Ancaman Arman

1276 Kata
Anjani berusaha mengejar Arman yang sedang berjalan menusuri lorong hendak ke toilet. Ia buru-buru memanggil pria itu dengan lantang sebelum pria itu memasuki toilet. “Mas Arman!” Ia setengah berlari untuk menghampirinya. Mendengar suara tersebut, Arman langsung menghentikan langkahnya. Ia terdiam sejenak, menundukkan kepalanya, kemudian dengan perlahan membalikkan badan. Dilihatnya gadis itu terengah-engah. Seketika ia merasa kasihan. Ingin rasanya ia menawarkan gadis itu minum terlebih dulu atau … hal yang seharusnya dilakukannya sejak kemarin seperti menanyakan kabar dan bagaimana kehidupannya selama 15 tahun ini. Wajahnya selalu cantik alami sejak dulu. Tubuhnya yang mungil, kulit putih bersih meski tanpa perawatan mahal dan mata besarnya yang selalu berbinar-binar. Gadis itu kini sudah tiba di depannya dengan wajah menyimpan 1001 pertanyaan. “Mas … tolong jangan pura-pura nggak kenal Anjani lagi.” “Ya kita memang saling kenal. Baru kenal kemarin, kan?” Sahut Arman santai. “Mas Arman … Anjani tahu Mas masih peduli sama Anjani.” Ujar gadis itu dengan nada memelas. “Anjani salah apa ya, Mas? Kalau ada salah Anjani minta maaf. Tapi setidaknya kasih Anjani penjelasan, kenapa Mas Arman tiba-tiba menghilang dan nggak ada kabar? Kenapa Mas nggak pernah bilang kalau selama ini tinggal di rumah istana itu?” Arman tak langsung menjawab. Ia hanya terus menatap gadis itu dengan ekspresi yang … entahlah tak bisa terbaca. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Anjani menunggu jawaban pria itu dengan penuh harap. Wajah memelasnya itu terlihat semakin imut dan menggemaskan. “Maaf ya, Anjani, saya bukan Arman yang kamu maksud, kamu salah orang.” Lagi-lagi pria itu menyangkal. “Sudah, kamu kerjain sana yang tadi disuruh Bu Susanti untuk bikin social media plan Daintie! Oiya saya peringatkan kamu sekali lagi, ya. Ini terakhir kalinya ya panggil saya Mas! Tolong panggil saya Pak Arman!” Pria itu langsung membalikkan badan dan kembali berjalan menuju toilet. Anjani hanya mampu memandangi lemas punggungnya, tanpa mampu berbuat apapun. Masih belum berhasil juga hari ini. Ia hanya pasrah dan mungkin masih akan mencobanya di lain waktu. *************** “Gue kesel banget, deh!” Gerutu Sarah. “Pas meeting tadi, Mischa Alexander lirik-lirik Anjani mulu.” “Serius lo?” Tanya Selvy nyaris tak percaya. “Ember!” Timpal Ajeng. “Udah gitu matanya bener-bener nggak mau lepas.” Seluruh anggota grup ghibah kantor Aftive, minus Sonia, kini sedang makan siang bersama di salah satu cafe gedung kantor. Anggota grup tersebut terdiri dari Selvy, Sonia, Sarah, Maya, Dicky, Damar, Jenny, Ajeng, Irene dan seorang dari bagian HRD, Michelle. Hanya di cafe tersebut mereka bisa dengan leluasa membicarakan orang kantor, karena karyawan Aftive jarang yang mau makan di tempat tersebut. “Sonia belum balik kantor, nih?” Tanya Maya. “Belum!” Sahut Selvy. “Udah … udah lanjut lagi.” “Oiya, lo pada tahu nggak kenapa tadi gue tiba-tiba manas-manasin supaya anak-anak minta foto Mischa?” Tanya Maya. “Dia tadi hampir aja mau ngejar Anjani.” “Ih, harusnya mah biarin aja.” Timpal Damar. “Biar Mischa ini tahu lebih cepat aslinya Anjani gimana. Ntar dia juga ilfeel sendiri.” Mereka kemudian jadi mengungkit-ungkit masa lalu. “Ngomong-ngomong dia masih suka minta duit sama kalian?” Tanya Michelle. Mereka tak sadar kalau Arman sejak tadi ada di sana mendengar semua percakapan mereka. Namun pria itu duduk di balik dinding samping mereka sehingga tak ada yang melihat. “Well … bukan minta sih ya,” sahut Selvy. “dia sih nggak pernah minta secara terang-terangan, tapi lebih ke … cerita secara halus saja soal struggling-nya dia dan Mona waktu baru keluar dari panti. Dia dulu tuh kuliah sambil kerja part time.” “Kerja apa?” Tanya Jenny. “Macam-macam, mulai dari SPG, Waitress, Asisten Dosen sampai Guru Les.” Sahut Selvy. “Terus dia juga sering cerita kalau keuangan panti sempat mengalami kesulitan, anak-anak di sana sering sakit dan prosesnya tahu sendiri kalau pakai BPJS. Dari situ ‘kan ketahuan kalau dia minta sumbangan secara halus. Terus karena kita pura-pura bego, mungkin dia pakai uangnya sendiri kali, ya?” “Oh gitu.” Timpal Ajeng. “Eh, ngomong-ngomong itu tadi pagi beneran dia kasih sesuatu buat Pak Arman?” “Hmmm ada lagi sih yang bikin heboh daripada itu,” ujar Maya, “tebak dong tadi pagi dia sarapan apa?” “Oh tau gue! Nasi uduk yang harga tujuh ribuan ‘kan?” Celetuk Dicky sambil bergidik. “Yang jorok banget itu? Terus nggak pakai lauk, cuma sama bakwan goreng doang?” “Nah, bener tuh!” Maya langsung menunjuk-nunjuk Dicky. “Itu sarapan dia hampir tiap hari tau!” Timpal Dicky. “Dih, padahal gaji dia kan gede.” Celetuk Michelle. “Biar apa coba dia ngirit banget begitu? Kan kalau dia sakit dan harus berobat, HRD juga yang repot ngurusin. Dia ‘kan bolak balik pingsan karena punya anemia atau darah rendah gitu.” “Dia emang sering gitu,” sahut Selvy. “Sekarang aja makan siang paling cuma makan di pantry. Kalau nggak makan mie instant yang gratis dari kantor, paling cuma beli nasi, ikan tongkol sama sayur aja dari warteg. Pernah juga ditanya sama Sonia, kok lo makan cuma begini doang? Dia bilang gajinya sebagian besar untuk panti.” “Makanannya nggak sehat dan kurang gizi, tapi kok tetap bisa cerdas, ya?” Dicky tertawa mencemooh. “Harusnya ‘kan susah berkonsentrasi.” Damar kemudian menambahi. “Dia juga cerita, katanya kalau dulu waktu ndese masih kecil ada donatur tetap jadi hidupnya masih terjamin. Tapi sekarang donaturnya udah nggak rutin kasih uang lagi kalau nggak salah.” “Kalau bantu orang tuh harusnya cukupin kebutuhan diri sendiri dulu nggak, sih?” Tanya Irene heran. “Masalahnya dia nolongin orang, tapi nyusahin orang lain lagi.” Timpal Maya. “Nah, bener banget tuh!” Tiba-tiba saja terdengar suara dehaman keras seorang pria dari balik dinding samping mereka. Mereka semua langsungterdiam dan melihat ke arah dinding tersebut dengan bingung. Kemudian sosok pria tinggi tampan yang sudah mereka kenal, muncul dari balik dinding tersebut. Sontak mereka semua tersentak. Sarah pun langsung berdiri dan tersenyum sopan. “Si … siang, Pak Arman. Bapak ada di sini juga?” Arman hanya menatap Sarah dan lainnya dengan ekspresi datar, membuat semuanya semakin ketakutan. Mereka sendiri juga bingung kenapa harus takut? Padahal ‘kan tidak ada yang menjelekkan dirinya maupun keluarga Febriansyah. “Kalian nih emang biasa bermuka dua gini atau gimana?” Ketusnya. “Di depan orangnya baik, tapi di belakang pada ngomongin.” Mereka semua hanya menunduk diam. “Ya, emang sih ini sedang jam istirahat dan hak kalian juga mau melakukan apa, tapi tolonglah, jangan membawa energi negatif ke kantor.” Ketusnya lagi. “Saya dengar dari Bu Susanti, orang yang kalian jelek-jelekin tadi … lebih banyak membawa kontribusi buat perusahaan daripada kalian. Kalian kalau besok mau resign juga kita bertiga nggak ada yang peduli, banyak yang bisa menggantikan.” Arman menghela napas sejenak dan mereka semua masih memasang wajah ketakutan. “Tapi kalau Anjani … wah, Bu Susanti pasti berusaha nahan-nahan dia bahkan rela naikin gaji.” Arman sambil tertawa mencemooh. “Kalian yang tadi ikut meeting emang pada nggak lihat? Dia bikin Daintie terkesan dengan penjelasannya lho, sedangkan presentasi yang lain standar banget.” “Ma … maafin kami ya, Pak.” Ujar Maya terbata. Arman tak menggubris. “Tapi ada bagusnya juga, sih,” lanjut Arman, “berkat informasi dari kalian, mungkin saya akan ajuin ke Bu Susanti … bila perlu ke Oma saya untuk naikin gaji Anjani. Sedangkan kalian … tidak pernah ada kenaikan setiap tahunnya, karir stuck sampai kalian nggak betah terus akhirnya keluar. Saya ingat-ingat semua wajah kalian.” Arman kemudian langsung pergi begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN