CHAPTER 3 : LOVE ME OR KILL ME

2667 Kata
Alexa mundur selangkah saat sang badut justru maju selangkah ke hadapannya. Ia terus meningkatkan kewaspadaannya, memperhatikan setiap gerak gerik sang badut dengan seksama. Mata itu masih menatap manik mata Alexa dengan tajam. Seringaian itu makin mengerikan di setiap detiknya. Satu hal yang ada dipikiran Alexa saat ini. Mengapa ia merasa warna rambut itu seperti memberitahukan tingkat bahaya yang akan ia hadapi? Dia jadi ingat salah satu tokoh di film horor yang paling ia benci semasa kanak-kanak, Pennywise The Dancing Clown dari film IT. Ia membencinya karena sosok badut itu benar-benar mimpi buruk untuk setiap phobia yang di miliki oleh anak-anak seusianya dulu. Sosok badut sirkus yang ternyata suka memangsa anak-anak. Ingatan itu membuat bulu kuduk Alexa berdiri tegak. Sibuk dengan pikirannya sendiri Alexa sampai tidak menyadari kalau badut di depannya itu sudah berpindah tempat ke belakang tubuh Alexa dan dengan tiba-tiba mendekap Alexa dari belakang. Alexa tentu terkejut dan langsung menjerit saking kagetnya tapi badut itu malah membalikkan tubuh Alexa dan mencium bibirnya dengan rakus. Ciuman yang terburu-buru itu perlahan melembut diiringi tatapan intens yang perlahan membuatnya terbuai dan tanpa sadar melingkarkan kedua tangannya di leher sang badut. Sang badut tentu saja merasa senang dengan penerimaan yang dilakukan Alexa. Perlahan ia menggiring Alexa menuju sofa berwarna cokelat tak jauh dari posisi mereka. Ia merebahkan tubuh Alexa disana dengan sangat lembut dan hati-hati tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Namun kesadaran menyentak Alexa saat tubuhnya sudah terbaring sempurna di sofa tersebut lengkap dengan badut iblis berambut merah berdiri menjulang di atasnya, menghimpitnya dengan tatapan penuh gairah membara. Seketika itu juga Alexa langsung mendorong sang badut menjauh sekuat tenaga dan mencoba berdiri. Setelah merapihkan penampilannya yang tak karuan, ia menoleh dan menatap tajam sang badut yang sedang duduk dengan santainya di sofa. Sang badut pun menatap balik Alexa dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sepertinya kau sangat menikmati saat kita b******u tadi, Alexa."kata badut dengan nada setengah mengejek, lagi-lagi mengucapkan nama Alexa lamat-lamat seperti sebelumnya membuat perasaan kesal dan bingung tiba-tiba menyergap Alexa. Namun, Alexa hanya memilih mendengus kasar daripada meladeni badut sinting yang kini tengah tersenyum miring melihat tingkahnya. Ia memilih pergi dari tempat itu sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi. Karena kini ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, jantungnya berdebar tak karuan namun hatinya amat sangat membenci badut sialan itu. Ia mencoba menutupi setitik ketakutan yang ia rasakan dengan tatapan kebencian yang ia layangkan tepat ke manik mata sang badut. Kemudian ia berjalan cepat ke pintu dan segera memutar kenop pintu itu. Alangkah terkejutnya ia ketika pintu itu mengeluarkan bunyi klik lalu terbuka dengan mudahnya, ia pun menoleh dan kembali melayangkan tatapan bengis untuk yang terakhir kalinya sebelum kakinya melangkah keluar meninggalkan ruangan tersebut. **** Sore harinya ia duduk termenung di pinggir jendela kamarnya, menatap langit senja yang dipayungi awan mendung dengan ditemani secangkir teh chamomile hangat dengan campuran sedikit daun mint. Ia memutuskan untuk tidak pergi ke kafe hari ini karena ia butuh waktu untuk menenangkan otaknya yang sedari tadi terus berpikir keras mencari jawaban dari serangkaian kejadian aneh yang menimpanya selama kurun waktu seminggu belakangan ini. Kenapa