Hari ini adalah hari di mana aku akan menghadiri interview di perusahaan Adireja. Aku sudah tampil fresh dengan setelan blezerku. Sepagi ini pintu kontrakan depanku masih tertutup padahal biasanya pasti sudah terbuka. Selama dua minggu ini, aku dan Bang Danes selalu berangkat awal pagi. Namun sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, lelaki itu tidak kelihatan batang hidungnya. Gerobaknya teronggok tanpa isi di depan kontrakannya. “Assalamu’alaikum!” Aku mengetuk pintu kontrakan yang kini masih tertutup rapat. Aku takut dia kesiangan berjualan. Namun tetap masih sepi. Tidak ada jawaban apapun hingga aku mengulangnya berkali-kali. Pada ketukan kelima, barulah pintu itu terbuka. Kulihat Kakek muncul dengan wajah masih mengantuk. “Eh Kakek, maaf ganggu pagi-pagi … Bang Danes apa ti

