Malam hampir mendekati pagi, seorang gadis berambut coklat panjang bergaun sederhana berwarna broken white dengan jaket kulit di luarnya, membuka kenop pintu rumahnya dan mendapati ruang tamu rumahnya gelap gulita. Hanya satu kesimpulan, kakak-kakak sialannya itu belum lah pulang. Berjalan gontai ia pun menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Segera ia membanting tubuhnya ke kasur empuk miliknya. Lalu matanya menatap langit-langit kamarnya yang sudah ia lukis hingga menyerupai langit di malam hari lengkap dengan bulan yang bersinar indah beserta bintang-bintang kecil yang mengelilinginya.
Ia menatap penuh cinta lukisan bulan itu bagai menatap wajah seorang kekasih. Sang bulan yang selalu menerangi malam-malam gelap ku. Batinnya seraya tersenyum. Setelah beberapa menit, benaknya melakukan kilas balik saat mereka pertama kali dipertemukan.
Ia masih ingat malam itu angin berhembus cukup kencang pertanda hujan akan turun, ia berniat menemui temannya yang seorang model papan atas untuk membantunya mewujudkan impiannya selama ini yaitu menjadi seorang model. Sedari kecil ia memang selalu bermimpi untuk menjadi seorang model, ia merasa itu adalah bakat terpendamnya. Namun tak ada yang tahu soal itu bahkan sahabat dekatnya sekalipun, lantaran ia tak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk mengungkapkannya. Mereka pun membuat janji untuk saling bertemu ketika sang teman telah menyelesaikan sesi pemotretannya pada pukul sepuluh malam. Ia bahkan datang lebih awal karena tak sabar, menunggu di lobi sebuah hotel Bintang lima tempat temannya itu melakukan sesi pemotretan. Awalnya semua berjalan lancar, sang teman mengajaknya berkeliling kota dengan mobilnya. Mereka pun saling mengobrol di dalam mobil itu, berbagi pengalaman dan cerita masa lalu. Sebelum tiba-tiba mereka berhenti di sebuah gang gelap dan kumuh, dimana disana sudah menunggu lima laki-laki berbadan besar yang tiba-tiba keluar dari balik kegelapan. Menyergapnya secara tiba-tiba, lalu menyeretnya menuju gang gelap itu.
Semuanya terjadi begitu cepat, ia bahkan belum sempat mencerna apa yang sedang terjadi saat kelima laki-laki tersebut menghajarnya tanpa ampun. Ia berteriak meminta tolong tapi temannya hanya menatapnya dengan senyum sinis di bibirnya. Kelima lelaki berbadan besar dan bertampang garang tersebut terus menerus memukulinya dengan semakin keras, hingga ia merasa akan pingsan dalam waktu dekat. Ia sudah benar-benar pasrah kala tubuhnya remuk redam dan wajahnya yang sudah pasti babak belur tak karuan, bahkan suaranya tak bisa keluar sama sekali. Ia sangat pasrah jika pada akhirnya ia mati setelah ini, namun tiba-tiba pukulan-pukulan itu berhenti. Samar ia melihat siluet seorang pria bertubuh jangkung dengan wajah menyeramkan seperti badut di film-film horor.
Ia tak bisa melihat dengan jelas karena mata yang sudah sangat bengkak akibat dipukuli. Ia mencoba menyeret tubuhnya menjauh menghindar dari keberingasan sang badut yang memukul mundur kelima preman yang menghajarnya tadi, membuat mereka lari membawa mobil sang majikan dan meninggalkannya berdua saja dengan sang badut pembunuh.
Ia tersenyum sinis melihat temannya itu ditinggalkan oleh b***k-b***k tak berotaknya, namun ia malah mendesis sakit lupa jika bibirnya juga terluka akibat di hajar habis-habisan. Di bawah sinar temaram lampu ia bisa melihat sang badut bersinar bagai malaikat penyelamat, ia terkagum-kagum pada sosok sang badut. Begitu gelap namun juga bersinar disaat yang bersamaan. Namun ia terkejut saat sang badut mengeluarkan sebilah pisau dengan bentuk yang menyeramkan lalu menyeringai dengan sangat menyeramkan pula. Pisau mengerikan tersebut di arahkan pada leher mulus temannya yang kini sudah begitu pucat pasi karena ketakutan. Kilauan mata sang badut semakin membuatnya yakin kalau ia harus segera lari menyelamatkan diri, kilauan haus darah dan kematian. Ia pun mundur selangkah dan mencoba bangkit dengan tertatih. Tangannya mengambil salah satu jaket milik preman-preman tadi lalu memakainya untuk menutupi tubuh dan wajahnya yang babak belur. Ia mulai berlari meninggalkan gang sempit itu berbarengan dengan sosok wanita bermantel merah terang yang nampaknya sedang berlari untuk mencari tempat berteduh, ia sempat berhenti sebentar untuk memastikan apakah ia salah lihat atau tidak. Karena gadis bermantel merah itu nampak sangat familiar untuknya.
Gadis bermantel merah terang itu berhenti tepat di samping gang sempit tempat ia dipukuli tadi, tepatnya di depan sebuah klinik. Ia segera membuang muka ketika sang gadis bermantel merah itu menoleh padanya selama sepersekon detik. Lalu buru-buru melanjutkan langkah ketika sadar kalau saat itu hujan sudah mulai turun dan perlahan menjadi semakin deras. Esok malamnya ia mendapat sebuah paket misterius berisi racun yang dikemas menjadi botol parfum cantik beserta sebuah surat bertuliskan,
"Racun ini adalah racun paling berbahaya. Gunakan ketika keadaan sangat mendesak untuk menyelamatkan nyawamu.
Your Guardian Angel"
Ia pun tersenyum mengingat itu semua seraya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari ceceran darah yang melekat di badan juga gaunnya. Dalam lima belas menit ia telah selesai, dan berjalan keluar kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Tatapannya terarah ke sebuah botol kristal yang di letakkan di antara botol-botol parfumnya di meja nakas tepat di samping tempat tidurnya.
Botol kristal berbentuk hati yang berisi cairan berwarna kuning keemasan pemberian dari malaikat penyelamatnya. Cairan itu nyaris terlihat seperti cairan parfum mahal biasa kecuali efek sampingnya. Satu tetes saja bisa menyebabkan kejang-kejang bahkan dapat menyebabkan kematian jika dosisnya ditambah. Malaikat penolongnya lah yang memberikan itu untuk pertahanan diri, tapi dia tidak akan memakainya.
Gadis itu akan menjadikannya kenang-kenangan untuk membuatnya selalu ingat kalau di dunia ini dia tidak lah sendiri. Tanpa sadar ia tersenyum hangat saat otaknya kembali mengingat wajah sang malaikat penyelamat.
Namun lamunannya terbuyarkan saat seseorang memanggilnya dari lantai bawah. Sudah bisa dipastikan itu adalah kakak-kakaknya yang b******k. Dan benar saja, tak berapa lama pintu kamarnya terbanting terbuka dan empat orang laki-laki sedikit lebih tua dari gadis itu pun masuk. Mereka tertawa mengejek melihat sang gadis yang mulai beringsut mundur.
"Oh, adik kecilku yang manis... Kenapa kau masih malu-malu, hm?" kata Jack si sulung dengan mata yang sudah menulusuri tubuh gadis itu dengan tatapan tak pantas.
"Jangan takut, My Lily. Kami tidak akan menyakitimu." kata Ian si tengah dengan nada mengejek. Lalu dengan secepat kilat, menyambar salah satu tangan gadis itu kemudian menariknya hingga menubruk d**a bidangnya. Gadis itu langsung berontak saat Ian melingkarkan kedua lengan kekarnya tepat di pinggangnya. Membuat ke empat lelaki itu tertawa mencemooh melihat penolakan sang gadis yang hanya sia-sia belaka.
Darren dan Luke, si kembar paling muda mulai mengerubungi sang gadis yang masih saja berontak di dalam pelukan Ian. Bagai predator yang mengerubungi mangsanya, mereka mulai menggerayangi dan melucuti handuk yang gadis itu kenakan. Karena terlalu lelah berontak, akhirnya ia hanya pasrah untuk kembali diperkosa oleh keempat kakak bejatnya itu. Ya, entah sudah berapa kali tubuhnya di koyak habis oleh orang-orang yang seharusnya melindungi dan menyayanginya.
Entah kesalahan apa yang pernah di perbuat gadis itu hingga ia ditakdirkan hidup di tengah-tengah keluarga yang sama sekali tidak bisa disebut keluarga. Ibu dan ayahnya sama sekali tidak pernah mempedulikannya hanya karena ia terlahir sebagai seorang perempuan.
Ia pun sudah tak sanggup lagi untuk sekedar mengeluarkan air mata. Menutup mata sambil membayangkan sang malaikat penolong, dirinya kembali mendapatkan secercah harapan. Tekadnya kini sudah bulat, segera ia akan menagih janji malaikat penolongnya itu untuk membantunya bebas dari kubangan lumpur menjijikan ini.
Kalian semua akan segera binasa di tanganku. Ucapnya dalam hati bagai sebuah janji. Saat ia membuka mata, hanya tatapan kosong yang nampak. Tatapan kosong yang begitu dingin, menyembunyikan bara dendam dengan begitu apik di dalam sana.
****
Di lain tempat Mr. Hemlock sedang tertawa seperti orang gila saat dirinya tahu kalau sebentar lagi hasrat membunuhnya akan terpuaskan. Duduk di kursi kebesarannya dengan gaya angkuh, ia pun menyeringai. Tentu saja ia akan membantu siapa pun yang membutuhkan bantuannya. Ia merasa dirinya adalah orang paling baik di dunia maka dari itu sangat wajar kalau ia menjadi idola semua orang. Kecuali, Alexa. Batinnya menggeram tak senang.
Ia pun bertanya-tanya apa yang kurang dari dirinya? Mengapa Alexa sangat membencinya? Apa dia kurang kaya? Atau kurang tampan?. Tapi itu tidak mungkin. Dirinya adalah bujangan paling di minati di seluruh kota London, bahkan mungkin seluruh dataran Inggris memujanya. Memuja kecerdasannya dan juga ketampanannya.
Ia mengepalkan tangannya erat kemudian meninju kuat lemari kaca yang berada tepat di belakangnya hingga lemari itu hancur berantakan. Pecahan kaca berserakan dimana-mana. Wajahnya mengeras menahan amarah.
Ia selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan. Termasuk Alexa nya. Jadi ia tidak akan menyerah sebelum Alexa berada di bawah kuasanya. Segala cara akan ia lakukan meski itu cara terkotor sekalipun. Baginya Alexa adalah miliknya. Hanya miliknya. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengubah hal itu. Lalu ia pun menyeringai.
Saatnya menggunakan bidak catur nya untuk meruntuhkan benteng lawan. Gumamnya dalam hati. Kemudian melenggang pergi dari sana.
****
Alexa terbangun dengan nafas berkejaran serta keringat yang membasahi seluruh tubuhnya bagai sehabis lari maraton. Ia menatap liar kesekeliling nya dan menemukan dirinya sedang berada di kamarnya sendiri. Kamarnya yang gelap gulita, hanya ada seberkas cahaya dari luar yang masuk melalui celah tirai di jendela kamarnya. Helaan nafas lega pun keluar saat tahu kalau ia hanya bermimpi buruk. Tapi mimpinya itu terasa sangat nyata untuknya.
Kemudian ia meraba lampu nakas di sampingnya dan menyalakannya. Lalu ia bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Setelah ia menyalakan lampu kamar mandinya barulah ia sadar kalau pakaian yang ia kenakan sama persis dengan yang ada di dalam mimpinya itu. Sebuah tanda tanya besar tergambar di benaknya. Jadi apakah itu sebenarnya bukanlah mimpi?
Lalu sebuah memori samar menyentaknya. Lily dan darah. Badut iblis itu telah membunuh Lily! Satu-satunya sahabat terbaik yang ia punya. Segera saja tubuhnya limbung dan air mata mengalir deras di pipinya. Bayangan daging yang telah terkoyak habis yang ternyata adalah milik Lily membuatnya ingin memuntahkan isi perutnya. Gejolak amarah dan kesedihan bercampur baur di benaknya. Seolah semesta sedang menghukumnya dengan hukuman paling menyakitkan, rasa bersalah seumur hidup. Hingga membuatnya jatuh meringkuk di lantai kamar mandi. Tubuhnya bergetar hebat, suara tangis memilukan semakin keras terdengar. Ia pun semakin meringkuk bagai janin.
Kenangan-kenangan manis bersama Lily berputar-putar dibenaknya bagai kaset rusak. Membuat bara api dendam mulai menggerogoti hatinya. Perlahan ia bangkit dengan tertatih, tangannya meraih pinggiran wastafel. Matanya nyalang menatap pantulan dirinya di cermin. Alexa bersumpah akan menuntut keadilan untuk Lily. Tatapannya menajam saat sekilas tiba-tiba saja bayangan Mr. Hemlock terpantul di cermin. Ia benar-benar bersumpah akan memusnahkan badut sialan itu dari muka bumi.
Ia pun berjalan ke bawah pancuran air untuk membersihkan diri masih dengan tatapan dingin menusuk. Otaknya mulai memikirkan beragam cara tersadis untuk membalas arogansi badut iblis yang telah merenggut satu-satunya sahabat terbaik yang ia punya.
Pagi pun menjelang, namun Alexa memilih duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya sambil menikmati teh hangat. Tubuhnya terbalut selimut tebal guna menghalau dinginnya udara di luar sana. Tatapannya kosong menatap langit berwarna biru gelap yang perlahan berubah menjadi merah muda menandakan matahari yang sebentar lagi akan memunculkan diri.
Saat matahari mulai terlihat di ufuk timur, Alexa bangkit dan mulai bersiap. Bersiap untuk melancarkan aksi balas dendamnya demi menuntut balas atas kematian Lily. Otaknya sudah penuh dengan rencana-rencana licik untuk menjerat badut sialan yang telah merenggut Lily darinya. Setelah berhasil membuatnya masuk perangkap, Alexa sendiri lah yang akan langsung mengeksekusinya. Membuatnya membayar atas semua kejahatan yang telah diperbuat badut iblis itu. Tak peduli jika itu harus mengorbankan dirinya sendiri.
Namun, sedetik kemudian ia dikejutkan dengan kehadiran sosok yang seharusnya tidak ada di sana, apalagi dengan keadaan yang terlihat sangat baik-baik saja dengan senyum manis andalannya. Alexa tidak bisa dibuat tak terkejut. Segera saja ia menghambur kepelukan sosok itu dengan tangis haru.
"Lily?! Kau masih hidup??" kata Alexa dengan nada tidak percaya bercampur haru.
"Tentu saja aku masih hidup." balas Lily.
"Memangnya kenapa, Lexa? Kau ingin aku mati, begitu?" tanya Lily dengan nada yang sedikit aneh, ada nada dingin terselip disana namun sayangnya Alexa tidak memperhatikan itu ia terlalu senang mengetahui sahabatnya masih hidup.
"Mana mungkin, Lily. Kau sudah ku anggap seperti adik kandungku sendiri. Jadi mana mungkin aku sanggup mengharapkan hal yang buruk seperti itu padamu." kata Alexa dengan tulus.
"Please, Lexa. Jangan membuatku terlihat seperti anak kecil terus. Kita bahkan hanya beda beberapa bulan saja." kata Lily setengah merajuk.
Alexa pun tertawa melihat tingkah menggemaskan Lily, sahabatnya itu. "Tapi bagiku kau akan tetap jadi adik kecilku, my little lily." kata Alexa seraya mencubit gemas kedua pipi Lily. Mereka pun akhirnya tertawa bersama.
"Kalau begitu maukah kakakku yang cantik ini menemaniku untuk bertemu dosen tampan kita?" pinta Lily pada Alexa.
"Dosen tampan kita?" tanya Alexa bingung.
"Oh, ayolah Lexa. Jangan bilang kau lupa pada Mr. Hemlock yang sudah mengajakmu makan siang kemarin?" balas Lily menatap tak percaya Alexa.
"Tapi dia jauh dari kata tampan, Lily." kata Alexa seraya memutar bola matanya dan menekankan kata jauh.
"Oke, terserah apa katamu. Tapi aku harus bertemu dengannya hari ini. Ada beberapa hal yang harus aku konsultasikan dengannya. Kau tahu, soal thesisku...aku rasa dia pasti mau membantuku untuk menemukan judul yang pas." kata Lily dengan tersenyum sumringah membuat Alexa memutar bola matanya kembali.
"Baiklah." jawab Alexa pasrah membuat Lily berjingkrak kesenangan.
"Aww...terima kasih Lexa. Kau memang kakak terbaik."katanya kemudian memeluk Alexa. Namun tiba-tiba saja kedua mata Lily berkilat aneh, senyumnya pun berubah menjadi senyum dingin. Tapi tentu saja Alexa tidak tahu itu karena ia masih memeluk Lily dengan sangat erat.
"Berhati-hatilah pada orang yang kau percaya. Karena terkadang musuh paling berbahaya datang dari orang terdekatmu."