CHAPTER 7 : HAUNTED

1856 Kata
Alexa terus berlari tanpa mempedulikan kaki dan tangannya yang kini sudah lecet-lecet bahkan mengeluarkan darah. Ia enggan menoleh ke belakang lantaran terlalu takut akan kejutan yang akan ia dapatkan. Firasatnya berkata kalau Mr. Hemlock belum lah mati, tak semudah itu membunuh sosok yang setara dengan iblis dari kerak neraka. Jadi sebelum semuanya menjadi semakin rumit, Alexa sudah membulatkan tekad untuk kabur dan menghilang selama-lamanya. Lupakan thesis dan lupakan gelar magister. Menyelamatkan nyawa lebih penting. Saat dirinya merasa nyaris akan pingsan, barulah Alexa menghentikan larinya. Ia begitu terkejut ketika mendapati luka akibat cengkraman kuku panjang Mr. Hemlock sebelumnya sudah menghilang tanpa meninggalkan bekas. Ia mencoba menyentuh bagian yang seharusnya menjadi tempat luka itu, tidak terasa sakit atau apapun. Benar-benar mulus, lenyap tanpa bekas. Alexa menoleh, ladang gandum yang sudah siap dipanen telah ia lewati. Kini hutan nan lebat terpampang di hadapan Alexa. Ia menoleh ke kanan dan kiri guna mencari jalan lain selain menembus hutan lebat nan gelap di depannya. Namun ia sama sekali tidak menemukan apa yang ia cari dan hari sudah beranjak malam. Bulan pun mulai mengintip di kejauhan, namun awan mendung perlahan merangkak menutupi sinar lembutnya menjadikan malam itu semakin gelap tanpa cahaya. Hembusan angin malam membuatnya menggigil kedinginan karena ia tidak mengenakan baju hangat yang memadai, hanya jaket tipis dengan kaos lengan pendek di dalamnya serta celana jeans belel yang juga sudah tipis. Alexa mengeluarkan ponselnya dan mendapati ponsel nya itu tidak mendapatkan sinyal sama sekali. Wajar, ini daerah antah berantah di tengah ladang gandum dan hutan yang lebat. Hembusan angin dingin sekali lagi menerpa dirinya, mengenai tengkuknya dan membuatnya tiba-tiba merinding. Ia pun langsung berbalik badan dan mendapati ladang gandum yang bergoyang-goyang diterpa hembusan angin menimbulkan bunyi gemerisik akibat gesekan batang-batang gandum yang entah kenapa justru terasa seperti sedang memberi isyarat kalau bahaya semakin mendekat. Hal itu membuat Alexa mundur selangkah demi selangkah. Tak punya pilihan lain akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam hutan demi menghindari kejaran badut iblis itu. Alexa menyalakan senter dari handphonenya dan berjalan perlahan menembus gelapnya hutan. Lebih baik terus berjalan daripada berdiam lalu ditangkap oleh badut sialan itu. Pikir Alexa muram. Matanya awas menatap sekeliling, jaga-jaga jika ada hal yang mencurigakan. Hutan itu sangatlah gelap, pepohonan disana tumbuh sangat rapat kebanyakan di d******i oleh pohon-pohon oak yang menjulang tinggi. Cahaya senter yang digunakan Alexa hanya mampu menjangkau beberapa meter saja, ditambah suara-suara binatang-binatang malam yang saling bersahutan menambah sisi mencekam hutan itu. Namun Alexa memutuskan untuk terus melangkah maju berharap menemukan tempat persembunyian sementara sampai esok pagi. Sayangnya langkah demi langkah itu justru malah membuat Alexa merasa seperti berjalan menuju sebuah jaring besar yang akan menjeratnya dan tak akan melepaskannya dengan mudah. Ia pun berhenti untuk mengambil nafas sejenak. Lalu menoleh kembali kebelakang. Pemandangan ladang gandum sudah tidak terlalu terlihat dari posisi Alexa berdiri. Tanpa sadar ternyata ia sudah berjalan lumayan jauh dari bibir hutan. Namun telinga nya tiba-tiba mendengar suara samar dari kepakan sayap dan koakan burung gagak. Burung gagak adalah perlambang kematian. Alexa pun langsung mematung di tempat, jantungnya berdentam-dentam sampai dadanya terasa sakit. Saat suara kepakan dan koakan semakin jelas dengan membabi buta Alexa berlari kencang menembus hutan lebih dalam lagi. Tak peduli ia sempat tersandung hingga tersungkur, tak peduli dengan lengan dan tangannya yang sudah lecet-lecet dan berdarah. Ia terus berlari berharap menemukan sesuatu atau tempat yang membuatnya dapat bersembunyi sementara dari burung gagak itu. Karena entah kenapa Alexa merasa sangat yakin kalau burung gagak itu bukanlah burung gagak biasa dan Alexa tidak boleh terlihat oleh burung gagak itu. **** Well, sepertinya semesta memang sedang tidak berada di pihak ku. Bagaimana tidak? Sudah sejauh ini tapi aku sama sekali belum menemukan satu pun tempat yang