CHAPTER 1 : SOMEWHERE IN THE NIGHT
Malam itu angin berhembus kencang membawa rintik-rintik hujan membasahi bumi. Seorang gadis dengan mantel merah terang berlari kecil guna mempercepat langkahnya agar segera sampai ke rumahnya tanpa harus kebasahan. Namun sayang, gerimis kecil itu tiba-tiba berubah manjadi hujan deras membuat si gadis harus segera mencari tempat berteduh kalau tidak ingin basah kuyup. Hingga langkah kakinya membawanya untuk berteduh di depan sebuah klinik yang sepertinya sudah mau tutup mengingat hari sudah hampir mencapai tengah malam. Ia merutuki bosnya yang menurutnya sangat sensitif hingga membuatnya harus bekerja lembur dan pulang larut malam tanpa alasan yang jelas.
"Padahal aku tidak merasa memelototinya tadi. Dasar wanita tua tak berperi kemanusiaan!" rutuknya.
Tiba-tiba sayup terdengar suara rintihan kesakitan disertai suara geraman serak dari arah gang sempit di samping klinik tempat si gadis berteduh. Karena merasa penasaran, ia pun mencoba mengintip sedikit dari balik dinding dan menemukan kegelapan nyaris total, hanya ada sedikit bias cahaya dari sebuah lampu redup yang kini tengah bergoyang-goyang karena tertiup angin.
Lalu, ketika pandangannya kembali menelusuri gang sempit dan gelap itu matanya langsung membola, terkejut sekaligus merasa ngeri. Suara kesiap kecil meluncur keluar dari mulutnya tanpa ia sadari. Refleks, ia pun segera membungkam mulutnya agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Karena di sana, tepat di ujung gang sempit itu terlihat jelas siluet dua orang. Salah satunya nampak seperti seorang wanita dan satunya lagi nampak seperti seorang pria bertubuh jangkung dengan gaya rambut yang agak aneh. Bayangan mereka terlihat sedikit buram karena jarak yang cukup jauh dari tempat si gadis mengintip, juga pencahayaan yang minim membuat si gadis merasa tak terlalu yakin dengan apa yang dilihatnya.
Namun, sang wanita nampak tak berdaya berada di bawah kungkungan sang pria yang menodongkan sebilah pisau ke lehernya. Pisau itu berkilat tajam dan terlihat sangat mencolok meski dari jarak dua belas meter jauhnya. Terdengar suara rintihan lainnya membuat si gadis tahu jika pisau tajam itu kini sedang menekan leher mulus sang wanita dengan lebih agresif, menciptakan goresan kecil yang mulai mengeluarkan darah. Sedangkan sang wanita hanya bisa merintih kesakitan tanpa sanggup melakukan perlawanan apapun. Melihat itu, terlintas ide gila di dalam otak sang gadis untuk menolong wanita itu.
Ia pun melihat sekeliling, jalanan nampak sangat sepi karena hari sudah larut. Lagipula tak akan ada orang yang mau keluar di tengah malam yang dingin seperti ini. Meskipun kemungkinan ia berhasil menyelamatkan sang wanita sangatlah kecil, tapi itu tetap tak menghentikan tekadnya untuk menolong.
Jantung sang gadis mulai berdetak cepat dan semakin cepat hingga rasanya nyaris meledak, adrenalinnya terpacu. Mengendap-ngendap, ia pun mencoba mendekati mereka perlahan dan hati-hati. Setelah berada di jarak yang cukup dekat, ia segera menerjang si pria jangkung itu hingga membuat mereka terjerembap ke aspal penuh genangan air kotor. Detik selanjutnya bogeman-bogeman mentah menghantam wajah sang pria telak.
Dengan sekuat tenaga sang pria mencoba melawan menggunakan pisau , tapi sang gadis tidak membiarkan itu. Ia segera memelintir dengan kuat tangan sang pria yang memegang pisau, lalu dengan cepat mengambil pisau itu dan melemparnya ke tong sampah berukuran besar tak jauh dari tempatnya berada. Kemudian, tanpa henti ia terus menghantamkan bogeman mentahnya ke wajah sang pria dengan lebih beringas dari sebelumnya hingga ia hampir kehabisan tenaga.
Wajah sang pria sudah memar di sana sini bahkan bibir dan hidungnya mengeluarkan banyak darah. Namun, tak lama kemudian sang gadis membelalakkan matanya saat ia sadar bahwa ia baru saja memukuli monster berwajah badut. Gigi-giginya yang runcing dan tajam mengintip sedikit dari dalam mulutnya, riasan badut tebal di wajahnya membuat bulu kuduk sang gadis berdiri karena merinding. Wajahnya yang sudah menyeramkan semakin menyeramkan dengan darah yang mengalir dari sudut bibir disertai kedua mata dan pipi yang sudah tak karuan.
Ia pun segera bangkit sambil terengah-engah. Netra cokelatnya menatap ngeri sosok badut monster yang kini sudah terkapar mengenaskan di bawahnya. Namun, tiba-tiba bibir bercat merah si badut bergerak sedikit menampilkan senyum miring mengejek yang membuat si gadis akhirnya menyadari jika dirinya telah berhasil ditipu. Dan keadaan pun seketika menjadi terbalik. Kini sang gadis lah yang terkungkung di bawah sang badut, seringai kemenangan bermain-main di bibir sang badut sembari menatap gadis cantik yang nampak seperti siap menyemburkan lahar panas sedang terbaring tak berdaya di bawahnya.
"Well, lumayan juga untuk gadis cantik sepertimu. Ah...Alexa? Nama yang cukup bagus."ujarnya sembari menarik seuntai kalung emas berukiran nama yang melingkar indah di leher jenjang sang gadis. Badut itu kemudian menghirup dalam kalung emas berukir nama itu. "Aromamu juga sangat nikmat, Manis."ujar sang badut sambil mendesah membuat Alexa mengernyit jijik melihatnya.
Dengan sekuat tenaga Alexa mencoba mendorong badut itu agar menyingkir dari atas tubuhnya, tapi hasilnya nihil. Badut itu justru menggenggam kedua tangan Alexa kemudian menahannya di atas kepala. Sambil menyeringai dan terkekeh senang, badut itu mendekatkan wajahnya dan memperhatikan detail wajah Alexa dari jarak yang cukup dekat.
"Seharusnya kau tidak menganggu kesenangan orang lain, Cantik."katanya sambil mengendus ceruk leher Alexa membuat si gadis berontak marah.
"Lepaskan, sialan!"kata Alexa berontak marah.
"Ssshhh....gadis cantik tidak boleh mengumpat."ucap badut itu terkekeh lalu tanpa aba-aba melumat bibir Alexa. Sontak Alexa membulatkan matanya dan berontak dengan semakin beringas. Alexa mencoba mendorong tubuh si badut namun itu tak berdampak apapun pada tubuh jangkung sekeras batu yang masih memaksa Alexa untuk membalas ciumannya. Pada akhirnya Alexa hanya bisa pasrah karena kehabisan tenaga dan membiarkan sang badut monster menguasai bibirnya. Ciuman itu berlangsung cukup lama dengan bibir Alexa yang hanya diam tak menanggapi.
Setelah tautan bibir mereka terlepas, tanpa membuang waktu Alexa segera mendorong sang badut dan lekas berdiri. Menatap garang sang badut yang masih saja terkekeh, Alexa mengalihkan atensinya sejenak pada wanita yang ingin ia tolong tadi. Namun, wanita itu sudah terbujur kaku di sana dengan luka sayatan menganga di lehernya yang menyebabkan banjir darah di sekitar tubuh wanita itu. Alexa terdiam sesaat memandang mayat wanita itu yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia pun menghembuskan nafas lesu. Ia gagal menyelamatkan wanita itu.
Hembusan angin dingin yang ganjil membuat Alexa menoleh dan mendapati badut menyeramkan tadi tiba-tiba telah menghilang. Alexa menoleh ke sekitarnya, mencari jejak keberadaan badut itu dan hasilnya nihil. Badut itu sudah menghilang seperti tidak pernah ada di tempat itu. Dahi Alexa mengernyit heran, tanpa sadar ia menyentuh bibirnya dan masih merasakan jejak panas di sana.
Tiba-tiba sesuatu menyentuh bahunya, membuat Alexa seketika menoleh dan mendapati seorang pria tampan dengan mantel hitam yang terasa familiar baginya sedang menatap khawatir padanya. Alexa hanya bergeming menatap pria tampan itu, seperti terhipnotis dengan ketampanannya. Alexa menggelengkan kepalanya guna membuatnya kembali sadar.
"Apa yang sedang nona cantik ini lakukan di tempat seperti ini? Apa kau tersesat?"tanya pria itu dengan nada khawatir yang berlebihan yang malah membuat Alexa meningkatkan kewaspadaannya.
"Ti-tidak....a-aku hanya....hanya..." Alexa terkejut karena suara yang ia keluarkan terdengar seperti cicitan seekor tikus yang begitu ketakutan akan dimangsa oleh predator di depannya. Kegugupan yang mendadak melanda dirinya semakin menjadi ketika ia tanpa sengaja menatap netra biru kelam sang pria yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam mengintimidasi.
"Ayo kalau begitu, mari saya antar anda pulang. Sepertinya anda benar-benar tersesat."ujar pria itu lagi kali ini sambil meraih cepat tangan Alexa seraya berbalik badan dan menarik Alexa agar mengikutinya.
"Ti-tidak usah. Saya bisa pulang sendiri."tolak Alexa halus. Kepanikan tiba-tiba merambati seluruh tubuhnya namun Alexa menolak untuk memperlihatkannya pada sang predator yang masih mempermainkannya.
"Tapi aku tidak menerima penolakan, Cantik."ucapnya seraya menoleh dan menyeringai lebar ke arah Alexa dengan wajah yang sudah berubah menjadi sosok badut yang baru saja Alexa pukuli tadi. Kemudian menyeret Alexa dengan kasar.
Alexa pun berteriak dan berontak, tapi badut itu bergeming dan terus menariknya menuju sebuah sedan hitam yang terparkir tepat di depan gang itu. Kemudian mendorong kasar Alexa masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Alexa terus berontak dan berteriak minta tolong, tapi segera mulutnya di bungkam oleh tangan si badut.
"Ku sarankan jadilah gadis baik yang penurut kalau kau masih ingin hidup." bisik nya tepat di telinga Alexa kemudian dengan kurang ajarnya mengendus ceruk leher Alexa sekali lagi. Alexa pun menggigit tangan sang badut dengan keras agar ia melepaskan bekapannya di mulut Alexa.
"Dan kau, berhenti jadi pria m***m tak tau diri atau ku jamin aku akan memotong kedua tangan sialan mu itu!"balas Alexa penuh emosi. Sedetik Alexa melihat tatapan terkejut di mata sang badut, hanya sedetik yang singkat sebelum kemudian tatapan terkejut itu berubah menjadi tawa menyeramkan ditelinga Alexa yang sanggup membuat bulu kuduknya berdiri.
Badut itu kemudian mendesis seperti orang sinting lalu menarik Alexa ke pelukannya sambil tertawa-tawa. Alexa terkejut bukan main, ia meronta mencoba melepaskan kedua lengan kekar yang tiba-tiba melingkari perutnya. Namun, rontaannya seketika terhenti saat mendengar serentetan kata yang di ucapkan sang badut. Satu kalimat namun memiliki efek buruk bagi jantung dan masa depan Alexa.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka yang lain pun juga tidak akan aku biarkan dapat memilikimu." kata badut itu dengan kesungguhan yang mampu membuat jantung Alexa berdetak kencang dan kepalanya berdenyut menyakitkan.
Alexa bertanya-tanya kesalahan apa yang pernah ia perbuat hingga ia harus terjebak di situasi seperti ini dengan badut menyeramkan yang hobi menggorok leher orang.
"Bagaimana jika aku menolak?"tanya Alexa dengan nada menantang. Berusaha mengenyahkan rasa takut yang mulai menguasai benaknya.
"Berarti kau harus mati. Karena sudah kubilang yang boleh memilikimu hanyalah aku!"kata sang badut dengan nada tinggi dan mutlak.
Alexa pun menoleh cepat ke belakang sambil mencoba melepaskan lengan kekar yang masih setia membelitnya. Namun sang badut justru semakin mengeratkan belitannya di perut Alexa, membuatnya memutar bola mata sebal.
"Oh, please. Aku hanya ingin melihat wajahmu. Bukankah tidak sopan jika membelakangi lawan bicaramu?"ujar Alexa dengan lembut mencoba meyakinkan sang badut. Akhirnya sang badut pun melepaskan rengkuhannya meskipun ia terlihat enggan melakukan itu.
Setelah duduk saling berhadap-hadapan, Alexa pun mulai memperhatikan setiap inci wajah sang badut di depannya. Ternyata badut di depannya ini cukup tampan jika tak memakai riasan tebal badut itu tapi sayang sekali tingkahnya sangat sinting.
Alexa sengaja menatap lama-lama pada bibir sang badut untuk memancing sang badut. Dan badut itu pun termakan jebakannya dengan langsung melahap bibir Alexa dengan beringas. Alexa pun mencoba mengimbangi gaya ciuman sang badut agar sang badut terbuai dan akhirnya lengah. Alexa nyaris kewalahan melayani pagutan bibir sang badut yang sangat beringas. Tak hanya menciumnya dengan beringas, sang badut juga meraba-raba tubuh Alexa. Sentuhan lembut seringan bulu itu tanpa sadar membuat Alexa hampir melenguh nikmat.
****
Wanita cantik di hadapanku ini benar-benar berbeda. Aura yang dimilikinya membuatku tertarik memilikinya untuk diriku sendiri. Apalagi setelah merasakan manisnya bibirnya yang sekarang sudah menjadi canduku. Aku semakin ingin memilikinya dan mengurungnya di kamar serta membuatnya meneriakkan namaku saja di setiap detik nafasnya. Aku akan menghujam miliknya dengan milikku setiap hari dan membuatnya melenguh kenikmatan. Begitu banyak fantasi liar yang berkeliaran di benakku ketika aku pertama kali melihat wajahnya tadi saat ia sedang meninjuku.
Cantik. Liar. Dan seksi. Ketiga kata itu sangat menggambarkan dirinya. Gaya berciumannya pun cukup bagus untuk ukuran perawan tak berpengalaman seperti dirinya. Cukup bagus untuk membuat juniorku menginginkan pelepasan di dalam miliknya. s**t. Pemikiran itu membuat juniorku semakin membesar membuat celana yang kupakai terasa sesak.
Aroma manis yang sangat lezat yang menguar dari tubuhnya sangat cukup memberi tahu ku kalau gadis ini masih suci belum disentuh oleh siapapun. Indera penciumanku cukup sensitif dalam mendeteksi hal-hal seperti ini. Jika gadis itu sudah tidak perawan lagi maka baunya akan seperti bau darah kering di indera penciumanku. Dan percayalah itu akan langsung membangkitkan insting membantaiku dengan membabi buta. Apalagi jika gadis macam itu mencoba merayuku untuk menjadikan diriku miliknya, maka dengan senang hati aku akan memberikannya sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mati dengan tubuh terpotong-potong setelah disetubuhi misalnya. Itu adalah salah satu kesenangan bagiku.
Tapi untuk gadis yang satu ini benar-benar berbeda. Wajahnya, tubuhnya, aromanya dan segala hal yang melekat di dirinya bagaikan magnet yang menarikku kuat dan aku pun tak sanggup melepaskan diri dari pesonanya yang berkilauan bagai kilauan bintang di langit malam. Aku pun tak kuasa untuk tidak memperdalam ciumanku seraya menghirup aroma tubuhnya yang khas dengan rakus. Kami terus berpagutan sampai kehabisan oksigen. Saat tautan bibir kami terlepas aku bisa melihat bibirnya yang membengkak akibat ciumanku tadi. Dan jutsru makin membuatnya terlihat lebih sexy. s**t. Aku ingin memilikinya saat ini juga.
"Damn! Antarkan aku ke hotel terdekat Chris!" teriakku pada asistenku yang berada di balik kemudi kemudian memagut Alexa lagi dan merebahkannya di jok mobil ku.
****
Alexa yang mendengar itu langsung merasa panik seketika. Berbagai pikiran buruk segera memenuhi benaknya.
Tidak. Tidak. Tidak. Batin Alexa berteriak panik. Ia berusaha berontak dan mendorong badut jadi-jadian itu dari atas tubuhnya. Tapi hal itu justru membuat sang badut semakin beringas.
Mobil terus menderu membelah jalanan kota London di tengah malam yang dingin. Alexa terus memutar otak untuk bisa melepaskan belitan sang badut di tubuhnya. Tapi semakin ia berontak semakin menempel pula tubuh mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk pasrah karena ia sudah benar-benar kehabisan tenaga untuk melepaskan diri, namun ia belum kehabisan ide untuk kabur dari situasi mengerikan itu.
Tepat saat tautan bibir mereka terlepas dan sang badut menjauhkan sedikit tubuhnya saat itu lah Alexa dengan sisa tenaga yang ia punya mencekik leher sang badut dan membenturkannya ke kaca pintu mobil sekuat tenaga hingga kaca itu pun pecah dan membuat sang badut itu pingsan. Kejadian itu membuat Chris menghentikan laju mobil untuk melihat keadaan sang majikan dan saat ia menoleh ke belakang bangku penumpang, ia dihadiahi tinjuan maut milik Alexa.
"Well, tidak sia-sia juga berlatih Thai boxing." ujar Alexa sambil tersenyum puas melihat hasil kerjanya.Dua makhluk penganggu akhirnya berhasil ia singkirkan, kini saatnya kabur secepatnya sebelum masalah yang lebih besar menimpanya. Batinnya seraya tersenyum miring menatap tubuh sang badut yang diam tak bergerak untuk terakhir kali.
Ia pun segera keluar dari mobil itu dan dengan sekuat tenaga berlari kencang ke arah yang berlawanan dari tujuan mobil itu. Sesaat setelah ia sampai di rumahnya ia segera mengunci semua pintu dan jendela. Lalu berlari ke kamarnya yang ada di lantai dua. Ia segera mematikan lampu lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tanpa peduli bajunya yang kotor lantaran terlalu panik dan takut. Jantungnya masih berdetak sangat cepat hingga terasa memekakkan telinga.
Kumpulan jari-jari kurus yang merupakan bayangan ranting pohon ek yang berdiri tepat di luar kamar Alexa nampak bergerak kesana kemari karena tertiup angin. Suara gesekan antara ranting-ranting itu dengan jendela terdengar seperti membawa pesan tanda bahaya di telinga Alexa. Ia pun mencoba mengintip dari balik selimut dan menatap sekitar kamarnya yang gelap untuk memastikan bahwa tak ada siapapun di kamarnya. Namun, perasaan di awasi itu begitu erat memeluknya hingga ia memutuskan untuk kembali ke balik selimut dan mengeratkan dekapannya.
Sementara itu di lain tempat. Sang badut yang sudah sadar terus menerus tertawa histeris sembari menyentuh belakang kepalanya dan mendapati cairan berwarna merah pekat nyaris hitam lengket menempel di jari-jarinya. Ia pun menggeram marah lalu berkata dengan nada dingin yang kejam, "Kau akan jadi milikku Alexa. Kau harus jadi milikku dan tidak akan pernah aku lepaskan kau selamanya!"ujarnya bagai mengucap sihir gelap yang akan mengutuk korbannya untuk selamanya. Ia lalu menyeringai seperti psikopat sinting dengan wajah badut.