5 detik berlalu, raut cemas Freya berubah menjadi raut kesal. “Ih, kok gue masih nggak bisa liat apa yang terjadi sama lo, sih?” Gavin tersenyum menahan tawanya. “Berarti kemampuan lo masih kalah sama kemampuan gue.” Freya memanyunkan bibirnya. “Yang ada dipikiran lo jangan ‘I love you, Freya’ terus dong, Vin. Pikirin juga tentang masalah lo biar gue bisa liat.” “Hahaha. Suka-suka gue, dong. Kok lo malah ngatur-ngatur gue, sih? Belum juga jadi pacar gue. Gini, deh. Sekarang lo temuin Nathan dan minta maaf ke dia, setelah itu baru gue kasih tau masalah gue ke lo.” Freya masih berpikir sebentar. Caranya memutuskan Nathan tadi malam membuatnya masih malu dan merasa tidak enak untuk bertemu dengan laki-laki itu. Gavin tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan menjauhi Freya m

