“Berdirilah dengan tegak, Elara. Jangan buat aku malu di depan rekan bisnis ayahku.” Kalandra merapikan dasinya di depan cermin besar yang menghiasi lobi kediaman utama Altamis. Suaranya dingin, tidak memiliki nada kasih sayang meski mereka akan menyambut tamu dalam pesta syukuran bisnis malam ini. Elara hanya mengangguk kecil, jemarinya meremas tas tangan satin miliknya hingga kain halus itu sedikit berkerut. Ia mengenakan gaun berwarna gading pilihan Aruna, sebuah pakaian yang membuatnya merasa seperti pajangan yang siap dipamerkan. Aroma lilin aromaterapi dan parfum mahal memenuhi aula besar yang mulai dipadati oleh orang-orang paling berpengaruh di Jakarta. Elara berdiri di samping Kalandra, memaksakan senyum tipis setiap kali ada kolega yang memberikan ucapan selamat atas rencana pe

