Aku melihat Alexa sempat kaku sesaat setelah mendengar kalimat ku barusan. Yah, semua wanita yang waras pasti akan bereaksi seperti Alexa. Wajar saja jika ia seperti itu, ia sudah begitu dalam mengetahui sisi gelapku. Tidak ada satu orang pun yang tahan jika mengetahui seorang monster pembunuh melamarmu bahkan menyatakan cinta padamu. Semua orang pasti akan ketakutan dan lari. Mereka pasti akan mencoba untuk bersembunyi. Tapi tidak dengan Alexa, meskipun aku tahu ia menyembunyikan kedua orang tuanya di sebuah negara bernama Indonesia. Tapi ia tidak lari, bahkan ia berani menatapku dengan tatapan tajam menusuk. Well, itulah kenapa aku jadi sangat menyukainya.
"Tidak." tiba-tiba suara lembut Alexa menginterupsi. Aku mengernyitkan dahi ku dalam mencoba meredam emosi yang seketika merambati seluruh benakku. Aku benar-benar ingin membekapnya saat ini dan membiusnya lalu ia akan kubawa ke rumahku, istanaku. Dan segera, akan ku jadikan ia ratu sekaligus permaisuri ku disana.
"Why ?" tanyaku tidak suka. Tanganku tanpa sadar menarik tangannya dan mencengkeramnya erat hingga ia meringis kesakitan kemudian segera menghempaskan cengkraman tanganku dengan kasar.
"Kau tidak bisa menolaknya, Alexa. Kau tidak bisa!" kataku segera dengan emosi yang meluap-luap.
"Jangan coba-coba memaksaku, Mr. Hemlock. Aku sangat tidak suka dipaksa." balasnya dingin. Kemudian pergi meninggalkanku begitu saja. Aku menggeram marah dan menatap nyalang sosok Alexa yang perlahan menghilang ditelan kerumunan para pejalan kaki. Aku benci ditolak. Belum pernah ada yang menolak ku selama ini, termasuk para korban ku. Mereka bahkan dengan sukarela menyerahkan diri padaku meskipun mereka akhirnya hanya menjadi seonggok tubuh tak bernyawa.
Aku pun segera berbalik menuju mobilku. Aku benar-benar butuh pelampiasan saat ini. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Tertera nama Cathy di sana. Aku pun menyeringai.
"Ya, baby doll. Aku juga sangat merindukanmu. Baiklah, aku akan menunggumu." kataku manis.
Ah, saatnya berpesta!
****
Sesampainya ia di mansion nya, Mr. Hemlock pun segera turun dari mobilnya dan berjalan santai memasuki istananya itu. Sekilas dari luar mansion itu terlihat biasa saja, dengan desain modern dan mewah. Namun, tidak ada yang tahu kalau di setiap sudut rumah tersebut tersembunyi beragam macam perangkap yang di gunakan untuk mencegah para korban agar tidak bisa lari. Dan juga jangan lupakan di setiap sudut rumah terdapat cctv untuk mengawasi gerak-gerik setiap orang yang ada di mansion itu.
Dan kini Mr. Hemlock menyuruh Richard, kepala pelayannya, untuk menyiapkan kamar red-bunny untuk ia berpesta saat ini.
Red-bunny adalah code name untuk kamar terburuk. Itu adalah kamar dengan tingkat penyiksaan yang tidak dapat di duga dan tidak pernah ada yang berhasil keluar hidup-hidup dengan atau tanpa anggota tubuh yang masih utuh. Mereka semua berakhir sebagai potongan-potongan daging yang akan menjadi makanan untuk anjing-anjing penjaga di sana.
Well, Mr. Hemlock memang sedang dalam mode iblisnya saat ini. Ia benar-benar marah saat Alexa menolaknya, berulang kali. Ia ingin melampiaskannya pada Alexa tapi ia tidak bisa melihatnya tersakiti. Hal itu membuatnya frustrasi dan semakin marah. Maka dari itu ia mengalihkannya pada orang lain. Orang yang menurutnya lebih pantas daripada Alexa nya yang cantik. Membayangkan wajah cantik Alexa hanya membuat tubuhnya semakin tegang, ia benar-benar butuh pelepasannya sekarang juga.
•
•
•
•
•
Sebuah mobil mewah berwarna merah menyala berhenti di pelataran parkir mansion itu. Dan seorang wanita berambut pirang dengan dandanan yang berlebih keluar dari dalamnya. Ia berjalan anggun memasuki mansion dan berhenti saat netra hijaunya menangkap kehadiran Richard, sang kepala pelayan, yang sedang berjalan menghampirinya.
"Dimana Nathan, Richard?" tanya wanita itu sambil menyerahkan mantel berbulunya kepada sang kepala pelayan.
Richard, sang kepala pelayan tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan penampilan tamu wanita tuannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sebenarnya wanita ini cukup cantik hanya saja sifatnya dan kelakuan buruknya lah yang menutupi kecantikan itu, alih-alih cantik memesona wanita dihadapannya ini benar-benar terlihat seperti p*****r murahan yang haus belaian dari para lelaki hidung belang. Lihat saja pakaiannya yang hampir mempertontonkan seluruh lekuk tubuh wanita itu yang memang menggiurkan, serta bibir seksi yang dipoles dengan lipstik merah darah, dan jangan lupakan tatapan meremehkan itu seolah-olah ia lah satu-satunya sang ratu yang patut dipuja padahal setelah ini ia hanya akan menjadi seonggok daging tak berguna yang akan jadi makanan para anjing di mansion ini. Richard tertawa sinis dalam hati, menertawakan nasib wanita cantik di hadapannya yang sebentar lagi akan menjadi salah satu korban kekejaman tuannya.
Wanita itu kemudian menoleh dan menatap Richard tajam setelah mengetahui bahwa dirinya sedang di tatap diam-diam oleh pelayan rendahan dihadapannya ini. Namun Richard tak menghiraukan itu. Ia pun meminta wanita itu untuk mengikutinya.
Saat sudah sampai di depan kamar yang telah di perintahkan oleh tuannya , Richard mempersilahkan wanita itu untuk masuk karena sang tuan sudah menunggunya di dalam.Tanpa membuang waktu lagi, jari-jari lentik dengan kuku-kukunya yang diberi warna merah itu langsung meraih kenop pintu dan masuk ke dalam meninggalkan sang kepala pelayan yang masih berdiri di depan pintu dengan seringaian misteriusnya sebelum melenggang pergi dari sana.
"Akhirnya kau datang juga, baby doll." adalah hal pertama yang menyambut wanita itu saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di dalam kamar.
****
Mr. Hemlock menyeringai lebar melihat kelinci santapannya berdiri dengan elok tepat dihadapannya. Ya kelincinya yang ini memanglah nyaris sempurna kecuali baunya yang sangat busuk dan juga sangat amis. Seperti luka yang dibiarkan begitu saja tanpa diobati bahkan dibersihkan. Baunya sangat menjelaskan dirinya, sangat kotor. Cantik di luar busuk di dalam.
"Kau memang selalu cantik, Cathy." puji Mr. Hemlock. Namun kau juga sangat busuk seperti bangkai. Lanjut nya di dalam hati seraya menatap tajam ke arah manik hijau yang kini tengah menatapnya dengan menggoda.
Lancang sekali.
"Apa kabar, Nathan? Mengapa baru menghubungiku sekarang? Kau tahu, aku sangat merindukanmu."katanya disertai kerlingan menggoda. Ia berjalan menghampiri Mr. Hemlock dengan melenggak-lenggokkan bokongnya yang malah terlihat seperti orang yang sakit pinggang di mata Mr. Hemlock.
Well, kecuali jika Alexa yang melakukan itu. Batinnya seraya membayangkan Alexa berjalan dengan cara yang sama dan hasilnya jantung Mr. Hemlock langsung berdebar keras karena terlalu mendamba.
Tetapi lamunan indahnya terinterupsi berkat sentuhan Cathy di pipinya. Ia nyaris langsung menghujam pisau kecil kesayangannya yang tersimpan apik di dalam saku celananya ke leher mulus wanita itu jika saja ia tak ingat kalau ia masih ingin bermain-main dulu. Benar-benar lancang. Desis batinnya tak suka. Ia menatap Cathy dengan sangat tajam, namun sepertinya tatapan itu disalah artikan oleh wanita itu. Karena ia langsung bergelayut manja di dadanya dan menatapnya dengan tatapan nakal.
"Jadi?"tanyanya dengan lirikan menggoda andalannya. Cathy sama sekali tak sadar kalau dirinya saat ini tengah menyodorkan diri dalam bahaya.
Mr. Hemlock menyeringai licik melihat korbannya yang sama sekali tak menyadari kematian yang akan segera menjemputnya. Ia pun ikut mendalami perannya dengan sangat baik. Ia membalas tatapan menggoda itu dengan ciuman panas yang ia daratkan di bibir semerah darah itu dan menyadari rasanya benar-benar berbeda dengan saat ia mencium bibir milik Alexa. Yang ini rasanya begitu memuakkan hingga rasanya ia akan dengan senang hati untuk merobeknya. Mr. Hemlock pun dengan sengaja mengigit bibir ranum itu dengan cukup keras hingga mengeluarkan darah dan menghisapnya dengan penuh suka cita.
Tapi ternyata hal semacam itu justru sangat disukai oleh Cathy, terlihat dari erangan tertahan yang tanpa sengaja keluar dari bibirnya membuat Mr. Hemlock semakin bersemangat untuk segera ke bagian inti. Dengan gerakan yang luwes dan tak terbaca ia mengeluarkan pisau kecil kesayangannya dari dalam saku celana bahannya.
Mata pisau itu berkilat tajam, Cathy yang masih terbuai oleh ciuman panas Mr. Hemlock sama sekali tak menyadari jika ada sebuah mata pisau yang mengarah tepat ke urat nadi di leher mulusnya. Lalu saat mata pisau itu berhasil membuat sayatan yang cukup dalam, Cathy baru menyadari kalau nadi di lehernya sudah robek dan mengalirkan banyak darah segar.
Ia menatap terkejut pada Mr. Hemlock seraya mundur selangkah demi selangkah. Otaknya mendadak beku karena terlalu terkejut sedangkan tangan kanannya terus menerus menekan luka sayatan itu berharap aliran darah tersebut berhenti. Ia semakin mundur mencoba menghindari Mr. Hemlock yang masih memegang pisau berlumuran darah. Matanya semakin membulat takut saat seringai iblis itu terbit semakin lebar di bibir sosok laki-laki yang ia pikir begitu mencintainya ini. Ia akhirnya jatuh terlentang di tengah ranjang dalam keadaan lemas karena telah kehilangan banyak darah.
Sedangkan Mr. Hemlock berdiri menjulang di atasnya dengan tatapan mengintimidasi, menatap dirinya yang kian melemah di setiap helaan nafasnya. Darahnya tanpa henti mengalir membuat bed cover berwarna broken white itu dibanjiri darah segar.
Lalu dengan tiba-tiba Mr. Hemlock mengacungkan pisau bergerigi tajam tadi tepat ke hadapan wajahnya. Cathy hanya mampu menatap ujung mata pisau itu yang berkilat terkena pantulan lampu tanpa mampu melakukan perlawanan.
"Oh, kelinci manis ku. Kenapa sekarang kau diam saja? Ah, tapi mulutmu yang sangat cerewet lebih menganggu."kata Mr. Hemlock seraya tertawa dingin. Ia menggerakkan mata pisaunya dengan sangat lembut mengelilingi wajah Cathy dan Cathy sendiri hanya mampu melirikkan matanya mengikuti ke mana pisau itu di arahkan.
Lalu dengan tiba-tiba ujung mata pisau itu sudah kembali menusuk kulit pipinya dan mulai menyayat nya perlahan. Cathy yang melihat kulit wajahnya sedang disayat perlahan langsung berteriak histeris karena ketakutan juga kesakitan. Namun teriakan histerisnya itu segera terbungkam saat pisau kecil itu menghujam cepat dan dalam tepat pada tenggorokan Cathy membuatnya mengeluarkan suara tercekik mengerikan. Ia sekarat dan hal itu justru membuat Mr. Hemlock kesenangan. Ia segera mengambil gergaji mesin yang ada di bawah ranjang lalu menyalakannya.
