CHAPTER 4 : LOVE (s**t)

2188 Kata
Aku hanya mampu mengerjapkan mataku beberapa kali seperti orang bodoh di depan Mr. Hemlock. "Apa? K-kau... bilang apa barusan?"tanya ku tergagap. "Nope. Besok kita bertemu di kampus saat istirahat makan siang."katanya sedikit kikuk kemudian segera berlari menuju pintu depan. "Kenapa dia?"tanyaku heran. Saat ia sudah menghilang dari hadapanku aku masih termangu di tempat yang sama. Otakku seketika lambat bekerja mencerna peristiwa yang baru saja terjadi. Namun aku dikejutkan dengan suara pintu yang di buka kembali secara tergesa-gesa. Dan sosok Mr. Hemlock lah yang muncul disana, ia muncul kembali selang beberapa detik setelah ia pergi melalui pintu depan rumahku. Kemudian ia berjalan cepat ke arahku dan langsung mengambil tangan kananku lalu dengan tiba-tiba memasangkan cincin yang tempo hari ku buang di depan matanya di jari manis ku. Dan setelahnya tanpa sepatah kata apapun ia langsung melenggang pergi dari hadapanku. What the hell?! Aku pun melotot menatap cincin yang baru saja dipasangkan di jari manis ku. Berharap dengan begitu sang empunya cincin yang seenaknya saja memasangkan benda laknat di jariku ini lenyap saja dari muka bumi. Benar-benar sialan. Dewi batinku berteriak marah. Aku mencoba menarik lepas cincin itu tapi tak bisa. Cincin itu malah semakin melingkar kuat di jari manis ku membuatku rasanya ingin berteriak dan memaki. Sungguh, aku benar-benar tidak sabar untuk memberinya pelajaran besok. "Memangnya kau berani, Al?" ejek dewi batinku. Sejujurnya sih tidak. Aku masih sayang nyawaku. Aku tidak mungkin membuatnya mengamuk dan pada akhirnya membuatnya kembali berubah jadi badut sinting yang gemar menggorok leher orang lagi. "Well, mungkin aku hanya akan membuatnya sedikit kesal."kataku sambil tersenyum kecil memikirkan cara balas dendam yang pas tapi tidak sampai membuatnya mengamuk. • • • • Sungguh, semalam benar-benar malam terburuk. Aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku tanpa sedikitpun terbayang wajah Mr. Hemlock. Membayangkannya tiba-tiba berubah jadi badut menyeramkan itu lagi justru membuat tubuhku merasakan getaran yang aneh. Dan lebih anehnya lagi cincin di jari manis ku tiba-tiba bercahaya dengan sendirinya semalam. Pendar hijau tosca yang berasal dari batu permata cincin memantulkan siluet aneh di dinding kamarku. Bentuknya nampak seperti tengkorak manusia dengan mahkota di atasnya. Berkat itu aku tidak bisa memejamkan mataku, sulit untuk memejamkan mata saat otakmu tak bisa berhenti bekerja mencari jawaban logis dari semua kejadian aneh yang menimpamu secara beruntun. Dan pagi ini aku nyaris saja telat masuk kelas. Benar-benar hari yang indah sekali, kataku sarkas. Aku menatap kosong ke arah dosen yang sedang menerangkan entah apa di depan sana sambil mencoba untuk tidak memejamkan mata. Karena aku benar-benar mengantuk sekarang. "Lily aku nanti meminjam catatan mu saja ya... Kepalaku sangat sakit dan aku benar-benar mengantuk sekarang."kataku sambil menguap lebar. "Baiklah, Al. Tapi tutupi dulu mulutmu itu. Jika dosen melihat kau bisa kena hukuman nanti."balas Lily memperingatkan ku. Aku pun langsung menutup mulutku dengan kedua tangan dan memperhatikan keadaan sekitar. Syukurlah tak ada yang memperhatikan tingkahku tadi, mereka semua sedang serius mencatat materi yang di berikan oleh dosen. Waktu perkuliahan pun selesai, aku mengajak Lily ke kantin untuk makan siang sebelum Mr. Hemlock tiba-tiba muncul di depan kelasku. "Hai." katanya sambil tersenyum manis padaku. Gaya berpakaiannya kali ini mampu membuatku terus menatapnya. Ia memakai pakaian serba hitam, dimulai dari kemeja lengan panjang yang sudah digulungnya hingga ke siku, celana kain, hingga sepatu, kecuali jam tangannya yang berwarna cokelat. Dan rambutnya di biarkan berantakan tapi tetap terkesan stylish. Aku merasakan genggaman kuat Lily di lengan kiri ku membuatku menoleh dan menatapnya dengan tatapan bertanya. Namun ia hanya mengedip-ngedipkan matanya membuatku mengernyit bingung. Aku ingin bertanya tapi Mr. Hemlock sudah lebih dulu menginterupsi. Tampaknya ia sudah tidak sabar untuk makan siang— denganku? Sekali lagi aku mengernyit dan akhirnya menggeleng. Aku meminta Lily untuk ikut makan siang bersama kami, namun ia menolak dengan alasan sudah memiliki janji dan kemudian melenggang begitu saja meninggalkan diriku berdua saja dengan Mr. Hemlock di depan ruang kelas. Aku pun berdeham untuk menetralisir debaran aneh di dadaku kemudian mengangguk pada Mr. Hemlock. Kami pun berjalan menuju parkiran untuk menemui—bugatti veyron berwarna hitam metalik? Ah ya, aku lupa kalau pria tampan di depanku ini sangat kaya, warisan turun temurun. Sayang sekali ia adalah badut pembunuh karena kalau tidak, aku mungkin tidak akan berpikir dua kali untuk menerima lamarannya kemarin. Maksudku lihatlah ia, tampan, kaya dengan karir yang cukup mumpuni, siapa yang akan menolaknya?. Mungkin hanya wanita sinting yang akan melakukan itu. Mungkin, kalau aku tidak tahu sisi gelapnya. Dan aku akan jadi salah satu dari sekian banyak penggemarnya. Aku langsung mengernyit jijik membayangkannya. Aku menoleh padanya memperhatikan ia yang sedang konsentrasi mengendalikan bugatti veyron miliknya ini. Lengannya yang sedang menggenggam erat kemudi tampak liat dan kokoh. Rahangnya yang persegi membuatnya terlihat makin tampan, bibirnya yang seksi dan mata birunya yang indah serta tatapan tajamnya yang mampu membuatku takut tapi juga penasaran. Penasaran akan apa yang sanggup ia lakukan padaku. **** Setelah berkendara kurang lebih satu jam, mereka akhirnya sampai di sebuah restoran bergaya vintage. Mr. Hemlock segera turun dari mobil dan berjalan memutari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Alexa yang terlihat kaget mendapatkan perlakuan manis seperti itu. Namun ia menutupinya dengan berdeham dan berkata terima kasih dengan setenang mungkin. Mr. Hemlock hanya menanggapi dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Ia pun merangkul pinggang Alexa dan menuntunnya ke dalam restoran itu. Sentuhan itu mengirim getaran listrik statis yang berhasil membuat jantung Alexa berdebar keras di dadanya. Ia berharap Mr. Hemlock tidak dapat mendengar debaran jantungnya itu, namun ternyata tanpa Alexa sadari lagi-lagi Mr. Hemlock menyunggingkan senyum tipis karena ia dapat mendengar dengan sangat jelas debaran jantung Alexa yang bagaikan ajakan bercinta untuk dirinya. Ia pun tak sabar menanti saat dimana Alexa pasrah di bawah kuasanya. Ia menuntun Alexa ke meja yang sudah ia pesan yang terletak di ruang private khusus tamu VIP. Alexa tentu terkejut saat pertama kali memasuki ruangan tersebut. Ia langsung merasa waspada jaga-jaga jikalau pria di sampingnya ini melakukan hal-hal yang mencurigakan. "Aku tidak akan membunuhmu di sini, sayang. Tidak, sampai kau melahirkan anak-anak ku kelak." kata Mr. Hemlock seraya mengecup lembut tangan Alexa. Alexa terdiam tak menanggapi, pikirannya makin kalut saat ini. "Anak?!"desis batinnya. Dan tanpa dipinta bayangan dirinya menggendong seorang bayi mungil nan tampan pun terlintas di benaknya. Bayi yang tampan dengan mata berwarna biru sebiru lautan yang sedang merengek di pangkuannya, tapi kemudian bayi tampan itu berubah menjadi badut cilik dengan kulit semerah darah lengkap dengan cengiran sadis yang terbit di bibirnya. Alexa langsung mengenyahkan bayangan menyeramkan itu dan mencoba fokus pada situasi saat ini. Ia pun mengalihkan atensinya pada Mr. Hemlock yang sedari tadi ternyata sedang memperhatikannya dalam diam. Alexa langsung merasa gugup saat ditatap sedemikian intens seperti itu, jadi dia berdeham sekali untuk menetralkan kegugupannya dan memulai obrolan dengan Mr. Hemlock agar suasana tidak canggung lagi. **** "Apa tujuanmu mengajakku makan siang, Mr. Hemlock? Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanyaku dengan tenang. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain saat justru Mr. Hemlock hanya membalas pertanyaan ku tadi dengan kekehan kecil. Suara kekehan yang justru terdengar dingin dan mengejek. Sepertinya ia sedang mencoba untuk mengintimidasi ku saat ini. "Tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, Alexa. Apa itu salah?" balasnya. Oh aku benci saat ia menyebut namaku dengan intonasi seperti itu! It's sound disgusting! Gumam ku dalam hati. Aku mencoba memberanikan diri untuk menatap matanya. Mencoba membacanya dan berharap ada celah disana agar aku bisa menyingkirkannya dari hidupku. Tapi anehnya matanya justru menyorot lembut berbanding terbalik dengan nada suaranya yang terkesan dingin dan mengejek. Aku nyaris tersedot pusara biru itu jika saja pelayan tidak datang menginterupsi. Pelayan datang membawa makanan pesanan kami, lebih tepatnya pesanan pria di hadapanku ini karena sedari tadi aku sama sekali tidak menyentuh buku menu untuk memesan. Lihat! Bahkan aku tidak diizinkan untuk memesan makananku sendiri. Apa-apaan?! Satu kata untuknya, egois. Dia adalah perpaduan pas untuk tipe laki-laki yang masuk daftar blacklist ku. Aku benar-benar tidak sudi jika harus menghabiskan sisa hidupku dengan pria egois macam dia. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa berbuat banyak untuk kali ini demi keselamatan nyawaku. Namun aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mencari cara apapun untuk melepaskan diri darinya. Pada akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti alur yang ia buat hanya untuk saat ini. Makan dengan tenang dan anggun, kami sama sekali tidak memulai pembicaraan apapun selama kami menikmati hidangan yang tersaji. Hidangan yang disajikan cukup menggiurkan sebenarnya, steak daging sapi nya sangat enak sepertinya menggunakan daging sapi kualitas terbaik sehingga dagingnya terasa sangat lembut di mulut. Setelah selesai makan aku izin ke toilet sebentar pada Mr. Hemlock. Ia pun mengizinkan tapi hanya lima menit karena ia harus segera kembali ke kampus. Dalam hati aku merutukinya, siapa juga yang menyuruhnya untuk mentraktirku makan siang di tempat sejauh ini? Aku pun bergegas menuju toilet karena waktuku tidak banyak. Tapi nampaknya aku tersesat. Aku menoleh ke kanan kiri guna mencari pelayan restoran atau seseorang yang dapat kutanyakan arah. Tapi tidak ada satupun orang yang lewat. Jadi aku memutuskan untuk terus berjalan hingga aku mendengar suara banyak orang dan suara alat-alat masak. Aku pun berjalan ke arah sebuah pintu besar terbuat dari baja yang sedikit terbuka, nampaknya itu adalah dapur restoran ini. Entah kenapa aku justru mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit itu. Beberapa ada yang sedang sibuk menggoreng, merebus atau memanggang entah apa dan beberapa lagi ada yang sibuk memotong-motong daging yang ukurannya cukup besar. Karena penasaran dengan orang-orang yang sedang memotong-motong daging tersebut aku pun berjalan semakin mendekati celah pintu itu. Aku melihat ada beberapa orang yang sedang menguliti daging dengan pisau khusus. Saat mataku beralih pada meja yang berada tepat di belakang orang-orang yang sedang menguliti daging, mataku langsung melotot nyaris keluar. Bagaimana tidak, di sana di meja itu terdapat potongan kepala manusia yang sudah tidak utuh lagi, maksudku bagian wajah mereka sudah rusak seperti habis di hantam sesuatu bahkan ada yang bola matanya hilang sebelah. Kenapa aku sebut 'mereka' karena jumlah kepala itu tidak hanya satu melainkan lima kepala yang kesemuanya sudah tidak utuh lagi. Seketika aku langsung merasa ingin memuntahkan isi perutku. Tempat apa ini?! Jeritku dalam hati. Aku segera mundur dan berbalik arah untuk kembali ke ruang private yang di sewa Mr. Hemlock tadi dan melupakan niatku yang ingin ke toilet. Karena yang paling penting sekarang adalah kami harus segera pergi dari tempat ini. Saat sampai di sana aku langsung terduduk dengan wajah yang ku yakini sudah pucat pasi dan terengah. "Kita harus segera pergi dari sini, Mr. Hemlock." kataku seraya menariknya untuk berdiri. "Kau melihatnya ya?"katanya diiringi dengusan lelah. Aku hanya menatapnya bingung atas reaksinya barusan. "Sepertinya aku harus segera menyingkirkan mereka semua karena sudah membuatmu melihatnya."katanya lagi seraya menyentuh pipiku lembut kemudian mengecup keningku. Aku hanya mampu terdiam karena masih belum bisa mencerna situasi yang membingungkan ini. Mr. Hemlock tiba-tiba berdiri dan berjalan ke pintu. Tapi aku segera mencegatnya. "Bisa jelaskan apa maksudnya tadi?" kataku menuntut. "Sungguh, aku benar-benar minta maaf karena kau melihat sesuatu yang seharusnya tidak kau lihat. Tapi aku berjanji kalau hal ini tidak akan terjadi lagi. Jadi biarkan aku mengurusnya untukmu, sayang. Tenang saja hanya lima menit." katanya panjang lebar seraya melepaskan cekalan tanganku dengan lembut. "Kau pemilik restoran ini?"tanyaku dengan suara tercekat. "Ya." jawabnya enteng. "Kau...bagaimana bisa kau menggunakan daging manusia untuk di hidangkan pada pelanggan mu?"tanyaku pelan mencoba meredam emosi yang tiba-tiba saja menggelegak. Beraninya ia memberikanku daging sesamaku untuk ku jadikan makan siang!. Desis ku dalam hati. Tanganku mengepal kuat bersiap untuk meninjunya. "Semua pelanggan ku datang ke sini memang untuk mencicipi itu, sayang."katanya sambil menatap ku dengan tatapan yang sulit di artikan. Tiba-tiba ia berjalan menghampiriku, refleks aku mundur selangkah dan ia justru tertawa mengejekku. Melihat ia tertawa mengejek seperti itu membuatku merasa dipecundangi hingga akhirnya aku memutuskan untuk merangsek maju dan menubrukkan tubuhku pada tubuhnya. Kedua tanganku menarik wajahnya mendekat dan dengan secepat kilat aku meraup bibirnya, menciumnya dengan keras. Mulanya bibirnya hanya diam tak menanggapi tapi sedetik kemudian dia membalas ciumanku dengan lebih liar dan menuntut. Aku tak tahu kenapa aku tiba-tiba saja menciumnya seperti ini, mungkin aku sudah tertular penyakit gila dari pria sinting yang sedang aku cium ini. Kami saling memagut bahkan lidah kami sudah saling membelit, tubuh kami pun saling menempel erat. Tangannya merengkuhku dengan begitu posesif sedangkan yang lainnya menahan tengkukku untuk memperdalam ciuman kami. Dan tanganku juga sudah melingkar manis di lehernya. Kami berhenti setelah aku nyaris kehabisan nafas. Aku mendorongnya menjauh dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Kami berdua sama-sama terengah dengan wajah memerah setelah ciuman panas kami barusan. "Singkirkan tempat ini secepatnya jika kau masih ingin hubungan ini berlanjut." kataku dingin seraya bergegas berjalan menuju pintu. Sial. Apa yang sudah ku lakukan tadi?!. Rutuk ku dalam hati. Kemudian aku segera berjalan cepat menuju pintu keluar kafe ini tanpa memperhatikan apakah Mr. Hemlock mengikutiku atau tidak. Yang ada dipikiran ku saat ini adalah segera pergi dari tempat ini sebelum aku melakukan hal yang lebih gila dari ciuman panas tadi. Apa-apaan tadi? Bagaimana bisa aku menciumnya duluan seperti itu?! Benar-benar memalukan. Desahku seraya mengusap wajahku frustrasi. Saat selangkah lagi diriku mencapai pintu keluar seseorang menarik ku dan membalikkan badanku sehingga diriku menabrak d**a bidangnya. "Baiklah. Sebagai gantinya kau harus bersedia menjadi pengantinku. Segera."kata Mr. Hemlock sambil menatapku dengan tatapan tajam menuntut. Aku hanya bisa melongo mendengar perkataannya barusan. What the hell?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN