Alexa menganga terkejut saat menyaksikan secara langsung pembantaian yang dilakukan Mr. Hemlock pada pelayan wanita yang bernasib sial karena memakai wig dengan warna sewarna rambutnya dan para bodyguard yang mencoba menolongnya tadi. Ia hampir keluar dari persembunyiannya kalau saja Mr. White, pria paruh baya yang merupakan kepala bodyguard di mansion itu tidak menahannya. Mereka sedang bersembunyi di balik dinding yang ditumbuhi semak daun ivy.
"Jangan, Miss Quenzel. Tolong jangan sia-sia kan pengorbanan kami." kata Mr. White. Ia pun menyuruh Alexa untuk diam tak bersuara saat mata tuanya menangkap pergerakan tuannya. Mr. Hemlock terdiam sesaat dengan senyum misterius samar.
Namun tanpa mereka ketahui, penciuman tajam yang di miliki Mr. Hemlock dapat mencium aroma manis khas Alexa nya. Ia tahu Alexa masih berada di sekitaran mansionnya, tapi kali ini ia akan melepaskannya dulu. Ia ingin mengetahui sampai sejauh mana Alexa sanggup lari darinya, baru ia akan membuat Alexa nya tidak sanggup pergi dari sisinya apapun yang terjadi dengan caranya sendiri. Setelah itu ia akan menjadikan Alexa miliknya, seutuhnya. Ia pun berbalik dan berjalan santai kembali ke dalam mansionnya seraya menjilati kuku-kukunya yang belepotan darah.
Mr. White dan Alexa pun akhirnya mendesah lega saat melihat Mr. Hemlock sudah menghilang di balik pintu mansionnya. Mereka tidak tahu kalau Mr. Hemlock bukanlah pria sembarangan yang bisa dianggap remeh apalagi jika itu mengangkut sesuatu yang menjadi miliknya, dalam hal ini Alexa yang sudah ia klaim sebagai miliknya meskipun Alexa tak menyukai itu sama sekali. Keputusannya adalah mutlak dan tak bisa diganggu gugat.
Berjalan mengendap mereka pun keluar dari gerbang kecil yang dikhususkan untuk keluar masuk para pelayan. Saat mereka sudah cukup jauh dari mansion itu, mereka pun memutuskan untuk berpisah. Kebetulan sekali hari ini adalah hari terakhir Mr. White bekerja di mansion itu karena ia memutuskan untuk pensiun dan kembali ke kampung halamannya di Italia. Alexa sempat mengajak Mr. White untuk ikut bersamanya ke Indonesia, setidaknya Mr. Hemlock tidak akan berpikir kalau mereka bersembunyi di negara itu karena letaknya yang terlalu jauh. Tapi Mr. White menolak secara halus, ia berkata kalau ia sangat merindukan keluarganya dan ingin menghabiskan masa tuanya bersama mereka.
Alexa tersenyum lembut padanya, melihat Mr. White mengingatkannya pada mendiang kakeknya. Mr. White juga berjanji tidak akan memberitahukan keberadaan Alexa pada Mr. Hemlock apapun yang terjadi, ia bersumpah akan menjaga rahasia ini dengan nyawanya yang mana membuat Alexa menggeleng tidak setuju. Ia tidak ingin berhutang lebih banyak lagi jadi ia memutuskan cukup sampai disini saja selebihnya ia sendiri yang akan bertanggung jawab atas nyawanya jika sampai Mr. Hemlock berhasil menemukannya. Mr. White pun tersenyum lembut kemudian memeluk Alexa, mereka pun saling berpamitan dan berjanji akan bertemu lagi jika ada kesempatan.
Sepeninggal Mr. White ia segera memesan taksi online. Karena ia yakin di sekitar sini tidak ada kendaraan umum yang akan lewat. Selama menunggu taksi pesanannya datang ia pun duduk di sebuah bangku kayu panjang yang sudah usang sambil mendengarkan musik. Ia pun mulai memutar playlist nya. Alunan merdu suara Imogen Heap yang menyanyikan lagu Just for now adalah lagu pertama yang berada di daftar playlistnya, irama lembut lagu itu membuatnya memejamkan mata sejenak dan meresapi tiap bait dari lirik nya. Tak lama suara Anne Marie dan DJ Marshmello yang membawakan lagu F.R.I.E.N.D.S terdengar, irama dinamis lagu itu mengembalikan semangat Alexa.
Namun, tiba-tiba lagu pun berubah dengan sendirinya padahal lagu sebelumnya belum selesai. Terdengar suara Melanie Martinez yang menyanyikan lagu Tag, You're It merasuk ke pendengaran Alexa. Ia tak ingat ia pernah memasukkan lagu itu ke daftar playlist nya. Aura intimidasi lagu itu pun membuat Alexa refleks menoleh dan menatap ke sekeliling. Seketika ia merasa sedang diawasi, hembusan angin mengirim gigil dingin ke tulang belakang Alexa.
Lembayung senja sudah memayungi langit, burung-burung pun terlihat terbang kembali menuju sarangnya karena hari mulai malam. Sinar matahari sore yang kemerahan bak lautan darah yang mewarnai langit pun menambah suasana semakin menjadi aneh untuk Alexa. Tak biasanya langit berwarna semerah itu. Pikir Alexa. Saat sedang mengamati warna langit yang mendadak berubah menjadi sangat merah ia dikejutkan dengan suara koakan burung gagak yang hinggap di pohon oak tak jauh dari Alexa duduk. Gagak itu terus saja berkoak membuat suasana tiba-tiba saja menjadi makin mencekam.
Alexa memutuskan untuk berjalan meninggalkan tempat itu sambil melihat aplikasi taksi online nya. Ternyata sang pengemudi sudah membatalkan pesanannya membuat Alexa memaki kasar.
"Ck.Tau gitu lebih baik aku jalan kaki saja dari tadi." gerutunya.
Ia pun semakin kesal saat handphonenya itu terus saja memutar lagu Tag You're It dan sama sekali tidak bisa diganti. Saat ia sibuk mengurusi handphonenya yang terus saja memutar lagu Tag You're It, tiba-tiba saja terdengar suara serak di belakangnya yang menggantikan suara Melanie menyanyikan lagu itu. Alexa terpaku mendengar suara familiar itu.
"Running through the parking lot
He chased me and he wouldn't stop
Tag, you're it, tag, tag, you're it." suara itu berdengung di telinga Alexa.
"Grabbed my hand, pushed me down
Took the words right out my mouth
Tag, you're it, tag, tag, you're it." suara itu terdengar semakin aneh.
"Can anybody hear me I'm hidden under ground. Can anybody hear me am I talking to myself." jeda beberapa saat sebelum Alexa mendengar suara tawa mengejek yang samar namun cukup membuat bulu kuduk merinding. Namun itu tak lama karena suara itu kembali bernyanyi.
"Saying, "tag, you're it, tag, tag, you're it"
He's saying, "tag, you're it, tag, tag, you're it!! HAHAHA" suara itu tiba-tiba berdesis dengan serak lalu berhenti.
Setelah suara itu selesai bernyanyi sontak Alexa pun menolehkan kepalanya kebelakang dan nyaris menjerit histeris. Bagaimana tidak, disana Mr. Hemlock berdiri dengan cara yang aneh dan dengan tatapan yang aneh pula. Wajahnya begitu pucat dengan bercak-bercak darah di gigi-gigi runcing yang mengintip dari dalam mulutnya, rambutnya pun sudah berubah warna menjadi merah bata, tangan dan kuku-kukunya yang nampak lebih besar dari ukuran normal itu dipenuhi dengan bercak darah yang menetes-netes di jalan raya. Dan tak jauh dari tempat Mr. Hemlock berdiri terdapat potongan kepala yang masih mengalirkan darah tergeletak begitu saja di tengah jalan. Setelah Alexa perhatikan lebih seksama ternyata itu adalah kepala milik Mr. White. Alexa nyaris jantungan dibuatnya. Ia pun membekap mulutnya mencegah suara isakannya terdengar. Ia tak menyangka kalau tadi adalah saat-saat terakhirnya ia bertemu dan dipeluk oleh seseorang yang mengingatkannya pada sosok mendiang kakek tercintanya.
Mr. White, maafkan aku. Isaknya dalam hati.
Mundur perlahan tatapan mata Alexa tak pernah lepas dari sosok Mr. Hemlock yang masih berdiri di tempat yang sama. Namun kali ini ia mulai menyeringai lebar mengirim teror pada Alexa. Sayangnya kekerasan kepalaan Alexa mengalahkan ketakutannya. Ia pun akhirnya berhenti untuk mundur dan memilih untuk menatap badut iblis di depannya itu dengan tatapan penuh kebencian. Mencoba tak gentar saat seringaian Mr. Hemlock semakin lebar hingga mencapai matanya menampilkan deretan gigi runcing yang nampak setajam pisau daging.
Namun, saat Mr. Hemlock mulai berlari kencang menghampiri Alexa dengan gerakan yang aneh, runtuh lah sudah dinding keberanian Alexa. Ia langsung berlari secepat mungkin menghindari Mr. Hemlock yang kini berubah menjadi badut gila yang ingin membunuhnya.
Bodohnya Alexa malah berlari menuju ladang gandum yang memang ada di kanan kiri jalan. Ia tak sempat berpikir yang ia tahu bahwa ia hanya harus terus berlari. Ia terus berlari menembus ladang gandum itu. Suara gemerisik batang gandum kering yang terinjak membuatnya menambah kecepatan berlarinya. Namun, ia tiba-tiba terjatuh dan tersungkur. Saat ia pikir wajahnya akan menyentuh tanah, alih-alih tanah yang keras ia justru merasakan wajahnya menubruk sesuatu yang hangat dan liat seperti d**a seorang pria. Ia pun menoleh dan menemukan Mr. Hemlock sedang menyeringai di bawahnya kemudian tertawa kesenangan seperti anak kecil yang menemukan mainan barunya.
Alexa mencoba bangkit dari atas tubuh Mr. Hemlock yang justru mencengkram pinggang Alexa dengan kuku-kukunya yang tajam membuat Alexa menjerit kesakitan.
"Tidak akan ku biarkan kau kabur lagi, permaisuri ku." desisnya tepat dihadapan wajah Alexa.
"Lepaskan kuku-kuku mu sialan!" teriak Alexa dengan suara tercekik menahan sakit.
"Tidak akan, jika kau masih berniat lari lagi dariku." katanya dengan tatapan penuh amarah yang tak ditutup-tutupi. Alexa tak mampu membalas karena rasa sakit di pinggangnya semakin menjadi.
Ia hanya bisa menatap kosong wajah Mr. Hemlock saat kesadarannya mulai menipis. Tapi kekeras kepalaannya membuatnya tak mau menyerah begitu saja. Dengan sisa kekuatannya ia melakukan satu-satunya cara yang terpikirkan di kepalanya untuk menyelamatkannya, cara yang mungkin tak akan ia pilih jika saja situasinya berbeda.
Ia memajukan tubuhnya mencoba meraih wajah Mr. Hemlock meskipun gerakan itu semakin menyakiti pinggangnya karena kuku-kuku besar dan tajam itu menancap di pinggangnya seperti kail ikan yang sedang mencoba merobek pinggang nya. Lalu dengan susah payah mengerahkan wajahnya mendekat kemudian bibirnya mulai memagut bibir Mr. Hemlock dengan lembut, mencoba membuatnya percaya kalau kali ini Alexa sudah jatuh dalam pelukan Mr. Hemlock. Ciuman lembut itu berubah menjadi kasar dan menuntut saat Mr. Hemlock menahan tengkuk Alexa untuk memperdalam ciuman mereka, kuku-kuku tajam itu pun terlepas dari pinggang Alexa. Lidah mereka pun saling bertaut dan bertukar saliva. Namun, ciuman itu harus terhenti karena Alexa yang tiba-tiba pingsan.
Seketika itu juga Mr. Hemlock tersadar dengan apa yang telah ia lakukan. Ia telah melukai Alexa nya. Sialan. Batinnya memaki penuh amarah.
Ditambah aliran darah yang mengalir dari pinggang Alexa membuatnya semakin marah pada dirinya sendiri. Tak hentinya ia memukuli kepalanya, karena kebodohannya lah wanitanya terluka. Ia pun merebahkan Alexa di tanah dengan sangat perlahan dan lembut. Ia tak henti-hentinya mengucap kata maaf pada Alexa. Ia mendekati Alexa perlahan, kemudian dengan hati-hati menyentuh luka menganga yang ada di pinggang Alexa. Dengan perlahan ia menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati luka-luka itu dengan hati-hati. Dan dengan ajaib luka-luka itu pun hilang tak berbekas.
Setelahnya ia pun mengangkat Alexa dengan hati-hati kemudian menggendongnya ala bridal style untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut di mansionnya.
Ia pun membawa Alexa sambil bersenandung sebuah lullaby yang malah terdengar seperti nyanyian kematian. Tapi, tiba-tiba dari arah belakang sesuatu menghantam kepala Mr. Hemlock hingga membuatnya putus dan menggelinding jatuh. Tidak ada darah yang muncrat hanya tubuh Mr. Hemlock yang perlahan ambruk di tengan jalan raya, membuat tubuh Alexa pun ikut terjatuh dan kepalanya sedikit membentur aspal yang kasar. Seketika itu juga Alexa langsung membuka mata dan menjerit histeris saat melihat tubuh Mr. Hemlock tanpa kepala. Tanpa membuang waktu lagi ia pun langsung lari secepat yang ia bisa meninggalkan mayat Mr. Hemlock begitu saja di tengah jalan raya.
****
Di balik batang-batang gandum yang hampir siap dipanen seseorang tersenyum miring melihat lemparannya yang tak pernah sekalipun meleset.
"Takkan ku biarkan kau memilikinya dengan mudah, boy." gumamnya seraya tersenyum misterius kemudian pergi dari tempat itu. Gaun berwarna broken white nya berkibar terkena hembusan angin, ia pun lalu mengeratkan jaket kulitnya untuk menghalau hawa dingin yang menusuk.
Tanpa seorang pun tahu kepala itu pun menggelinding menghampiri bagian tubuhnya. Perlahan ia pun menyatu kembali dengan bagian tubuhnya itu. Kemudian matanya pun terbuka menampilkan iris yang sepenuhnya berwarna hitam pekat, ia pun menggeram marah menatap kepergian seseorang yang membuatnya kehilangan permaisurinya lagi. Tapi seketika ia pun menyeringai lebar saat sebuah ide brilian terlintas di benaknya. Ia pun bangkit dan berjalan kembali sambil tertawa keras, namun bagi orang biasa suara tawa itu lebih terdengar bagai suara koakan gagak yang memberitahukan berita kematian.
Tepat saat cahaya matahari tenggelam sepenuhnya suara tawa itu hilang beserta sang empunya menyisakan kesunyian yang ganjil. Lalu suara koakan serak dan kepakan sayap terdengar, seekor burung gagak dengan bulu-bulu sewarna langit malam terbang menuju arah barat mencari pasangannya yang mencoba kabur meninggalkannya.
Kau sangat nakal, Alexa. Bisik sebuah suara serak yang terbawa hembusan angin sore itu.