Bunyi desing gergaji mesin memenuhi ruangan kamar itu, Cathy yang masih dalam keadaan sekarat mengerahkan tenaganya yang tersisa untuk menoleh ke arah Mr. Hemlock menatapnya dengan tatapan nanar untuk terakhir kalinya. Kemudian gergaji mesin itu berdesing dan membelah tubuh Cathy secara horizontal, mencipratkan darah merah segar ke seluruh kamar. Mr. Hemlock pun menyeringai puas menatap hasil 'masterpiece' nya yang hampir jadi. Ia menghirup dalam-dalam bau anyir darah yang menguar dari mayat Cathy, baunya seketika mendatangkan euforia tak terhingga.
Sekarang hanya tinggal memotong-motong bagian tubuhnya kecil-kecil agar mudah digiling oleh Richard nanti. Tapi sebelum itu ia menoleh ke arah kamera yang memang sengaja dipasang di sudut langit-langit kamar. Kemudian tersenyum sangat manis ke arah kamera menyadari Alexa sedang menonton pertunjukkannya secara live saat ini. Dia bahkan melambaikan tangannya pada kamera lalu mencelupkan tangannya pada genangan darah yang tercipta akibat apa yang ia lakukan barusan. Kemudian menuliskan sesuatu di dinding yang menghadap langsung ke kamera.
Tulisan itu berbunyi, "Aku sangat mencintaimu Alexa. Kamu hanya milikku!!" lalu menatap hasil karyanya dengan senyum bangga.
****
Setan alas!
Badut b******k itu benar-benar! Aku segera berlari ke arah Maggie salah satu temanku yang sedang berada di dapur untuk memintanya menggantikan ku dulu hari ini. Aku bilang padanya bahwa dosenku tiba-tiba meminta bertemu hari ini untuk membahas thesis yang bahkan belum ku buat sampai sekarang. Benar-benar sialan! Tapi untungnya Maggie percaya dan bahkan menyemangati ku. Maafkan aku, Maggie. Desahku dalam hati.
Setelah mengambil barang-barangku yang ku simpan di loker aku pun segera meninggalkan cafe milik Mrs. Baskerville secepat kilat. Aku menelepon Mr. Hemlock untuk meminta kejelasan atas apa yang baru saja aku lihat, tapi dia tidak mengangkatnya sama sekali. Membuatku menggeram frustrasi seraya melontarkan makian kasar untuknya tak peduli kalau saat ini aku jadi bahan tontonan para pejalan kaki.
Namun, tiba-tiba aku dikejutkan dengan sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal. Pesan itu berisikan sebuah alamat lengkap dengan kalimat rayuan manis yang terlihat memuakkan untukku yang ku yakini berasal dari Mr. Hemlock. Aku pun langsung memberhentikan taksi dan segera memberitahukan alamat yang ku tuju. Taksi pun berjalan membelah jalanan London yang ramai sore itu.
Satu jam kemudian aku pun sampai di depan sebuah mansion mewah bergaya modern, tapi di mataku mansion mewah ini hanyalah kamuflase dari bentuk sarang iblis versi lebih modern. Mansion ini letaknya terpencil, tidak ada rumah-rumah lainnya sejauh mata memandang yang ada hanyalah hutan dan ladang gandum yang sepertinya sudah siap untuk dipanen. Benar-benar lokasi yang strategis untuk bersembunyi.
Semilir angin meniupkan helai-helai rambutku saat aku melangkah masuk ke dalam mansion. Kedatanganku disambut oleh pria paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai Richard, kepala pelayan di mansion ini. Aku pun hanya mengangguk sekilas padanya dan tanpa basa basi ia langsung mengantarku pada tuan iblisnya itu.
Kami menaiki tangga melingkar yang indah. Aku tak sempat dan tak ingin mengagumi interior mansion ini karena bagiku mau seindah apapun ini tak lebih dari sekedar neraka kamuflase. Kami pun akhirnya sampai di depan sebuah ruangan dengan pintu ganda berwarna putih. Aku menyipitkan mataku.
"Ruangan apa ini, Mr. Richard?" tanyaku. Entah aku salah lihat atau apa, tapi tadi aku menangkap gestur terkejut dari laki-laki paruh baya di depanku ini. Kemudian ia menoleh padaku dan menatapku dengan tatapan sulit diartikan.
"Tolong, Richard saja Miss Quenzel. Dan tuan memintamu untuk menunggu sebentar di dalam. Ia akan segera menemui anda setelah urusannya selesai." katanya datar.
"Kalau begitu saya mohon undur diri." lanjutnya kemudian dan pergi setelah sebelumnya mengangguk sopan padaku.
Aku pun hanya tersenyum tipis menanggapi karena pikiranku berkecamuk soal kalimat setelah urusannya selesai yang dikatakan oleh Richard tadi. Urusan yang belum selesai itu pastilah berhubungan dengan pertunjukkan yang ia tunjukkan padaku tadi. Jadi alih-alih masuk aku justru memutuskan untuk memeriksa lorong ini. Ada begitu banyak kamar di sini dengan warna pintu yang berbeda-beda. Ada yang berwarna putih, hitam, merah, kuning, biru, cokelat dan yang terakhir pintu berwarna pink yang berada di ujung lorong. Aku masih berada di depan pintu berwarna putih di mana Richard memintaku untuk menunggu tuannya di dalam namun aku menolaknya. Setelah menatap sekeliling yang sangat sepi aku pun mulai melangkahkan kakiku, satu langkah..., dua langkah..., tiga langkah...—aku langsung mematung di tempat saat mengenali suara tawa serak barusan. Suara itu berasal dari balik pintu berwarna merah tepat di sampingku. Aku pun menoleh dan memperhatikan pintu itu dengan seksama, warnanya merah mencolok dengan gagang pintu berwarna emas dan—ada noda merah seperti darah kering di sana. Aku pun terdiam menatap syok pada pintu itu lalu telingaku kupertajam lagi agar bisa mendengar suara sekecil apapun.
Dan aku mendengarnya lagi. Kali ini ditambah dengan suara seperti seseorang yang sedang memotong-motong sesuatu.
Aku pun berjalan mendekati pintu kamar itu. Meski awalnya ragu, akhirnya aku memberanikan diri untuk meraih dan memutar kenop pintunya. Dan bau anyir darah yang amat pekat seketika menyambut ku disusul pemandangan Mr. Hemlock yang sedang memegang kapak dan seonggok tubuh seorang wanita yang sudah terpotong-potong sebagian berserakan di sekelilingnya. Sontak aku pun langsung menutup mulut dan memelototkan mataku menatap pemandangan yang ada di depanku.
"Bukankah sudah ku perintahkan kau untuk menunggu dulu, sayang?" katanya dengan nada sinis sambil tersenyum manis padaku.
Seketika rasa marah yang entah datang dari mana muncul lalu menjalar ke ubun-ubun ku dan rasanya aku ingin sekali meledak. Aku benar-benar benci berada di posisi tidak berdaya seperti ini, ingin melawan tidak punya kekuatan tapi diam saja rasanya sama seperti bunuh diri. Aku mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat sampai buku-buku jariku memutih tak peduli jika tanganku bisa terluka nanti. Rasanya seperti dijatuhi bom waktu. Ini sudah di luar batas toleransi ku.
"Kau membunuhnya hanya untuk melampiaskan kekesalan mu pada ku karena aku sudah menolak mu berulang kali lalu dengan trik konyol mu kau memanipulasi ku dan membuatku mau menerimamu, berharap aku akan takut dan akhirnya aku pun terpaksa mencintaimu." itu pernyataan terpanjang yang terlontar dari mulutku untuk Mr. Hemlock. Aku pun terkejut aku belum meledak saat ini.
"Nathan." panggilku dengan nada dingin yang kental lalu tersenyum manis sambil berjalan mundur perlahan. Ia langsung menoleh dan menatapku dengan bingung, mungkin ia bingung dengan intonasi suaraku. Tapi aku tidak peduli sama sekali, ini sudah di luar batas toleransi ku.
"Kau memang membuatku tidak punya pilihan lain selain—..." jeda yang sengaja kuberikan untuk membuatnya paham bahwa aku tak hanya sekedar marah padanya. Ku tatap manik biru nya dengan tatapan tajam menusuk. Dan kini ia menatapku dengan tatapan was-was seperti menanti hukuman mati.
"...membencimu." kataku dengan nada yang lebih dingin dari sebelumnya kemudian segera berlari menuju pintu keluar mansion.
