CHAPTER 9 : PRETTY LITTLE LIAR

2137 Kata
Pagi itu cuaca terlihat agak mendung angin pun berhembus cukup kencang, walaupun begitu Lily dan Alexa tetap memutuskan untuk pergi ke rumah Mr. Hemlock. Bulu kuduk Alexa tiba-tiba berdiri mengingat kali terakhir ia menginjakkan kaki disana bukanlah memori yang pantas untuk diingat. Tapi dengan keras kepala ia mencoba untuk mengumpulkan keberanian demi memenuhi permintaan Lily. Dia khawatir jika Lily hanya sendiri menemui Mr. Hemlock, tempramen Mr. Hemlock yang tak bisa diprediksi lah penyebab utama kekhawatiran Alexa. Mereka kesana menggunakan taksi. Ketika taksi yang mereka tumpangi tiba di depan gerbang mansion itu, sebuah mobil sport mewah juga turut berhenti tepat di depan taksi itu seolah memblokir jalannya taksi yang mereka tumpangi. Dari dalamnya keluarlah Mr. Hemlock dengan kemeja berwarna biru dongker, sweater rajut berwarna abu, lengkap dengan kacamata bertengger manis di hidung mancungnya. Menilai penampilannya Mr. Hemlock memang lebih terlihat seperti dosen tampan dan jenius daripada psikopat sinting berwajah badut. Ia tersenyum manis menyapa Alexa dan Lily saat mereka keluar dari dalam taksi yang mereka tumpangi, yang di balas dengan tatapan datar oleh Alexa dan anggukan serta senyum sopan oleh Lily. "Pagi, Mr. Hemlock. Saya ingin berkonsultasi dengan anda mengenai thesis yang akan saya buat. Bisakah saya meminta waktu anda sebentar?" tanya Lily dengan senyum manis berseri-seri. Membuat Alexa mengernyit, ia pikir Lily sudah membuat janji terlebih dahulu dengan Mr. Hemlock. Tanpa Alexa sadari Mr. Hemlock menatap Lily dengan tatapan yang sulit diartikan dan Lily juga balik menatapnya, seperti sedang mengisyaratkan sebuah kode misterius. Kemudian Mr. Hemlock pun tersenyum sopan dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam mansionnya. Alexa merasa ragu untuk masuk kembali ke dalam mansion itu, tapi berhubung Lily sudah berjalan masuk duluan mau tak mau ia pun akhirnya mengikuti meskipun dengan berat hati. Mereka diminta menunggu di ruang kerja Mr. Hemlock yang terletak di lantai dua. Ruang kerja itu di d******i warna hitam dan abu-abu dengan furniture ruangan yang berbahan dasar kayu jati berwarna coklat gelap, ada dua rak buku besar di kanan kiri ruangan, serta terdapat satu set sofa berwarna abu-abu tidak jauh dari pintu masuk. Sangat suram dan dingin, persis seperti pemiliknya. Batin Alexa. Tak berapa lama Mr. Hemlock pun datang dengan membawa nampan berisi dua gelas lalu mempersilahkan Alexa dan Lily untuk minum terlebih dahulu sebelum membahas masalah thesis milik Lily. Melihat hal itu Alexa langsung merasa waspada, berbagai pikiran negatif berseliweran di kepala cantiknya seperti 'apakah minuman itu beracun?'. Melihat Alexa yang menatap kedua gelas yang ia bawa dengan tatapan tak berkedip mau tak mau membuat Mr. Hemlock terkekeh kecil. "Ini tak beracun, Alexa. Aku tidak mungkin meracuni calon pengantinku sendiri." jelas Mr. Hemlock sembari terkekeh kecil. "Minum dulu Alexa. Ini hanya teh biasa, tidak ada racun di dalamnya. Buktinya aku masih baik-baik saja."timpal Lily setelah meminum seteguk dari teh yang disuguhkan Mr. Hemlock barusan. Alexa pun akhirnya meminum teh itu. Namun, matanya tanpa sengaja menatap tepat ke kedua mata Mr. Hemlock yang sedang menatapnya juga. Tatapan itu entah kenapa mengirim gigil dingin ke seluruh tubuhnya. Tatapan yang sarat akan obsesi yang besar. Tapi ketika Alexa menelisik lebih dalam lagi, tatapan itu juga justru sarat akan cinta yang besar. Dan Alexa pun tersedak minumannya sendiri. "Uhuk uhukk." Alexa terbatuk-batuk dan sebagian tehnya tumpah mengenai bajunya. "Pelan-pelan, Al."kata Lily sambil menepuk punggung Alexa pelan. "Kau baik-baik saja, sayang?" tanya Mr. Hemlock yang tiba-tiba sudah berada di sisi Alexa dan mengusap kepala Alexa, terlihat khawatir. Alexa merasa risih saat Mr. Hemlock memanggil dirinya dengan kata sayang. "Aku tidak apa-apa hanya butuh ke toilet sebentar. Aku butuh membersihkan noda teh ini." kata Alexa seraya bangkit. "Oh, baiklah. Akan aku antar." kata Mr. Hemlock yang juga ikut berdiri. "Tidak perlu. Tunjukkan saja arahnya, aku bisa sendiri." balas Alexa seraya berdeham singkat karena risih. "Baiklah. Kau hanya perlu menuruni tangga lalu belok kiri." jelas Mr. Hemlock. Alexa mengangguk kemudian berlalu dari ruangan itu. **** Setelah selesai membasuh wajahnya dan merapikan penampilannya di cermin, Alexa pun beranjak keluar dari toilet. Namun, baru saja selangkah ia keluar ia dikagetkan dengan suara geraman serak. Ia pun menoleh ke kanan kiri guna mencari asal suara. Tapi tiba-tiba seseorang menariknya ke dalam sebuah ruangan. "Ssshhh. Ini aku, Al. Jangan mendekat kesana. Mr. Hemlock tadi tiba-tiba berubah menjadi aneh." kata orang yang tadi menariknya yang ternyata adalah Lily seraya mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. "Aneh? Aneh bagaimana maksudmu?" tanya Alexa seraya mengernyit bingung. "Aku juga tidak tahu. Dia tiba-tiba saja menggeram saat 'orang itu' selesai membisikkan sesuatu di telinganya. Dan matanya juga tiba-tiba berubah menjadi kuning menyala seperti mata kucing. Lalu dia pergi begitu saja. Karena takut aku akhirnya memutuskan untuk mencari mu." jelas Lily dengan gemetaran. Alexa semakin mengernyitkan dahinya tampak berpikir keras. Namun, sebuah suara melengking seorang wanita membuat mereka langsung saling menatap satu sama lain dengan mata melotot ketakutan. Lily dan Alexa mencoba mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Mereka terkejut saat melihat sosok badut menyeramkan yang keluar dari dalam sebuah ruangan yang berada tepat di seberang ruangan tempat mereka bersembunyi. Badut itu berperawakan tinggi dengan kulit sangat pucat, ujung hidungnya berwarna merah seperti tomat, serta gigi-gigi tajam yang mengintip dari balik mulutnya. Ketika melihat mulut dan tangannya penuh dengan darah yang menetes-netes hingga ke lantai mereka tak bisa tak merasa takut setengah mati. Namun, tak ayal rasa penasaran tentang siapa korban Mr. Hemlock kali ini juga ikut berputar-putar di benak Alexa. Apakah kali ini seorang wanita juga?, tanyanya dalam hati. Kemudian saat badut itu menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang runcing, mereka mundur perlahan menjauhi celah pintu itu. Alexa terkejut bukan main saat kembali melihat wujud asli Mr. Hemlock secepat ini. Jantungnya berdegup sangat cepat, adrenalin di tubuhnya mengalir dengan deras. Lalu, saat badut itu menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan mata kuningnya yang menyala-nyala, Alexa refleks mendorong Lily ke belakang tubuhnya berusaha melindungi Lily. Lalu, saat badut itu berjalan cepat menghampiri mereka, Alexa juga berjalan cepat ke pintu, keluar dari sana dan menutupnya meninggalkan Lily di dalam. Alexa juga tak mengerti mengapa kakinya justru melangkah dengan mantap menghampiri badut pembunuh itu bukan malah lari dan menyelamatkan diri. Hal itu membuat sang badut semakin menyeringai lebar. Dan Lily seketika menatap pintu dengan datar setelah Alexa menghilang di balik pintu, tetapi sayangnya Alexa tidak tahu hal yang satu itu. "Hi, baby. Pernahkah aku mengatakan kalau kau semakin cantik saat sedang marah seperti itu?" kata badut itu diiringi kekehan. Mereka berdiri berhadap-hadapan saat ini. "Kali ini untuk apa kau membunuh wanita itu? Untuk memberi ku peringatan? Kau pikir aku akan merasa terancam dengan sikap arogansi mu itu? Tenang saja. Aku sudah sangat kebal dalam hal itu." Alexa mengatakan semua itu seraya menatap Mr. Hemlock dengan tatapan memicing penuh dengan ketidaksukaan. Namun, tiba-tiba tangannya yang berlumuran darah itu terangkat kemudian mengelus seringan bulu pipi Alexa yang membuat Alexa berjengit kaget dan mundur selangkah. "Apa yang kau lakukan?!" tanya Alexa dengan marah. "Jangan menghindar Alexa!! Jangan.pernah.menghindar!" balas badut itu tampak sekali merasa tersinggung dan menggeram marah. "Jangan membentak ku!" balas Alexa dengan nada tak kalah tinggi. Keduanya saling menatap dengan tatapan membunuh yang sama. Kemudian badut itu maju selangkah mendekati Alexa dan entah dorongan dari mana Alexa menarik kasar badut itu, sedetik kemudian mereka sudah saling memagut dengan panasnya. Yang dibalas dengan tak kalah ganas oleh Mr. Hemlock. **** Lily menatap datar adegan panas di depannya kemudian berjalan mengendap-endap menuju pintu depan. Ia memilih pergi dari sana karena sepertinya tugasnya untuk hari ini sudah selesai. Kini saatnya ia memberikan kejutan meriah untuk kakak-kakak tersayangnya. Ia sudah mendapatkan imbalan yang 'setimpal' atas tugas yang telah ia selesaikan hari ini dan ia juga tidak ingin melihat adegan yang lebih panas dari ini. Jadi tidak ada alasan baginya untuk menetap lebih lama disana. **** Alexa segera mendorong kasar badut itu setelah akal sehatnya kembali berfungsi. Ia tak habis pikir mengapa ia kembali kehilangan kendali. Ia pun mundur selangkah dan hendak berbalik pergi, namun sayup-sayup suara samar yang terasa familiar tiba-tiba merasuk ke indera pendengarannya. Ia menoleh ke kanan dan kiri guna mencari asal suara dan menemukan sebuah pintu yang sepertinya mengarah ke halaman belakang mansion terbuka. Bergegas kesana ia pun menemukan sebuah rumah tua yang sudah sangat bobrok dengan latar belakang ilalang-ilalang yang tumbuh subur mengelilinginya. Lalu suara itu pun terdengar lagi. Tapi kini dengan lebih jelas, suara itu berasal dari dalam rumah tua itu. Alexa mengernyitkan dahinya bingung bagaimana bisa berdiri sebuah rumah tua yang nyaris roboh tak jauh dari sebuah mansion mewah. Ia melihat sekeliling dan tak menemukan pagar tinggi yang membatasi area mansion dari dunia luar yang membuatnya semakin terlihat aneh karena seingat Alexa pagar depan mansion cukup tinggi dan kokoh, lalu kenapa disini tak ada pagar sama sekali. Karena sangat penasaran ia pun berjalan mendekati area rumah tua yang sudah bobrok itu. Namun tiba-tiba jalannya dihadang oleh Mr. Hemlock yang kini sudah berubah menjadi manusia kembali. "Ada pepatah yang mengatakan, terkadang rasa ingin tahu dapat membunuhmu."kata Mr. Hemlock seraya terkekeh kecil menyendiri rasa keingintahuan Alexa yang begitu tinggi. "Jadi, kau ingin membunuhku, begitu?!" balas Alexa dengan sengit. "Aku lebih suka menjadikanmu milikku. Kau terlalu indah dan terlalu berharga untuk dilenyapkan."kata Mr. Hemlock sambil menatap kedua mata Alexa dengan tatapan intens yang di balas Alexa dengan memutar bola mata jengah bahkan ia hampir saja muntah setelah mendengar gombalan dari badut iblis di hadapannya ini. "Minggir." kata Alexa dengan juteknya seraya mendorong Mr. Hemlock agar menyingkir dari jalannya. Saat ia sudah tiba di depan pintu rumah tua itu, bunyi derit pintu kayu yang sudah tua terdengar nyaring. Pintu itu tiba-tiba saja terbuka dengan sendirinya saat Alexa baru saja ingin menyentuh kenop pintunya. Berusaha tak peduli ia pun kembali melanjutkan langkahnya menulusuri bagian dalam rumah itu. Derit lantai kayu di bawahnya tak menyurutkan niatnya untuk terus mencari tahu asal suara tadi, hingga tibalah ia di satu-satunya kamar yang terbuka karena kamar itu tidak memiliki pintu terletak di lantai dua rumah tua itu. Bukan karena kamar itu yang tidak memiliki pintu yang menarik perhatian Alexa namun seseorang atau lebih tepatnya seorang wanita yang terikat di kursi tepat di tengah kamar itulah yang menarik perhatian Alexa. Ia terikat dengan posisi kepala terkulai ke depan dan diam seperti patung menandakan wanita itu sedang tak sadarkan diri. Alexa pun segera menghampiri, namun ia dikagetkan dengan kehadiran Mr. Hemlock yang sudah berdiri tepat di belakang wanita itu. Kali ini Alexa tak bisa tak dibuat ciut oleh tampilan Mr. Hemlock yang sudah berubah sepenuhnya menjadi badut yang sangat mengerikan. Mungkin jika ada kategori badut paling menyeramkan di dunia Mr. Hemlock dapat dipastikan akan menjadi pemenangnya. Sosoknya yang sudah berkulit pucat seucat mayat, dengan bau busuk yang menguar dari dalam mulutnya, ditambah seringaian lebar yang menampilkan deretan gigi-gigi tajam berwarna kehitaman. Juga rambut yang berdiri kaku membentuk tiga jambul aneh, nampak seperti mahkota Raja iblis dari neraka. Berwarna merah terang seperti api yang menjilat-jilat. Warna matanya adalah hitam pekat dengan warna merah darah di sekeliling kelopaknya. "Apa yang kau lakukan, Mr. Hemlock? Lepaskan wanita itu." kata Alexa mencoba membujuk Mr. Hemlock untuk melepaskan wanita itu. "Tapi ia sudah menghina calon pengantinku, bahkan ia juga menggodaku. Dan aku tidak terima itu!" balas Mr. Hemlock dengan nada suara yang mulai meninggi akibat amarah, kuku-kukunya pun mulai tumbuh memanjang dengan cepat. Lalu tiba-tiba tangan dengan kuku yang amat tajam itu mencengkram leher si wanita dengan cukup kencang. Membuat Alexa membelalakkan matanya terkejut, terkejut karena gerakan Mr. Hemlock yang tak diduga-duga dan terkejut karena ternyata wanita yang terikat itu adalah salah satu temannya semasa di senior high school, Chintya. "No!!!" teriak Alexa saat Mr. Hemlock semakin mengencangkan cengkaramannya hingga terdengar jelas suara retakan tulang. "Please no. Jangan lakukan itu, oke?" kata Alexa lembut mencoba membujuk Mr. Hemlock. Lalu kedua mata itu pun terbuka dan tepat menatap ke kedua manik milik Alexa dengan tatapan tajam penuh permusuhan. Ya, Chintya dengan dirinya memang tak pernah akur sejak dulu. Entah kenapa Chintya selalu iri padanya, tapi tetap saja ia tak ingin melihat seseorang yang dikenalnya di masa lalu mati di depan matanya. "Kau jalang sok cantik. Berani-beraninya kau juga merebut Nathan-ku!!!" kata Chintya dengan amarah yang tak ditutup-tutupi. Alexa hanya diam tak bergeming mendengar kalimat penuh cemoohan barusan. Melihat Alexa yang diam tak bergeming semakin menyulut emosi Chintya. Matanya semakin menatap Alexa dengan tatapan tajam yang sangat menusuk. "Dasar jalang tak tahu diri. Mati saja kau!!!" teriaknya histeris seraya mencoba bangkit untuk menyerang Alexa. "Kau ingin dia, hah?!" tanya Alexa berapi-api karena tersulut amarahnya seraya menunjuk tepat ke arah belakang Chintya. "Ambillah! Aku juga tidak sudi berurusan dengannya!!!" timpal Alexa dengan nada tinggi akibat rasa frustrasi yang sudah tak bisa dibendung lagi. Tepat saat Chintya menolehkan kepalanya ke belakang, Mr. Hemlock yang kini sedang bertransformasi menjadi badut kanibal langsung melahap habis kepalanya. Darah pun terciprat kemana-mana bahkan mengenai sebagian tubuh dan wajah Alexa yang langsung jatuh terduduk di tempat setelah melihat kejadian keji barusan. "Aku tak suka kau mengucapkan kata-kata tadi, baby. Kau harus segera menarik ucapan mu tadi." kata Mr. Hemlock disela-sela aktivitasnya mengunyah kepala Chintya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN