"Rania, aku dan kedua orang tuamu sudah berunding dalam hal ini dan mereka dengan penuh keyakinan ingin menikahkan kamu dengan putraku. Aku hanya ingin mewujudkan keinginan mereka," jelas Ardi begitu berusaha keras meyakinkan Rania, karena sebagai seorang sahabat. Dia ingin melakukan permintaan terakhir sahabatnya.
"Om Ardi benar, Rania. Ini permintaan terakhir kedua orang tua kamu," timpal Rian yang membela Ardi agar Rania mau menerima perjodohan ini. Rian pun setuju dengan perjodohan antara Rania dan Galih, karena Rian yakin apa yang dilakukan oleh kakaknya sebelum kecelakaan itu terjadi demi kebaikan Rania kedepannya.
Lagi-lagi Rania menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau dijodohkan. Hatinya hanya untuk Elvan. Lagi pula, Rania sedang hamil yang tentunya anak kekasihnya sendiri. Jadi, dia tidak mungkin menikah dengan pria bernama Galih itu.
"Rania, ini permintaan terakhir kedua orang tua kamu. Mau tidak mau, kamu harus mengabulkan permintaan mereka. Rian yang terus berusaha membujuk Rania.
Rania tidak akan meninggalkan Elvan hanya karena permintaan kedua orang tuanya yang cukup konyol. Kedua orangtuanya tahu jika Rania tidak suka dipaksa. Selama ini, hidup Rania terkekang dengan segala peraturan dan keinginan mereka yang harus selalu dituruti oleh Rania. Sekarang, setelah mereka tidak ada pun, Rania tetap hidup terkekang dengan permintaan mereka yang tidak akan pernah mungkin Rania lakukan.
"Maaf, tapi aku tetap tidak bisa melakukannya seberapa besar pun kalian membujukku." Rania berkata tegas.
Rian dan Ardi hanya bisa menghela napas panjang. Mereka kecewa dengan keputusan yang Rania buat, tapi Rania melakukan semua ini karena memang tidak ingin mengkhianati kekasihnya sendiri.
"Sudahlah, ayah. Mau bagaimana lagi? Kita bisa memaksanya. Jika Rania tidak mau, ya, sudah. Setidaknya, kita sudah berusaha mengabulkan permintaan terakhir Om Farhan." Kali ini Galih yang bicara mencoba menenangkan sang ayah.
Setelah berbincang cukup lama. Akhirnya, laki-laki itu angkat suara. Rania mengamati setiap gerak-geriknya dengan seksama, mencoba menangkap setiap ekspresi yang terpancar dari wajahnya. Galih menatap Rania dengan tatapan lembut, seakan-akan memahami betapa sulitnya bagi Rania untuk mengambil keputusan yang tepat.
Meskipun lamarannya baru saja ditolak mentah-mentah oleh Rania, tidak ada rasa dendam yang terbesit di hati Galih. Ia tetap memandang Rania dengan penuh pengertian, walaupun wajahnya terlihat datar dan kecewa. Galih menerima keputusan Rania dengan lapang d**a, menyadari bahwa cinta tidak bisa dipaksa.
"Sebentar, Galih. Kita tidak bisa menyerah begitu saja," balas Ardi yang tidak akan pergi Sebelum Rania bisa mengerti bahwa ini adalah permintaan terakhir kedua orang tua Rania sendiri.
"Aku sudah membuat keputusan. Jadi, tidak ada lagi yang harus dibicarakan." Rania kembali mempertegas keputusannya. "Aku harus pergi karena ada sesuatu yang penting."
Rania tidak bisa membiarkan mereka berlama-lama berada disini dan memperumit keadaan.
"Rania, sebentar! Jangan dulu pergi, kita masih perlu bicara." Rian menarik lengan Rania untuk ikut bersamanya.
Rania tetap menolak ketika Rian mengajaknya pergi dari sana. Meskipun begitu, karena Rian memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada Rania, akhirnya Rania tak bisa menolak lagi dan terpaksa mengikutinya. Mereka berdua berjalan menuju dapur, meninggalkan Galih dan Ardi berdua di ruang tamu.
"Rania, Om tidak mengerti. Sejak kapan kamu menjadi orang yang suka melawan seperti ini? Orang tuamu ingin kamu menikah dengan Galih. Kenapa kamu tidak mau menuruti semua ini? Om tahu, ini pasti terlalu mendadak dan membuatmu terkejut, tetapi apa yang menjadi keputusan Mbak Farhan dan Mbak Dewi itu semua untuk kebaikan kamu sendiri," ucap Rian panjang lebar sambil menggelengkan kepalanya tampak tidak percaya dengan keputusan Rania tanpa berpikir terlebih dahulu.
Biasanya, Rania adalah seseorang yang selalu menuruti setiap perintah dari kedua orang tuanya, tetapi kali ini dia menolak terang-terangan membuat Rian tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh keponakannya itu.
"Untuk kebaikanku, Om?" tanya Rania membeo sambil menyilangkan tangan di depan d**a. "Mereka tahu apa yang terbaik untukku tanpa harus menjodohkanku seperti ini! Dengan mereka memaksaku untuk menikah dengan pria yang bahkan tidak aku kenali, itu sama saja membuatku masuk ke dalam lingkaran penderitaan seumur hidupku!"
"Keluarga Om Ardi adalah keluarga terpandang, mereka adalah orang baik. Kamu tidak akan menderita jika hidup bersama mereka!" jelas Rian yang kesal karena Rania tidak bisa dibilangin.
Tetap saja Rian berusaha membuat Rania menerima perjodohan ini. Rania tidak tahu hal apa yang mendasari Rian sampai memaksanya seperti ini.
"Kenapa Om Rian terus maksa aku buat nerima perjodohan ini? Apa jangan-jangan Om Rian sengaja melakukan itu karena keberatan menanggung jawab hidupku?" cecar Rania sambil menatap Rian dengan tatapan menyelidik
Memang, setelah orang tua Rania meninggal dunia. Maka Rian bertanggung jawab atas hidup Rania. Dia harus membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Rania berpikir, jika Rian tidak mau menanggung hidupnya. Lagi pula, Rania bisa hidup sendiri tanpa bantuan siapa pun. Sehingga Rian tidak perlu mengkhawatirkan soal hidupnya, apalagi sampai ikut campur memaksanya untuk menerima perjodohan ini.
"Apa?" Rian terkejut mendengar tuduhan dari Rania. Dia sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu. Ini semua murni karena dia ingin mengabulkan permintaan terakhir kakaknya.
"Jujur saja, Om. Om sengajakan melakukan ini semua karena Om tidak mau menanggung hidup aku. Dengan aku menikah dengan pria itu, maka tanggung jawab Om padaku sudah tidak berlaku laki," lanjut Rania lagi terus menuduh Rian, membuat laki-laki langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, karena tuduhan Rania padanya tidaklah benar.
"Kamu salah paham, Rania. Om bersikeras untuk menikah dengannya karena hanya ingin mengabulkan keinginan Mas Farhan dan Mbak Dewi untuk yang terakhir kalinya," jelas Rian sambil menatap Rania dengan tatapan yang tidak bisa Rania mengerti, tapi dia dapat melihat gurat kekecewaan di raut wajah laki-laki itu. "Apa tidak ada yang bergerak di dalam hatimu sedikit saja untuk mewujudkan permintaan kedua orang tuamu sendiri?"
Rania terdiam. Tentu saja dia ingin mewujudkan keinginan terakhir kedua orang tuanya, tetapi dia tidak bisa melakukannya, karena yang akan Galih dapat adalah sebuah kekecewaan. Apalagi setelah dia mengetahui bahwa Rania sedang hamil anak pria lain. Dia semakin tidak percaya diri setelah tahu bahwa keluarga Galih adalah orang yang terpandang. Galih harusnya memiliki calon yang sama baiknya dengan pria itu.
Rania merasa jika dirinya tidak cocok bersamanya. Dia bukanlah orang baik seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Kehamilannya ini harus dipertanggungjawabkan oleh Elvan. Hanya dia yang boleh bertanggung jawab, karena ini adalah anaknya sendiri.
"Begini saja, Om, akan memberimu waktu untuk memikirkan keputusanmu," ucap Rian memberi saran. "Kamu jangan tergesa-gesa memberi keputusan. Pikirkan dulu."
"Percuma saja, meskipun memberi waktu, aku tetap dengan keputusan awalku," balas Rania dengan yakin akan tetap menolak perjodohan ini.
"Rania, jangan membuat keputusan terburu-buru. Kamu harus memikirkannya terlebih dahulu. Siapa tahu nanti kamu malah berubah pikiran."
Rania hanya bisa menghela napas panjang. Sebenarnya, meski Rania memberi waktu pun jawabannya akan tetap sama saja. Namun, melihat Rian yang begitu bersikeras dengan perjodohan ini membuat dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
"Baiklah, kalau itu keinginan Om. Aku akan memberi waktu, tapi asal Om tahu saja kalau jawabannya akan tetap sama."
Rian tersenyum mendengar keputusan yang Rania berikan. "Kita lihat nanti."
Mereka kembali ke ruang tamu. Terlihat Ardi dan Galih masih duduk di sana menunggu mereka dengan sabar. Mereka duduk kembali di sofa yang terletak berhadapan dengan mereka berdua.
"Maaf, kami harus membicarakan sesuatu dulu tadi," ucap Rian yang dijawab anggukkan mengerti oleh Ardi. "Setelah kami berdiskusi barusan. Akhirnya, Rania meminta waktu untuk memberikan keputusan. Bagaimana menurut kalian?"