Sambil melangkah cepat, Nathan dan Greesa menyusuri lorong rumah sakit hingga akhirnya mereka melihat Freya, Kiara dan Dokter Rangga sedang duduk di depan sebuah ruangan UGD. “Gimana Gavin?” tanya Nathan ketika kakinya baru saja berhenti tepat di depan 3 orang yang sudah lebih dulu berada di sana. “Masih ditangani sama dokter,” jawab Dokter Rangga. “Freya,” panggil Greesa dengan suara yang lembut. Dia memegang pundak temannya itu, berharap bisa memberikan sedikit rasa tenang. Kepala Freya tertunduk begitu rendah. Kedua tangannya terus menutupi wajahnya yang kini basah kuyup karena air mata. “Gavin itu takdir gue. Jadi dia nggak mungkin ninggalin gue,” kata Freya sambil terisak. “Iya, Frey. Gavin pasti bakal baik-baik aja,” kata Greesa. Suasana terasa begitu dingin dan sunyi b