bisa aku jadikan tempat persembunyian. Kakiku sudah benar-benar tidak sanggup lagi. Efek terlalu lelah dan putus asa akhirnya aku menjatuhkan diriku di bawah sebuah pohon besar dengan nafas yang berkejaran. Duduk berselonjor sambil menunggu malaikat maut datang menghampiri, sungguh, aku sudah tidak peduli lagi sekarang. Kakiku sudah benar-benar lelah sampai ingin copot rasanya dan sekujur tubuhku rasanya sakit semua. Sungguh, aku benar-benar pasrah. Jika ini memang akhirnya, ya sudah lah aku akan terima dengan lapang d**a. Yang terpenting orang tuaku baik-baik saja. Tapi apakah benar seperti itu?. Batinku di dalam hati. Mendengus lelah, ku sandarkan kepalaku pada batang pohon besar itu. Aku menatap langit, taburan bintang dan cahaya lembut bulan membuatku sedikit lebih rileks. Ah, rasanya ingin memejamkan mata sejenak saja. Tetiba aku sangat merindukan kasur nyamanku di rumah. Tapi suara ranting patah membuyarkan lamunanku tentang kasur nyamanku di rumah. Tubuh ku langsung tegang seketika penuh antisipasi. Menoleh kesekeliling guna mencari asal suara, namun yang ku temukan hanya lah sebuah keheningan. Aku pun semakin waspada. Bangun perlahan sambil menoleh kesekeliling, aku merasa seperti sedang diawasi oleh predator buas. Aku benar-benar merutuki diriku yang tidak memiliki senjata apapun. Menjadi rentan adalah hal yang paling aku benci. Tiba-tiba mataku menangkap siluet seorang wanita yang terasa familiar sedang berdiri membelakangi ku. Aku pun terdiam seraya mengernyit dalam bertanya-tanya siapakah itu. Ku arahkan senter ku menyorot padanya dan terkejut mendapati bahwa itu adalah Lily. Aku tak mungkin salah mengenalinya dari pakaian yang sama yang ia kenakan tadi siang, gaun sederhana berwarna broken white. Ku dekati ia dan ku sentuh pelan bahunya. Saat ia menoleh aku nyaris melemparkan ponselku saking kagetnya. Bagaimana tidak, seluruh tubuh bagian depan Lily dilumuri darah bahkan sampai ke wajahnya. Dan ia nampak ketakutan dengan wajah yang sedang menahan tangis. Refleks langsung ku peluk dia, dan Lily pun langsung menangis sejadi-jadinya dalam pelukanku. Setelah ia agak tenang barulah kulepas pelukanku, lalu aku pun bertanya padanya, "Apa yang kau lakukan disini malam-malam begini, Lil?" tanyaku lembut seraya masih mengelus punggungnya. Ia tidak menjawab hanya masih sesenggukan. Lalu tiba-tiba salah satu tangan Lily terangkat seperti sedang mencoba menunjuk sesuatu. Aku pun menoleh pada arah yang ditunjuk oleh Lily dan mengarahkan senter ku kesana. Dan yang ku dapati adalah warna merah di mana-mana yang belakangan ku sadari ternyata itu adalah darah. Darah yang sangat banyak. Darah itu bahkan juga terciprat ke batang-batang pohon di sekitarnya. Karena penasaran, aku pun mulai berjalan perlahan mendekati genangan darah itu. Seketika bau anyir menyeruak membuatku nyaris saja muntah. Di antara genangan darah itu nampak seonggok daging yang sudah terkoyak habis dan aku juga menemukan potongan jari kelingking. Aku nyaris histeris melihatnya, lalu secepat kilat aku menoleh ke arah Lily lagi dan mendapatinya kini telah berubah menjadi sosok yang tak ingin aku lihat seumur hidup. Dia berdiri disana dengan jas dan kemeja rapi di bawah cahaya bulan keperakan yang sudah kembali muncul dari balik awan gelap menyoroti dirinya. Air mukanya nampak begitu dingin dengan tatapan mata setajam elang menyoroti ku nampak tertarik. Bangkit segera karena terkejut, sosok itu hanya terkekeh melihat tingkahku. Sialan. Bagaimana bisa secepat ini aku tertangkap? **** "Oh. Halo...my queen." sapanya riang seolah tak ada beban berbeda dengan Alexa yang langsung merutuki nasibnya dan berharap bumi menelannya saja segera. Sosok itu berjalan menghampiri Alexa dan berdiri tepat dihadapannya. "Mr. Hemlock." kata Alexa dengan suara tercekik. Ya, sosok itu adalah Mr. Hemlock. Alexa merasa usahanya melarikan diri tadi sia-sia. Tak perlu waktu yang lama dan dirinya sudah kembali tertangkap. "Kenapa kau melibatkan temanmu yang tak berdosa itu, sayang? Kau lupa kalau aku tidak suka jika ada yang ikut campur soal kita?" tanya Mr. Hemlock dengan senyum manis terkembang di bibirnya dan masih dengan nada riang yang sama. Seketika lidah Alexa terasa kelu dan waktu terasa terhenti sejenak selam sepersekian detik. Ia berharap kalau dugaannya salah. Tapi di dunia ini ia hanya memiliki sedikit