harus dia? Sekelompok burung terbang rendah melintasi pohon ek yang berdiri tepat di luar kamar Alexa. Ia pun menoleh dan memperhatikan burung-burung tersebut. Mereka bergulung dan berputar-putar membentuk formasi-formasi unik yang membuat Alexa berdecak kagum. Namun, sebelum sekumpulan burung itu terbang menjauh, mereka membuat formasi aneh. Formasi itu membentuk wajah yang sedang menyeringai. Meskipun hal itu hanya berlangsung beberapa detik saja tetapi sanggup membuat tubuh Alexa gemetar karena terlalu terkejut. Bayangan formasi aneh tadi langsung mengingatkan Alexa dengan seringaian khas milik Mr. Hemlock. Seringaian itu bahkan nyaris sama persis, ia hampir mengira kalau itu benar-benar Mr. Hemlock jika saja sekelompok burung itu tidak membubarkan formasinya dan terbang menjauh. Namun, ia merasa sangat bingung setiap kali ingatannya tentang Mr. Hemlock yang tiba-tiba berubah menjadi badut menyeramkan terlintas di benaknya. Karena setiap itu terjadi jantungnya pasti akan berdebar keras entah mengapa. Apakah aku takut?. Batin Alexa dalam hati. Namun, jawabannya adalah tidak. Tidak, ia tidak takut sama sekali. Justru ia merasa amat penasaran dengan badut itu. Karena di zaman modern seperti saat ini, hal-hal seperti itu sudah sangat langka bahkan nyaris mendekati kata mustahil. Oleh sebab itu, Alexa merasa sangat tertarik untuk mencari tahu lebih jauh tentang sosok Mr. Hemlock yang tampan beserta sisi gelap nya. Alexa mengambil laptop miliknya yang tergeletak di meja nakas dan membawanya ke ranjang, ia pun mengetikkan kata kunci di mesin pencari. Namun setelah hampir dua jam mencari, Alexa sama sekali tidak menemukan informasi yang ia inginkan. Kebanyakan artikel di sana hanya memuat tentang kesuksesan keluarga Hemlock di bidang kedokteran terutama di bagian penanganan masalah kejiwaan. Keluarga itu turun temurun menghasilkan dokter-dokter spesialis kejiwaan yang hebat yang diakui di seluruh dataran Inggris bahkan nyaris di seluruh Eropa. Tak hanya berbakat, rata-rata mereka yang memiliki nama belakang Hemlock selalu dianugerahi wajah yang rupawan. Namun, ada yang aneh dengan keluarga itu. Entah kenapa Alexa merasa wajah setiap pewaris keluarga Hemlock nyaris sama, mata berwarna biru laut, bentuk lengkungan alis yang sama persis, warna rambut yang sama, tinggi badan yang sama bahkan jika ditelisik lebih teliti bentuk wajah mereka juga sama, mereka juga memiliki bentuk tulang pipi yang tinggi khas bangsawan. Yang membedakan mereka hanyalah gaya rambut dan gaya berpakaian mereka. Apakah hal ini wajar? Batinnya. Tetapi itu tidak bisa dijadikan bukti kuat, bisa saja itu hanya sebuah kebetulan. Jadi ia pun kembali memutar otak untuk mendapatakan informasi tentang sisi gelap Jonathan Hemlock, generasi ke sepuluh klan keluarga Hemlock. Tiba-tiba ingatan tentang lamaran aneh tadi siang terlintas kembali di benaknya. Alexa mengernyitkan keningnya mencoba menyambungkan serangkaian peristiwa yang menimpanya beberapa hari ini yang kesemuanya berhubungan dengan si badut iblis itu. Tapi justru hal itu menimbulkan satu kesimpulan yang membuat bulu kuduk Alexa berdiri. Mungkinkah badut itu memiliki ketertarikan padanya? Mulut Alexa sontak menganga lebar tak percaya dengan kesimpulan yang baru saja didapatnya. Ia segera bangkit dari ranjang karena mendengar handphone nya berbunyi. Ternyata ia mendapat panggilan video call dari ibunya. Ia pun segera mengangkatnya di dering ketiga. Ibunya tampak menghela nafas lega saat wajah Alexa terlihat di layar handphone nya. "Hai, Mom."sapa Alexa seraya tersenyum lembut. "Hai, nak. Bagaimana kabarmu? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya ibunya beruntun dengan nada khawatir. "Yeah, semuanya baik-baik saja disini."jawab Alexa setenang mungkin karena ini pertama kalinya ia berbohong pada ibunya itu. "Syukurlah kalau begitu. Berarti kami sudah bisa pulang kesana?" tanya ibunya. "Sepertinya belum, Mom. Pelaku pembunuhan itu belum tertangkap. Situasinya belum cukup aman di sini." jelas Alexa sambil memijit pangkal hidungnya. "Kalau begitu kita kembali saja ke Indonesia. Kita tinggalkan London untuk selamanya, Lexa. Mom sangat khawatir padamu." pinta sang ibu dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Alexa pun mencoba memberikan senyuman menenangkan pada ibunya agar sang ibu tidak khawatir, tapi pada akhirnya dia pun menghela nafas sedih. "Aku tidak bisa, Mom. Sebentar lagi ujian akhir semester." kata Alexa seraya menghela nafas sedih. "Kalau begitu tinggal lah dengan Paman Tom dan Bibi mu setelah ujian. Mom sangat khawatir padamu jika kau hanya tinggal sendirian di sana, Lexa..."kata ibunya seraya menatap Alexa penuh permohonan. Alexa pun mengangguk pelan membuat hembusan nafas lega keluar dari mulut ibunya. Setelah telepon dari ibunya berakhir, Alexa kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang kesayangan miliknya. Ingatannya memutar kembali saat kejadian perdebatan sengit pertama kali antara ia dan orang tuanya. Dia menceritakan kejadian yang menimpanya meski tidak semua. Fakta kalau sang pembunuh adalah Sir Hemlock yang terkenal tidak ia ungkapkan, apalagi si pembunuh itu sekarang menyamar menjadi dosennya. Karena ia tidak mau dianggap gila oleh kedua orang tuanya karena mengarang sesuatu yang tidak mungkin dan ia juga tidak mau mengambil resiko kalau ternyata informasi itu bisa semakin mengancam keselamatan kedua orang tuanya. Ia sudah menduga kalau badut itu pasti tidak akan mudah melepaskannya begitu saja setelah Alexa membuat kepalanya terluka cukup parah. Tapi ia sama sekali tidak menduga kalau badut itu akan melamarnya dalam waktu satu minggu. Apa itu bisa disebut lamaran ? Sampai saat ini pun Alexa belum bisa menemukan arti dari semua sikap ganjil badut iblis itu. Kepalanya sudah sangat ingin meledak memikirkannya. Ia benar-benar menemukan jalan buntu. Ingin melapor ke polisi pun Alexa tidak punya bukti yang cukup. Polisi tidak akan percaya jika ia mengatakan kalau Sir Hemlock yang terhormat itu ternyata adalah pembunuh dan dia bukan manusia melainkan badut iblis yang gemar menggorok leher orang. Ia yakin justru ia lah yang akan dijebloskan ke rumah sakit jiwa setempat jika sampai ia mengatakan hal itu meskipun hal itu benar adanya. **** Malam harinya Lily datang berkunjung. Mereka memang berencana untuk menonton film bersama. Lily memilah-milah deretan DVD yang berderet rapih di sebuah rak tepat di samping TV. Setelah perdebatan yang tak perlu, mereka pun menjatuhkan pilihan pada Angel and Demon. Sebuah film bergenre misteri-thriller yang merupakan adaptasi novel karya Dan Brown. Film ini mengisahkan tentang Professor Simbologi Religi dari Harvard University, Robert Langdon, yang berusaha memecahkan teka-teki pembunuhan seorang ilmuwan fisika bernama, Leonardo Vetra. Kasus pembunuhan itu ternyata melibatkan organisasi pemuja satan tertua di dunia, Illuminati. Lily datang tak lupa membawa minuman kesukaan mereka berdua, empat kaleng soda s**u rasa strawberry disandingkan dengan pop corn memang teman nonton yang pas. Film pun di mulai, setiap adegan demi adegan tak ada yang mampu mereka lewatkan. Alexa bahkan sampai mengabaikan pop corn yang ada di hadapannya. Matanya menatap serius ke arah TV, begitu juga dengan Lily. Saat film sedang menayangkan adegan sang profesor, Robert Langdon, dan Vittoria Vetra, putri sang korban pembunuhan beserta kepolisian Vatican sedang menyusuri sebuah gereja lama di mana disana terdapat banyak sekali pahatan patung renaissance. Alexa melihat dia, sedang berdiri di balik bayang-bayang sebuah patung. Matanya berkilat-kilat dengan bibir yang menyeringai lebar. Bayangan gelap dari patung menambah efek kejut yang tak main-main. Alexa memelototkan matanya saat sosok itu bahkan ikut berpindah saat adegan berganti. Dia selalu muncul dari balik bayang-bayang gelap. "Ka-kau lihat itu?!" "Lihat apa sih, Al?" "Mr. Hemlock ada di sana tadi. Dia ada di setiap adegan, di balik patung-patung itu!"seru Alexa seraya menunjuk-nunjuk layar televisi membuat Lily mengernyitkan dahinya. "Kau ngawur, Al. Tidak mungkin Mr. Hemlock ada di sana. Dia pasti sedang berada di rumahnya saat ini sedang mengoreksi pekerjaan rumah kita."kata Lily seraya terkekeh lucu. Namun, tiba-tiba lampu padam, seluruh rumah langsung gelap gulita. Baik Lily dan Alexa langsung terkesiap kaget. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di loteng, disusul suara gemerincing dari arah dapur. Alexa dan Lily saling berpandangan. Alexa lalu mengambil handphone yang ada di tangan Lily lalu menyalakan aplikasi senter, kemudian ia memimpin jalan. Mereka berjalan pelan dan hati-hati, Alexa mengambil stick golf milik ayahnya untuk dijadikan senjata. Saat ia melongok ke dapur, ternyata tidak ada siapapun disana. Ia pun mengernyit dan memutuskan untuk mengajak Lily ke kamarnya saja. Namun, saat ia berbalik ia terkejut dengan sosok hitam yang berdiri menjulang tepat di belakang Lily. Senter yang ia pegang pun terjatuh saking kagetnya. Belum sempat memperingatkan Lily untuk lari sosok itu sudah melingkarkan tangannya yang sedang memegang pisau daging tepat ke leher Lily. Lily menjerit kaget saat mendapati sebuah pisau daging melingkar indah di lehernya. Ia menatap panik Alexa yang mematung. "Sudah aku bilang kalau aku tidak main-main, Alexa." kata sosok itu. Sosok itu bertubuh jangkung dan memakai jaket berwarna hitam dengan hoodie yang menutupi kepalanya, sarung tangan hitam serta topeng berwarna putih. Namun Alexa tahu di balik topeng putih itu ia sedang menyeringai puas karena berhasil membalas Alexa dan menakutinya. "Lepaskan dia. Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini."balas Alexa dengan tenang. "Tidak, jika kau menolak kesepakatan yang aku beri. Aku akan membunuh semua orang yang kau sayangi satu persatu."kata sosok itu dengan dinginnya. Alexa pun berjalan menghampiri sosok hitam itu dan dengan santai ia berkata, "Kalau begitu, mari kita bicarakan itu di tempat yang lebih private. Kita ke kamarku." bisik Alexa di telinga sosok itu. Sedikit bias cahaya dari luar membantunya mengenali sosok hitam itu, matanya sewarna samudera juga cara menatapnya yang tak biasa itu cukup membuat Alexa tahu dengan siapa ia sedang berhadapan. Jantung Alexa berdegup cukup kencang, ia khawatir kalau sosok itu akan tetap menggorok leher Lily tepat di depan matanya. Namun, tanpa di duga Alexa sosok itu justru menyeringai lebar. "Baiklah."kata sosok itu nampak antusias. "Lily, kau pulanglah. Aku ada urusan yang harus aku selesaikan." balas Alexa dengan dingin. Ia mencoba membuat Lily menjauh agar tak ikut terseret dalam masalahnya. Lily membelalak terkejut terlebih saat sosok yang tadi melingkarkan pisau daging di lehernya langsung melepaskannya begitu saja dan berjalan mengikuti Alexa naik ke lantai atas. Kakinya gemetaran dan ia bingung, ia ingin sekali menyelamatkan Alexa tapi ia merasa begitu takut setengah mati. Karena itu ia masih bergeming di tempat. Namun suara Alexa menginterupsi."Pulanglah, Lily. Kita akan bicara lagi besok pagi."kata Alexa menoleh pada Lily dengan tatapan datar. Ia benar-benar berharap sahabatnya itu memahami kode yang ia berikan dan segera menjauh. "Ikuti saja perkataan temanmu, manis. Atau kau lebih suka menjadi korbanku yang ke sepuluh malam ini?" tanya sosok bertopeng itu sambil terkekeh geli. Lily bergidik mendengar ancaman kental tersirat dari kalimat tersebut. Ia pun mundur perlahan kemudian lari tunggang langgang menuju pintu depan. Namun, setelah pintu itu tertutup Lily kembali menoleh menatap pintu dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum melenggang pergi dari sana. Setelah Lily pergi, Alexa menghembuskan nafas lesu kemudian kembali berjalan menuju kamarnya. **** Kini aku dan dia berdiri saling berhadapan di tengah kamarku. Aku merasa lega saat ia mau melepaskan Lily setelah aku berkata kalau aku mau membicarakan tawarannya tadi siang di kamarku. Tapi sekarang justru aku merasa bodoh. Bagaimana bisa aku membawa dia yang notabene nya adalah badut iblis yang gemar menggorok leher orang ke kamarku. Ke tempat yang justru rentan bagiku untuk dijadikan korbannya. Entah kenapa aku bisa memutuskan hal itu tadi. Pasti otakku sedang kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Tapi setidaknya tidak ada lagi yang mati di depanku. Aku tidak perlu melihat adegan pembunuhan di hadapanku lagi seperti tempo hari. Aku pun menghembuskan nafas sekali lagi dan mengarahkan mataku tepat ke bola matanya yang berwarna biru gelap. Kali ini aku sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri semuanya sekarang. Asumsiku soal tingkah anehnya selama ini ada dua, pertama dia tertarik padaku mungkin karena aku satu-satunya gadis yang berani menentangnya bahkan membuat kepalanya berdarah sehingga ia memutuskan untuk bermain-main denganku sebelum akhirnya melenyapkanku. Atau yang kedua, dia ingin membalas dendam padaku karena perilaku sok ikut campurku yang menganggu kesenangannya waktu itu, menggorok leher orang. Hanya dua kemungkinan itulah yang dapat aku pikirkan saat ini. Jadi, inilah yang akan aku lakukan. Walaupun aku tahu ini sangat beresiko tapi tak ada salahnya untuk dicoba terlebih dulu. "Aku juga ingin mengajukan kesepakatan, Mr. Hemlock." kataku dalam satu tarikan nafas. Ia hanya terkekeh remeh setelah mendengar kalimatku. Sialan. "Dan apa itu?" katanya dengan intonasi yang tiba-tiba berubah menjadi serius. Sontak hal itu pun membuat jantungku semakin berpacu cepat. Aku pun mulai bertanya-tanya dalam hati apakah keputusanku ini sudah benar. Tapi dewi batinku kembali mengingatkan aku untuk tidak goyah pada keputusan awalku. Aku harus mengakhiri semua ini sekarang atau tidak selamanya. "Love me or kill me? Your choice." kataku dengan intonasi tegas. Namun, ia hanya bergeming menatapku intens membuatku merasa was-was setengah mati. "Aku akan menerima lamaran mu itu asal kau mau mencintaiku. Tapi kalau kau tidak mau silahkan bunuh aku saja, jangan ganggu keluargaku. Aku rasa itu setimpal untuk ukuran orang yang perhitungan seperti mu." jelasku lugas. "Tidak. Itu tidak adil."balasnya cepat. Aku pun menoleh kembali padanya dan menatapnya bersiap membalas perkataanya barusan. Tapi kata-kata selanjutnya yang ia lontarkan berhasil membuatku terdiam di tempat. "Tidak adil jika hanya aku yang jatuh cinta sendirian. Kau pun harus bisa mencintai ku, Alexa sayang." katanya yang kini sudah melepas topengnya. Wajahnya yang tampan kembali mengejutkanku apalagi ditambah dengan tatapan lembut seperti itu. APA?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN