contact dari pihak Aftive,” Arman kemudian bertanya kepada Roy. “Roy, kamu bawa kartu nama?”
“Wah, saya sudah lama nggak cetak kartu nama, Pak, karena selama ini jarang dibutuhkan.”
“Oh, gapapa … gapapa,” Arman kemudian mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya dan menyerahkannya kepada Mischa. “Ini kartu nama saya, bisa hubungi saya saja nanti.”
“Oh.” Mischa pun terpaksa menerima kartu nama tersebut kemudian membacanya sebentar. “Oke … Pak Arman, nanti saya hubungi kalau ada pertanyaan.”
Arman hanya memaksakan senyum. “Iya, jangan sungkan.”
Akhirnya semua rombongan Daintie dan juga Mischa keluar dari ruangan tersebut. Bu Susanti dan Burhan ikut mengantar mereka hingga lift. Para karyawan Aftive kembali ke aktivitas masing-masing.
Mischa yang berjalan paling belakang bersama managernya tersebut langsung berbisik, “gue mau lo dapetin nomor tuh cewek.”
“Ah, gampang itu.” Sahut managernya Mario yang gayanya sedikit tengil. “Kan lo denger sendiri tadi kalau dia temennya Mona.”
“Duh, kesel banget gue!” Keluh Mischa. “Padahal gue nyaris bisa dapetin nomornya kalau nggak gara-gara si Arman-Arman itu.”
“Jangan-jangan dia pacarnya … atau TTM.” Mario cekikikan.
“Kagak!” Ketus Mischa. “Emang lo nggak denger tadi? Dia ‘kan keluarga owner Febriant Group dan baru pulang dari Amerika kemarin. Masa baru bergabung udah langsung pacaran?”
“Yaelah! Lo aja baru ketemu beberapa jam langsung naksir, nah kalo dia udah naksir dari kemarin.” Mario cekikikan. “Kalau yang cantik dan berkelas gitu mah banyak yang antri, Bro. Bisa jadi si Anjani ini juga udah punya pacar.”
Mischa tiba-tiba saja melihat Anjani yang berjalan sendirian di salah satu lorong. Ini kesempatan bagus baginya untuk melakukan pendekatan. Baru saja hendak menghampiri, tiba-tiba ia dikerubungi oleh karyawan Aftive terutama yang perempuan untuk meminta foto. Alhasil gagal lagi mendekati gadis itu.