teman. Dan teman satu-satunya yang ia miliki saat ini hanyalah Lily. Tolong jangan, Lily. Batin Alexa berdoa. "Sayang sekali itu dia. Aku harus menyingkirkannya karena ia terlalu ikut campur soal kita, my queen." kata Mr. Hemlock seperti bisa membaca pikiran Alexa dan berkata dengan nada yang di buat seolah-olah ia menyesal melakukan itu. Hal itu membuat Alexa nyaris terkena serangan jantung. Tubuhnya limbung ke samping dan ia pun jatuh terduduk. Ia merasa sangat tidak berguna. Lagi-lagi ia gagal melindungi orang-orang yang ia sayangi. "J-ja-jadi...kau membunuhnya?" tanya Alexa tergagap. "Kau membunuh, Lily?" tanyanya lagi dengan nafas tercekik. Air mata sudah mengalir deras di pipi mulus Alexa. Namun, ia hanya menangis dalam diam. "Kenapa?"tanya Alexa dengan suara isakan tertahan. Mr. Hemlock hanya terdiam menatap Alexa dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedangkan Alexa menatap Mr. Hemlock dengan tatapan nanar seraya berderai air mata. "Dia tidak seharusnya mati. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Dia tidak tahu apa-apa."kata Alexa beruntun dengan tatapan kosong. Namun Mr. Hemlock hanya memiringkan kepalanya kemudian ikut berjongkok di hadapan Alexa. Alexa pun mengalihkan atensinya segera saat Mr. Hemlock mencoba menyentuhnya dan menatapnya tajam menghakimi. Ia menatap kedua mata Mr. Hemlock dengan tatapan "musnah-saja-kau" yang mana membuat Mr. Hemlock mengurungkan niatnya untuk menyentuh pipi kanan Alexa. Mereka kemudian hanya saling bertatapan dalam diam. Yang satu dengan tatapan penuh kebencian sedangkan yang lainnya dengan tatapan "aku-ingin-menciummu-sekarang". Melihat sinar gairah yang perlahan muncul di kedua mata Mr. Hemlock itu membuat Alexa semakin marah. Tanpa aba-aba Alexa merenggut kerah baju iblis di depannya itu kemudian melahap bibirnya dengan kasar dan membabi buta. Ia mengigit keras bibir bawah Mr. Hemlock hingga robek dan mengeluarkan banyak darah. Lalu mendorongnya hingga terlentang di tanah kemudian duduk di atas tubuh Mr. Hemlock lalu mengigit kasar leher Mr. Hemlock dan menghisap sebagian darah yang keluar dari sana. Tak sampai disitu Alexa pun merobek kasar kemeja yang dipakai Mr. Hemlock dan ingin menggigit perut iblis itu, kalau perlu sampai robek. Batin Alexa dengan kemarahan yang kental. Namun sayangnya aksinya terhenti saat Mr. Hemlock membalik keadaan. Dengan cepat luka yang ia ciptakan sembuh dengan perlahan tanpa menyisakan bekas, kulit dan bibir Mr. Hemlock kembali seperti semula tanpa ada luka atau noda sedikitpun. Benar-benar sialan, makinya dalam hati. "Kau terlalu bersemangat, manis."kata Mr. Hemlock sambil terkekeh kecil. Sedangkan Alexa mencoba berontak saat Mr. Hemlock menahan kedua tangannya di atas kepala, ia menendang-nendang secara membabi buta. Namun, saat ia mencoba untuk berteriak, bibirnya segera di bungkam oleh ciuman panas. Mr. Hemlock menciumnya penuh dengan gairah. Lidah mereka saling bertaut dan bertukar saliva. Mr. Hemlock tidak akan pernah bosan untuk menikmati bibir manis gadisnya ini. Alexa pikir dengan melukai badut sialan itu maka badut itu akan merasa kesakitan atau mati kalau perlu supaya impas, nyawa dibalas dengan nyawa. Namun sayangnya hal itu justru bagai lampu hijau bagi sang badut untuk melakukan berbagai macam hal liar yang terlintas di kepalanya. Ia pun terkekeh mengejek. Mulai sekarang ia harus mengajari Alexa nya untuk tidak pernah meremehkan dirinya lagi. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang turut menyaksikan adegan demi adegan itu. Kedua bola mata itu sempat membola karena terkejut, kemudian menyipit penuh amarah. Kedua tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. Ia menatap penuh perhitungan pada Alexa, kepala cantiknya dengan segera menampilkan berbagai cara balas dendam terkeji. Dan ia sudah menemukan sebuah cara untuk membalas ketidakadilan yang ia dapat kini, seulas senyum miring pun terukir di bibir cantiknya. Lalu sedetik kemudian itu berubah menjadi tatapan dingin dan datar. Mundur perlahan sosok itu mulai hilang di telan kegelapan, namun sebelum itu ia melemparkan tatapan penuh arti pada Alexa untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar hilang ditelan pekatnya kegelapan hutan. Tatapan yang mengandung tekad untuk sebuah pembalasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN