Mereka yang Tak Senang

1360 Kata
Usai meeting, Anjani langsung kembali ke meja kerjanya. Ia masih tak menyangka kalau dirinya mendapat promosi setelah tiga tahun bekerja, bahkan mengalahkan seniornya. Dirinya merasa senang sekaligus was-was. Senang karena gaji naik dan was-was karena otomatis tanggung jawabnya akan bertambah. Ia juga harus mengurusi empat orang anak buah. Sebentar! Itu artinya nanti, ia akan langsung melapor kepada Arman? Ah, berarti mereka juga akan lebih sering berinteraksi dan barangkali saja itu bisa mengakrabkan hubungan mereka kembali. “Telepon Mona, ah!” Cetusnya tiba-tiba. Ia langsung meraih ponselnya, mencari kontak Mona dan menekan tombol panggil. Ia meletakkan ponsel pada telinganya dan tak butuh waktu lama bagi sahabatnya itu untuk menjawab. “Halo, An.” Sapanya. “Mon, gue punya kabar baik. Tebak apaan?” Anjani sambil tersenyum lebar meski sahabatnya itu tak dapat melihat. “Apaan? Lo abis menang lotre?” Sahut Mona asal kemudian terkekeh. “Gue di promosi jadi Social Media Lead.” Anjani memekik pelan agar tak mengganggu karyawan lain. “Wuihhhh, congrats ya, An,” Mona tak kalah antusias, “lo emang layak lah dapetin itu semua. Andaikan lo kerja di Daintie, pasti udah jadi atasan gue kali.” “Nggak juga lah!” Anjani kemudian bercerita mengenai Bu Susanti yang akan pindah dan siapa saja yang dipromosi jabatan. “Berarti Arman jadi atasan lo langsung, dong?” Nada Mona terdengar tak suka. “Masih mending kalau dia CEO nya.” “Justru bagus.” Anjani tampak sumringah. “Kali aja dengan semakin sering berinteraksi dengan Mas Arman, pelan-pelan kita bisa dekat lagi kayak dulu.” Mona menghela napas. “An, inget pesan gue! Kalau di tempat kerja, lo tetap profesional ya, interaksi seperlunya aja masalah kerjaan. Arman yang lo kenal sekarang itu, bukan lagi Arman yang dulu.” Mona sebenarnya sudah capek menasihati sahabatnya itu. Anjani malah terus menyerocos. “Eh, lo ingat nggak sih, Mon? Waktu gue keterima di beberapa perusahaan di Sudirman termasuk Aftive. Gue tuh nggak pakai pikir panjang langsung pilih di sini, kan? Sudah kayak panggilan hati aja gitu gue pilih kerja di Aftive. Ternyata takdir memang mempertemukan kita lagi di sini.” Ia sambil memekik riang. “Bukan sih, An. Itu kan perusahaan impian lo sejak kuliah.” Sanggah Mona. “Oiya, lo nggak lihat langsung, sih. Dia itu diam-diam sering merhatiin gue. Terus nih … dia juga berusaha ngelindungin gue saat Mischa Alexander mau genit minta nomor telepon. Dia juga katanya konfrontasi grup chat ghibah kantor waktu mereka lagi ngomongin gue. Makanya yang akhirnya dipromosi itu gue bukan Selvy. Pasti Mas Arman yang usulin ke Bu Susanti.” Yah, Anjani akhirnya mengetahui kalau banyak yang tak menyukainya di kantor dan sering membicarakannya di belakang. Namun, ia tak peduli karena sudah sering merasakan keras dan pahitnya hidup. “Nggak tau aja mereka kalo waitress café yang waktu itu jaga shift, itu teman kosan gue.” Lanjut Anjani. “Tadi juga Mas Arman pengen ketawa gara-gara tingkah konyol gue pas meeting, tapi gue tahu tuh dia berusaha nahan dan mukanya sok-sok garang. Intinya dia masih peduli sama gue.” Mona hanya memutar bola mata dan masih berusaha tak mengungkap rahasia Arman. ******** Sementara Maya, Sarah, Sonia dan juga Selvy langsung ke pantry kantor untuk mengeluarkan segala amarah. “Lo berdua gimana, sih? Ngasih info nggak akurat.” Tuding Selvy kepada Maya dan juga Sarah. “Lo pikir gue juga mau masuk tim Socmed?” Balas Sarah tak kalah sewot, “di bawah Anjani?” “Berarti yang waktu itu kita dengar memang belum final.” Timpal Maya sambil memandang kosong. “Padahal gue lho yang lebih dulu masuk” Ujar Selvy kesal. “Inget banget waktu dia baru masuk, gue yang training, gue yang ajarin dia semuanya. Sekarang malah dia yang jadi atasan gue.” Sementara Sonia hanya mondar-mandir dengan wajah lemas. “Gue udah feeling sih, waktu Anjani yang ditunjuk ikut meeting dengan Daintie.” Selvy bersungut-sungut. “Kayaknya nggak merubah apa-apa deh kalau kita cuma ngomel di sini.” Ujar Sonia. “Kita harus ke ruangan Ibu sekarang dan tanya kenapa promosi ini terkesan nggak adil.” “Ya sudah, kalau mau cepetan sekarang,” ujar Maya yang merupakan Asisten Bu Susanti, “ibu sebentar lagi mau keluar dan nggak balik kantor lagi. Besok juga hari terakhir Ibu, pasti bakal sibuk banget untuk take over.” “Ah, ini gara-gara lo pada, sih,” Sonia menuding ketiga temannya. “Lo kalo mau ghibah lihat-lihat tempat, dong. Emang waktu itu kalian nggak ada yang ngeh kalau ada Pak Arman? Gila, masa gue yang harus turun jabatan!” “Ya mana kita tahu … kan kehalang tembok.” Ucap Selvy tergagap. “Tiba-tiba aja Pak Arman muncul depan meja kita.” Sonia tampak berpikir sejenak. “Berarti itu artinya kita ngomongnya ke Pak Arman, bukan ke Bu Susanti.” “Iya juga, sih,” timpal Sarah, “lagipula kalau berdasarkan struktur organisasi, ya harusnya ke Pak Arman dulu.” “Iya, saya ada di sini.” Tiba-tiba ada suara pria memasuki pantry yang sontak mengagetkan mereka. “Mau ngomong apa sama saya?” Tanyanya santai sambil hendak membuat kopi. “Kalian kok bukannya kerja malah ngerumpi di sini?” Melihat Arman hendak membuat kopi, Sarah langsung mendekat dan menawarkan bantuan. “Biar saya saja yang buatkan kopinya, Pak. Nanti saya antar ke meja.” “Udah saya lagi mau bikin sendiri, sambil dengerin apa yang akan kalian sampaikan.” Ujar Arman sambil mengambil cangkir. “Silakan.” Sonia pun mendekat terlebih dulu. “Maaf, Pak, kalau kami lancang, tapi kami merasa promosi ini tidak adil.” “Hmmm … bagian mana yang tidak adil?” Sahut Arman santai sambil mengutak-atik mesin kopi. “Saya merasa dirugikan karena seharusnya saya bisa berada di posisi IT Project Manager. Mungkin Bapak sudah mendengar kalau background saya IT. Bu Susanti dan Pak Burhan juga sudah melihat portofolio saya. Saya juga jauh lebih berpengalaman daripada Reza. Lalu kenapa Bapak lebih memilih Reza, ya? Terus kenapa saya jadi turun jabatan? Tau begitu ‘kan, saya tetap saja di Social Media Lead.” Arman yang sudah selesai membuat kopi, duduk di salah satu kursi, menyeruputnya sejenak kemudian meletakkan cangkir di atas meja. “Jadi … Sonia, kemampuan kamu itu masih jauh di bawah Reza.” Sahut Arman santai. “Masih harus banyak belajar lagi. Ini saya ngomong apa adanya saja, ya.” “Kalau begitu, kenapa saya nggak tetap di Social Media Lead saja, Pak?” “Saya juga keberatan, Pak.” Timpal Selvy. “Anjani itu junior saya, masa tiba-tiba dia mimpin saya.” “Saya juga kenapa ada di tim Social Media, Pak?” Kini Sarah yang protes, “pendidikan saya ‘kan Sekretaris. Berarti itu artinya saya harus mulai lagi dari awal?” Arman langsung tertawa geli. “Oke-oke saya jawab satu persatu, ya. Untuk Sonia dan Selvy, kalian sama-sama tidak pantas menjadi team leader.” Baik Sonia dan Selvy langsung memasang wajah kecut. Tak menyangka kalau mulut atasan mereka ini tak ada filter. “Anjani jauh lebih layak karena dia sangat pintar bahkan jenius, lulusan universitas ternama, daya analisa tajam, inisiatif tinggi, memiliki etos kerja dan attitude yang baik. Karyawan dengan kualitas seperti itu yang cocok menjadi team leader, atau mungkin … kedepannya bisa menggantikan posisi saya kalau saya sudah tidak di Aftive lagi.” Arman jeda sejenak. “Kalian berdua tidak memiliki kualitas seperti itu.” Ujar Arman tanpa tede aling-aling. Contoh saja sekarang, jam kerja kalian malah ngerumpi di sini. Sedangkan Anjani, langsung ke meja kerjanya begitu kelar meeting. Produktivitas kalian itu rendah.” Baik Sonia dan Selvy langsung tak dapat berkata-kata dan wajah mereka semakin memucat. “Sedangkan kamu Sarah,” lanjut Arman. “Saya nggak mau orang bermuka dua yang menjadi Asisten saya. Apalagi nanti ketika saya panggil kamu, kamu malah lagi ngerumpi di pantry.” Sarah juga tak dapat berkata-kata. Arman langsung bangkit dari kursinya hendak keluar. “Seperti yang saya bilang kemarin, kalau kalian keberatan, silakan mengundurkan diri. Tapi asal kalian tahu saja, kalian mau pindah kemana pun, saya pasti kenal dengan petinggi di sana. Kalau kalian resign dalam keadaan tidak baik-baik, saya akan berikan rekomendasi buruk.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN