Seminggu pun berlalu, badut menyeramkan itu sama sekali tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di hadapan Alexa. Hal itu membuat Alexa merasa sangat bersyukur, setidaknya ia mungkin tak perlu khawatir akan di teror. Namun anehnya, tak ada satu pun berita mengenai insiden pembunuhan itu.
Tak ada satu pun, baik stasiun televisi maupun surat kabar yang memuat berita kejadian naas seminggu lalu itu. Peristiwa sadis itu menguap begitu saja seperti tak pernah terjadi. Alexa jadi bertanya-tanya, ada apakah gerangan?
Karena berita mengenai insiden itu seharusnya segera menjadi deadline di seluruh surat kabar kota London. Bagaimana bisa mereka semua mengabaikan insiden mengerikan tersebut dan membiarkan pelakunya masih berkeliaran—kecuali... tentu saja sang pelaku memiliki kekuasaan yang cukup untuk membungkam nyaris seluruh media dan pihak kepolisian London. Pemikiran itu seketika membuat Alexa merinding, pemikiran bahwa bisa saja ia akan segera jadi korban berikutnya, apalagi dia adalah saksi hidup dari insiden mengerikan itu. Dan dengan kekuasaan besar dari sang pelaku, mungkin saja tak akan ada yang tahu jika ia sudah menghilang ataupun mati.
Dengan begitu, Alexa sudah memutuskan jika ia harus selalu berhati-hati dan sebisa mungkin menghindarkan dirinya sejauh mungkin dari sang pelaku. Ia juga harus melindungi keluarganya dari kemungkinan keluarganya akan digunakan sebagai alat untuk mengancam dirinya.
Pagi ini Alexa berniat menelpon kedua orang tuanya yang tengah berada di Indonesia dalam rangka menghadiri pernikahan saudara jauhnya. Ia berniat memberi tahu kejadian naas yang menimpa dirinya seminggu yang lalu, bagaimanapun juga ia merasa kedua orang tuanya itu berhak tahu mengenai keseluruhan peristiwa yang ia alami. Selain untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk menimpa dirinya kelak, setidaknya orang tuanya tahu apa yang sedang terjadi. Ia tahu, seharusnya hal ini ia lakukan beberapa hari yang lalu, namun bayangan kalau orang tuanya akan ikut terseret dalam masalah ini membuatnya berkali-kali mengurungkan niatnya. Semakin sedikit yang mereka tahu maka mereka akan aman. Itu adalah asumsinya beberapa hari yang lalu. Namun hal itu justru membuatnya dihantui rasa gelisah yang terasa mengaduk-ngaduk perutnya dan membuatnya merasa sangat mual. Pikiran ketika kedua orang tuanya mengetahui jika ia tiba-tiba menghilang tanpa kabar yang jelas dan tak akan pernah ditemukan mendorongnya untuk melakukan sesuatu.
Jadi hari ini ia pun membulatkan tekad, ia harus memberi tahu kedua orang tuanya tentang apa yang sedang terjadi. Meski tidak secara keseluruhannya demi keselamatan mereka juga, ia tidak akan memberi tahu mereka soal siapa pelaku pembunuhan itu, karena itu terlalu beresiko. Sebagai gantinya ia hanya akan menjelaskan kalau sang pelaku adalah badut psikopat sinting yang nampaknya hobi menggorok leher orang. Dan ia juga akan meminta kedua orang tuanya untuk tetap tinggal di Indonesia lebih lama lagi demi keselamatan mereka. Ia pun menelpon kedua orang tuanya melalui panggilan video call.
Seperti yang telah ia duga, ayah dan ibunya menolak untuk tetap tinggal di Indonesia. Mereka tentu saja lebih memilih melindungi putrinya daripada bersembunyi. Alexa terharu mendengar ayahnya berkata akan melakukan apapun untuk melindunginya dan ibunya yang tidak berhenti mengutuk sang badut sambil menangis. Ia bahagia memiliki kedua orang tua yang sangat menyayanginya dan selalu siap melindunginya kapan pun, karena itu juga ia tak akan sanggup jika harus kehilangan mereka. Alexa berusaha meyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia akan baik-baik saja, ia berjanji akan menjaga dirinya dengan baik. Ia juga berjanji pada mereka untuk segera melapor ke polisi jika ia merasa di teror atau merasakan hal-hal aneh terjadi di sekitarnya. Meskipun sang ayah masih bersikeras untuk kembali namun hal itu bisa diredam oleh ibunya yang juga ikut meyakinkan sang ayah kalau mereka harus mempercayai putrinya. Sebagai seorang ibu ia sangat tahu bahwa putrinya itu tidak akan pernah mengingkari janji yang telah ia buat, jadi ia memilih untuk percaya dan mewanti-wanti putrinya untuk lebih dulu memberi tahu mereka jika ada hal mencurigakan terjadi disekitarnya sebelum melaporkannya ke polisi. Alexa pun mengangguk dan tersenyum lega, ia sangat berterima kasih karena ibunya mau mengerti dan mempercayainya.
"I'm promise, Mom. I'm promise." adalah kata terakhir sebelum Alexa menyudahi panggilan video call dengan kedua orang tuanya itu. Kini ia merasa sangat lega setelah memberi tahu semua hal yang perlu diketahui pada kedua orang tuanya.
Satu masalah telah selesai, kini ia harus bersiap-siap menghadiri kelas seperti biasa dan setelah nya ia harus bekerja paruh waktu di sebuah kafe tidak jauh dari kampusnya. Sejak menginjak remaja Alexa terbiasa hidup mandiri dengan bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk biaya pendidikannya meskipun kedua orang tuanya lebih dari mampu untuk membiayainya. Namun tetap ia bersikeras untuk hidup mandiri, ia beralasan kalau itu adalah bentuk pelatihan untuk dirinya agar suatu hari ia mampu meneruskan usaha keluarganya dengan sebaik-baiknya.
Kafe itu milik Mrs. Baskerville, seorang janda paruh baya yang memiliki pengendalian emosi di bawah nol. Mrs. Baskerville memiliki tubuh yang gemuk menyerupai balon, dengan kaca mata tebal dan gaya berpakaian yang kuno. Alexa sering khawatir saat Mrs. Baskerville mulai marah-marah, tubuhnya yang sangat gemuk nampak membesar hingga ia khawatir tubuh tersebut akan meledak sewaktu-waktu. Jadi, daripada melihatnya meledak menjadi serpihan, Alexa lebih memilih mengalah dan mengikuti kemauannya seperti waktu itu, saat ia dituduh memelototi Mrs. Baskerville dan berujung ia dihukum untuk bekerja lembur tanpa mendapatkan bonus. Ia lebih memilih mengalah daripada berdebat dengan balon gas yang mudah meledak. Namun meski begitu ia tetap menghormati Mrs. Baskerville dengan segala sifat menjengkelkannya itu.
Lamunannya tentang Mrs. Baskerville terhenti ketika ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 tepat, kelasnya akan dimulai pukul sembilan masih ada waktu satu jam. Namun meski begitu ia memilih untuk segera berangkat agar tidak telat masuk kelas. Ia pun segera tancap gas menuju kampusnya. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di kampusnya.
Saat ia tengah berjalan di lorong yang mengarah ke kelasnya, Alexa melihat sahabatnya Lily yang sepertinya sedang dalam masalah, karena ia dikelilingi oleh empat orang cowok tampan yang terkenal seantero kampus senang membuat onar. Mereka mengelilingi Lily tepat di depan lokernya sendiri, dengan tatapan predator mereka yang membuat Alexa ingin meninju wajah mereka satu persatu. Lily memang terlihat seperti gadis lugu yang mudah diperdaya meskipun dia terlihat sangat cantik dengan rambut hitam dan mata coklatnya yang besar yang membuatnya nampak seperti boneka. Meski mereka hanya berbeda beberapa bulan tapi Alexa selalu bertindak sebagai seorang kakak bagi Lily dan Lily sangat tidak keberatan akan hal itu. Alexa bagi nya memang bukan hanya sekedar teman, tapi lebih seperti saudara perempuan yang tak pernah ia punya karena seluruh kakak nya adalah laki-laki dan Lily yakin mereka bahkan lupa kalau mereka memiliki satu orang adik perempuan yaitu dirinya.
"Ada apa ini?" ujar Alexa dengan ketus, berdiri di antara Lily dan keempat cowok tersebut, berusaha melindungi Lily.
"Easy woman, aku hanya ingin mengajaknya berkencan." kata salah satu dari keempat cowok yang memiliki rambut pirang nyaris putih, matanya yang berwarna biru terang menatap Alexa dari atas sampai bawah dengan pandangan tidak senonoh.
Alexa mendengus kasar dibuatnya dan nyaris melayangkan tinjuan mautnya pada cowok itu, tapi tangan Lily menahannya. Ia berbisik memohon pada Alexa untuk segera membawanya pergi dari sini karena ia tidak ingin terlibat masalah dengan empat bad boy kampus itu. Dengan berat hati Alexa akhirnya menarik Lily untuk segera masuk ke dalam kelas tanpa menghiraukan siulan dan gumaman tak jelas dari keempat cowok tersebut. Tanpa menyadari ada sepasang mata hitam kelam yang menatap tajam kepergian mereka dari ujung lorong tepat di samping loker. Lalu laki-laki tampan dengan kaca mata itu pun pergi sambil mengepalkan tangannya kesal.
****
Suara riuh rendah di dalam ruang kelas sebuah fakultas psikologi tiba-tiba berhenti saat seorang dosen muda tampan berkacamata berjalan masuk ke dalam ruang kelas itu.
"Perkenalkan saya adalah dosen mata kuliah psikologi kejiwaan kalian yang baru karena dosen kalian yang lama memutuskan untuk pensiun dini. Nama saya Jonathan Hemlock." ucapnya datar memperkenalkan diri sambil memindai seluruh mahasiswanya, kemudian ia pun tersenyum manis. Alexa terkejut mendengar nada datar dan dingin itu, ia pun menoleh dan tanpa sengaja kedua mata mereka saling bertemu, hanya beberapa detik namun sesuatu seperti mencoba merangkak keluar dari dalam ingatannya, sayangnya Alexa tak terlalu menghiraukan hal itu. Tanpa menyadari tatapan predator buas yang sudah menargetkannya sedang meneliti keseluruhan diri wanita itu dari balik kacamatanya.
Namun sang target yang acuh tak acuh membuatnya kesal setengah mati. Ia tak percaya jika gadis incarannya itu sudah melupakannya dengan mudah saat dirinya yang selama nyaris semingguan ini kebingungan setengah mati hanya karena ingin memulai pembicaraan antara wanita dan pria secara normal setelah pertemuan pertama mereka yang tak normal.
Terdengar suara bisik-bisik disekitarnya. Bahkan beberapa mahasiswi ada yang terang-terangan menatapnya lapar. Menjijikan. Dengusnya dalam hati.
"Mari kita mulai perkuliahan hari ini."lanjutnya dengan tersenyum ramah.
Alexa memandang dosen baru tersebut dengan mata memicing. Ia seperti pernah melihat wajah itu tapi ia lupa dimana.
"Lexa, aku benar-benar tak percaya ini! Sir Hemlock yang menjadi dosen Psikologi Kejiwaan kita!" bisik Lily dengan sangat antusias dari sebelah Alexa. Alexa mengerutkan keningnya dalam, ia merasa pernah mendengar nama itu tapi sekali lagi ia lupa dimana.
Melihat sehabatnya mengerutkan kening membuat Lily memutar bola matanya jengah, ia yakin sekali sahabatnya yang cantik disampingnya ini melupakan dokter tampan yang terkenal seantero London itu. Baru saja Lily ingin memberi tahu pada Alexa tentang dosen baru mereka, tiba-tiba sebuah suara bariton menginterupsi. "Miss Quenzel seusai jam kuliah ini selesai jangan lupa untuk datang ke kantorku."ucap Mr. Hemlock sambil menunjuk Alexa yang langsung melotot kaget. Batinnya tersenyum miring ketika melihat sang target yang gelagapan kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi.
"Y-ya...Mr. Hemlock."jawab Alexa tergagap. Ia menatap Lily dengan tatapan bertanya, namun Lily hanya bisa menatapnya prihatin. Semoga saja Lexa tidak akan dihukum berat. Batin Lily.
Menepati janjinya, seusai jam kuliah selesai Alexa segera mengikuti Mr. Hemlock menuju kantornya. Untung saja mata kuliah hari ini hanya satu jadi ia tidak perlu menjelaskan alasan absennya.
Alexa mulai berpikir apa yang telah ia lakukan sampai ia harus dipanggil oleh dosen baru tampan yang sedang berjalan di depannya ini. Apa ia membuat kesalahan? Tanyanya dalam hati.
Setibanya di ruangan milik Mr. Hemlock, Alexa langsung menatap aneh ornamen badut dengan seringai menyeramkan berambut hijau yang di letakkan tepat di tengah-tengah satu-satunya meja yang ada di situ. Kepala ornamen badut itu bergoyang-goyang seperti mengejeknya karena tidak waspada dan melupakan bahaya yang selama ini mengintainya. Ia segera berbalik bermaksud lari, tapi ia kalah cepat dari Mr. Hemlock yang sudah berdiri tepat di depan pintu dengan seringai yang sangat lebar.
Baru saja Alexa ingin berteriak tapi tiba-tiba saja sesuatu yang kenyal dan basah membungkam bibirnya. Badut iblis itu menciumnya. Sialan.
Saat ciuman itu terlepas Alexa sudah mengambil ancang-ancang siap untuk menampar badut sialan yang kini menyamar menjadi dosennya itu, tapi lagi-lagi ia kalah cepat. Mr. Hemlock sudah menahan tangan Alexa di udara sambil menyeringai. Alexa balas menatapnya dengan tatapan penuh dendam membara. Mr. Hemlock terkekeh melihat wanita cantik di depannya ini sama sekali tidak merasa takut padanya.
"Kita bertemu lagi, Alexa."katanya mengucapkan nama Alexa lamat-lamat, seolah nama itu memiliki kenikmatan tersendiri saat ia mengucapkannya.
"Lepaskan saya atau saya akan..."
"Berteriak? Silahkan saja toh ruangan ini kedap suara." balasnya tak acuh sambil mengunci pintu dan berjalan santai ke balik meja kerjanya. Mr. Hemlock kemudian duduk sambil menatap intens Alexa dengan kedua bola mata berwarna biru gelapnya. Membuat Alexa merasa risih dengan tatapan intens itu. Seolah-olah Alexa adalah santapan terlezat yang tak sabar untuk ia lahap.
Alexa terkekeh sinis kemudian berkata dengan cemoohan yang kental, "Jadi kau menyamar menjadi dosen baru di kampus ku ini hanya untuk mengejarku? Menyedihkan sekali."kata Alexa sambil bersedekap dan menatap balik dengan sinis mencoba mengintimidasi dosen gadungan yang ada di hadapannya ini.
Mr. Hemlock tersenyum miring ketika menangkap setitik ketakutan disana. Kemudian ia berkata dengan suara serak, "Apa kau takut aku berhasil menangkapmu dan membawamu ke ranjangku, Alexa?"katanya lagi-lagi dengan intonasi yang sama saat menyebutkan nama Alexa tadi.
Sontak hal itu pun berhasil menyulut emosi Alexa karena merasa telah dilecehkan. Alexa pun dengan penuh emosi menggebrak meja kerja Mr. Hemlock dengan cukup keras. Kemudian meraih hiasan badut yang sedang menyeringai tadi dengan kasar, lalu mencabut kepala hiasan badut itu dan melemparnya ke lantai. Nafasnya masih naik turun karena emosi, baru saja ia ingin membanting sisa hiasan badut yang masih ada di tangannya ke lantai saat sebuah kilauan berhasil menarik perhatiannya. Sebuah cincin bertahtakan berlian berwarna tosca berhasil membuatnya mematung di tempat dengan kernyitan di dahi.
Seperti bisa membaca jalan pikirannya yang sedang bingung Mr. Hemlock kemudian berkata dengan intonasi yang sangat tenang, "Jika kau memakai cincin itu semua orang yang kau sayangi akan aman. Tapi jika kau membuangnya---maka kematian akan jadi lebih baik daripada harus menerima kemurkaanku."
Alexa mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba mencerna situasi yang mendadak berubah menjadi absurd seperti ini. Apakah ia sedang melamarku saat ini? Dengan kalimat datar dan penuh ancaman seperti itu?. Batinnya.
Setelah hening cukup lama Alexa tersadar dan berkata,"Ini sebuah lamaran? Kau baru saja melamarku dengan kalimat seperti itu?"tanyanya tak percaya.
"Well, terserah kau mau menyebutnya apa yang penting sekarang adalah---kau mau atau tidak."balas dosen gadungan itu sambil menatap tajam pada Alexa.
"Tidak. Tidak akan pernah!"jawab Alexa lantang seraya melempar cincin itu ke sembarang arah. Hal itu segera memancing emosi dosen gadungannya itu. Wajah sang dosen perlahan mulai berubah menjadi badut menyeramkan yang tempo hari pernah Alexa lihat. Namun, kali ini ada yang berbeda. Warna rambutnya berubah menjadi warna merah bata dimana seharusnya berwarma hijau. Dan badut itu menyeringai lebar dengan tatapan tepat ke manik mata Alexa. Tatapan itu seperti menjanjikan sesuatu yang sangat buruk akan terjadi.
Kini, Alexa tahu ia telah salah mengambil langkah.