Promosi Anjani

1506 Kata
Sudah dua minggu berlalu dan besok akan memasuki bulan Ramadan. Arman ternyata tak memiliki nyali membuat Anjani keluar dari Aftive. Anjani juga hingga saat ini masih belum berhasil mendekati Arman lagi. Setiap mencoba mendekat, Arman berkali-kali menghindar. Anjani kini sedang berada di meja kerjanya tengah sibuk mengerjakan sesuatu. Seluruh anggota tim nya lengkap berada di sana. “Dicky, jangan lupa ya jadwal hari ini upload teaser i********: dan t****k Daintie.” Perintah Anjani kepada Dicky. “Yang kolaborasi produk Daintie X Mischa Alexander.” Pria berkacamata tersebut langsung menoleh kepada Anjani. “Aman, Kak, udah di schedule, kok. Nanti akan otomatis tayang.” “Siap. Nanti seperti biasa kamu cek insightnya, berapa orang yang view, like, terus comment-nya seperti apa.” “Iya, Kak.” Anjani masih sering mencuri-curi pandang ke arah meja Arman hingga saat ini. Pria itu kini tampak sedang sibuk diskusi dengan tim nya. Arman sebenarnya juga diam-diam sering melihat ke arah mejanya. Pernah beberapa kali mata mereka bertemu dan biasanya Arman yang pertama kali membuang muka. Sering juga Anjani mencurahkan semua isi hatinya kepada Mona hingga menduga-duga segala kemungkinan yang terjadi. “Oh, atau jangan-jangan … Mas Arman marah kali ya gara-gara gue udah nggak pakai gelang hadiah dari dia pas ultah gue ke-10. ‘Kan waktu itu hilang pas ospek kampus.” Ujar Anjani saat itu. Mona yang mendengar itu langsung tertawa geli. “Yaelah, An. Dia nggak ngabarin lo kan, sejak dari dia meninggalkan panti. Terus waktu pertama kali kalian ketemu lagi di Aftive, emang yang pertama kali dia lihat tangan lo? Nggak lah, bukan karena itu.” “Iya sih nggak mungkin.” Anjani hanya menggaruk-garukkan kepalanya. “Terus kenapa, dong?” Itu baru salah satu dari dugaan Anjani, dan masih banyak lagi dugaan-dugaan absurd lainnya. Tiba-tiba saja Sarah dan Maya menghampiri meja divisi Social Media dan langsung berbisik heboh. “Guys, denger-denger mau ada rotasi karyawan.” Bisik Maya. Sontak Sonia, Selvy, Dicky dan Damar langsung mendekat, sedangkan Anjani cukup bisa mendengar dari tempatnya duduk. “Hah, serius?” Tanya Sonia. “Siapa saja?” “Kalau yang gue denger sekilas dari para petinggi sih, Bu Susanti dipindah ke perusahaan lain di Febriant Group.” Ujar Sarah. “Nah, katanya yang gantiin beliau tuh langsung Pak Arman bukan Pak Burhan.” Anjani yang mendengar itu langsung tersentak. “Oya?” Sahut Selvy. “Terus siapa yang gantiin beliau jadi IT Project Manager?” Maya dan Sarah pun langsung saling berpandangan sambil tersenyum lebar. “Coba tebak siapa?” Maya menaik turunkan alisnya. Sonia mengernyitkan dahi. “Siapa, sih?” Maya dan Sarah semakin memelankan suaranya dan melihat sekeliling. “Ini baru hasil nguping dari pembicaraan sementara Bu Susanti, Pak Arman dan Pak Burhan, ya … Son, background lo itu sebenarnya IT ‘kan?” Tanya Sarah, “dan dari dulu pengen banget ada di divisi itu?” “Ho oh.” Sonia hanya mengangguk. “Nah, katanya elo bakal di pindah ke IT dan langsung jadi IT Project Manager.” Maya tersenyum lebar memberitahukan kabar gembira tersebut. “Hah!” Sonia langsung memekik kencang. Sontak hampir semua menoleh ke arahnya. “Psssttttt.” Sarah menempelkan telunjuk pada bibirnya. “Jangan heboh dulu. Tunggu sampai ada pengumuman resmi dari Ibu.” “Elo serius?” Mata Sonia terbelalak. Nadanya sedikit ia pelankan. “Weitsss, nggak cuma itu kejutannya.” Maya menyengir lebar. “Selvy yang bakal gantiin lo di sini.” Selvy juga ikut memekik. “Serius lo?” “Ya iyalah!” Sahut Maya yang begitu yakin. “Kan elo yang paling senior diantara Anjani, apalagi Dicky dan Damar.” “Terus nasib lo berdua gimana?” Damar penasaran menanyakan nasib Maya dan Sarah. “Ikut bos lama atau bos baru?” “Atau nggak dua-duanya.” Canda Dicky yang diikuti oleh tawa Damar. Sontak Maya dan Sarah langsung memelototi kedua pria yang mulutnya lemas tersebut. Tiba-tiba saja Burhan keluar ruangan dan menghampiri area meja para karyawan. “Semuanya … tolong kumpul di hall sekarang!” Perintahnya tanpa basa-basi. “Baik, Pak.” Semuanya pun langsung bersiap hendak menuju hall. “Nah, kayaknya sekarang nih pengumumannya.” Bisik Maya. ************* Semua karyawan kini sudah duduk rapi berkumpul di hall. Bu Susanti berdiri di depan bersiap memberikan pengumuman. “Selamat pagi, semuanya.” “Pagi, Bu.” Sahut para karyawan kompak. Bu Susanti terdiam sejenak, melihat kepada seluruh karyawan kemudian tersenyum. “Ini mendadak sekali, tapi dengan berat hati harus saya sampaikan … bahwa besok lusa saya akan terakhir berada di Aftive.” Para karyawan pun langsung berseru kecewa. Mereka begitu menyukai Bu Susanti yang baik hati dibandingkan putranya. “Mau kemana, Bu?” Tanya salah seorang karyawan masih dengan nada kecewa. “Tenang saja saya masih di gedung ini, kok. Di Febriant Land, jadi masih bisa sering-sering ketemu kalian.” Mereka pun hanya mengangguk. “Oke, karena saya mau pergi, tentu harus ada yang gantiin saya dong.” Lanjut Bu Susanti. “Nah, yang akan menggantikan saya adalah … Burhan.” Sarah, Maya dan Divisi Social Media yang tadi diberitahu langsung tersentak dan saling berpandangan, kecuali Anjani yang tampak tak terpengaruh. Karyawan lain hanya mengangguk-angguk meski dalam hati dongkol juga kini harus memiliki CEO yang kaku dan kurang bersahabat. Ah, tapi biasanya ‘kan interaksi dengan CEO juga jarang. Para karyawan lebih sering berinteraksi dengan Digital Marketing Manager yang membawahi langsung semua divisi. Mereka juga sekaligus merasa lega. “Dan yang akan saya tunjuk menjadi Digital Marketing Manager adalah … Arman.” Para karyawan kembali mengangguk. Setidaknya Arman masih lebih bersahabat dibandingkan Burhan. “Berarti akan ada beberapa karyawan yang saya promosikan,” lanjut Bu Susanti. “Pertama yang akan menggantikan Pak Arman sebagai IT Project Manager adalah …” Bu Susanti menggantung kalimatnya sejenaknya. Selvy langsung menggoda Sonia yang duduk di sebelahnya. “Ciee … cieee, calon IT Project Manager.” Bisiknya. “Psssttttt.” Sonia meletakkan telunjuk di mulutnya. “Reza.” Ujar Bu Susanti. Sontak Sonia dan Selvy pun tersentak dan wajahnya berubah kecewa. Sedangkan tim IT termasuk Arman langsung bersorak sorai dan menyelamati Reza. Wajah Reza tampak kaget tak percaya. “Selamat ya, Reza,” ucap Bu Susanti sambil tersenyum, “sebenarnya memang kamu yang harusnya langsung menggantikan Angga kemarin, tapi sementara biar Arman dulu di sana untuk melihat kesiapan kamu.” “Makasih … makasih banyak, Bu.” Ucap Reza penuh rasa syukur. “Makasihnya ke Pak Arman, dong. Karena beliau yang meyakinkan saya kalau kinerjamu bagus.” Bu Susanti tersenyum. Reza langsung menoleh ke Arman yang duduk di sebelahnya dan mengucapkan terima kasih. Arman terlihat menepuk-nepuk pundak pria muda berkaca mata tersebut. “Selanjutnya … saya harus memindahkan satu orang ke divisi IT.” Lanjut Bu Susanti. “Dan orang itu adalah … Sonia.” Sonia hanya lemas dan memaksakan senyum kepada Bu Susanti. Wajahnya pucat karena itu artinya dia akan turun jabatan. Gagal sudah impiannya menjadi IT Project Manager. “Sonia, kamu sudah lama ‘kan pengen banget ada di divisi IT?” Tanya Bu Susanti. “Ayo buktikan kalau kamu bisa.” “I … iya, Bu. Terima kasih.” Sahutnya terbata. “Berarti itu artinya … akan ada yang menggantikan Sonia sebagai Social Media Lead, tentunya yang akan membawahi Divisi Social Media, dan orang itu adalah … “ Bu Susanti jeda sejenak sambil senyum-senyum ke arah Divisi Social Media. Selvy pun sudah sangat siap namanya akan disebut. “Anjani.” Ujar Bu Susanti. Selvy dan Sonia lagi-lagi dibuat shock, terutama Selvy yang posisinya dilangkahi oleh juniornya. Tak hanya mereka, tapi juga Dicky, Damar, Sarah dan juga Maya. “Hah!” Anjani langsung memekik kencang. Ia begitu kaget dan tak menyangka karena namanya yang akan disebut. Sontak hampir semuanya termasuk Bu Susanti malah tertawa melihat reaksi Anjani tersebut. Anjani walaupun cerdas, juga terkenal polos, kikuk dan lucu yang terkadang menjadi bahan candaan teman-temannya. Arman juga sebenarnya ingin tertawa, namun wajahnya kini berpura-pura tak peduli. “Dimana-mana, karyawan kalau di promosi itu senang kayak Reza tadi, tapi kok kamu malah kaget?” Bu Susanti masih sambil tertawa. “Eh … iya … iya, Bu. Makasih, Bu.” Ucap Anjani yang duduk di barisan nomor empat dengan rasa syukur. “Oke, selanjutnya … untuk Maya, nanti akan tetap menjadi Asisten CEO, Burhan.” Lanjut Bu Susanti. “Sedangkan … karena Arman akan membawa Asisten sendiri dari luar, makan Sarah akan masuk ke Tim Social Media di bawah Anjani.” Wajah Sarah tampak kecewa, namun ia hanya memaksakan senyum kepada Bu Susanti. “Semuanya ini akan efektif besok lusa dan besok saya terakhir menjadi CEO di sini.” Semuanya kembali sedih. “Nah, kebetulan kan besok sudah mulai puasa nih,” lanjut Bu Susanti. “Besok kita akan buka puasa bersama, sekaligus perpisahan saya di rumah kami di Benhill. Semuanya diharap hadir ya.” Para karyawan tampak bersorak riang. “Baik, Bu.” “Nanti biar Maya yang share alamat saya ke kalian.” Harusnya Anjani senang karena akhirnya besok bisa memasuki rumah istana. Namun kalah dengan rasa senangnya mendapat promosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN