“Hilang, kumohon hilanglah dari kulitku.” Elara terus menggosok lengannya dengan spons mandi hingga kulit putih itu memerah meradang di bawah guyuran air dingin. Ia berdiri di bawah pancuran dengan gaun sutra yang masih melekat, membiarkan kain basah itu menempel berat pada tubuhnya yang bergetar. Aroma cendana milik Arlo Danendra seolah telah meresap jauh ke dalam pori-porinya, menolak untuk luruh meski ia sudah menggunakan sabun berulang kali. Rasa mual terus menghantam ulu hatinya, menciptakan sensasi kotor yang menjalar dari permukaan kulit hingga ke dasar jiwanya. Ia jatuh terduduk di lantai kamar mandi yang basah, menyembunyikan wajah di antara kedua lutut yang lemas. Setiap inci tubuhnya terasa seperti membawa beban dosa yang tidak akan pernah bisa ia cuci bersih selamanya. Memori