Kali ini sudah ku putuskan kalau aku juga akan pergi meninggalkan negara ini dan menyusul kedua orang tuaku di Indonesia. Sudah cukup bagiku, aku benci dipaksa dan aku benci dipermainkan seperti ini apalagi hingga membuat orang lain menjadi korban hanya gara-gara aku. Aku akan menghilang bersama kedua orang tuaku. Aku akan mengganti identitas kami kalau perlu. Dan akan ku lupakan semua memori sialan ini. Persetan dengan thesis atau gelar magisterku. Yang ku perlukan sekarang hanyalah menjauh sejauh-jauhnya dari badut iblis sialan itu.
****
Mr. Hemlock sempat terpaku sesaat setelah melihat tatapan dingin yang sarat dengan kebencian dari kedua bola mata Indah Alexa. Serasa ada ribuan jarum yang menusuk ulu hatinya membuat ia untuk pertama kali merasakan bumi yang dipijaknya goyah dan tanpa ia sadari terdengar suara patahan di sudut hatinya yang tersembunyi, suara patahan itu segera menyadarkannya dari keterpakuan.
"Tidak. Tidak. Tidak!" teriaknya marah. Ia pun segera bangkit dan berlari mengejar Alexa.
"Tutup semua pintu keluar! Jangan izinkan siapapun keluar dari mansion ini!" perintahnya pada Richard yang ia temui di bawah tangga yang segera di angguki cepat oleh Richard. Tanpa memedulikan apakah perintahnya segera dilaksanakan atau tidak ia terus berlari dan segera berbelok menuju pintu depan mansion dan berharap Alexa belum keluar dari mansionnya.
Jarak antara tangga menuju lantai dua mansion dengan pintu keluar serasa sangat jauh bagi Mr. Hemlock saat ini. Ia pun mengutuk mansionnya yang terlalu besar membuatnya kesulitan untuk menahan Alexa. Ia benar-benar merasa tidak sanggup menjalani hidup jika Alexa benar-benar menghilang dari hidupnya seperti apa yang tersirat di kedua mata indahnya tadi. Dan untuk pertama kalinya juga ia merasa tak berdaya dan tak aman. Ia ingin merengkuh Alexa saat ini juga untuk memastikan kalau Alexa masih ada disisinya, dan akan terus berada di sisinya.
Saat ia sudah mencapai pintu keluar netra birunya menangkap pemandangan paling melegakan seumur hidupnya. Ia melihat Alexa. Alexa masih disini bersamanya. Ia pun tersenyum kemudian berjalan cepat menghampiri Alexa yang sedang meronta di bawah cengkraman para bodyguard nya.
Dengan sekali sentakan tubuh Alexa kini sudah berpindah ke pelukan Mr. Hemlock. Ia pun memeluk erat tubuh Alexa dan menciumi kepala gadis itu.
"Kau tahu, aku nyaris saja membantai habis seluruh penghuni mansion ini jika saja mereka tak berhasil menangkap mu." jelas Mr. Hemlock seraya mengelus lembut surai cokelat terang milik Alexa.
Namun....
"Ma-maaf tuan...." kata wanita yang berada di pelukan Mr. Hemlock.
Seketika itu juga Mr. Hemlock pun menarik paksa surai cokelat terang itu dan ternyata itu hanyalah wig. Gadis yang ia peluk ternyata bukanlah Alexa melainkan salah satu pelayan di mansionnya. Habis sudah kesabaran Mr. Hemlock. Kini wajahnya perlahan berubah menjadi putih pucat dan gigi-gigi tajam mulai mengintip dari dalam mulutnya. Ia pun tertawa gila sebelum melahap kepala pelayan wanita itu dengan sekali gigit. Suara tulang tengkorak yang remuk dan darah yang muncrat kemana-mana membuat para bodyguard Mr. Hemlock mundur perlahan karena ketakutan melihat tuannya tiba-tiba sudah berubah menjadi badut kanibal. Tapi terlambat, sang badut kanibal itu mengarahkan kuku-kuku tangannya yang tajam dan besar untuk mencabik-cabik tubuh para bodyguardnya yang tak becus menangkap gadisnya itu. Darah dan potongan daging pun berserakan di halaman depan mansion. Setelah selesai, kemudian ia berbalik untuk kembali ke dalam mansion sambil manjilati kuku-kukunya yang belepotan darah dengan seringai puas tersungging di bibirnya.
Aku akan memburu mu, sayang. Jadi tunggulah aku. Desis sang badut seraya menyeringai lebar.