Perjodohan

1061 Kata
Rania sudah bersiap untuk pergi menemui Elvan. Wajahnya memancarkan campuran perasaan gugup dan harap-harap cemas. Meskipun jam masih menunjukkan pukul 8 pagi, Rania merasa sudah terlalu lama menanti saat ini. Dia merasa perlu mencari keberadaan Elvan dengan segera. Semalaman, Rania berbaring di atas kasurnya yang nyaman. Namun, pikirannya terus menerus terhanyut. Pikirannya soal Elvan terus menghantuinya, seakan-akan menghipnotis Rania agar tetap terjaga. Bahkan saat tertidur pun, pikiran Rania terus memainkan sosok Elvan dalam mimpinya. Wanita itu tidak mau ada ruang untuk kesalahpahaman antara mereka berdua. Rania harus memberikan penjelasan kepada Elvan, menjelaskan segala hal yang yang terjadi selama seminggu ini. Dia harus memastikan Elvan mengerti dan tidak merasa diabaikan atau ditinggalkan. Dalam hati Rania, ia berharap Elvan akan menjadi pendengar yang baik dan terbuka. Dia berharap Elvan bisa melihat dan merasakan betapa sulitnya baginya untuk tidak bisa menghubungi Elvan selama seminggu ini. Ada alasan kuat yang melatarbelakangi ketidakhadirannya, dan Rania ingin memastikan bahwa Elvan memahami dan menerima alasan itu. Rania hendak keluar dari rumah, tapi beberapa orang berdiri di depannya hendak mengetuk pintu. Pria itu membatalkan niatnya, karena Rania sudah membuka pintu lebih dulu. Rania tahu betul siapa yang berdiri di depannya itu. "Om Rian?" Rania terpekik sambil melihat kedua orang yang berdiri di belakang Rian, Omnya Rania. "Bukannya Om Rian sudah pulang kembali ke luar kota?" "Iya, tadinya Om mau pulang, tapi saat di perjalanan ada yang menghubungi Om dan membuat Om harus kembali," jelas Rian sambil tersenyum pada Rania. "Ada yang harus kita bicarakan dulu." "Tapi, Om, aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan." Rania menolak dan tidak ingin berbicara dengan siapa pun itu karena menurutnya mencari keberadaan Elvan lebih penting dari apa pun. "Rania, ini penting!" pungkas Rian sambil menatapnya berharap Rania mengizinkannya untuk berbicara sesuatu yang Rania tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan. "Baiklah, tapi aku nggak punya waktu banyak, Om," balas Rania sambil menghela napas dengan pasrah membiarkan mereka masuk ke dalam rumah. "Silahkan masuk." Rian mempersilakan dua orang pria yang sejak tadi berdiri di belakangnya. "Aku ambilkan air dulu." Rania pergi ke dapur untuk mengambil air dan juga beberapa camilan untuk disuguhkan kepada mereka. Rania kembali sambil membawa nampan dan menyimpannya di atas meja. Dia duduk di samping Rian sambil melihat ke arah dua orang pria yang tidak dia kenal itu. "Jadi, apa yang ingin Om bicarakan?" tanya Rania kemudian sambil melihat ke arah Rian lagi. "Rania, perkenalan dulu, ini adalah Om Ardi, dia temannya Mas Farhan," ucap Rian yang memperkenalkan pria paruh baya yang duduk berhadapan dengannya, yang tidak lain adalah temannya Farhan, ayahnya Rania. "Dan ini adalah Galih, putra dari Om Ardi." Rania hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah kepada mereka berdua. "Dan ini adalah Rania, keponakanku yang tidak lain adalah putri dari Mas Farhan dan Mbak Dewi," jelas Rian lagi membuat mereka tersenyum mengerti ke arah Rania. "Kamu sangat mirip dengan ibu kamu," ucap pria yang Rania tahu bernama Ardi itu. "Terima kasih, Om, tapi sebelumnya apa maksud kalian datang kemari?" tanya Rania langsung to the point. Rania memang tidak mau membuang-buang waktu hanya karena menerima tamu yang dia pun tidak pernah kenal sebelumnya. "Rania, sabar dulu," ucap Rian yang menggelengkan kepalanya tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan yang terlihat memang terburu-buru. "Mereka 'kan baru datang, biarkan mereka duduk dulu dan menikmati cemilan yang kamu suguhkan sebelum berbicara." "Tidak apa-apa, Rian," ucap Ardi menengahi, membuat Rian dan Rania menoleh ke arahnya. Raut wajah Rian tampak tidak nyaman, berbeda dengan Rania yang tetap terlihat datar. "Sepertinya Rania ini memang sedang sibuk. Jadi, aku akan menjelaskan semuanya dengan mempersingkat waktu." "Nah, gitu, dong," ucap Rania di dalam hati sambil tersenyum puas. "Kami cukup terkejut setelah mendengar kabar bahwa kedua orang tua kamu kecelakaan. Sebenarnya, Farhan dan Dewi itu baru saja pulang dari rumahku," jelas Ardi mulai menjelaskan apa yang terjadi sebelum kedua orang tua Rania mengalami kecelakaan yang membuat mereka tidak selamat. Seketika itu juga Rania langsung mengerutkan keningnya. Kini raut wajahnya tampak serius mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Ardi selanjutnya. "Ayah sama Mama datang ke rumah Om sebelum kecelakaan?" tanya Rania lagi membenarkan apa yang baru saja Ardi katakan. "Benar sekali," jawab Ardi sambil menatap Rania dengan sebuah tatapan yang tidak bisa diartikan. Tatapannya terlihat bingung sekaligus sedih. Tentu saja perasaan Ardi sangat terguncang. Sebelumnya, dia masih bercengkrama dengan sahabatnya, lalu tak lama dia mendengar kabar bahwa mereka sudah tiada. Tentu saja Ardi merasa syok, sehingga dia butuh waktu untuk bertemu dengan Rania, putri sahabatnya itu. "Apa keperluan Mama sama Ayah sampai datang ke rumah Om malam-malam begitu?" tanya Rania kemudian yang penasaran karena saat itu kedua orang tua Rania pergi ke luar kota pada malam hari. Tidak biasanya mereka bepergian malam hari, tapi malam itu mereka tampak terburu-buru sampai pergi begitu saja dan meninggalkan Rania yang jelas-jelas sedang berada di dalam kamar. "Farhan dan Dewi sebelumnya meminta untuk menikahkan kamu dengan anak saya, Galih," jelas Ardi kemudian sambil melihat ke arah putranya sekilas. Mendengar hal itu membuat Rania sangat terkejut. Dia benar-benar tidak dapat mempercayainya. Rania tidak pernah membayangkan bahwa orang tuanya akan membuat keputusan seperti itu tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu. Baginya, menjodohkan Rania secara paksa adalah hal yang tidak masuk akal. Namun, Rania juga merasa dilema. Sebagai anak, dia tahu bahwa harus menghormati dan menghargai orang tuanya. Namun, pada saat yang sama, dia juga ingin mengekspresikan keinginannya sendiri. Rania ingin dapat memiliki kendali atas hidupnya sendiri, termasuk dalam hal mencari pasangan hidup. Masalahnya, Rania juga tidak mungkin menerima perjodohan ini, mengingat jika saat ini dia sedang mengandung hasil dari hubungannya dengan kekasihnya, Elvan. Meski mendiang kedua orang tuanya tidak pernah merestui hubungan mereka, tetapi Rania akan terus berusaha mempertahankan hubungan ini, karena bagaimanapun Elvan harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan kepadanya. "Rania, Mas Farhan dan Mbak Dewi, ingin kamu menikah dengan Galih." Rian mengulang perkataan Ardi karena sejak tadi Rania hanya diam mematung. Rania masih tidak bisa berkata-kata. Hatinya berdebar-debar saat pandangannya menatap ke arah Galih yang kini tersenyum padanya. Namun, secepat kilat Rania langsung menoleh ke arah lain karena tidak mau melihat wajahnya. Rasa gugup dan canggung melanda dirinya karena ia tidak pernah membayangkan bahwa perjodohan yang tiba-tiba terjadi ini akan mengubah hidupnya. Rania menggelengkan kepala dengan tanda ketidaksetujuan yang jelas terlihat di wajahnya. Ia tidak ingin hidupnya diatur oleh orang lain, terutama urusan hati. "Maaf, tapi saya tidak setuju dengan perjodohan ini." Akhirnya, dengan penuh keberanian Rania menolak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN